Well, as an English Literature student I feel qualified to put a reply on this discussion :grinning_face_with_smiling_eyes:
Adalah benar bahwa profesi guru adalah salah satu opsi profesi yang bisa ditempuh mahasiswa Sastra Inggris ketika sudah lulus. Namun menurut saya, bukankah yang lebih cocok disebut "cuman menjadi guru" adalah mereka yang lulusan Pendidikan Bahasa Inggris? Gelar mahasiswa Sastra Inggris dan Pendidikan Bahasa Inggris saja sudah berbeda. Sastra bergelar S.S (Sarjana Sastra) dan Pendidikan bergelar S.Pd alias sarjana pendidikan. Dari sini sudah terlihat mana yang lebih diarahkan untuk menjadi tenaga pengajar.
Jika mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris sudah dijuruskan untuk menjadi guru, mahasiswa Sastra Inggris memiliki peluang kerja di bidang yang lebih luas dan umum. Seperti sudah disebutkan oleh kak @Earlian, lulusan sastra memiliki peluang kerja sebagai penerjemah, pemandu wisata, penulis, editor dan content writer. Selain itu juga bisa sebagai interpreter dan pengajar. Sekolah-sekolah swasta biasanya masih membuka kesempatan mahasiswa sastra untuk menjadi guru.
Jika nilai jual utama dari mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris adalah kemampuan mengajarnya dalam bidang Bahasa Inggris, maka nilai jual utama mahasiswa Sastra adalah murni kemampuan berbahasa Inggrisnya. Karena murni kemampuan bahasanya yang ditawarkan, peluang kerjanya lebih luas: apapun yang membutuhkan skill berbahasa Inggris (termasuk guru salah satunya).