Terjadinya keguguran setelah kebuntingan 5 bulan merupakan petunjuk kunci untuk menemukan penyakit ini. Seekor sapi betina setelah keguguran itu masih mungkin untuk bunting kembali, namun tingkat kelahirannya akan rendah dan tidak teratur. Kadang-kadang fesus yang di kandung dapat mencapai tingkatan atau bentuk yang sempurna tetapi pedet itu biasanya lahir mati, dan plasentanya tetap tertahan disertai dengan keadaan metritis.Dapat pula terjadi sapi mengalami keguguran satu atau dua kali dan setelah itu menjadi normal sepanjang hidupnya. Meski sapi induk telah kembali kebal terhadap penyakit itu, namun tetap potensial sebagai penyebabnya. Sapi pejantan juga dapat terserang penyakit ini melalui skrotum yang tampak membengkak dan berwarna merah. Dengan orchitid, infeksi bruselosis pada sapi jantan dapat menyebabkan keadaan steril.
Bruselosis dapat menyebar memalui kontak langsung melalui air susu yang tidak dipasteurisasi , sehingga pada manusia hal itu menimbulkan suatu keadaan yang disebut undulant fever. Penyebaran lain yang sangat umum adalah apabila sapi sapi lain ikut menjilat-jilat pedet yang lahirnya gugur karena bruselosis.