Sumber gambar: https://sumut.idntimes.com/life/inspiration/amp/maira/20-gambar-tentang-bagaimana-kehidupan-kita-sebenarnya-regional-sumut
Aku adalah seorang yang egois, pun orang-orang di sekitarku juga demikian.
Satu hari aku bertemu dengan sekumpulan orang-orang egois, membahas banyak hal tidak penting di sebuah forum. Pembahasan dimulai dari betapa tidak solidnya kelas ini, lantas atmosfer berubah menjadi menyesakkan dan memuakkan saat empat orang dari kita mulai menyindir betapa jahatnya orang yang enggan berkawan dengannya.
Kelas yang semula memusatkan atensi pada semuanya kini tertuju pada para lakon drama yang mengaku dirinya sendiri sebagai korban dari kebencian salah satu di antara kami—yang masih belum terkuak siapakah orang tersebut.
Atensi yang bodoh kini semakin memuakkan saat empat mulut gencar memberondong sindiran demi sindiran agar salah satu pelaku di antara kami mengaku di depan muka semua orang; empat mulut itu memojokkan kami.
Pelakunya tentulah bukan aku. Siapa pula yang mau berurusan dengan empat orang paling dominan di kelas itu, tidak ada yang mau pun aku sendiri tidak peduli itu, permasalahan empat orang itu adalah milik mereka dan aku tidak mau ikut campur. Tapi masalah ini semakin menyebalkan saat empat orang itu dengan entengnya memanggil satu kelas untuk berkumpul, alasan klise mengatakan kelas ini mulai tidak solid lalu forum mulai hilang unsur kenetralannya kala empat mulut itu berucap sindiran kepada si pelaku.
Aku adalah orang yang egois, pun orang-orang di sekitarku juga demikian.
Tapi mulut mereka pandai sekali mendesak salah satu pelaku di antara kami. Menjebak pelaku dengan cara yang picik berkedok forum membahas persatuan kelas. Kini aku mau tak mau menyaksikan kepicikan yang terbalut dalam drama di mana empat orang itu menjadi korban aniaya; korban yang dibenci; korban yang patut untuk dikasihani sebab salah satu pelaku di antara kami baru saja berbuat jahat nan keji.
Dasar orang-orang yang egois. Merasa dirinya tersakiti namun mereka sendiri tak mau bercermin. Mudah sekali kalian berkata sekelas tidak lagi solid dan kini berlagak dengan raut muka yang menyorot kesedihan tiada tara. Aku benar-benar membenci keadaan yang memuakkan; rasanya aku ingin pulang saat ini juga, menonton acara kartun bodoh daripada menyaksikan drama bodoh. Tapi aku tak bisa pergi begitu saja sebab pintu kelas terkunci rapat dan pelaku yang terdesak kini mulai memanjangkan kepalanya.
Dengan segala kerendahan hati dan kesalahan-kesalahan yang ada di kedua pundaknya, si pelaku mulai mengaku di depan semua pasang mata termasuk diriku sendiri. Ia mengakui kesalahannya, bila kukatakan ia sangat berani mengakui kesalahannya, menutup rapat-rapat egonya dan mulai mengatakan kalimat demi kalimat untuk diucapkan yang sarat akan penyesalan. Siapa pula yang tak akan mengaku bila terus-menerus diberondong sindiran-sindiran panas? Bila berada di posisi si pelaku aku akan mengaku agar sindiran-sindiran ini berakhir; forum ini berakhir, dan kita kembali ke rumah masing-masing—melupakan melodrama yang melelahkan.
Aku adalah seorang yang egois, pun orang-orang di sekitarku juga demikian.
Agaknya tidak semudah itu kami bisa melewati konflik, kelas semakin memanas kala empat orang ini mulai berderai air mata dan mencela si pelaku betapa jahatnya perbuatan yang telah ia lakukan. Kami dengan sangat terpaksa mengunci mulut rapat-rapat untuk bernapas saat atmosfer semakin menggila. Pintu kelas di mataku kini tampak seperti sebuah oasis, cahaya yang terlihat dari celah-celahnya membuatku ingin segera kabur dari kelas penuh drama ini.
Sungguh aku tidak peduli dan tak pernah ingin peduli dengan forum ini. Aku lebih dari seratus persen yakin setidaknya beberapa dari kami yang bungkam ingin segera pulang ke rumah dan mengistirahatkan diri di kamarnya masing-masing. Mendengarkan celotehan hanya akan mempertegas kenyataan bahwa kelas ini memang tidak baik-baik saja. Tidak pernah baik-baik saja.
Aku adalah orang yang egois, pun orang-orang di sekitarku juga demikian.
Kenyataan sudah menjelaskannya sedari awal, kami dikumpulkan ke dalam suatu ruangan dengan berderet-deret bangku yang dinamakan kelas. Orang mana yang akan mengatakan bahwa kelas dalam keadaan ‘baik-baik saja’ padahal kita adalah beragam individu dengan berbagai kepentingan terikat pada suatu ruangan. Tidak benar-benar ada solidaritas di antara kita, satu-satunya hal kenapa kelas ini masih bisa bercanda tawa dan menjalin sebuah pertemanan adalah karena tanpa sadar kita membutuhkan hiburan itu, terlepas dari tujuan yang berbeda.
Kini cahaya di balik pintu kelas semakin menarik perhatianku, namun seribu sayang terpaksa kuhaturkan, aku hanya bisa menelan kemelasan sebab keadaan enggan mereda.