Anggapan bahwa film barat lebih diminati daripada film local, nampaknya benar adanya. Pernyataan tersebut juga sesuai dengan yang diungkapkan oleh M. Fariz Fadillah Mardianto, S.Si, M.Si dalam jurnal ilmiahnya yang berjudul Comparative Analysis of The Competitiveness between Indonesian Movies against International Movie, bahwa minat masyarakat menonton film impor ternyata lebih besar jika dibandingkan dengan menonton film local.
Berdasarkan hasil analisis melalui Structural Equation Modelling (SEM), yang digunakan untuk menentukan indicator secara signifikan faktor-faktor yang mempengaruhi preferensi masyarakat terhadap film, hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti genre, kualitas yang disukai dan tidak disukai serta aspek kualitas meliputi akting, naskah, plot cerita, pengambilan adegan, animasi, visual effect, dan audio. Sedangkan aspek kualitas yang menonjol pada film local yaitu acting para pemeran dan pesan moral yang disampaikannya. Selain itu terdapat juga perbedaan yang mencolok yaitu film impor mendominasi pada genre aksi, petualangan, fantasi, fiksi ilmiah, musical thrille, action, dan animasi. Sedangkan pada film local dengan genre komedi, drama, dan sejarah.
Terus terang, aku sendiri juga cenderung lebih memilih untuk menonton film-film barat dibandingkan dengan film local, alasannya karena menurutku film barat memiliki alur cerita yang lebih menarik dan tidak mudah ditebak oleh penontonnya. Berbeda halnya dengan film local kebanyakan yang aku tonton, yang mana alur ceritanya mudah ditebak. Namun, bukan berarti film local tidak menarik, sebab ada beberapa film local yang sangat menginspirasi banyak orang karena diangkat dari kisah nyata. Contohnya seperti film Habibie & Ainun yang menceritakan perjalanan kisah cinta mereka hingga maut memisahkannya.
[details="Sumber"]
[/details]