Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Bagaimana tanggapan kalian dengan "wanita tidak perlu sekolah tinggi-tinggi karena nantinya hanya berakhir di dapur dan mengurus anak"?

gambar|602x395

Wanita memiliki hak yang sama dengan pria dalam hal akses pendidikan tinggi.

Sekedar ingin menambahkan saja, urusan dapur dan anak sudah sepatutnya menjadi hak-kewajiban suami istri. Suami tidak ada salahnya memasak atau mencuci piring dan mengganti popok serta memandikan anak. Pembagian peran gender maskulin dan feminin yang kaku hanyalah konstruksi sosial dan saya rasa sudah ketinggalan zaman.

Mengapa wanita HARUS sekolah setinggi-tingginnya?

Wanita yang mengenyam pendidikan tinggi jelas memiliki perspektif berbeda ketika membangun rumah tangga, hal ini juga berlaku pada pria. Pembelajaran di pendidikan tinggi jika dilakukan dengan sungguh-sungguh untuk mendapatkan ilmu, bukan hanya mengejar gelar semata, akan dapat menurunkan kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Hal ini karena ilmu pengetahuan pada masa kini membuka perspektif bahwa kedudukan manusia adalah setara. Emansipasi wanita yang sudah lahir lebih dari seratus tahun lalu membuka mata kita semua bahwa kesetaraan gender adalah takdir manusia.

Pendapat wanita tidak perlu sekolah tinggi-tinggi karena nantinya hanya berakhir di dapur dan mengurus anak, saya rasa hanyalah upaya dari tradisi patriarki dalam mempertahankan hegemoni dan status quo. Pendapat itu sudah jelas bertujuan menjegal wanita untuk melangkah maju. Wanita dalam perspektif tradisi patriarki yang dibangun oleh agama dan budaya tertentu selalu ditempatkan dalam posisi underprivileged. Betty Friedan (1921–2006) mengatakan jika tujuan dari feminisme adalah membebaskan wanita dari pembagian peran gender yang opresif. Keadilan gender harus dapat memastikan tidak ada satu pihak yang dirugikan secara sistematis. Hal ini artinya hak-hak pria dengan sendirinya juga sudah menjadi hak wanita.

Lalu Setujukah kalian dengan pendapat yang Mengatakan Bahwa " Wanita tidak perlu sekolah tinggi-tinggi karena nantinya hanya berakhir di dapur dan mengurus anak" ?

96

Kalau menurut saya, wanita boleh "tidak perlu" sekolah tinggi-tinggi. Namun wanita perlu BELAJAR terus-menerus. Adapun ilmu yang dapat saya sarankan untuk dipelajari oleh wanita sebagai calon ibu adalah Orthotropics.

aeubwrf|548x709
bethzfb|690x1011

Catatan: Gambar-gambar wajah yang berada di sebelah kiri diatas adalah contoh dari pertumbuhan wajah yang terdampak maloklusi/kraniofasial distropi selama masa pertumbuhan, sedangkan gambar-gambar wajah yang berada di sebelah kanan bisa jadi adalah hasil tindakan medis tertentu, editan, orang yang berbeda, dan lain sebagainya. Bukan "Sebelum dan Sesudah Mewing".

Perlu diketahui bahwa Orthotropics (yang ditemukan oleh Prof. John Mew) perlu diajarkan kepada anak sejak anak tersebut berusia dini sebagai upaya pencegahan berbagai macam gangguan kesehatan yang berpotensi terjadi dikemudian hari seperti:

  • Kebiasaan bernafas melalui mulut

  • Kraniofasial distropi (lhat kembali gambar-gambar wajah diatas)

  • Maloklusi dan penyempitan ruang lidah
    zplkh|690x530

  • Postur badan bungkuk (Forward head posture)

  • Penyempitan jalan nafas

  • Inflamasi kronik

  • Kebiasaan mendengkur (ngorok) hingga sleep apnea ketika tidur, yang apabila hal ini tidak segera ditangani, maka akan berpotensi menimbulkan berbagai gangguan kesehatan yang lebih lanjut seperti:

  • Rendahnya kadar oksigen dalam tubuh

  • Tingginya kadar karbondioksida dalam tubuh
  • Rasa ingin minum kopi dan merokok secara terus menerus

  • Tekanan darah tinggi (Hipertensi)

  • Gula darah tinggi (Diabetes)
  • Kolestrol tinggi
  • Kerusakan otak
    Brain Damage because of Sleep Apnea by Steevn Lin - Copy (2)|690x695

  • Masalah ingatan

  • Penurunan IQ
  • Brain Fog
  • Kegelisahan
  • Depresi
  • Masalah jantung dan pembuluh darah
  • gagal jantung
  • Stroke
  • Asam urat
  • Impotensi
  • Masalah penglihatan
  • Masalah pendengaran
  • Masalah perilaku
  • Gangguan metabolisme
  • Gangguan pada bakteri usus
  • Gangguan proses pertumbuhan pada anak
  • Dan masih terdapat lebih banyak lagi berbagai gangguan kesehatan yang dapat saya sebutkan disini.

Oleh sebab itu, orang tua seperti ibu maupun pendidik yang memiliki pemahaman mendalam mengenai Orthotropics sangatlah dibutuhkan agar Orthotropics dapat disampaikan kepada anak dengan baik, sehingga mewing dapat dilakukan dan dibiasakan oleh anak dengan baik pula.

Lidah menempel pada langit-langit mulut, gigi atas dan gigi bawah yang saling bersentuhan tanpa tekanan, kebiasaan mulut tertutup, bernafas melalui hidung, dan postur badan tegak adalah beberapa hal dasar dari Orthotropics yang juga memiliki nama lain "mewing".
zafegrb|690x343

Sumber: Apakah Nabi Muhammad SAW Melakukan Mewing?

Sudahkah kita mendapatkan edukasi maupun pelatihan tentang hal ini?

Berapa banyakkah orang tua (terutama ibu di Indonesia) yang sudah mengetahui hal ini?

Berapa banyakkah anak (setidaknya di Indonesia) yang sudah mendapatkan edukasi mengenai Orthotropics ini?

Salam Mewing

Saya tidak setuju dengan pernyataan di atas mengingat pernyataan tersebut sudah tidak lagi relevan di zaman ini. Saat ini, semua orang, baik laki-laki maupun perempuan, memiliki hak untuk mengenyam pendidikan dan melimpahkan pekerjaan rumah tangga seperti memasak dan mengurus anak kepada perempuan hanyalah usaha untuk mengkotak-kotakan gender. Memasak dan mengurus anak adalah tanggung jawab dari pasangan suami istri yang sudah menikah dan tidak bisa seenaknya dilemparkan ke satu pihak saja. Lagipula jika wanita berakhir di dapur, seorang koki juga begitu bukan? Baik dia laki-laki sekalipun. Dan jika mengurus anak adalah tugas perempuan, untuk apa dia menikah jika suaminya tak ikut ambil bagian dalam mengurus anak? Lebih baik tidak usah menikah daripada harus dikotak-dikotakan seperti itu.

asumsi seperti ini masih ada dilingkungan sekitar aku, terlebih beberapa temanku juga memiliki spekulasi bahwa sudah kodratnya wanita dibawah suami agar selalu menghormati suami-_-

beberapa temanku yang sudah lulus langsung bekerja dan orientasinya selalu pada pekerjaan dan bukan pada pendidikan ada yang seperti itu.

menjadi sebuah pembahasan diumur 21 belum lamaran, belum tunangan dan belum menikah itu hal yang cukup ramai, disini.

Menurut saya siapa saja dapat mengenyam pendidikan sampai perguruan tinggi termasuk itu seorang wanita. Wanita, kerap kali selalu dikait-kaitkan dengan segala aktivitas rumah tangga dan mengurus anak saja. Namun tanpa disadari banyak wanita karir yang juga mampu memainkan peran sekaligus dalam setiap harinya. stigma-stigma negatif seperti ini akan menjadi sebuah pemicu kebimbangan didalam diri. Selagi seorang wanita bisa menjadi wanita dengan karir yang baik juga dapat mengurus pekerjaan rumah walaupun akhirnya harus membutuhkan bantuan dari suaminya. Sebab menikah bukanlah untuk menjadi siapa yang berkuasa dan siapa dibawah. Melainkan membangun sebuah rumah tangga yang bisa menerima segala kekurangan yang menyatukan dua karakter yang berbeda dalam setiap seluk-beluk masalah yang datang namun dapat diselesaikan dengan kepala dingin tanpa ada pertengkaran.

Menurut saya wanita akan lebih baik jika memiliki jenjang pendidikan yang tinggi dan bisa bekerja secara mandiri sehingga memiliki penghasilan sendiri. Hal itu akan memberikan keuntungan bagi sebuah keluarga nantinya, karena ketika suatu saat nanti jika sang suami sebagai kepala keluarga memiliki masalah dalam pekerjaannya karena suatu kondisi seperti sakit, diberhentikan dari pekerjaannya, atau juga memiliki masalah pada tubuhnya sehingga membuatnya tidak bisa bekerja seperti biasa. Jika hal itu terus terjadi sampai lama dan tidak memiliki pamasukan bagi keluarganya, sang istri bisa menjadi backup untuk menjaga keluarganya tidak makin berantakan karena penghasilan yang dimilikinya dapat menjadi dana cadangan sampai kondisi keluarganya kembali normal.

Selain itu juga seorang wanita yang memiliki pendidikan yang tinggi dan memiliki pengalaman kerja dapat menuntun anaknya untuk membangun karir yang tepat bagi anaknya, dimulai dari membangun bakat dan skill si anak dengan membimbingnya untuk menggapai pendidikan yang sesuai dengan bakat dan passion si anak, sehingga masa depan anaknya lebih tertata. Selain itu karena anak-anak cenderung lebih dekat kepada ibunya, seorang ibu yang memiliki pendidikan yang tinggi akan bisa memberikan nasehat dan masukan yang lebih berbobot kepada anak-anaknya karena memiliki wawasan yang tinggi.

Saya tidak setuju. Karena sebut saja begini, biarpun perempuan sudah berpendidikan tinggi (misal kuliah) dan tidak akan bekerja, namun dengan memiliki ilmu pengetahuan dan pendidikan yang luas makan sebagai istri akan cerdas dalam mengelola rumah tangga, berdiskusi dengan pasangan pun akan semakin luas pandangannya. Ataupun sebagai ibu nantinya akan mendidik anak lebih baik lagi. Terlebih dalam mencapai ilmu pengetahuan dan pendidikan tidak hanya di perguruan tinggi, tapi dapat juga didapatkan dan diraih melalui kursus, kelas parenting dan lainnya.
Kekhawatiran banyak kaum laki-laki (maupun keluarga dari pihak pasangan laki-laki) ketika perempuan berpendidikan tinggi adalah merasa takut 'kalah', merasa tidak pantas, takut perempuan akan mendominasi rumah tangga sehingga tidak mau mengurus rumah, ataupun sombong dan tidak mau mendengar suaminya. Padahal segala urusan rumah tangga apabila kedua pasangan cerdas maka akan lebih banyak ditemukan solusi, pendapat dan pandangan yang dapat mempererat hubungan ataupun memudahkan penyelesaian masalah.

Saya pribadi tidak setuju dengan statment itu. Wanita sangat perlu sekolah tinggi walaupun nanti nya mungkin akan berakhir di dapur dan mengurus anak. Tapi dengan sekolah tinggi wanita pasti memiliki mindset atau wawasan yang berbeda dengan wanita yang tidak memperhatikan pendidikan. Apalagi perihal mengurus anak, menururt saya cara didik perempuan yang sekolah tinggi akan berbeda dengan yang tidak sekolah, dan nantinya akan berdampak kepada tumbuh kembang anak. Maka dari itu, seorang wanita sangat oerlu sekolah tinggi.

Tidak setuju. Wanita adalah ‘sekolah kehidupan’, ‘tiang negara’. Betapa banyak anak-anak sukses yang dididik oleh para ibu luarbiasa.

Justru untuk menjadi ibu yang super para wanita harus sekolah setinggi-tingginya. Siapa bilang jadi ibu rumahtangga adalah pekerjaan yang mudah? Akan jauh lebih baik jika para ibu mempunyai pendidikan yang mumpuni untuk mencetak generasi berikutnya yang berkualitas.

Kalau aku tentunya sebagai perempuan tidak setuju dengan statement yang sebenernya sudah dari dulu menjadi pembahasan yang tidak pernah selesai. Tentunya di zaman sekarang yang serba canggih, teknologi yang sudah masuk kenegara kita, kemudahan akses informasi, tentunya statement tersebut tidak harus diperdebatkan. Namun memang faktanya masih ada saja beberapa kali terdengar di telinga terlebih biasanya para kaum yang sudah tua. Namun tentu saja tanpa ilmu hidup yang serba tidak pasti ini akan sulit, semuanya serba menggunakan ilmu pengetahuan.

Berangkat dari statement tadi, saya teringat salah satu edukasi yang cukup urgent di negara kita. Yaitu edukasi kesetaraan gender, mengapa? Karena budaya kita sudah melekat dengan seorang perempuan memiliki peran mengurus seluruh pekerjaan domestik, sedangkan laki-laki mencari nafkah. Namun keduanya dianggap timpang, lagi-lagi urusan cita-cita perempuan seperti menjadi hambatan. Maksudnya, mengapa tidak di dukung saja? Biarkan ia sama dengan manusia pada umumnya, sama dalam memiliki ambisi, cita-cita, dan tujuan. Dan urusan domestik seharusnya ada pembagian yang merata, namanya menikah ya tentu saja perihal hidup bersama. Kerja tim yang supportif dan saling membantu. Ya, sedikit agak gedek tetapi jika digaungkan dikira perempuan malah menuntut hehe.

Edukasi itu penting, anak lahir dari rahim perempuan (untuk yang memilih punya anak) sedang untuk memberi ilmu ya tidak hanya ibu tetapi juga peran ayah. Jadi kesimpulannya, jika ayah dan ibu bisa sama-sama pintar bukankah anaknya semakin baik? logikanya, misal ayah saja yang pintar kemudian ibu biasa-biasa saja atau cukup dikatakan tidak respect terhadap ilmu. Sedang ayah sibuk bekerja, pulang-pulang hanya mengistirahatkan lelah, lantas siapa yang menjadi peran sumber ilmu internal anak?

Saya jelas sangat tidak setuju dengan statement yang mengatakan bahwa wanita tidak harus menempuh pendidikan yag tinggi karena satu dan lain hal yang pasti berkaitan dengan gender, pelabelan yang terbentuk atas konstruksi sosial ini, membuat wanita memiliki ruang gerak yang terbatas, jika saya menemukan atau mendapati perkataan demikian, saya akan mengatakan ‘justru, karena kelak saya akan bertanggung jawab atas nyawa suami dan anak saya, maka saya harus meraih pendidikan setinggi-tingginya agar saya mampu melahirkan dan mendidik mereka dengan baik” memangnya, menjadi seorang ibu rumah tangga di zaman seperti saat ini sebuah tugas yang mudah?, tentu tidak, justru saat ini menjadi ibu rumah tangga ditengah perkembangan zaman yang sudah sangat modern menjadi satu tantangan tersendiri untuk kita para calon ibu hebat diluaran sana.

Kesetaraan gender sudah saat nya lebih dikenalkan kepada masyarakat umum, terutama yang memang awam akan adanya edukasi seperti ini, karena bukan hanya demi kemajuan negara melainkan juga untuk keadilan manusia, yang tidak membedakan feminism dan maskulin.