Secara umum, penanganan kerancunan makanan dibagi menjadi dua tahap, yaitu upaya penyelamatan jiwa (life-saving) dan perbaikan gejala. Dehidrasi diatasi sambil menghentikan muntah serta diare. Pemberian cairan rehidrasi bukan sekedar mengganti cairan yang telah / sedang hilang tetapi juga mengompensasi defisit elektrolit (natrium, kalium, klorida, megnesium) yang terbawa bersama muntahan dan diare. Jika pasien diyakini telah termakan racun tertentu (dari jamur atau ikan), pembilasan lambung dan pemberian arang aktif merupakan langkah penanganan pertama.
Cairan rehidrasi oral (CRO) yang layak digunakan sebagainya mengacu pada rekomendasi WHO : dalam 1 liter mengandung 3,5 g NaCI, 2,5 g NaHCO, 1,5 g KCI, dan 20 g glukosa. Dalam keadaan darurat, jika sediaan CRO tersebut tidak tersedia, pasien diajarkan membuat sendiri CRO.
Sayangnya, cairan rehidrasi oral bukan tanpa kelemahan. Pemberian CRO tak akan berhasil bila diare mengalir lebih dari 15 cc/kgBB/jam atau bila pasien menderita gangguan penyerapan glukosa. Pada keadaan ini, volume diare justru membesar, tinja berisi banyak glukosa, yang selanjutnya memperparah keadaan yang telah buruk. Selain itu, masih ada faktor lain yang menyekat daya kerja CRO. Faktor tersebut adalah ketidakmampuan minum, ileus paralitik, atau distensi perut. Rehidrasi intravena merupakan alternatif, seandainya CRO tak dapat diandalkan.
Pemberian cairan melalui infus menjadi penanganan wajib apabila tanda dehidrasi berat dengan diare dan atau muntah yang membandel tak tampak jelas sebagai pengoreksi syok. Ringer laktat (RL) merupakan cairan infus terpilih dalam kasus ini. Normal saline, half-strength Darrow’s solution, dan half normal saline merupakan pilihan kedua sebagai pengganti bila bila RL tidak tersedia.
[details="Referensi"]
Arisman et al. 2014. Keracunan Makanan : Buku Ajar Ilmu Gizi. Jakarta : EGC.
[/details]