Indonesia merupakan negara yang dengan kompleksitasnya menjadikannya multikultur. Kondisi ini mempengaruhi tema-tema yang dimunculkan dalam film yang merepresentasi dan merekonstruksi kenyataan. “Tenggelamnya Kapal Van der Wijck” merupakan film percintaan yang dibumbui isu-isu multikultur khususnya terkait dengan identitas budaya yang meluas kedalam ranah suku, ras, agama, dan kelas sosial di Indonesia, khususnya Minang.
Film “Tenggelamnya Kapal Van der Wijck” adalah film adaptasi dari novel karya HAMKA dengan judul yang sama. Tema utama film ini adalah percintaan dengan bumbu isu identitas budaya yang juga merupakan isu utama yang sekaligus merupakan penyebab konflik dalam film. Dikisahkan bahwa Zainudin, seorang pemuda dengan kondisi melarat yang lahir dari ibu berdarah Bugis dan bapak berdarah Minang yang pergi ke kampung halaman bapaknya, Padang Panjang. Disana dia bertemu dengan Hayati, seorang gadis Minang dari keluarga terpandang, dan mereka saling jatuh cita. Akan tetapi, masyarakat Minang menganggap Zainudin bukan bagian dari mereka karena ibunya bukan orang Minang.
Zainudin yang terlanjur jatuh cinta pada Hayati akhirnya melamarnya, tapi keluarga Hayati menolaknya. Hayati pun pada akhirnya dijodohkan dengan Aziz yang dianggap lelaki Minang tulen yang kaya raya. Merasa kecewa, Zainudin kemudian merantau bersama Bang Muluk ke Batavia. Disana dia memulai karir sebagai penulis. Singkat cerita, dia menjadi penulis terkenal. Di popularitas dan kemakmurannya, Zainudin bertemu Hayati dan suaminya, Aziz, dalam kondisi perekonomian yang tidak baik. Zainudin yang menganggap mereka sebagai sahabat bersedia untuk membantu meringankan beban perekonomian mereka. Namun kemudian Aziz menceraikan Hayati karena merasa tidak mampu lagi menafkahinya. Hayati sendiri tetap tinggal di rumah Zainudin. Akibat suatu perdebatan, Zainudin memulangkan Hayati ke kampung halaman dengan menyuruhnya menumpang kapal Van der Wick yang karam di tengah perjalanan. Sebelum Hayati meninggal di sebuah Rumah Sakit mereka mengaku jika masih saling mencintai. Akan menarik apabila film ini dilihat dari perpektif multikulturalisme untuk menjelaskan kompleksitas identitas budaya nasional dalam film Tenggelamnya Kapal Van der Wijck dan sejauh mana isu-isu tersebut terkait dengan kehidupan berbangsa di Indonesia.
Menurut kalian apakah film Tenggelamnya Kapal Van der Wijck adalah bentuk refleksi terhadap bagaimana masyarakat Indonesia memandang keragaman budaya yang kita miliki?