Waktu migrasi melalui jaringan cacing muda sering tertahan sehingga menyebabkan kista pada jaringan, terutama pada jarinang interbronkhioli. Kista tersebut mengandung cairan darah dan telur serta dapat menyebabkan emboli pada pasase secara hematogen pada arterioli yang diikuti adanya mikroinfark dan nekrose parenkhim paru-paru. Telur dapat menyebabkan iritasi waktu dikeluarkan di parenkim, perikista juga menyebabkan toksik dan laergi dengan membentuk granuloma pseudo tuberculosa. Kista ini mempunyai diameter sebesar buah cherry dengan dinding tebal dan terdiri atas jaringan ikat fibrosa. Kista terbentuk dari jaringan granulasi yang sel-sel limfosit, monosit, histiosit, plasmasit dan mengganti fibroblas eosinofil. Sedangkan granuloma mempunyai bentuk tipik dari granuloma vermineuse dengan pusat terdapat telur Paragonimus. Selain itu menyebabkan pneumonia, bronkhopneumonia dengan alveolitis katharalis, peri dan endobronkhitis, pneumonia interstiale dengan proliferasi dari limfosit, histiosit, plasmasit dan fibroblas di dalam inter alveoli. Terjadi metaplasi dari hiperplasi dari sel kanker, sedangkan pada migrasi hematogen dapat menyebabkan bentuk-bentuk atipik dari Paragonimus dan biasanya bentuk nervus.
Pada awal penyakit terjadi batuk kering, disusul pembentukan sputum (dahak) yang bergaris darah, berwarna coklat seperti karat. Rasa sakit di bagian paru-paru jika dipalpasi disertai demam ringan. Cacing yang tidak sampai paru-paru membentuk kista di dinding abdominal, kelenjar limfe, mesenterium, omentum dan dinding usus. Hal ini menimbulkan rasa sakit pada bagian perut. Di dalam otak, cacing ini menyebabkan epilepsi, hemiplegia, monoplegia, paresis yang ringan atau berat dan gangguan visual.