Tidak semua pedofilia menjadi pelaku pelecehan seksual
Malah, ada juga pelaku pelecehan seksual yang bukan pedofil. Ini bisa terjadi bila seseorang berhasrat seks, tapi karena nggak ada yang mau, akhirnya anak kecil jadi pelampiasan.
Gangguan pedofilik yang telah melakukan pelecehan seksual tidak menganggap yang ia lakukan salah.
Apabila seseorang telah berani melakukan kontak seksual dengan anak, ia menganggap bahwa ini dilakukan atas dasar suka sama suka.
Pedofil menganggap apa yang ia lakukan ke anak bukan tindakan yang berbahaya.
Tidak kasar, tidak ada paksaan, bahkan bersifat “edukatif”.
Mereka berpikir bahwa ini bukanlah pelecehan atau pemerkosaan.
Artinya, gangguan pedofilik menganggap si anak pun menyukai perbuatan yang ia lakukan.
Mereka tidak memaksakan kehendak ke korban.
Semua didasarkan dengan pendekatan, pertemanan, dan perbuatan baik.
Penanganan
Bagaimana cara menyembuhkan pedofilia dan gangguan pedofilik?
Belum ada bukti ilmiah bahwa pedofilia bisa disembuhkan.
Tapi, psikiater dan psikolog saat ini berfokus pada pengendalian hasrat seksnya.
Ada juga sih terapis yang mencoba menyembuhkan pedofilia, tapi belum ada penelitian yang menunjukkan bahwa efeknya permanen. Menurut Fred Berlin, pedofilia mungkin sulit diubah, namun perilakunya bisa dikontrol.
Saat ini, penelitian-penelitian mengenai pedofilia fokus pada cara menahan nafsu agar anak-anak terselamatkan.
Salah satu caranya adalah dengan obat. Obat yang digunakan misalnya antiandrogen untuk mengurangi nafsu seksual. Selain itu obat-obatan yang biasa digunakan untuk penderita depresi juga diberikan, namun dengan dosis yang lebih tinggi. Tapi, hal ini hanya bisa dilakukan oleh psikiater.
Selain itu ada juga suntik hormon, yang bertujuan untuk mengurangi produksi testosteron, yang akhirnya membuat nafsu seks dan agresivitas jadi berkurang. Pemberian hormon ini biasanya satu paket dengan terapi CBT, sehingga pemilik pedofil dapat mengendalikan perilaku secara sadar.
Selain obat dan hormon, bisa menggunakan terapi perilaku.
Ngomong-ngomong, penelitian menyebut bahwa penanganan kognitif behavioral cukup efektif untuk menangani gangguan pedofilik. Beberapa jenis penanganan ini di antaranya pengkondisian aversif, menunjukkan video korban, kognisi distorsi, pencegahan relaps, dan lain sebagainya.
Pengkondisian aversif itu apa sih?
Pengkondisian aversif adalah menggunakan rangsangan negatif untuk membuat seseorang kapok.
Contohnya, pedofil diminta untuk rileks dan membayangkan berhubungan seks dengan anak-anak. Ketika si pedofil mulai membayangkan, terapis lalu meminta pedofil membayangkan kejadian tidak enak, seperti penisnya tersangkut ritsleting.
Contoh lain adalah pedofil diminta membayangkan berhubungan seks dengan anak-anak, namun kemudian terapis menyemprotkan bau kotoran ke pedofil. Lama-lama, bila pedofil membayangkan seks, ia otomatis teringat dengan bau kotoran.
Untuk menghilangkan fantasi seks pemilik pedofilia tergolong sulit. Tapi, terapis bisa mencoba mengurangi intensitas khayalannya.
Yang paling penting dari semuanya, pemilik pedofilia dan gangguan pedofilik harus menyadari bahwa selera seks mereka salah. Mereka harus menyadari hal tersebut dan harus mau mengubah diri sendiri.
Sumber : Referensi