Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Dictio Moviephile Community: Identitas Budaya dalam Film Tenggelamnya Kapal Van der Wijck (2013)

YU Yunisa Nadya 6 years ago

tenggelam|476x721, 75%

Indonesia merupakan negara yang dengan kompleksitasnya menjadikannya multikultur. Kondisi ini mempengaruhi tema-tema yang dimunculkan dalam film yang merepresentasi dan merekonstruksi kenyataan. “Tenggelamnya Kapal Van der Wijck” merupakan film percintaan yang dibumbui isu-isu multikultur khususnya terkait dengan identitas budaya yang meluas kedalam ranah suku, ras, agama, dan kelas sosial di Indonesia, khususnya Minang.

Film “Tenggelamnya Kapal Van der Wijck” adalah film adaptasi dari novel karya HAMKA dengan judul yang sama. Tema utama film ini adalah percintaan dengan bumbu isu identitas budaya yang juga merupakan isu utama yang sekaligus merupakan penyebab konflik dalam film. Dikisahkan bahwa Zainudin, seorang pemuda dengan kondisi melarat yang lahir dari ibu berdarah Bugis dan bapak berdarah Minang yang pergi ke kampung halaman bapaknya, Padang Panjang. Disana dia bertemu dengan Hayati, seorang gadis Minang dari keluarga terpandang, dan mereka saling jatuh cita. Akan tetapi, masyarakat Minang menganggap Zainudin bukan bagian dari mereka karena ibunya bukan orang Minang.

tenggelamnya-kapal-van-der-wijck|690x387, 75%
Zainudin yang terlanjur jatuh cinta pada Hayati akhirnya melamarnya, tapi keluarga Hayati menolaknya. Hayati pun pada akhirnya dijodohkan dengan Aziz yang dianggap lelaki Minang tulen yang kaya raya. Merasa kecewa, Zainudin kemudian merantau bersama Bang Muluk ke Batavia. Disana dia memulai karir sebagai penulis. Singkat cerita, dia menjadi penulis terkenal. Di popularitas dan kemakmurannya, Zainudin bertemu Hayati dan suaminya, Aziz, dalam kondisi perekonomian yang tidak baik. Zainudin yang menganggap mereka sebagai sahabat bersedia untuk membantu meringankan beban perekonomian mereka. Namun kemudian Aziz menceraikan Hayati karena merasa tidak mampu lagi menafkahinya. Hayati sendiri tetap tinggal di rumah Zainudin. Akibat suatu perdebatan, Zainudin memulangkan Hayati ke kampung halaman dengan menyuruhnya menumpang kapal Van der Wick yang karam di tengah perjalanan. Sebelum Hayati meninggal di sebuah Rumah Sakit mereka mengaku jika masih saling mencintai. Akan menarik apabila film ini dilihat dari perpektif multikulturalisme untuk menjelaskan kompleksitas identitas budaya nasional dalam film Tenggelamnya Kapal Van der Wijck dan sejauh mana isu-isu tersebut terkait dengan kehidupan berbangsa di Indonesia.

Menurut kalian apakah film Tenggelamnya Kapal Van der Wijck adalah bentuk refleksi terhadap bagaimana masyarakat Indonesia memandang keragaman budaya yang kita miliki?

65

Film ini sangat buat aku penasaran juga sih tentang culture di berbagai daerah terutama tentang "pernikahan" dimana terkadang sebagian daerah di Indonesia masih memprioritaskan seseorang yang terlahir dari daerah itu sendiri untuk bisa meminang orang yang mereka cintai :')

Setuju banget sama pernyataannya. Dalam film ini adat istiadat masih sangat kuat sebagian irang masih memprioritaskan orang yang mempunyai adat yang sama. Film ini sebenarnya menggambarkan tentang keragaman adat yang ada di indonesia. Namun film ini juga menggambarkan bahwa terkadang masyarakat lebih mementingkan adatnya sendiri dibanding dengan lebih demojratis terhadap orang lain

Ya hal demikian amat dapat memperkeruh suatu kedamaian dalam sosial budaya. Solusinya harus berusaha dari kitanya untuk membuka diri dengan budaya lain agar tidak terjadi dikotomi sosial.

Setuju, hal ini yang berakibat justru mengeratkan homogenitas suatu tribal di masyarakat. Pdhl homogenitas yg bikin perubahan sosbud bisa terhambat

dimana adat dan budaya dalam mayarakat di film tersebut masih melekat kuat apalagi dalam pernikahan dilihat dari bibit bobot bebet zainudin yang berbeda dengan hayati, keragaman budaya yang melekat serta segala peraturan tiap adat dapat dipelajari bahwa keberagaman adat adat di Indonesia sangatlah luas.

Menurut saya ada beberapa sisi yang bisa dikatakan seperti itu contoh seperti pernikahan. Pernikahan dalam film ini sampai sekarang masih dilakukan oleh sebagian masyarakat Indonesia dimana sebagaian para orang tua lebih suka menikahkan anaknya dengan sesama suku yang dianggap lebih afdol dan srek daripada nikah dengan orang luar yg berbeda suku.

Apa yang terjadi pada Zainudin sebagai minoritas dalam masyarakat Minang dan Hayati sebagai perempuan Minang merupakan tertindasnya hak perorangan akibat hak kolektif yang dimiliki oleh kelompok. Menjadi demikian karena meskipun secara latar waktu, tahun
1930-an, Indonesia belum resmi berdaulat, tetapi momen Sumpah Pemuda dua tahun sebelumnya merupakan peristiwa bahwa semua etnis pribumi yang mendiami wilayah yang disepakati sebagai Indonesia adalah satu bangsa.

Film ini menunjukkan betapa tradisi berbalut etnosentrisme dapat melenggangkan penindasan kelompok terhadap anggotanya.

Dalam kasus ini perlu adanya pengkajianterhadap politik multikulturalisme yang menurut Kymlicka berusaha melindungi hak-hak minoritas justru menimbulkan tekanan
pada tingkatan internal kelompok itu sendiri.
Padahal dalam multi-kulturalisme yang
dikemukakan Kymlicka, “hak minoritas tidak memperbolehkan satu kelompok mendominasi
kelompok lainnya; dan tidak dapat membuat
satu kelompok menindas anggotanya sendiri.”
(Kymlicka 2002, 295). Pembatasan internal
terhadap Zainudin dan Hayati yang sebenarnya
tidak ingin mengikuti pola matrilineal dalam
masyarakat Minang seharusnya tidak perlu
terjadi dan bukan merupakan hal yang diinginkan oleh multikulturalisme karena politik ini akan mentoleransi dan selalu dapat dinegosiasikan sehingga tercapai kesetaraan. Dalam konteks Indonesia, multikulturalisme belum terwujud sepenuhnya karena seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, masih hidupnya ikatan primordial yang menumbuhkan etnosentrisme. Selain itu proses negosiasi yang dilakukan cenderung menguntugkan bagi pihak-pihak yang lebih dominan.

Disadur dari:
Thalib AA. 2017. Isu-isu identitas budaya nasional dalam film "Tenggelamnya Kapal Van der Wijk". SATWIKA: Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial 1(2): 1-7.

Film yang sangat menarik untuk ditonton dan diupas, hikmah yang kita dapat melalui film ini banyak sekali dari tokoh utama Zainudin dan Hayati yang sangat tegar menghadapi segala rintangan dalam hubungan mereka, penonton akan ikut sedih dan menangis ketika menonton film ini, menonton 2x rasanya belum cukup

Film ini menggambarkan banget pandangan masyarakat Indonesia terhadap keragaman Indonesia sendiri. Terlihat sampai saat ini masih saja ada yang orang tuanya mau anaknya menikah dengan yang satu suku. Seperti teman saya yang berketurunan Tionghoa, orang tuanya bilang lebih baik sama yang berketurunan Tionghoa juga. Saya juga seperti itu, orang tua saya bilang lebih baik sama-sama yang berkebudayaan Batak. Mungkin memang supaya keturunan kebudayaan itu tetap ada, namun kembali lagi bahwa Indonesia ini plural dan kita tidak bisa hidup sendiri, budaya tidak berkembang jika budaya tersebut hidup sendiri.

Film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck
menggambarkan latar adat Minangkabau.Adat-istiadat sangat dijaga dan dijunjung tinggi
dalam kehidupan sehari-hari.Film ini menampilkan representasi seorang wanita minang yang mampu menahan hasrat
cinta, karena dia menghargai adat
istiadat yang ada.Dalam kehidupan sehari-hari tidak bisa kita pungkiri bahwa nilai-nilai budaya memiliki pengaruh langsung pada aspek
kehidupan.Salah satunya adalah pernikahan antara Hayati dengan Zaenudin yang ditentang karena perbedaan suku, dimana Zaenudin sendiri merupakan minoritas.Padahal Indonesia sendiri merupakan negara yang memiliki banyak suku,namun praktek seperti ini masih sering kita jumpai.

saya satu sependapat kak, tetapi di padang sendiri nikah sesama suku belum di bolehkan, kalau misalnya boleh, mungkin hanya dibeberapa daerah tertentu saja, karena sesuku merupakan masih saudara, kalau dalam minang kabau

Menurutku, dalam film ini betapa kultur budaya terutama kultur dalam pernikahan dan bahasanya sangat jelas. Dalam film ini bahasa yang para tokohnya gunakan adalah bahasa daerah. Juga saat pernikahan Hayati dan Aziz yang menggunakan adat setempat mereka. Yang sangat aku suka adalah saat Zainudin bersyair dengan begitu dalam untuk Hayati. Ini salah satu film dengan ending sedih terbagus yg pernah aku nonton

Sulit untuk menyatakan bahwa masyarakat kita memandang keragaman seperti yang di gambarkan cerita diatas. Karna, untuk melihat ini perlu menelaah secara detail untuk ini. Tapi menurut saya yang tinggal di daerah yang memiliki keragaman yang tidak hanya dari keragamaan suku ras tapi kami juga memiliki keragamaan agama, sebagai masyarakat yang melihat dan merasakan apa itu keragaman. Menurut saya Indonesia terutama, di era sekarang sudah tidak mmperlakukan seseorang yang minor dengan perlakuan yang berbeda karna semakin tinggi nya pendidikan masyarakat kita dan menurut saya juga tidak sedikit masyarakat kita sudah mengerti dan paham akan yang nama nya toleransi. Jadi, saya rasa untuk di era saat ini dan sekarang masyarakat kita sudah memiliki rasa toleran yang tinggi akan yang namanya perbedaan termasuk keragama kita.

izin nambah ya kak , Untuk sebagian di kota besar- besar mungkin tidak perhatikan, tetapi menurut saya hal ini masih terjadi untuk daerah terpencil, masih banyak halangan untuk menikah apabila posisinya seperti zainudin

Menurut saya flim ini sangat menggambarkan adat budaya Indonesia. Dimana adat dan budaya dalam mayarakat di film tersebut masih melekat kuat apalagi dalam pernikahan dilihat dari bibit bobot bebet zainudin yang berbeda dengan hayati, keragaman budaya yang melekat serta segala peraturan tiap adat dapat dipelajari bahwa keberagaman adat adat di Indonesia sangatlah luas.

Bener banget kak, Tidak dipadang saja yang kental, di daerah lain juga pasti ada adat yang kental dan masih terjaga sampai sekarang. adasebagain yang masih bisa di cari jalan tengah nya ada juga yang tidak bisa