Friendster adalah jejaring sosial yang sempat menjadi terpopuler di dunia beberapa tahun lalu. Didirikan pada tahun 2002, jejaring sosial ini setahun lebih dulu dari MySpace dan dua tahun lebih tua dari Facebook. Karena itu, Friendster dianggap menjadi pelopor di dunia jejaring sosial. Pada puncak kajayaannya, Friendster memiliki lebih dari 100 juta pengguna dan dilaporkan pengguna paling banyak berada di Asia Tenggara.
Pada bulan Juli 2009 silam, setelah dihantui beberapa masalah teknis dan desain barunya, jejaring sosial ini menghadapi bencana besar. Lalu lintas pengguna Friendster terjun bebas. Bak air bah, penggunanya migrasi ke jejaring sosial Facebook. Perlahan tapi pasti Friendster “mati suri”. Untuk memastikan penyebabnya, baru-baru ini ada sebuah penelitian yang berjudul “Social Resilience in Online Communnities: The Autopsy of Friendster” (Ketahanan Sosial dalam komunitas Online: Sebuah Autopsi terhadap Friendster).
Penelitian dilakukan oleh David Garcia, Paylin Mavrodiev dan Frank Schweitzer dari Swiss Federal Institute of Technology. Ketiganya tertarik untuk mengautopsi Friendster secara digital yang datanya didapat sebelum jejaring sosial itu kehilangan nyawanya. Penelitian ini bisa dijadikan bahan pembelajaran bagaimana sebuah jejaring sosial bisa berhasil dan gagal. “Ketika biaya, waktu dan usaha lebih besar dari manfaat yang didapat dari sebuah jejaring sosial, maka itulah saat yang tepat untuk eksodus.” Kata David Garcia.
Dia menjelaskan, ada satu alasan yang membuat para pengguna menjadi loyal, yaitu struktur pertemanan yang diciptakan antarpengguna jejaring sosial. “Ketahanan suatu jejaring sosial ditentukan oleh jumlah teman dari penggunanya. Jadi, jika sebagian besar pengguna hanya memiliki dua teman, maka jejaring sosial itu akan lenyap. Ketika satu teman kita keluar, maka hanya tersisa satu. Pada akhirnya, kita pu akan meninnggalkan jejaring sosial itu.” Ujar David Garcia.
Pada kenyataannya, kelangungan hidup sebuah jejaring sosial ditentukan oleh dua faktor. Pertama, hubungan antara manfaat dan biaya, dan kedua adalah jaringan pertemanan. Dalam kasus Friendster, desain baru situs menyebabkan besarnya biaya dari manfaat dan jaringan pertemanan yang berkurang drastis.
Setelah memastikan akan menghapus semua foto dan blog milik penggunanya pada 31 Mei 2011 mendatang. Pemilik Friendster yang terbaru mengumumkan kebijakan yang baru. Friendster situs pertemanan yang sempat booming di berbagai dunia, termasuk Indonesia, sekitar 10 tahun lalu kini memastikan akan meninggalkan dunia jejaring sosial. Mereka berubah haluan dalam menatap pasar industri online.
“Kami akan menjadi situs hiburan sosial untuk bermain game dan musik,” tegas Ganesh Kumar Bangah, Group Chief Executive Officer Friendster. Bangah juga sadar diri, persaingan di dunia jejaring sosial membuat mereka harus mundur teratur, sebelum akhirnya dilindas oleh Facebook. Pilihan selanjutnya pun muncul, Friendster ‘Berteman’ dengan Facebook.
Akhir 2009 lalu, MOL Global yang berbasis di Asia telah membeli Friendster. Penyedia jasa solusi pembayaran online asal Malaysia tersebut telah membeli keseluruhan saham Friendster. Berubahnya Friendster ke layanan game dan musik tidak lepas dari bisnis yang dikerjakan oleh MOL. MOL saat ini memiliki lebih dari 500.000 channel pembayaran virtual yang berhubungan dengan pembayaran konten dan layanan di 75 negara di seluruh dunia.
MOL juga memiliki hubungan dengan 70 publisher game online yang memiliki lebih dari 200 judul game. Selain itu, MOL juga memiliki partnership dengan publisher musik, film dan video yang didistribusikannya di seluruh negara. Ya, kini Friendster memang masih ada namun sudah berubah fungsi dan meninggalkan kenangan pengguna lamanya yang mungkin salah satu dari anda.
Sumber :
Okezone Techno
Viva