Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Bagaimana pendapat teman teman tentang ketahanan pangan di Indonesia saat ini?

Adanya pandemi COVID-19 menyebabkan pertanian padat karya atau tenaga kerja petani bekerja tidak full time karena berlakunya PSBB. Akibat hal ini juga banyak terjadi pemberhentian kerja terhadap beberapa karyawan. Berdasarkan data Bappenas 2020 angka pengangguran di Indonesia meningkat menjadi 3,7 juta orang. Akibat penangguran ini banyak orang yang sulit untuk memenuhi kebutuhan sehari harinya.

Menurut kalian adanya pandemi covid-19 ini apakah berdampak pada ketahanan pangan? Berikan pendapat kalian

281

Hadirnya pandemi Covid-19 merupakan ancaman bagi ketahanan pangan indonesia. Hal ini dapat berdampak buruk bagi seluruh aspek kehidupan manusia terutama dalam ketersediaan pangan. Dampak covid-19 juga dapat menyebabkan turunnya pendapatan dan daya beli masyarakat serta terbatasnya produksi komoditas pangan nasional, terutama beras. Jika harga bahan pokok sudah melonjak naik dan daya beli masyarakat menurun, maka masyarakat akan kesulitan untuk mendapatkan akses secara finansial terhadap ketersediaan pangan dalam skala rumah tangga.

Menurut saya, pandemi covid 19 mempengaruhi ketahanan pangan. Ketersediaan pangan yang kurang di tingkat rumah tangga terhitung banyak. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya permintaan bantuan sosial yang banyak sehingga bantuan sosial dari pemerintah pun tidak memadai. Karena itu, ketahanan pangan di Indonesia belum merata.
Selain itu, ketahanan pangan yang belum merata disebabkan karena faktor awal ketahanan pangan di Indonesia yang memang belum merata kemudian diperparah kembali dengan adanya pandemi. Pandemi covid 19 membuat petani, pelayan, peternak, pedagang, dan penyedia sumber makanan membatasi aktivitasnya. Bahkan aktivitas impor pun terkendala dengan kebijakan penekanan pandemi covid 19 di negara eksportir. Selain itu, faktor ekonomi setiap rumah tangga berbeda. Bahan makanan banyak yang mengalami kenaikan harga namun ekonomi semakin menurun. Bagi warga yang memiliki status ekonomi menengah ke atas dapat membeli bahkan menimbun makanan (yang menyebabkan kenaikan harga pangan) sedangkan bagi warga dengan status ekonomi menengah ke bawah harus mencari pekerjaan tambahan untuk memenuhi ketersediaan pangan.
Ketersediaan pangan dapat dibantu dengan kita berbudidaya pangan (nabati atau hewani) kemudian jika berhasil, jualah hasil panennya kepada orang dengan status ekonomi menengah kebawah dengan harga yang terjangkau.

Tentu. Pandemic Covid-19 memicu perubahan dramatis pada sistem ekonomi, perawatan kesehatan, transportasi, dan pendidikan di seluruh dunia. Dampak pandemic ini juga dirasakan melalui gangguan perdagangan internasional, pembatasan rantai pasokan, dan peningkatan biaya impor dan ekspor. Yang tidak kalah penting adalah efek merugikan dari pandemi pada kondisi ketahanan pangan dan sistem pangan lokal untuk menyediakan pangan yang terjangkau dan bergizi untuk memenuhi permintaan yang ada. Gangguan ekonomi yang terkait dengan pandemi Covid-19 dan dampak negatifnya terhadap ketahanan pangan tampaknya jauh lebih mungkin berdampak pada kelompok miskin dan rentan yang memiliki lebih sedikit sumber daya untuk dimanfaatkan. Kelompok-kelompok ini sudah menghadapi kerawanan pangan dan kekurangan gizi terutama oleh sebagian besar rumah tangga perkotaan berpenghasilan rendah dan rumah tangga pedesaan yang bergantung pada pasar.

Tentu saja pandemi ini memberi dampak negatif terhadap ketahanan pangan indonesia. Banyak masyarakat yang kehilangan pekerjaan akibat Covid-19, menyumbang andil pada menurunnya ketahanan pangan sampai masyarakat harus bergantung pada bantuan pangan dari pemerintah. Selain itu juga, banyak masyarakat yang melalukankan pembelian berlebih akibat kepanikan adanya pandemi atau biasa kita sebut dengan "panic buying". Panic buying tersebut akhirnya menyebabkan terjadinya keterbatasan stok dan membuat harga bahan pangan mengalami kenaikan, yang mana kenaikan harga tersebut dapat mempengaruhi ketahanan pangan di Indonesia. Menurut kalian, apakah keterbatasan akses transportasi juga dapat memberikan dampak pada ketahanan pangan di Indonesia?

Ketahanan pangan nasional saat ini
cukup menyita perhatian karena pada
tingkat nasional masih belum mencapai
kata ‘ketahanan’. Hal ini ditandai dengan
negara Indonesia masih impor beras dan pangan lainnya. Harga pangan lokal pun tidak
seimbang dengan kondisi masyarakat
menengah ke bawah, karena hasil pangan
di hasilkan masyarakat pedesaan yang
notabene kehidupannya termasuk dalam
golongan ekonomi menengah ke bawah.
Pada level nasional ketahanan pangan
masih menjadi persoalan yang seakan tidak
ada solusi efektif untuk mengatasinya.
Namun berbeda dengan level lokal seperti
di pedesaan yang notabene masyarakatnya
bertani sebagai sumber penghasilan utama.
Sehingga masyarakat dapat survive dengan
hasil alam yang mereka usahakan, termasuk
bertani.

Menurut saya, ketahanan pangan di Indonesia saat ini sangat mengkhawatirkan. Dengan kondisi pandemik (covid19), sumber pangan yang seharusnya mencukupi kebutuhan masyarakat Indonesia menjadi suatu hal yang sulit didapatkan. Selain itu, dengan turunnya kestabilan ekonomi di Indonesia, para petani dan pegadang kecil sulit memenuhi kebutuhan pangan mereka. Kurangnya tenaga kerja akibat covid19 juga merupakan penyebab turunnya keamanan pangan Indonesia. Sementara jumlah pengeluaran pangan masih lebih besar dibandingkan dengan pemasukan.
Untuk mengantisipasi kondisi saat ini dibutuhkan teknik pengolahan pangan yang lebih baik dari sebelumnya. Misalnya, pengolahan bahan hasil pertanian untuk dapat didistribusikan untuk jangkauan yang lebih luas sehingga produksi hasil pertanian akan tetap stabil dan ketahanan pangan tetap terjaga. Hal ini tidak hanya berdampak pada ketahanan pangan tetapi juga pada perekonomian Indonesia dan dapat menunjang produksi dan konsumsi dari sektor industri lainnya.

Ya, menurut saya adanya pandemi ini berpengaruh terhadap menurunnya ketahanan pangan. Adanya pandemi dapat mengancam produksi maupun distribusi bahan pangan. Penerapan PSBB oleh pemerintah menyebabkan distribusi bahan pangan ke beberapa daerah terhambat sehingga permintaan konsumen menjadi berkurang dan produksi juga menurun. Harga bahan pangan juga tidak stabil selama pandemi. Selain itu, beberapa masyarakat juga kehilangan pekerjaannya sehingga perekonomian menurun dan tidak jarang dari mereka tidak bisa memenuhi kebutuhan pokok dan pangannya.

Petani memiliki peran dalam ketahanan pangan di Indonesia. Penerapan PSBB akan berdampak pada aktivitas para petani. Kurangnya perawatan dari petani dapat membuat tanaman mengalami kerusakan sehingga hal tersebut dapat menyebabkan menurunnya produksi pertanian yang akan dihasilkan.
Pada masa pandemi ini, petani kecil tidak memiliki akses terhadap pasar yang luas, sehingga hasil produksi pertaniannya hanya dijual seadanya di pasar lokal dengan harga yang murah. Selain itu, harga kebutuhan lain yang semakin meningkat termasuk harga bahan pertanian juga menambah kerentanan pada petani.
Ketahanan pangan sebagai situasi dimana semua rumah tangga mempunyai akses baik fisik maupun ekonomi untuk memperoleh pangan bagi seluruh anggota keluarganya. Adanya PSBB dan PHK dapat membuat masyarakat terdampak covid19 kesulitan untuk memperoleh pangan karena terganggunya akses fisik maupun ekonominya.
Menurut saya, hal diatas sebagai dampak dari covid19 akan mempengaruhi ketahanan pangan di Indonesia.

Menurut saya pada saat pandemi sekarang ketahanan pangan negara kita sedikit terganggu. Ketahanan pangan pada masa pandemi ini harus diupayakan untuk menghindari krisis pangan yang membayangi negara Indonesia karena pandemi ini tidak tahu kapan akan berakhir. Tak lupa juga sektor pertanian harus menjadi sorotan karena sektor pertanian dan ketahanan pangan memiliki kaitan yang erat.

Tentu. Pandemic Covid-19 memicu perubahan dramatis pada sistem ekonomi, perawatan kesehatan, transportasi, dan pendidikan di seluruh dunia. Dampak pandemic ini juga dirasakan melalui gangguan perdagangan internasional, pembatasan rantai pasokan, dan peningkatan biaya impor dan ekspor. Yang tidak kalah penting adalah efek merugikan dari pandemi pada kondisi ketahanan pangan dan sistem pangan lokal untuk menyediakan pangan yang terjangkau dan bergizi untuk memenuhi permintaan yang ada. Gangguan ekonomi yang terkait dengan pandemi Covid-19 dan dampak negatifnya terhadap ketahanan pangan tampaknya jauh lebih mungkin berdampak pada kelompok miskin dan rentan yang memiliki lebih sedikit sumber daya untuk dimanfaatkan. Kelompok-kelompok ini sudah menghadapi kerawanan pangan dan kekurangan gizi terutama oleh sebagian besar rumah tangga perkotaan berpenghasilan rendah dan rumah tangga pedesaan yang bergantung pada pasar.