IPK dan Pengalaman sama pentingnya, dan menurutku ke-2 hal tersebut harus berjalan beriringan untuk sebagai bekal kita sebagai mahasiswa ketika sudah lulus nanti.
Apakah kita akan kuliah dengam ambis mengejar IPK tinggi saja? atau sebaliknya, tidak mengikuti dan memahami kelas, karena terlalu sibuk dengan aktivitas diluar perkuliahan? pasti banyak sekali tipe-tipe mahasiswa yang berbeda-beda tentunya ketika menjadi seorang mahasiswa. Masa perkuliahan atau masa menjadi mahasiswa itu tempat kita untuk membentuk pola pikir dan mengeksplor ilmu pengetahuan menjadi lebih luas.
Menurutku, setidaknya kita harus bisa mengantongi IPK diatas 3.2 dan mempunyai banyak pengalaman organisasi/magang/volunteer. Kenapa diatas 3.2? IPK itu ibarat nilai kesungguhan kita dalam menuntut ilmu selama menjadi mahasiswa, kalau ipk kita tinggi pun membahagiakan diri sendiri dan orang-orang terdekat bukan? dan tidak jarang apabila ingin melamar kerja di perusahaan/ mendaftar beasiswa/ pertukaran pelajar itu ada minimal IPK 3.00 atau IPK >3.00.
Jadi, IPK dan pengalaman kerja itu memang saling berkesinambungan.
1. IPK rendah juga tidak bisa menentukan pandangan masa depan yang kurang baik, karena mungkin mereka sibuk dengan kegiatan hingga menghasilkan 'jam terbang' yang lebih lama dibanding yang lain.
2. IPK tinggi deretan cumlaude pun belum menjamin seseorang bisa bekerja dengan mudah, harus juga memiliki pengalaman yang relevan dan mampu mengaplikasikan ilmu dalam pekerjaan.
Jadi kalau ditanya mana yang lebih penting, tergantung situasi yang ada. Namun, jika dari saya pribadi, harus bisa mengantongi IPK diatas 3.2 dan mempunyai banyak pengalaman organisasi/magang/volunteer.