Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Mengapa Film Lost In Papua berpotensi menebalkan rasa tidak percaya masyarakat Papua terhadap pembuat film asal Indonesia?

JI Jiminie 8 years ago

Lost In Papua|690x300

Lost In Papua sebuah film baru karya Irham Acho Bachtiar bercerita tentang sebuah suku di Papua. Aktor Fauzi Baadilah berperan sebagai David. Dia diculik dan ditahan oleh “suku Korowai” dan diperkosa oleh 16 perempuan Korowai. Suku ini digambarkan sebagai “suku terasing” di hutan terlarang, semuanya perempuan, sehingga David dijadikan sapi pejantan.

21

Rasialisme pertama. Menurut Fauzi Baadilah kepada Okezone, “Ceritanya itu memang mengangkat penduduk Papua dengan dramanya. Mental lawan main gue itu kan orang setempat yang nggak pernah main film. Jadi tugas gue double, pendekatan psikologis mereka, agar mereka lebih santai.” Orang Papua dianggap tidak pernah main film sehingga terbelakang. Rasialisme begini biasa dalam media Indonesia.

Sekisme kedua. Fauzi juga menceritakan. “Jadi waktu itu ceritanya gue tersesat di daerah Papua. Tiba-tiba gue ketemu suku yang semuanya cewek. Jadi mereka kalau melihat pria hasratnya langsung deh. Cukup kacau juga deh, 16 orang secara bergantian perkosa gue.” Orang Papua memerlukan sapi pejantan dari Jawa. Perempuan Papua digambarkan sebagai perempuan yang lebih baik bisa berhubungan seks dan mendapat “bibit penerus” dari lelaki Jawa. Suku Korowai digambarkan sebagai suku yang hanya terdiri dari kaum perempuan dan juga pemerkosa laki-laki. Ini merendahkan perempuan.

Judul sebah blog menyebutkan, “Korowai : Suku Kanibal Terakhir: Hidup diatas rumah pohon selama berabad-abad di hutan Papua, Korowai lebih dikenal sebagai suku pemakan manusia. Jumlah sukunya terus berkurang akibat perang, penyakit, berkurangnya pohon-pohon besar dan program merumahkan yang dilakukan pemerintah.

Ini tentu tidak benar. Korowai sebuah kelompok etnik yang dulu hidup di pepohonan di daerah Boven Digul. Mereka tentu saja bukan eksklusif perempuan. Banyak lelaki Korowai. Lelaki Korowai adalah salah satu suku di Papua yang tidak memakai koteka. Kaum lelaki suku ini memasukan alat kelamin mereka ke dalam kantong jakar (scrotum) dan pada ujungnya mereka balut ketat dengan sejenis daun.

Kaum perempuan hanya memakai rok pendek terbuat dari daun sagu. Sagu adalah makanan utama mereka. Ulat sagu juga menjadi makanan tambahan yang terlebih dulu dibakar. Untuk menghindari binatang buas dan ancaman perang antar suku, mereka membuat rumah di atas pohon bahkan ada rumah yang mencapai tinggi 40 meter.

Soal anggapan lucu dari Irham Acho Bachtiar bahwa ada “mitos” suku perempuan, dia tampaknya perlu bongkar arsip TV One. Tokoh masyarakat Papua, Yorris Raweyai, pernah melakukan ekspedisi Mamberamo bersama TV One pada pertengahan tahun 2010. Raweyai menjelaskan bahwa suku perempuan tidak ada. Dia bilang ada kesalahan interpretasi terhadap salah satu suku di Mamberamo. Ketika itu ada sekelompok orang yang menuju kampung tersebut, dan karena takut para perempuan mengambil peralatan perang dan mengejar kelompok asing tersebut. Para laki-laki sedang pergi ke kebun dan berburu sehingga tidak tampak laki-laki di kampung tersebut.

Ada banyak bahan yang bisa digunakan untuk mengangkat nama Papua. Lewat kebudayaan orang asli Papua, yang kaya akan suku, bahasa dan adat istiadat. Atau belajarlah dari Jared Diamond dalam buku best seller New York Times: Guns, Germs and Steel. Diamond bilang bangsa Papua kurang beruntung karena mereka kalah dengan bibit penyakit serta teknologi logam. Namun orang Papua adalah orang cerdas. Ada pula banyak persoalan yang menimpa alam dan orang asli Papua namun belum banyak yang menyuarakan dan mempublikasikan persoalan yang sedang terjadi. Sayang, mata hati Irham Bachtiar tidak terbuka. Pikiran dia juga tertutup.

Dia tidak melihat eksploitasi besar-besaran terjadi di Papua, mulai dari Freeport McMoran hingga Lost in Papua. Hutan kami dirampas. Dijadikan lokasi tambang dan tempat transmigrasi. Ada suku-suku yang tergusur di atas tanah mereka sendiri. Keberagaman adat dan budaya orang asli Papua yang disalahinterpretasikan sehingga menimbulkan pandangan-pandangan yang tidak benar terhadap orang asli Papua.

Pada 1963, ketika Indonesia mengambil alih tanah kami, penduduk Papua ada sekitar satu juta orang dengan sekitar empat persen pendatang. Kini penduduk Papua total 3.9 juta dan pendatang 51 persen. Kami didiskriminasi. Kami dibinasakan di tanah kami sendiri. Kami biasa menerima pendatang. Kami suka dengan banyak pendatang karena mereka perlu tanah. Namun tak semua pendatang berbuat baik. Tampaknya, kebaikan orang Papua menerima orang tua Irham Bachtiar di Merauke dibalas dengan pembuatan film yang keji, kotor dan jahat.

[details="Referensi"]

[/details]