Wah menurutku mi instan itu merupakan salah satu hasil penemuan terbaik di bidang makanan karena memiliki banyak keajaiban seperti dapat disimpan dalam waktu yang lama, mudah dibuat dan disajikan, memiliki rasa yang sangat nikmat, dan tentunya harganya yang murah dapat menjadi penolong konsumennya saat dalam kondisi keuangan menipis (terutama mahasiswa hehe).
Menurut Romadlon (2020), mi instan merupakan salah satu hasil kemajuan teknologi di bidang pangan karena telah melalui serangkaian riset dan proses produksi yang panjang yang tentunya selalu sesuai dengan standar keamanan BPOM dan MUI. Sebagaimana kita ketahui, produk mi instan terdiri dari dua barang yaitu blok mi dan bumbunya. Blok mi terbuat dari bahan dasar tepung terigu, air alkali, dan air bersih yang diolah sedemikian rupa lalu dikeringkan hingga kadar airnya tidak lebih dari 3,5% agar dapat bertahan selama 9-12 bulan. Sedangkan bumbu mi instan terbuat dari berbagai bahan seperti garam, gula, monosodium glutamat, dan beberapa ingredient lain agar rasanya menjadi khas seperto soto mi atau kaldu ayam.
Mengonsumsi mi instan sifatnya adalah tidak berbahaya bagi tubuh karena baik mi maupun bumbunya telah teruji kebersihan dan keamanannya dengan standar BPOM dan MUI selama kita memakan mi secukupnya. Ahli Gizi dari Mount Elizabeth Hospital, Seow Vi Vien menyarankan jumlah aman untuk mengonsumsi mi instan dalam seminggu adalah satu sampai dua kali (Ramadhian, 2020). Tidak hanya itu, kamu juga perlu membaca label makanan dengan memilih mi instan rendah natrium, rendah lemak dan lemak jenuh. Kamu juga bisa perhatikan asupan kalori dengan memilih porsi yang lebih kecil.
Namun, terdapat kasus lain dimana mi instan dapat memiliki dampak yang kurang baik bagi tubuh. Mi instan mengandung pengawet yang cenderung lebih sulit dicerna lambung serta bumbunya mengandung banyak garam sehingga rawan menyebabkan tekanan darah tinggi. Selain itu, mi instan dinilai tidak memiliki kandungan nutrisi yang cukup untuk asupan tubuh sehingga kurang baik jika dijadikan makanan pokok.
[details="Sumber"]
Ramadhian, N. (2020, 12 April). Berapa Jumlah Konsumsi Mi Instan yang Direkomendasikan dalam Seminggu?. Diakses pada 16 Agustus 2021, dari https://travel.kompas.com/read/2020/04/12/133300227/berapa-jumlah-konsumsi-mi-instan-yang-direkomendasikan-dalam-seminggu?page=all.
Romadlon, R. S. (2020, 31 Maret). Manakah yang Lebih Berbahaya: Mie atau Bumbunya?. Diakses pada 16 Agustus 2021, dari https://today.line.me/id/v2/article/5lm7VE.
[/details]