Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Bagaimana pendapat teman teman tentang ketahanan pangan di Indonesia saat ini?

Adanya pandemi COVID-19 menyebabkan pertanian padat karya atau tenaga kerja petani bekerja tidak full time karena berlakunya PSBB. Akibat hal ini juga banyak terjadi pemberhentian kerja terhadap beberapa karyawan. Berdasarkan data Bappenas 2020 angka pengangguran di Indonesia meningkat menjadi 3,7 juta orang. Akibat penangguran ini banyak orang yang sulit untuk memenuhi kebutuhan sehari harinya.

Menurut kalian adanya pandemi covid-19 ini apakah berdampak pada ketahanan pangan? Berikan pendapat kalian

258

Menurut saya, adanya pandemi covid-19 ini sangat memengaruhi tatanan ekonomi masyarakat, termasuk juga ketahanan pangan di Indonesia. Dalam kondisi yang seperti ini, banyak aktivitas masyarakat yang terhambat, begitu pula dengan pekerjaan mereka. Banyak masyarakat yang kehilangan pekerjaannya atau dipaksa berhenti karena tidak adanya penghasilan termasuk para petani. Padahal, petani merupakan garda terdepan dalam mensejahterakan kebutuhan pangan masyarakat. Kondisi ini berbanding terbalik dengan meningkatnya kebutuhan konsumen di pasaran. Kondisi pandemi saat ini memaksa keadaan masyarakat menginginkan harga kebutuhan pangan mereka terjamin dengan harga yang rendah sedangkan petani bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan kita dengan kuantitas pekerja dan gaji yang minim

Di daerah saya selama masa pandemi Covid-19 ini harga bahan pangan lebih tinggi dari waktu-waktu sebelum pandemi. Misalnya saja harga GKP sewaktu tidak masa pandemi saat panen raya biasanya hanya sekitar Rp 4.200, namun di masa pandemi ini harga GKP di atas Rp 5.000. Memang dari sisi petani sebagai produsen hal ini menguntungkan karena harga lebih tinggi, tetapi bagi konsumen harga tersebut bisa saja memberatkan karena pendapatan yang menurun di saat ini. Di desa saya, para distributor pertanian juga tidak bisa mendistribusikan hasil pertanian ke daerah lain. Stok pangan sampai terkumpul banyak di tempat penyimpanan karena terkendalanya distribusi ke daerah lain akibat adanya pembatasan sosial di masa pandemi ini. Padahal setiap daerah itu saling membutuhkan daerah lain untuk memenuhi kebutuhan pangan. Jadi, masa pandemi ini ketahanan pangan juga menurun karena tak semua masyarakat bisa terpenuhi kebutuhan pangannya.

Menurut saya pandemi Covid-19 memiliki pengaruh positif maupun negatif bagi ketahanan pangan. Pengaruh negatifnya adalah banyak tenaga kerja di Indonesia yang kehilangan pekerjaannya atau mengalami penurunan pendapatan. Misalnya karyawan yang ter-PHK, pedagang kaki lima yang kini sepi pembeli karena tempat wisata ditutup, dan bisnis makanan yang terpaksa tutup untuk mendukung aturan PSBB. Sedangkan dampak positifnya adalah masyarakat mulai mencari alternatif pangan seperti memulai kembali aktivitas berkebun, belajar hidroponik, dan mempraktikkan budikdamber.

Menurut pendapat saya, adanya covid ini berpengaruh terhadap ketahanan pangan. Dimana para petani sendiri harus menerima hasil panen mereka dengan harga yang relatif murah, karena pasar sepi akan konsumen, bahkan ada petani yang dengan mirisnya membuang hasil panen mereka ke sungai serta ada juga yang membagi-bagikan hasil panen mereka. Petani banyak mengalami kerugian yang cukup besar selama pandemi. Meskipun pangan tidak akan ada hentinya, namun harga yang diterima petani tidak wajar selama pandemi ini. Selain para petani, banyak industri juga yang mengalami kerugian dan harus memberhentikan para pekerja mereka.

Seperti yang sudah terjadi, pandemi Covid-19 sangat berpengaruh terhadap segala bidang termasuk ketahanan pangan. Kondisi ini menyebabkan kebutuhan masyarakat meningkat (karena semua aktivitas dilakukan di rumah) tetapi di sisi lain daya beli masyarakat menurun karena banyaknya angka tenaga kerja yang dirumahkan. Kebutuhan bahan pangan yang meningkat berdampak pada langkanya sejumlah komoditas, kalaupun ada pasti akan dikenakan biaya yang mahal. Belum lagi kondisi logistik yang juga mengalami kendala. Bisa saja sektor produsen tetap memproduksi (dengan produkivitas menurun) tetapi ketersediaan bahan tidak menjamin dapat mengatasi permasalahan stabilitas ketahanan pangan karena masalah distribusi juga mengalami kendala.

Bahkan sebelum pandemi Covid-19 ketahanan pangan di Indonesia belum sepenuhnya terpenuhi dengan baik, terutama pada pemenuhan makanan yang bergizi. Berdasarkan data yang dipublikasikan oleh BPS pada tahun 2018 sebesar 3,9% balita di Indonesia masih menderita gizi buruk dan 13,8% masih kekurangan gizi. Apalagi pada kondisi pandemi Covid-19 saat ini, sektor ketahanan pangan tentu saja sangat terdampak. Menurut saya hal tersebut disebabkan oleh terbatasnya arus distribusi bahan pangan yang menyebabkan menipisnya pasokan pangan. Selain itu, meningkatkannya jumlah pengangguran menyebabkan pemenuhan makanan bergizi menjadi menurun. Namun, jika masyarakat mau berpikir kreatif dan mampu memanfaatkan peluang, maka mereka dapat memenuhi kebutuhan pangan itu secara mandiri. Misalnya, masyarakat mau untuk menanam sayur dan buah sendiri. Hal itu tentu membantu pemenuhan pangan yang bergizi.

Menurut saya, ketahanan pangan di Indonesia memang belum tercapai, dilihat dari banyaknya impor bahan pokok yang dilakukan. Ditambah keadaan pandemi seperti ini semakin memberi dampak buruk karena tingkat PHK meningkat, banyak para pedagang yang tidak berjualan dan daya beli masyarakat yang menurun. Banyak sekali keluarga yang saat ini kesulitan untuk memenuhi kebutuhan hariannya dan menunggu bantuan dari pemerintah. Daya beli masyarakat yang menurun tersebut juga mempengaruhi produktivitas para petani.

Menurut saya, tidak semua daerah mengalami PSBB teruma di kota-kota kecil, jadi tidak semua kegiatan pertanian dapat terganggu dimasa pandemi covid-19 ini.
Pada kenyataannya, petani-petani kita tetap bisa melakukan kegiatan budidaya untuk mecukupi kebutuhan pangan pokok negara. Namun, jika berbicara mengenai ketahanan pangan yang tidam hanya terkait dengan akses fisik (tercukupinya kebutuhan), tetapi juga dilihat dari akses ekonomi (terjangkaunya harga) sehingga ketahanan pangan terdampak dikarenakan adanya pembatasan kegiatan distribusi yang menyebabkan stok bahan pangan tidak terdistribusi merata, sehingga kekurangan stok pangan di daerah2 tertentu dan harganya jadi cenderung naik, banyak masyarakat menengah ke bawah yang tidak mampu mencukupi kebutuhan pangan mereka.
Oleh karena itu semua, pemerintah memberikan bantuan sosial baik berupa sembako ataupun finansial kepada masyarakat yg terdapat covid-19 agar tetap bisa terpenuhi kebutuhan pangan pokok mereka.

Menurut saya adanya wabah atau pandemi yang berlangsung saat ini sangat berpengaruh terhadap ketahanan pangan di Indonesia. Ekonomi sangat berpengaruh terhadap produksi pangan, dan berbanding lurus dengan tenaga kerja yang di butuhkan oleh masyarakat untuk kestabilan produksi pangan. Akibat pandemi ini, ekonomi di Indonesia menjadi tidak stabil karna tingginya dana yang dibutuhkan, dan oleh sebab itu pemasukan untuk kebutuhan pangan akan berpengaruh. Covid 19 memberi dampak terhadap ketahanan pangan di Indonesia.

Menurut saya Pandemi COVID-19 berdampak pada semua sektor tak terkecuali sektor pangan. Kemudahan untuk mencari bibit-bibit tanaman pangan serta alat dan serta bahan yang semakin melonjak karena permintaan yang semakin banyak ini. Selain itu peningkatan harga tanaman pangan yang diakibatkan pengurangan distribusi ke semua wilayah untuk mengurangi penyebaran virus SARS-COV2 sehingga sektor distribusi berupa logistik barang perlu dikurangi tentunya. Ketersediaan pangan terutama pangan impor akan membuatnya lambat datang ke Indonesia. Pangan yang biasa menggunakan kualitas pangan beras impor sekarang mengurangi ke pangan beras lokal yang tentunya mengakibatkan shock di lapisan masyarakat sehingga memicu ketidakseimbangan ekonomi dan mengakibatkan inflasi.