Go-Jek merupakan sebuah aplikasi layanan booking transportasi roda dua (motor) dan roda empat (mobil) yang dapat di download di smartphone android dan iPhone. Pendiri Go-Jek adalah Nadiem Makarim yang merupakan orang Indonesia. Kesuksesan Go-Jek memicu munculnya aplikasi ojek online lain yang sejenis, namun semua itu tidak bertahan lama. Para pesaing Go-Jek mulai tumbang, dengan adanya promosi besar-besaran dari Go-Jek. Go-Jek mengeluarkan promosi Rp.10.000 ke mana saja dengan dan diskon hingga 50% bagi pengguna Go-Pay. Sampai saat ini yang masih cukup popoler bersama dengan Go-Jek adalah Grab dan Uber. Banyak investor yang berinvestasi ke Go-Jek melihat potensi keuntungan yang didapat dari layanan pembayaran perusahaan yaitu Go-Pay.
Senior Research Manager Financial Insight IDC, Handojo H. Triyanto mengemukakan, “Layanan pembayaran memang menjadi titik evolusi berikutnya dari setiap bisnis. Sehingga, konsentrasi Gojek dari bisnis transportasi ke pembayaran adalah sebuah proses alamiah.”
Anggota Dewan Transportasi Kota Jakarta (ADTKJ) dari unsur LSM Transportasi, Tori Damantoro memandang bahwa investasi yang baru dikantongi Gojek bukan sekedar digunakan untuk perluasan pasar di sektor transportasi saja. Tori juga menilai bahwa Gojek akan mulai serius untuk mengerjakan bisnis finansial berbasis teknologi informasi.
Saat ini Go-pay bukan hanya dapat digunakan untuk pembayaran Go-Jek saja, tetapi bisa digunakan di e-commerce atau pembayaran di toko offline. Go-Pay dapat digunkan untuk Transfer Go-Pay, Tarik Tunai, Go pulsa, dan Go point.
Menurut Nadiem, salah satu strategi yang dikembangkan untuk merengkuh pasar pembayaran nontunai adalah ketika alat pembayaran ini sudah menemukan kunci yang membuat transaksi pengguna jadi lebih cepat, mudah, nyaman dan efisien. Nadiem juga mengatakan bahwa kini 50 persen transaksi Go-jek dibayar melalui Go-pay. Hal ini menurut Nadiem mengindikasikan Go-jek telah berhasil mengubah gaya hidup masyarakat.