Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Bagaimana patogenesis dan gejala klinis hewan yang terinfeksi Paragonimiasis?

AU Aulia Rizky 9 years ago

Paragonimus westermani merupakan cacing paru yang berasal dari kelas Trematoda, dimana bagian tubuh yang paling utama diserang adalah bagian paru. Paragonimus westermani adalah salah satu trematoda paru-paru yang bersifat hermaprodit yang dapat menimbulkan penyakit paragonimiasis.

19

Waktu migrasi melalui jaringan cacing muda sering tertahan sehingga menyebabkan kista pada jaringan, terutama pada jarinang interbronkhioli. Kista tersebut mengandung cairan darah dan telur serta dapat menyebabkan emboli pada pasase secara hematogen pada arterioli yang diikuti adanya mikroinfark dan nekrose parenkhim paru-paru. Telur dapat menyebabkan iritasi waktu dikeluarkan di parenkim, perikista juga menyebabkan toksik dan laergi dengan membentuk granuloma pseudo tuberculosa. Kista ini mempunyai diameter sebesar buah cherry dengan dinding tebal dan terdiri atas jaringan ikat fibrosa. Kista terbentuk dari jaringan granulasi yang sel-sel limfosit, monosit, histiosit, plasmasit dan mengganti fibroblas eosinofil. Sedangkan granuloma mempunyai bentuk tipik dari granuloma vermineuse dengan pusat terdapat telur Paragonimus. Selain itu menyebabkan pneumonia, bronkhopneumonia dengan alveolitis katharalis, peri dan endobronkhitis, pneumonia interstiale dengan proliferasi dari limfosit, histiosit, plasmasit dan fibroblas di dalam inter alveoli. Terjadi metaplasi dari hiperplasi dari sel kanker, sedangkan pada migrasi hematogen dapat menyebabkan bentuk-bentuk atipik dari Paragonimus dan biasanya bentuk nervus.

Pada awal penyakit terjadi batuk kering, disusul pembentukan sputum (dahak) yang bergaris darah, berwarna coklat seperti karat. Rasa sakit di bagian paru-paru jika dipalpasi disertai demam ringan. Cacing yang tidak sampai paru-paru membentuk kista di dinding abdominal, kelenjar limfe, mesenterium, omentum dan dinding usus. Hal ini menimbulkan rasa sakit pada bagian perut. Di dalam otak, cacing ini menyebabkan epilepsi, hemiplegia, monoplegia, paresis yang ringan atau berat dan gangguan visual.