Akromegali adalah kelainan yang muncul karena tubuh kelebihan hormon pertumbuhan (growth hormone), sehingga terjadi pertumbuhan secara berlebihan pada berbagai jaringan tubuh, otot dan tulang, khususnya pada kaki, tangan, dan wajah. Kondisi ini umumnya disebabkan oleh tumor jinak pada kelenjar hipofisis (pituitary). Peningkatan produksi growth hormone juga dapat disebabkan oleh tumor pada organ tubuh lainnya seperti paru-paru atau pankreas, namun sangat jarang.
Pengobatan akromegali difokuskan untuk mengurangi tingkat keparahan gejala, mengatur kadar hormon yang berlebih, dan mengembalikan fungsi kelenjar hipofisis. Berikut ini adalah tiga metode pengobatan yang umumnya disarankan pada kasus akromegali:
Operasi.
Operasi transfenoidal biasa direkomendasikan untuk mengangkat tumor dari hipofisis yang menekan saraf dan memicu produksi GH berlebih. Tindakan ini dilakukan melalui hidung atau bibir atas, menggunakan endoskopi dan alat operasi lainnya untuk mengangkat tumor yang ada. Tindakan ini dilakukan dalam kondisi anestesi lokal. Saran untuk mengonsumsi obat-obatan dan melakukan terapi mungkin akan dilakukan sebelum atau setelah operasi.
Obat-obatan.
Obat-obatan berikut ini dapat digunakan untuk pengobatan pendukung setelah operasi, atau jika operasi tidak dapat dilakukan (misalnya dalam kasus tumor berukuran besar):
Dopamine agonist. Obat-obatan seperti bromocriptine dan cabergoline berfungsi untuk menekan produksi hormon pertumbuhan. Kedua obat ini dikonsumsi sekali atau dua kali seminggu dalam bentuk pil.
- Analog somatostatin. Obat-obatan seperti lanreotide dan octreotide digunakan untuk mengontrol produksi dan aliran hormon pertumbuhan, serta mengecilkan ukuran tumor adenoma. Obat ini diberikan dalam bentuk suntikan di rumah sakit, dengan dosis awal 3 kali sehari untuk melihat efektifitasnya, dan dilanjutkan sebulan sekali untuk jangka waktu yang ditentukan. Suntikan ini umumnya diberikan di bawah kulit (subkutan) dan di otot pantat (otot gluteus).
- Antagonis hormon pertumbuhan. Salah satu contoh obat ini adalah pegvisomant. Obat ini berfungsi untuk memblokir efek hormon pertumbuhan pada jaringan tubuh, menekan gejala, dan mengatur kadar IGF-I pada hati. Obat antagonis hormon pertumbuhan biasanya diberikan jika penderita tidak merespons pengobatan lainnya, melalui suntikan secara subkutan sehari sekali di rumah sakit. Obat ini tidak dapat mengecilkan ukuran tumor atau mengurangi kadar hormon dalam tubuh.
Radioterapi.
Radioterapi umumnya direkomendasikan jika penderita tidak merespons secara baik terhadap tindakan operasi atau obat-obatan. Terapi ini berfungsi untuk menghancurkan sel tumor yang tidak dapat dijangkau sebelumnya dan menekan kadar hormon pertumbuhan secara perlahan. Radioterapi dapat dilakukan dengan 3 cara berikut:
-
Terapi radiasi konvesional. Tumor ditargetkan menggunakan pancaran eksternal (EBT) yang diberikan dalam dosis kecil dengan jeda selama 4 hingga 6 minggu. Hal ini dilakukan untuk menghindari kerusakan pada kelenjar hipofisis dan jaringan otak, serta memberikan waktu untuk penyembuhan jaringan yang terkena radiasi. Hasil dari terapi ini umumnya dirasakan setelah bertahun-tahun.
-
Terapi pisau gamma (gamma knife). Tumor ditargetkan secara langsung menggunakan pancaran radiasi yang kuat, tanpa mengenai jaringan otak di sekitarnya. Pasien akan diminta untuk menggunakan penutup kepala khusus agar meminimalisir pergerakan kepala. Terapi ini hanya dilakukan sekali, dengan hasil yang dapat dirasakan setelah 3 hingga 5 tahun. Terapi pisau gamma juga berisiko memimbulkan efek samping yang lebih kecil dibanding terapi radiasi konvensional.
-
Terapi radiasi proton. Tidak berbeda jauh dengan terapi pisau gamma, terapi radiasi proton memancarkan radiasi kuat pada tumor dengan efek minim pada jaringan otak. Terapi ini diberikan secara berkala, dengan intensitas yang lebih singkat dibandingkan terapi radiasi konvensional.
Sumber: www.alodokter.com
https://www.alodokter.com/akromegali