Ngenest bisa dibilang merupakan curahan hati (curhat) Ernest yang semasa hidupnya merasa diperlakukan “tidak adil” lantaran lahir dari keturunan Tionghoa. Curhatan ini sebelumnya sudah Ia tuangkan dalam bentuk buku berjudul sama yang berkonsep trilogi.
Ngenest banyak sekali menampilkan fakta-fakta yang sering terjadi di dalam kehidupan bermasyarakat. Mulai dari kebiasaan mengejek seseorang karena tampilan fisik mereka, hingga kebiasaan menilai sikap seseorang berdasarkan suku ataupun agama mereka. Dengan kata lain, film ini sebenarnya ingin menyentil orang-orang yang sering berlaku demikian, namun dengan cara yang halus sehingga tidak sampai menyinggung perasaan.
Secara cerita, Ngenest memiliki alur maju, dengan bagian pembuka dan penutup yang sangat berirama. Ya, film ini mengawali dan mengakhiri kisahnya dengan peristiwa kelahiran. Tahap demi tahap kehidupan Ernest pun dipaparkan dengan rapih dan berkesinambungan; mulai dari masa SD, SMP, SMA, Kuliah, hingga menjadi karyawan.
Akting yang ditampilkan para pemerannya juga cukup meyakinkan. Penonton bisa merasakan chemistry antara Ernest dan Lala. Sementara Morgan, tak disangka-sangka juga mampu melucu. Penampilan sejumlah komika, walaupun singkat, tentunya juga menjadi kekuatan film ini. Singkatnya, Ernest berhasil mengemas sebuah isu yang cukup sensitif (bermuatan SARA) menjadi tontonan yang sangat menggelitik dan menghibur.