Dalam beberapa tahun terakhir, comScore, sebuah perusahaan yang menyediakan data dan analisis pasar asal Amerika Serikat mengkonfirmasi bahwa Traveloka berada di peringkat pertama untuk layanan pencarian dan pemesanan tiket pesawat, di luar situs resmi tiap maskapai. Lanskap agensi travel online di Indonesia memang bisa dibilang masih relatif kecil. Namun, pertumbuhan terus terjadi, karena 10 persen dari total penjualan tiket pesawat pada tahun 2013 dilakukan secara online.
Di tahun yang sama, total pendapatan dari pemesanan travel di Indonesia mencapai USD10,5 miliar (Rp136 triliun), menurut sebuah laporan studi dari Phocuswright yang berjudul Indonesia Online Travel Overview: Arrived With a Bang, Brace for the Boom. Menyinggung tentang gambaran industri travel, Euromonitor mengatakan bahwa pertumbuhan pengguna aplikasi mobile dan jumlah pelanggan paket data internet juga menjadi penyebab pesatnya penetrasi transaksi mobile, yang mana juga dimanfaatkan oleh situs pemesanan tiket pesawat seperti Traveloka, kompetitor terdekatanya Tiket, dan pemain lain seperti PegiPegi dan Wego.
Ferry Unardi, Co-Founder dan CEO Traveloka mengatakan bahwa perusahaannya sekarang memiliki lebih dari 270 karyawan, meningkat dari 120 karyawan pada bulan September tahun lalu. Pada bulan Maret, SimilarWeb mencatat bahwa jumlah pengunjung yang mengakses Traveloka melalui desktop diestimasi mencapai 3,95 juta kunjungan. Sebuah angka yang sangat impresif, tapi masih kalah jauh dengan estimasi seharusnya pada bulan Desember — saat perjalanan penerbangan sedang ramai-ramainya — yang mana ada sekitar 5,45 juta pengguna yang mengakses melalui desktop. Sebaliknya, kompetitor terdekat Traveloka, yaitu Tiket hanya memperoleh sekitar 1,95 juta kunjungan melalui desktop pada bulan yang sama.
Kembali ke bulan November, Traveloka mengklaim bahwa ia memperoleh sekitar 250.000 kunjungan setiap hari. Apabila data itu memang benar, artinya jumlah pengunjung Traveloka yang mengakses melalui desktop dan mobile bisa mencapai 7,5 juta kunjungan setiap bulan.
Traveloka diluncurkan pada tahun 2012. Kami sempat menulis kisah inspiratif dari Ferry dalam memulai startup, tapi mungkin kami tidak mengulas lebih dalam tentang bagaimana Traveloka memanfaatkan momen yang tepat untuk meluncurkan layanan pemesanan tiket pesawat di Indonesia.
Pada tahun 2013, di tanah air terjadi ledakan bisnis travel. Saat itu, pendapatan ekonomi nasional mencapai USD1 triliun (Rp13 kuadriliun), dengan pertumbuhan tahunan sebesar 6 persen. Di tahun yang sama, maskapai lokal Lion Air mengeluarkan dana USD46 miliar (Rp598 miliar) untuk membeli 464 pesawat baru.
Berdasarkan laporan Phocuswright, pasar travel di tanah air masih memiliki banyak peluang, tapi ada permasalahan ekonomi makro yang bisa menghalangi pertumbuhan tersebut. Pendapatan nasional memang mengalami peningkatan yang signifikan pada tahun 2013, namun itu merupakan pertumbuhan kecil setelah krisis finansial global di tahun 2008. Bagaimanapun, pada saat itu Indonesia tetap menjadi negara dengan pertumbuhan ekonomi paling cepat di Asia setelah China. Namun, dampak dari peningkatan pajak, dan harga pokok membuat minat masyarakat untuk travellingdi tahun ini kembali turun.
Traveloka telah memperoleh dua kali pendanaan sejauh ini. Pendanaan pertama yang tidak disebutkan jumlahnya berasal dari East Ventures 1 pada tahun 2012. Tahap kedua datang sekitar setahun kemudian saat Samwer bersaudara dari Rocket Internet memberikan investasi seri A ke Traveloka melalui Global Founder Capital (GFC).
Industri travel merupakan fokus utama GFC, dan Samwer bersaudara juga sempat memberi pendanaan ke situs agensi travel online TravelBird, situs pencarian tiket pesawat asal Brazil Voopter, dan Trivago, situs pencarian layanan hotel. Pada tahun 2013, Expedia membeli sebagian besar saham Trivago senilai USD632 (Rp8,2 triliun), sehingga membuat perusahaan tersebut memiliki nilai valuasi lebih dari USD 1miliar (Rp13 triliun).
Rocket Internet tidak memiliki startup yang bergerak di ranah pemesanan hotel dan tiket pesawat di Indonesia. Tapi Traveloka muncul menjadi salah satu daftar portofolio perusahaan mereka, meskipun secara terpisah didanai oleh GFC. Hal ini dikarenakan Rocket Internet biasanya tidak berinvestasi di perusahaan baru yang masih berada dalam fase penjajakan.
Keterlibatan Samwer bersaudara di Traveloka menjadi signifikan karena hal ini adalah pertanda kuat bila Rocket Internet telah melewatkan sektor travel di Indonesia. Dengan memiliki saham di perusahaan tiket online yang paling menjanjikan se-tanah air, Rocket Internet sadar mereka bisa ikut bermain apabila waktunya sudah tepat. Jika saat itu tiba, Traveloka mungkin sudah menguasai pasar travel di Indonesia dan mereka bisa jadi mepertimbangkan untuk mengakuisisi perusahan tersebut.
Penjualan tiket secara online merupakan salah satu model bisnis e-commerce yang elegan. Traveloka sangat menikmati struktur transaksi business-to-consumer (B2C), dimana rata-rata transaksi lebih dari USD50 (Rp650.000) dan tidak memerlukan saham atau menyimpan benda fisik apa pun. Karena inilah Traveloka bisa dengan mudah terbebas dari bahaya logistik yang menghantui industri e-commerce di Asia Tenggara. Tiket pesawat bukan lagi termasuk barang mewah, tapi menjadi medium yang mempermudah urusan bisnsi di era modern seperti sekarang.
Sumber:
http://inponsel.co.id/berita/d/341078/mengapa-traveloka-bisa-menjadi-startup-unicorn-pertama-di-indonesia