Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Nilai sosial apa sajakah yang dapat kita petik dari film Titanic?

Titanic merupakan film yang mengisahkan tenggelamnya kapal Titanic dalam perjalanan menuju Amerika akibat menanbrak sebuah gunung es. Film ini dibumbui oleh perbedaan sosial, harta, percintaan, dan kebebasan yang diidamkan oleh Rose Dewitt Bukater. Nilai sosial apa saja yang dapat kita petik dari film ini?
image|262x192

20

Tidak ada yang Maha di dunia ini kecuali Tuhan, Allah. Dalam Film Titanic penumpang percaya bahwa kapal tersebut tidak mungkin untuk tenggelam. Bahkan seorang tokoh bernama Caledon Hockley berkata Tuhan sekalipun tidak akan dapat menenggelamkan kapal tersebut.
Selain itu kita juga belajar bagaimana menghargai perempuan dan anak-anak dan mengutamakan mereka disaat terjadi musibah. Selain itu terdapat nilai yang perlu diperhatikan bahwa penyesalan seumur hidup lebih menyakitkan daripada mati akibat hipotermia. Di akhir adegan Rose berkata 700 orang yang menaiki 20 kapal, hanya satu kapal yang kembali untuk menyelamatkan kembali 1500 orang yang terjun ke lautan, sedangkan sisanya hanya menunggu melihat dari jauh 1500 orang meninggal perlahan kemudian diliputi penyesalan sampai mati dan pengampunan yang entah kapan mereka peroleh.

Nilai social lainya yang dapat dipetik juga mengenai loyalitas seseorang terhadap apa yang ia sukai dan profesinya. Pembuat Titanic di akhir terus berupaya menyelamatkan semua orang, dan ia tinggal di dalam kapal tidak ikut keluar berusaha menyelamatkan diri karena ia merasa bersalah. Ia berkata kepada Rose "Maaf karena tidak membuat kapal yang baik". Sang pembuat kapal tersebut merasa bersalah dan ia juga menyesali perbuatanya karena mengurangi jumlah kapal kecil penyelamat dengan perhitungan bahwa kapal tidak mungkin tenggelam. Ia menunjukan keangkuhanya saat Rose berkata bahwa hal tersebut tidak logis mengingat kapal yang tersedia tidak akan cukup untuk menyelamatkan setengah penunmpang kapal.
Sang kapten juga akhirnya memilih menunggu ajal di ruang kemudi, ia menyesali perbuatannya dan ketidak berhasilanya saat itu untuk mengemudikan kapal paling besar. Ia memaksa kapal berjalan terus lebih cepat dengan iming-iming akan menjadi berita utama di Koran saat datang ke Amerika. Ia akhirnya terus berusaha memperbaiki kesalahanya dengan menolong sebanyak mungkin.
Pemusik yang terus mencoba menenangkan penumpang dengan musiknya, walaupun mereka tahu kematian ada didepan mereka.
Film ini juga mengajarkan agar kita tidak egois dan tidak sombong.