Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Apa yang harus dilakukan ketika keracunan makanan?

Dictio|690x244
Keracunan makanan adalah kondisi yang muncul akibat mengonsumsi makanan yang telah terkontaminasi oleh organisme menular, seperti bakteri, virus, dan parasit. Kontaminasi dapat terjadi saat makanan sedang diproses atau dimasak dengan tidak benar. Apa yang seharusnya dilakukan ketika hal itu terjadi ?

18

Jenis-jenis keracunan makanan
Ada beberapa istilah yang harus dibedakan dalam kasus keracunan makanan. Hal ini membantu kita dalam menentukan penyebab keracunan sehingga dapat diobati dengan segera. Istilah tersebut adalah:

  1. Foodborne infections
    Terjadi bila kuman terkonsumsi dan kemudian menetap di dalam tubuh. Biasanya, kuman akan memperbanyak diri di dalam saluran cerna sambil mengiritasi dinding saluran cerna, bahkan terkadang merusak jaringan. Contoh kuman golongan tersebut adalah Listeria, Salmonella, dan Campylobacter.

  2. Foodborne toxicoinfections
    Terjadi jika kuman yang terkonsumsi mampu menghasilkan racun sambil bereproduksi di dalam saluran cerna. Artinya, bukan hanya kuman yang membahayakan, melainkan racun yang dihasilkannya.

  3. Foodborne intoxications
    Terjadi akibat mengonsumsi makanan yang telah mengandung racun. Racun ini terlepas selama pertumbuhan bakteri (enterotoksin). Penyakit yang dilatarbelakangi oleh toksin ini biasanya cepat menimbulkan gejala. Contohnya konsumsi makanan laut mentah dapat dicurigai telah mengandung Norwalk-like virus, Vibrio spp, atau hepatitis A.

Cara menangani keracunan makanan
Cara mengatasi keracunan makanan harus disesuaikan oleh penyebab keracunan, karena beda kuman, beda pula cara pengobatannya. Namun, ada prinsip umum yang dapat Anda lakukan di rumah sebelum pasien mendapat pertolongan medis. Hal sederhana yang Anda lakukan akan sangat membantu para dokter untuk meminimalisir dampak dari keracunan makanan, bahkan mampu menyelamatkan nyawa pasien. Berikut hal yang dapat Anda lakukan:

  1. Awasi keadaan pasien. Usahakan pasien tetap dalam keadaan sadar. Longgarkan pakaian pasien agar lebih nyaman.
  2. Sebisa mungkin buat pasien muntah dengan rangsang mekanik (menekan reflek muntah di tenggorokan), atau pemberian air garam. Hal ini untuk mengeluarkan racun yang belum mencapai lambung. Namun, jangan lakukan hal ini pada pasien pingsan atau sedang kejang karena dapat menyebabkan aspirasi.
  3. Miringkan kepala pasien, untuk memudahkan aliran muntah.
  4. Jangan berikan obat anti muntah sebab muntah merupakan mekanisme pengeluaran benda asing yang ada di tubuh. Obat anti muntah hanya jika pasien dehidrasi parah.
  5. Bila pasien sadar dan dapat minum, berikan susu atau air kelapa.
  6. Berikan obat golongan absorben (misalnya, kaopectate, aluminium hidroksida) yang berguna menyerap racun yang ada di dalam usus. Jangan menghentikan diarenya kecuali jika pasien dalam keadaan dehidrasi parah.
  7. Beri cairan yang mengandung garam dan gula (oralit). Bila terdapat tanda-tanda dehidrasi, segera bawa pasien ke pelayanan kesehatan terdekat untuk mendapatkan infus.
  8. Ingat-ingat makanan terakhir yang dikonsumsi pasien sebelum timbulnya gejala. Selain itu, kita dapat menebak penyebab keracunan dari bau khas yang keluar dari mulut pasien. Laporkan hal tersebut pada dokter yang menangani.

Sumber : Keracunan Makan

Secara umum, penanganan kerancunan makanan dibagi menjadi dua tahap, yaitu upaya penyelamatan jiwa (life-saving) dan perbaikan gejala. Dehidrasi diatasi sambil menghentikan muntah serta diare. Pemberian cairan rehidrasi bukan sekedar mengganti cairan yang telah / sedang hilang tetapi juga mengompensasi defisit elektrolit (natrium, kalium, klorida, megnesium) yang terbawa bersama muntahan dan diare. Jika pasien diyakini telah termakan racun tertentu (dari jamur atau ikan), pembilasan lambung dan pemberian arang aktif merupakan langkah penanganan pertama.

Cairan rehidrasi oral (CRO) yang layak digunakan sebagainya mengacu pada rekomendasi WHO : dalam 1 liter mengandung 3,5 g NaCI, 2,5 g NaHCO, 1,5 g KCI, dan 20 g glukosa. Dalam keadaan darurat, jika sediaan CRO tersebut tidak tersedia, pasien diajarkan membuat sendiri CRO.

Sayangnya, cairan rehidrasi oral bukan tanpa kelemahan. Pemberian CRO tak akan berhasil bila diare mengalir lebih dari 15 cc/kgBB/jam atau bila pasien menderita gangguan penyerapan glukosa. Pada keadaan ini, volume diare justru membesar, tinja berisi banyak glukosa, yang selanjutnya memperparah keadaan yang telah buruk. Selain itu, masih ada faktor lain yang menyekat daya kerja CRO. Faktor tersebut adalah ketidakmampuan minum, ileus paralitik, atau distensi perut. Rehidrasi intravena merupakan alternatif, seandainya CRO tak dapat diandalkan.

Pemberian cairan melalui infus menjadi penanganan wajib apabila tanda dehidrasi berat dengan diare dan atau muntah yang membandel tak tampak jelas sebagai pengoreksi syok. Ringer laktat (RL) merupakan cairan infus terpilih dalam kasus ini. Normal saline, half-strength Darrow’s solution, dan half normal saline merupakan pilihan kedua sebagai pengganti bila bila RL tidak tersedia.

[details="Referensi"]
Arisman et al. 2014. Keracunan Makanan : Buku Ajar Ilmu Gizi. Jakarta : EGC.
[/details]