Deprecated: mb_substr(): Passing null to parameter #1 ($string) of type string is deprecated in /home/duniais1/dictio.id/wp-content/plugins/jetonomy/includes/seo/class-schema-markup.php on line 174
Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Apakah perusahaan lebih menghargai orang yang punya knowledge atau orang yang tahu cara ‘menampilkan’ pengetahuan?

SA salmaaa 6 months ago

Deprecated: preg_replace(): Passing null to parameter #3 ($subject) of type array|string is deprecated in /home/duniais1/dictio.id/wp-includes/kses.php on line 2025
37

Dalam banyak proses rekrutmen atau evaluasi kerja, ada satu paradoks yang sering muncul tapi jarang dibicarakan secara jujur: seseorang bisa sangat memahami sesuatu, tetapi tetap tidak terlihat “unggul” di mata perusahaan. Sebaliknya, ada juga orang yang tidak selalu paling dalam pemahamannya, tetapi tampak sangat meyakinkan dalam menyampaikan apa yang ia tahu.

Pertanyaan tentang apakah perusahaan lebih menghargai “knowledge” atau “cara menampilkan knowledge” sebenarnya menyentuh sesuatu yang lebih fundamental: bagaimana organisasi membaca nilai dari manusia dalam konteks performa, bukan sekadar kapasitas internal.

Inti: Perusahaan Tidak Pernah Menilai Knowledge Secara Murni, Tapi Melalui Manifestasinya

Jika dilihat dari realitas lapangan, perusahaan jarang sekali memiliki akses langsung ke “pengetahuan mentah” seseorang. Yang terlihat selalu adalah output: cara menjawab, cara menyusun ide, cara menyelesaikan masalah, dan cara berkomunikasi.

Daniel Kahneman dalam Thinking, Fast and Slow menjelaskan bahwa manusia membuat keputusan berdasarkan apa yang bisa diamati, bukan apa yang tersembunyi. Dalam konteks perusahaan, hal ini menjadi sangat jelas: knowledge internal tidak pernah dinilai secara langsung, hanya representasinya yang terlihat.

Artinya, perusahaan sebenarnya tidak sedang memilih antara “orang yang tahu” dan “orang yang bisa menampilkan pengetahuan”, karena keduanya tidak pernah terpisah dalam ruang evaluasi nyata. Yang dinilai adalah kemampuan mengubah knowledge menjadi tindakan yang terlihat dan dapat dipahami.

Cal Newport dalam Deep Work menekankan bahwa kemampuan mendalam (deep expertise) memang penting, tetapi di dunia profesional, nilai dari expertise itu baru muncul ketika bisa dikomunikasikan dalam bentuk yang bisa digunakan orang lain.

Pengetahuan yang tidak bisa ditampilkan dengan jelas pada akhirnya tidak dianggap sebagai aset organisasi, meskipun secara individu itu sangat dalam.

Realita Lapangan: Yang Bertahan Bukan Selalu yang Paling Tahu, Tapi yang Paling Terbaca

Dalam banyak lingkungan kerja, terutama yang berbasis kolaborasi, terlihat pola yang cukup konsisten: orang yang mampu menjelaskan pikirannya dengan struktur yang jelas cenderung lebih cepat dipercaya, lebih sering dilibatkan, dan lebih mudah berkembang.

Ini bukan berarti pengetahuan tidak penting. Justru sebaliknya, pengetahuan tetap menjadi fondasi. Namun dalam praktiknya, pengetahuan yang tidak “terbaca” oleh sistem sosial organisasi akan sulit diakui nilainya.

Erving Goffman dalam The Presentation of Self in Everyday Life menjelaskan bahwa dalam interaksi sosial, manusia selalu berada dalam mode “presentasi diri”. Di dunia kerja, ini menjadi lebih formal: setiap orang pada dasarnya sedang “mewakili” kompetensinya melalui cara ia berbicara, menulis, dan bertindak.

Perusahaan tidak menilai apa yang ada di kepala seseorang, tetapi apa yang keluar dari kepala itu dalam bentuk yang bisa diobservasi.

Daniel Siegel dalam The Developing Mind menekankan bahwa integrasi antara pengalaman internal dan ekspresi eksternal adalah kunci dalam komunikasi yang efektif. Dalam konteks kerja, ini berarti kemampuan menyelaraskan apa yang dipahami dengan apa yang disampaikan menjadi faktor yang sangat menentukan.

Di lapangan, sering terlihat bahwa dua orang dengan tingkat pengetahuan yang mirip bisa memiliki dampak karier yang sangat berbeda hanya karena perbedaan dalam cara menyampaikan dan mengorganisasi ide.

Insight yang Jarang Dibicarakan: “Menampilkan Pengetahuan” Bukan Manipulasi, Tapi Translasi

Ada kesalahpahaman umum bahwa kemampuan menampilkan pengetahuan sering dianggap sebagai “kemampuan pencitraan”. Padahal dalam konteks profesional yang sehat, ini lebih dekat dengan konsep translasi kognitif—kemampuan menerjemahkan sesuatu yang kompleks menjadi bentuk yang bisa digunakan orang lain.

Cal Newport menyebut bahwa komunikasi yang efektif dalam dunia kerja bukan soal impresi, tetapi soal kegunaan. Ide yang bagus tidak cukup; ide harus bisa dipahami dan diimplementasikan.

Yang dihargai perusahaan bukan sekadar pengetahuan, tetapi pengetahuan yang bisa bergerak keluar dari kepala seseorang dan menjadi alat kerja bersama.

Daniel Kahneman juga menyinggung bahwa manusia cenderung menilai kompetensi berdasarkan fluency—seberapa lancar sesuatu disampaikan. Ini berarti, dalam banyak situasi, cara penyampaian secara tidak sadar memengaruhi persepsi terhadap kedalaman pengetahuan.

Namun ini bukan bias yang sepenuhnya negatif. Dalam lingkungan kerja yang penuh ketidakpastian, kemampuan untuk menyampaikan ide secara jelas sering menjadi indikator awal apakah seseorang bisa bekerja secara efektif dalam tim.

Dimensi Lebih Dalam: Knowledge Tanpa Ekspresi Adalah Kapasitas yang Terisolasi

Jika dilihat lebih dalam, pengetahuan yang tidak bisa ditampilkan dengan baik cenderung menjadi “terisolasi”. Ia mungkin ada, tetapi tidak berinteraksi dengan sistem kerja di sekitarnya.

Dalam perspektif sistemik yang dijelaskan Daniel Siegel, nilai muncul dari koneksi. Artinya, pengetahuan baru menjadi bernilai ketika ia terhubung dengan orang lain, proses, dan keputusan.

Knowledge yang tidak bisa ditampilkan dengan baik sering kali kehilangan kesempatan untuk terhubung, sehingga kehilangan sebagian besar nilainya dalam konteks organisasi.

Di sisi lain, orang yang mampu menampilkan pengetahuannya dengan baik tidak selalu lebih pintar, tetapi lebih efektif dalam menghubungkan apa yang ia tahu dengan kebutuhan sistem di sekitarnya.

Matthew Walker dalam Why We Sleep menjelaskan bahwa konsolidasi memori tidak hanya terjadi di tingkat individu, tetapi juga dalam bagaimana informasi diulang dan diperkuat melalui interaksi. Dalam konteks kerja, ini berarti komunikasi adalah bagian dari proses penguatan pengetahuan itu sendiri.

Penutup: Yang Dihargai Bukan Pilihan Antara Dua Hal, Tapi Keseimbangan Keduanya

Pada akhirnya, perusahaan tidak benar-benar memilih antara orang yang punya knowledge dan orang yang bisa menampilkan knowledge. Yang terjadi adalah seleksi terhadap kemampuan mengintegrasikan keduanya dalam konteks kerja nyata.

Pengetahuan tanpa ekspresi akan sulit diakui, sementara ekspresi tanpa pengetahuan akan cepat kehilangan kredibilitas.

Dalam dunia profesional, nilai seseorang tidak hanya ditentukan oleh apa yang ia ketahui, tetapi juga oleh seberapa efektif pengetahuan itu bisa bergerak keluar dari dirinya dan memberi dampak pada orang lain.

Dan mungkin di situlah letak realitas yang paling penting: bukan tentang memilih salah satu, tetapi tentang bagaimana keduanya saling menghidupkan.

Daftar Pustaka

Kahneman, Daniel. Thinking, Fast and Slow. Farrar, Straus and Giroux, 2011.

Newport, Cal. Deep Work: Rules for Focused Success in a Distracted World. Grand Central Publishing, 2016.

Siegel, Daniel J. The Developing Mind: How Relationships and the Brain Interact to Shape Who We Are. Guilford Press, 2012.

Walker, Matthew. Why We Sleep. Scribner, 2017.

Goffman, Erving. The Presentation of Self in Everyday Life. Anchor Books, 1959.

Dalam lorong-lorong sunyi dunia korporasi, sering kali terjadi sebuah kontradiksi yang membingungkan: mengapa individu yang secara teknis sangat brilian terkadang justru tertahan di posisi yang sama selama bertahun-tahun, sementara rekan mereka yang mungkin memiliki kapasitas rata-rata namun pandai berbicara melesat jauh ke depan? Realitas ini membawa kita pada sebuah pertanyaan filosofis sekaligus psikologis yang sangat mendasar: apakah dunia profesional menghargai apa yang kita ketahui (knowledge) atau bagaimana kita mengemas pengetahuan tersebut (presentation)? Jika kita memandang perusahaan sebagai sebuah organisme hidup, maka pengetahuan adalah nutrisinya, sementara cara menampilkan pengetahuan tersebut adalah sistem peredaran darahnya. Keduanya tidak bisa dipisahkan, namun ada mekanisme psikologis tertentu yang menentukan mana yang lebih "dihargai" pada momen-momen krusial.

Bayangkan sebuah fragmen kehidupan dalam sebuah ruang rapat yang dingin di gedung pencakar langit. Di satu sisi meja, duduk seorang analis yang menghabiskan ribuan jam untuk membedah data dengan presisi matematis yang luar biasa, namun ia berbicara dengan nada rendah dan tanpa kontak mata. Di sisi lain, seorang manajer proyek menyajikan intisari dari data tersebut dengan antusiasme yang menular, menggunakan metafora yang tepat, dan mampu menjawab keraguan audiens dengan tenang. Dalam kacamata psikologi sosial, fenomena ini berkaitan erat dengan apa yang dijelaskan oleh Daniel Kahneman dalam Thinking, Fast and Slow mengenai Sistem 1 dan Sistem 2. Perusahaan, yang dijalankan oleh manusia dengan keterbatasan kognitif, sering kali lebih cepat memberikan apresiasi kepada mereka yang mampu merangsang Sistem 1 (intuisi, emosi, dan kemudahan kognitif) daripada mereka yang hanya menyajikan data mentah yang memaksa Sistem 2 bekerja keras.

Hal ini mengingatkan pada apa yang ditulis oleh Adam Grant dalam karyanya, Originals, bahwa memiliki ide hebat saja tidak cukup; kemampuan untuk "menjual" ide tersebut dan mengatasi rasa takut audiens terhadap perubahan adalah separuh dari perjuangan. Perusahaan secara sistemis cenderung menghargai "artikulasi pengetahuan" bukan karena mereka mengabaikan substansi, melainkan karena pengetahuan yang tidak bisa ditampilkan dengan efektif adalah pengetahuan yang tidak memiliki daya guna bagi organisasi. Dalam konteks ini, kita melihat bahwa nilai seseorang di mata perusahaan sering kali merupakan hasil perkalian antara kedalaman pengetahuan dan kemampuan komunikasi, bukan sekadar penjumlahan keduanya.

Ilusi Kompetensi dan Psikologi Persepsi

Ada sebuah bias kognitif yang sangat kuat dalam dunia profesional yang disebut sebagai halo effect. Edward Thorndike pertama kali mendefinisikan ini sebagai kecenderungan manusia untuk memberikan penilaian positif pada satu karakteristik (seperti kemampuan berbicara yang baik) dan secara otomatis mengasumsikan bahwa orang tersebut juga memiliki karakteristik positif lainnya (seperti kecerdasan atau kepemimpinan). Individu yang tahu cara "menampilkan" pengetahuan sering kali secara tidak sadar dianggap lebih berkompeten daripada mereka yang memiliki pengetahuan serupa namun diam. Ini bukan berarti perusahaan sengaja tertipu, melainkan otak manusia secara evolusioner memang dirancang untuk mencari sinyal-sinyal kepercayaan diri sebagai proksi bagi kompetensi.

Sering kali, mereka yang memiliki knowledge mendalam justru terjebak dalam apa yang disebut The Curse of Knowledge (Kutukan Pengetahuan). Fenomena ini terjadi ketika seseorang yang sangat ahli dalam suatu bidang merasa kesulitan untuk membayangkan betapa tidak tahunya orang lain, sehingga mereka gagal menyederhanakan penjelasan. Sebaliknya, orang yang pandai menampilkan pengetahuan memahami psikologi pendengar. Mereka tahu bahwa kejelasan adalah bentuk dari empati kognitif. Hal ini sejalan dengan pandangan Brene Brown dalam Dare to Lead, bahwa kejernihan dalam komunikasi (being clear) sebenarnya adalah tindakan kebaikan yang paling nyata dalam sebuah kepemimpinan. Perusahaan menghargai kejelasan ini karena ia menghemat waktu, mengurangi ambiguitas, dan mempercepat pengambilan keputusan.

Namun, kita tidak boleh terjebak dalam simplifikasi bahwa "hanya bicara" sudah cukup. Angela Duckworth dalam Grit menekankan bahwa bakat tanpa usaha hanyalah potensi, namun usaha tanpa substansi akan runtuh pada saat krisis melanda. Perusahaan-perusahaan kelas dunia memiliki mekanisme filtrasi jangka panjang yang akan mendeteksi mereka yang hanya memiliki "kemasan" tanpa "isi". Pengetahuan adalah apa yang membuat kita tetap berada di posisi tersebut (sustainability), sementara cara menampilkannya adalah apa yang membawa kita masuk ke ruangan tersebut (accessibility). Tanpa pengetahuan yang kuat, seseorang yang pandai menampilkan diri akan segera menghadapi imposter syndrome yang nyata ketika tanggung jawab yang diberikan melampaui kapasitas intelektualnya.

Neurobiologi Koneksi: Mengapa Kemasan Menentukan Nilai

Secara neurobiologis, saat seseorang menampilkan pengetahuan dengan cara yang menarik, otak audiens akan melepaskan dopamin dan oksitosin. Dopamin membantu audiens tetap fokus, sementara oksitosin membangun rasa percaya. Inilah sebabnya mengapa narasi dan storytelling dalam dunia bisnis menjadi sangat mahal harganya. Carmine Gallo dalam The Storyteller's Secret menjelaskan bahwa ide yang dikemas dalam cerita yang menggugah emosi akan lebih lama bertahan di memori daripada data yang disajikan secara dingin. Perusahaan sangat menghargai orang yang bisa melakukan ini karena mereka adalah perekat yang menyatukan tim; mereka mampu menerjemahkan visi yang abstrak menjadi aksi nyata yang bisa dipahami oleh semua orang di tingkat operasional.

Kehadiran (presence) juga memainkan peran krusial. Amy Cuddy dalam Presence memaparkan bahwa sebelum kita mulai berbicara, tubuh kita sudah "berbicara" lebih dulu. Perusahaan cenderung memberikan kepercayaan lebih besar kepada mereka yang menunjukkan bahasa tubuh yang terbuka dan ekspansif, karena secara biologis ini diasosiasikan dengan tingkat stres yang rendah dan kontrol diri yang tinggi. Seseorang yang punya pengetahuan luas namun terlihat ragu-ragu saat menyampaikannya secara tidak sengaja mengirimkan sinyal bahaya ke otak atasannya, seolah-olah pengetahuan tersebut tidak solid atau tidak dapat diandalkan. Ketidakmampuan menampilkan pengetahuan sering kali diartikan secara keliru sebagai ketidaktahuan.

Kondisi ini menuntut kita untuk memahami pentingnya Social Intelligence. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Daniel Goleman, kecerdasan sosial adalah kemampuan untuk menavigasi kompleksitas hubungan antarmanusia dengan efektif. Dalam lingkungan korporasi yang kolaboratif, pengetahuan yang terisolasi di dalam kepala satu orang tidak memiliki nilai ekonomi. Pengetahuan baru menjadi aset perusahaan ketika ia berpindah, dibagikan, dan diimplementasikan. Oleh karena itu, kemampuan untuk "menampilkan" pengetahuan sebenarnya adalah kemampuan untuk melakukan transfer nilai. Perusahaan menghargai "si penampil" karena mereka adalah fasilitator pertumbuhan kolektif, bukan sekadar gudang informasi statis.

Reframing: Menjadikan Penampilan sebagai Bentuk Integritas

Mungkin kita perlu mengubah cara pandang kita terhadap kata "menampilkan". Menampilkan pengetahuan bukan berarti bersikap manipulatif atau penuh kepura-puraan. Sebaliknya, menampilkan pengetahuan dengan cara yang baik adalah bentuk penghormatan terhadap waktu orang lain. Jika kita memiliki solusi yang bisa menyelamatkan perusahaan dari kerugian miliaran rupiah, namun kita tidak mampu menyampaikannya dengan meyakinkan, maka kita telah membiarkan perusahaan tersebut menderita. Dalam hal ini, meningkatkan kemampuan presentasi diri adalah sebuah keharusan moral bagi mereka yang memiliki pengetahuan besar.

Hal ini membawa kita pada pemikiran Carol Dweck tentang Growth Mindset. Sering kali, orang-orang dengan pengetahuan mendalam (kaum spesialis) merasa bahwa belajar "menjual diri" adalah hal yang rendah atau tidak perlu. Namun, kecerdasan yang sejati adalah fleksibilitas untuk terus belajar di luar zona nyaman teknis kita. Seseorang yang bersedia mengasah kemampuan komunikasinya sebenarnya sedang menunjukkan bahwa ia peduli terhadap dampak pengetahuannya bagi orang lain. Perusahaan menghargai individu yang memiliki kesadaran diri (self-awareness) untuk menyeimbangkan antara IQ dan EQ mereka.

Kita juga harus melihat realitas bahwa posisi kepemimpinan di perusahaan menuntut kemampuan untuk memengaruhi orang lain (influence). Robert Cialdini dalam Influence: The Psychology of Persuasion menekankan bahwa otoritas tidak hanya datang dari gelar atau pengetahuan, tetapi dari bagaimana kita dipresepsikan sebagai otoritas. Jika seseorang ingin naik ke jenjang strategis, ia harus mampu menampilkan visinya sedemikian rupa sehingga orang lain bersedia mengikutinya. Di sinilah letak perbedaan krusialnya: pengetahuan membuat kita menjadi kontributor individual yang hebat, namun kemampuan menampilkan pengetahuan itulah yang membuat kita menjadi pemimpin.

Sinergi yang Tidak Terelakkan

Mari kita menilik kembali struktur organisasi modern. Pengetahuan adalah fondasi (the floor), sedangkan kemampuan menampilkan adalah atap (the ceiling). Tanpa fondasi, bangunan akan runtuh. Tanpa atap, bangunan tersebut tidak bisa ditempati. Perusahaan yang sehat tidak akan memilih salah satu; mereka mencari sinergi. Namun, jika dipaksa memilih pada tahap awal persepsi, orang yang tahu cara menampilkan pengetahuannya sering kali mendapatkan kesempatan (opportunity) lebih cepat, sementara orang yang memiliki pengetahuan akan mendapatkan kepercayaan (trust) yang lebih lama.

Ketidakadilan yang kita rasakan ketika melihat orang yang "hanya jago bicara" naik jabatan sering kali bersumber dari kegagalan kita memahami bahwa komunikasi adalah keterampilan teknis yang sama sulitnya dengan penguasaan data. Dibutuhkan empati, struktur berpikir, dan keberanian untuk berdiri dan menjelaskan sesuatu dengan sederhana. Nassim Nicholas Taleb dalam Skin in the Game mengingatkan bahwa dalam kehidupan nyata, "penampilan" sering kali merupakan bagian dari risiko yang kita ambil. Ketika kita bicara di depan umum, kita mempertaruhkan reputasi kita. Risiko inilah yang dihargai oleh perusahaan.

Sebagai kesimpulan dari pengamatan mendalam ini, kita harus menyadari bahwa perusahaan adalah ekosistem sosial, bukan hanya mesin pengolah data. Nilai seorang profesional diukur dari kemampuannya memecahkan masalah, dan masalah tidak bisa dipecahkan jika solusinya tidak bisa dikomunikasikan. Oleh karena itu, bagi siapa pun yang ingin berkembang, tugasnya bukan hanya menjadi "tahu", tetapi menjadi "terdengar". Menghargai proses menampilkan pengetahuan adalah bentuk kedewasaan profesional yang memahami bahwa pengetahuan hanyalah potensi energi, sedangkan komunikasi adalah gaya yang mengubah potensi tersebut menjadi kerja nyata.

Pada akhirnya, keseimbangan antara apa yang kita miliki di dalam kepala dan apa yang kita keluarkan dari mulut adalah cerminan dari integritas intelektual kita. Jangan biarkan pengetahuan yang berharga mati di dalam kebisuan, dan jangan biarkan kata-kata yang indah keluar dari kekosongan makna. Perusahaan—dan dunia pada umumnya—akan selalu memberikan tempat terhormat bagi mereka yang mampu menyatukan kedalaman pikiran dengan kejernihan bicara. Inilah alkimia profesional yang sesungguhnya: mengubah keheningan pengetahuan menjadi simfoni aksi yang bermakna bagi kemajuan bersama. Kita tidak perlu memilih menjadi salah satu, kita ditantang untuk menjadi keduanya secara utuh dan autentik.


Daftar Pustaka

  • Brown, B. (2018). Dare to Lead: Brave Work. Tough Conversations. Whole Hearts. Random House.
  • Cialdini, R. B. (2007). Influence: The Psychology of Persuasion. Harper Business.
  • Cuddy, A. (2015). Presence: Bringing Your Boldest Self to Your Biggest Challenges. Little, Brown Spark.
  • Duckworth, A. (2016). Grit: The Power of Passion and Perseverance. Scribner.
  • Dweck, C. S. (2006). Mindset: The New Psychology of Success. Random House.
  • Gallo, C. (2016). The Storyteller's Secret: From TED Speakers to Business Legends, Why Some Ideas Catch On and Others Don't. St. Martin's Press.
  • Goleman, D. (2006). Social Intelligence: The New Science of Human Relationships. Bantam.
  • Grant, A. (2016). Originals: How Non-Conformists Move the World. Viking.
  • Kahneman, D. (2011). Thinking, Fast and Slow. Farrar, Straus and Giroux.
  • Taleb, N. N. (2018). Skin in the Game: Hidden Asymmetries in Daily Life. Random House.