Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society
Cerita Pendek 192 posts
Jadi, Teman Wisudaku, ya?

Perguruan tinggi sudah kutempuh 4 tahun lamanya. Segala tetek bengek persyaratan untuk wisuda sudah aku lengkapi, termasuk skripsi. Aku berhasil sidang dengan hasil yang memuaskan. Senang sekali rasanya bisa bebas. Sekarang yang aku belum lengkapi adalah teman wisuda. Aku butuh seseorang yang bisa mendampingiku nanti saat wisuda. Ini dikarenakan kedua orang tuaku tidak bisa hadir. Mereka sibuk dengan pekerjaannya, bahkan untuk menghadiri wisuda anak satu-satunya saja mereka tidak bisa. Hari ini aku hadir di kampus, pada Fakultas Ilmu Budaya. Aku datang ke sini untuk mencari keberadaan Sadam. Dia biasanya asik membaca buku trilogi Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer yang belum selesai dibaca di dalam gedung teater. Ketika aku sampai di sana, aku tersenyum lebar. Benar, bukan. Dia ada di sini, dengan tiga buku tebal di sisi kanan. "Sadam!" Aku memanggil, langsung duduk tanpa perlu izin di tempat penonton, satu tingkat lebih rendah dari tempat ia duduk. "Baca mulu, nanti matanya jadi nambah dua, hayo." "Cerewet terus nanti bibirnya dower, hayo." Aku cekikikan. Sadam membalas dengan hal yang sama, tapi rautnya tanpa ekspresi....

Cinta Monyet Cinta Selamanya

tak pernah terbayangkan aku bisa mengenal seorang perempuan yang dikata karakternya pemalu dan lebih tegas dariku. kisah ku yang menceritakan sebuah cinta monyet ku saat aku beranjak kelas 3 smp. nama ku azumi, aku seorang murid biasa yang tak pandai, rambutku keriting dan selalu pendiam yang jatuh ...

Kupu-kupu yang Lumpuh

Seorang pria menemukan kepompong kupu-kupu. Suatu hari sebuah celah kecil muncul. Dia duduk dan memperhatikan kupu-kupu itu selama beberapa jam saat ia berjuang untuk memeras tubuhnya melalui lubang kecil. Kemudian berhenti, seolah tidak bisa melangkah lebih jauh. Maka lelaki itu memutuskan untuk membantu kupu-kupu itu. Dia mengambil gunting dan memotong kepompong yang tersisa. Kupu-kupu muncul dengan mudah, tetapi itu memiliki tubuh bengkak dan sayap layu. Pria itu terus memperhatikannya, berharap sebentar lagi sayapnya akan membesar dan cukup berkembang untuk menopang tubuh kupu-kupu. Tidak ada yang terjadi! Bahkan kupu-kupu menghabiskan sisa hidupnya merangkak di sekitar kepompongnya. Kupu-kupu tidak pernah bisa terbang. Apa pria dalam kebaikannya dan tergesa-gesa tidak mengerti: Kepompong yang membatasi dan perjuangan yang dibutuhkan oleh kupu-kupu untuk melewati lubang adalah cara memaksa cairan dari tubuh ke sayap sehingga siap untuk terbang begitu tercapai. Kadang-kadang perjuangan itu tepat apa yang kita butuhkan dalam hidup kita. Melewati hidup tanpa rintangan akan melumpuhkan kita. Kita tidak akan sekuat yang seharusnya dan tidak akan pernah terbang. Apa pelajaran yang Anda dapat dari cerita singkat di atas ? [details="Referensi"]...

Bima Yudisthira · balasan terbaru
Ketika kita memaksa sesuatu berjalan lebih cepat dan keluar dari jalur yang semestinya maka yang terjadi adalah pencapaiannya justru tidak...
Menunduk dalam Zaman

Tampaknya bulan sedang ngambek dengan sang surya. Buktinya, bulan masih enggan menggantikan posisi matahari menunaikan tugasnya, padahal ini udah pukul 18.30. Hal ini jadi mengingatkanku dengan kejadian semalam sore. Ya, Ibu marah besar hanya karena aku lupa mengecas smartphone miliknya. Memang aku yang salah sih, karena smartphone itu akan­­­ digunakannya untuk mengambil liputan di tengah kota pada malam hari ini­karena sedang wabah pandemi, maka Ibu lebih memilih beraktivitas di luar rumah pada malam hari, untuk menghindari kerumunan. Ibu marah besar. Apalagi, Ibu menyadarinya ketika waktu sudah menunjukkan pukul 6 sore. Sudah terlalu sore untuk mengecas smartphone yang memiliki baterai nol persen. Akhirnya, Ibu harus pulang pukul 11 malam, karena Ibu sendiri baru bergegas dari rumah ketika jam sudah menunjukkan pukul 8 malam. Aku yang masih mengintip dan berpura-pura tidur, melihat samar-samar Ibu yang pulang dengan kelelahan. Hari ini Ibu tampaknya masih kesal dan enggan untuk mengajakku berbicara. Ketika aku izin untuk berangkat ke sekolah, Ibu tidak berkata apa-apa. Aku merasa bersalah sekali, juga masih takut untuk meminta maaf pada Ibu. Hingga aku pulang sekolah dan sampai detik ini aku menunggu mentari pulang ke tempat peraduannya, Ibu belum juga berkata-kata barang sepatah kata. Seperti saat ini, Ibu nampaknya sedang sibuk men-scroll layar smartphonenya, Sebenarnya, Ibu memang seringkali asyik dengan smartphonenya. Tak jarang juga, ia menggunakan headset- nya, tanpa memperhatikan lingkungan sekitar. Terkadang dia tiba-tiba berseru tanpa diminta, membacakan informasi yang didapatkannya . Terkadang juga dia mengomentari beberapa artikel yang baru dibacanya. “Tuh, kan Ibu bilang juga apa, Nin. Dari beberapa hari yang lalu, ibu sudah dengar isu bencana kelaparan yang menimpa kampung sebelah. Wah, akhirnya diperhatikan juga oleh pemerintah setempat.” Kadang juga beberapa komentar lain yang serupa. Mengenai anak-anak miskin yang sering dijumpainya meringkuk di pinggir jalan bahkan kucing yang sudah dua harinya dilihatnya terjebak di selokan. “Nah, kucingnya ditemukan juga oleh warga sekitar. Yah, tapi kok sudah mati ya . Katanya sih kedinginan. Ah, padahal Ibu lihat kemarin masih mengeong-ngeong kok.” Aku juga seringkali menanggapi perkataan Ibu, namun tampaknya suaraku terhalang oleh suara apapun yang terjebak di dalam headset- nya. Jika beruntung, ucapanku kebetulan di dengar oleh Ibu, dan dia akan berkata, “Hah? Tadi kamu bilang apa, Nin?”. Tapi semua itu menurutku jauh lebih baik, ketimbang aku dan Ibu yang saling diam-diaman seperti sekarang ini. Apalagi sedari tadi, Ibu tak berseru apapun.Nampaknya sedang serius sekali. Kadang, bahkan keringatnya keluar, padahal ibu hanya dalam posisi duduk. Sesekali, Ibu melihat aku yang juga sibuk mencuri-curi pandang kepadanya. Aku bisa mendengar ia yang mengehela napas panjang. Lama-lama aku jadi takut juga, Bagaimana kalau sampai berhari-hari akan jadi seperti ini? Nampaknya perseteruan antara bulan dan sang surya tak berlangsung lama. Pada pukul 7 malam, aku menyaksikan langit sudah semakin oranye. Semburatnya menenangkan namun misterius. Dan tepat saat mentari itu tak nampak lagi di kaki langit, aku berani bersumpah mendengar sesuatu. Sirine ambulans meraung-raung dari ujung jalan bahkan melewati rumahku. Orang-orang berteriakan histeris. Ada yang menangis dan ada yang memaki-maki. Aku menyaksikan kerumunan itu yang berjalan semakin jauh ikut menyongsong ambulans itu. Kejadian itu tidak berlangsung lama. Beberapa saat kemudian suasana kembali lengang....

Aku dan Penyesalan

Hari mulai gelap dan sebentar lagi bulan akan datang menyinari kegelapan malam. Begitu pula dengan kesedihan yang selalu datang setiap saat. Iya, setiap saat. Selama hidupku, aku tidak pernah merasakan bahagianya hidup di dunia ini. Hanya kejenuhan yang menemaniku setiap hari. Sedari kecil, aku tidak pernah merasakan hangatnya pelukan ibu. Aku juga tidak pernah merasakan bahagianya bercanda dan tertawa bersama ayah. Ibuku meninggal dunia ketika melahirkanku tujuh belas tahun yang lalu, sedangkan ayahku yang selalu sibuk dalam pekerjaannya, amat jarang menghabiskan waktunya denganku. Salsa Ayu Kirana, itulah namaku. Sejak kecil aku diasuh oleh Mbak Tini. Mbak Tini merupakan orang yang baik. Namun, tetap saja ia tidak bisa menghiburku ketika aku sedih. Jadi, saat aku merasa sedih, aku selalu berusaha menghapusnya dengan memecahkan soal matematika. Apalagi di malam hari seperti ini, aku nyaris tidak pernah meninggalkan kebiasaanku ini. Tak tahu mengapa, rasanya soal-soal itulah yang membuatku semangat menjalani hari-hariku. Di sekolah, aku merupakan tipe anak yang pendiam. Aku tidak suka bermain dengan teman-temanku. Aku lebih memilih bermain dengan angka-angka. Aku lebih suka mengerjakan soal matematika yang belum kupelajari. Bahkan saat berumur tujuh tahun, aku sudah bisa memecahkan soal matematika yang seharusnya kupelajari nanti di Sekolah Menengah Atas. Karena hal tersebut, tidak sedikit teman-temanku yang meminta untuk diajari matematika. Tetapi, aku selalu menolak. Karena bagiku, ilmuku hanyalah untukku. Karena hal tersebut, aku dibenci oleh semua temanku di kelas, aku sering disebut “Si Genius Pelit” oleh mereka. Berbeda dengan Galih, ia justru sama sekali tidak membenciku. Orang yang merupakan tetanggaku sekaligus teman sekelasku ini, justru malah berusaha mendekatiku. Galih tidak pernah absen datang ke rumahku setiap hari Minggu untuk minta diajari matematika. Tetapi, aku selalu menolaknya dengan berbagai alasan. Hingga pada akhirnya, ia ke rumahku hanya untuk sekedar mengobrol, tidak lagi meminta bantuan mengenai matematika. Akan tetapi, sebenarnya aku malas sekali berbicara dengannya. Karena, Galih membuat waktu belajarku terpotong....

Salah Siapa Sebenarnya?

Malam ini terasa begitu dingin, seperti biasa ku buka laptopku untuk mengerjakan beberapa hal. “Huft, lelah sekali rasanya dari pagi hingga malam bekerja di depan monitor”, keluhku dalam hati. “Aaahhh… harusnya kau bersyukur Rif, masih bisa bekerja di tengah pandemic ini, apa kau tak melihat bagaimana orang-orang di luar sana yang sama sekali terhenti pekerjaannya atau bahkan harus mempertaruhkan nyawanya untuk sesuap nasi di esok hari?”, gumamku segera menampik keluhanku. Yaa… benar aku harus terus bersyukur dan sudah seharusnya bersyukur. Tak terasa sudah pukul 21.00 WIB, Alhamdulillah sudah selesai, ku tutup laptopku, dan kurapikan berkas-berkas di mejaku. “Rif, sudah malam. Ayo istirahat,” suara lembut nan merdu di balik tirai itu tiba-tiba mengagetkanku. Dia lah Ibuku. “Iya sebentar bu,” jawabku. Ketika ingin beranjak dari tempat dudukku, tiba-tiba terlintas dalam pikiranku sebuah pertanyaan, yang akhirnya membuatku duduk kembali dan termenung untuk beberapa saat. “Pak, sebenarnya bagaimana kita bisa memahami sifat egois itu?”, ucap muridku kala itu. Tentu saja aku telah menjawabnya, dan aku masih ingat betul apa yang aku katakan pada muridku itu....

Suara dari Generasi Muda

"Tidak, bukan seperti harusnya. Itu salah, Pak. Yang benar adalah seperti ini.” “Haahh, tau apa kau anak kecil! Aku ini lebih tua darimu! Aku lebih mengerti mana yang benar!” Aku diam. Ya, selalu seperti ini. Kamu tidak akan didengar jika usiamu masih belum cukup umur. Tak apa, aku akan sabar menunggu hingga usiaku sudah cukup dewasa. Setidaknya itulah hal yang ada di pikiranku saat itu. Sabar. Hingga datanglah hari itu. “Bu, mohon maaf sebelumnya, saya ingin menyampaikan aspirasi dari teman-teman bahwa tugas yang Ibu berikan terlalu banyak dan cukup memberatkan kami. Tolong pertimbangannya karena kami juga ada tugas dari pelajaran lain yang harus diselesaikan, Bu. Terimakasih.” Pesan itu kukirimkan kepada guru yang sering memberi tugas dengan jumlah tak terkira. Beberapa menit kemudian HP milikku berbunyi, menampilkan notifikasi dari orang yang kutunggu-tunggu....

12345617891011233

12345678910111213451411456859559492847565848484858585859588585858575757574757474848464748484884hhjjjjjhggffffddjdjdjeieieiowkwbavavavVzvsvsvwjsjwjwhwhwhahahahshajsjjweueyeururueiwoqoqoq

Keterpisahan antara Kepuasan dan Kesadaran

Dunia yang luas ini selalu menyuguhkan bermacam-macam impian. Bahkan mereka tidak peduli jika impian itu membawa malapetaka bagi sekitarnya. Tujuannya hanya satu yaitu kepuasan diri. Tidak ada yang lain. Selalu berharap ketika fajar menyingsing mereka bangun dalam kesadaran yang mengagumkan. Menjalani hari-hari yang lebih baik dari kemarin, tepatnya baik untuk diri sendiri. Melakukan aktivitas serta pekerjaan dengan motivasi demi kesenangan diri semata. “Tidak peduli dengan orang lain” menjadi kata yang tidak asing lagi di telinga. Kepuasan diri sendiri identik dengan kebahagiaan yang dirasakan. Dengan kata lain, kebahagiaan adalah prinsip dan tujuan utama di dalam hidup mereka. Kebahagiaan itu dapat mereka rasakan melalui prestasi yang dicapai. Tetapi arti prestasi bagi mereka bukanlah sebuah kepuasan, melainkan mengejar lebih banyak. Ketika sudah mendapatkan satu prestasi mereka ingin menambahnya. Seperti kehilangan kesadaran demi menjemput kebahagiaan. Dan itulah yang selalu mereka lakukan sampai ajal menjemput. “Bu, aku pergi bermain ya” izin budi kepada ibunya. Ibu budi hanya mengangguk kemudian Budi berangkat. Tempat bermain Budi dengan temannya cukup jauh sehingga ia perlu menaiki angkutan umum kesana. Di dalam angkutan umum Budi mengeluarkan sebungkus rokok yang disimpannya di kantong celananya kemudian mengambilnya sebatang. Setelah itu ia mengeluarkan sebuah korek api dari saku bajunya. Budi menghidupkan rokoknya dan menghisapnya. Setelah menghisap rokok dengan nafas yang dalam, Budi menghembuskan nafasnya yang disertai asap dengan kencang. “Mas, rokoknya bisa dimatikan?” kata seorang perempuan yang duduk disamping Budi karena merasa terganggu. Budi hanya diam dan membuka kaca jendela dengan lebar. Budi tampaknya tidak peduli. Tidak hanya diluar, dirumah juga Budi melakukan hal demikian. Ia membakar ujung rokoknya setelah makan malam dan kembali menghisapnya. “Budi, tidak sopan merokok ketika ada yang sedang makan” kata ibu Budi dengan posisi mulut sedang mengunyah makanan. “Kan Budi sudah selesai makan bu, lagipula ruangan ini cukup lebar untuk memuaikan asap ini” jawab Budi dengan santai. Setelah makan Ibu memerintahkan Budi berdiri di hadapan sebuah cermin. Kemudian terlontar pertanyaan Ibu kepada Budi “Siapa dirimu nak?”. “Mengapa Ibu bertanya demikian? Kita adalah sama Bu, sama-sama manusia” jawab Budi dengan melihat pantulan dirinya di cermin. “Kamu benar. Oleh karena itu sadarlah. Kenali dirimu dan kenali orang sekitarmu. Kita adalah sama. Kamu memiliki kekurangan, Ibu memiliki kekurangan dan setiap orang di dunia juga memiliki kekurangan. Maka untuk menutupi kekurangan itu kita membutuhkan kebersamaan. Kebersamaan dapat dimulai dengan menghargai hidup orang lain. Dunia bukan hanya milikmu tetapi milik kita semua. Hidup harus bersosialisasi dan jangan egois. Jika ingin egois sebaiknya hidup di Hutan saja” dengan begitu tajam ibu menasehati Budi....

Rusaknya Letak Ketaqwaan

Cerita Mini - Rusaknya Letak Ketaqwaan-1.pdf|attachment (34,7 KB) LombaCeritaMini #2.0 #dictiocommunity #EgoismediSekitarKita #CeritaDiRumahAja #DiRumahAja

Keterpisahan antara Kepentingan dan Kesadaran

Dunia yang luas ini selalu menyuguhkan bermacam-macam impian. Bahkan mereka tidak peduli jika impian itu membawa malapetaka bagi sekitarnya. Tujuannya hanya satu yaitu kepuasan diri. Tidak ada yang lain. Selalu berharap ketika fajar menyingsing mereka bangun dalam kesadaran yang mengagumkan. Menjalani hari-hari yang lebih baik dari kemarin, tepatnya baik untuk diri sendiri. Melakukan aktivitas serta pekerjaan dengan motivasi demi kesenangan diri semata. “Tidak peduli dengan orang lain” menjadi kata yang tidak asing lagi di telinga. Kepuasan diri sendiri identik dengan kebahagiaan yang dirasakan. Dengan kata lain, kebahagiaan adalah prinsip dan tujuan utama di dalam hidup mereka. Kebahagiaan itu dapat mereka rasakan melalui prestasi yang dicapai. Tetapi arti prestasi bagi mereka bukanlah sebuah kepuasan, melainkan mengejar lebih banyak. Ketika sudah mendapatkan satu prestasi mereka ingin menambahnya. Dan itulah yang selalu mereka lakukan sampai ajal menjemput. “Bu, aku pergi bermain ya” izin budi kepada ibunya. Ibu budi hanya mengangguk kemudian Budi berangkat. Tempat bermain Budi dengan temannya cukup jauh sehingga ia perlu menaiki angkutan umum kesana. Di dalam angkutan umum Budi mengeluarkan sebungkus rokok yang disimpannya di kantong celananya kemudian mengambilnya sebatang. Setelah itu ia mengeluarkan sebuah korek api dari saku bajunya. Budi menghidupkan rokoknya dan menghisapnya. Setelah menghisap rokok dengan nafas yang dalam, Budi menghembuskan nafasnya yang disertai asap dengan kencang. “Mas, rokoknya bisa dimatikan?” kata seorang perempuan yang duduk disamping Budi karena merasa terganggu. Budi hanya diam dan membuka kaca jendela dengan lebar. Budi tampaknya tidak peduli. Tidak hanya diluar, dirumah juga Budi melakukan hal demikian. Ia membakar ujung rokoknya setelah makan malam dan kembali menghisapnya. “Budi, tidak sopan merokok ketika ada yang sedang makan” kata ibu Budi dengan posisi mulut sedang mengunyah makanan. “Kan Budi sudah selesai makan bu, lagipula ruangan ini cukup lebar untuk memuaikan asap ini” jawab Budi dengan santai. Setelah makan Ibu memerintahkan Budi berdiri di hadapan sebuah cermin. Kemudian terlontar pertanyaan Ibu kepada Budi “Siapa dirimu nak?”. “Mengapa Ibu bertanya demikian? Kita adalah sama Bu, sama-sama manusia” jawab Budi dengan melihat pantulan dirinya dicermin. “Kamu benar. Oleh karena itu sadarlah. Kenali dirimu dan kenali orang sekitarmu. Kita adalah sama. Kamu memiliki kekurangan, Ibu memiliki kekurangan dan setiap orang di dunia juga memiliki kekurangan. Maka untuk menutupi kekurangan itu kita membutuhkan kebersamaan. Kebersamaan dapat dimulai dengan menghargai hidup orang lain. Dunia bukan hanya milikmu tetapi milik kita semua. Hidup harus bersosialisasi dan jangan egois. Jika ingin egois sebaiknya hidup di Hutan saja” dengan begitu tajam ibu menasehati Budi....

Ilusi Penglabuh Diri

Di sebuah tempat yang sengaja dibangun di tengah kota sebagai ruang hijau tampak seorang pria tegak bertumpu kaki dengan gagah. Wajah tegas, tinggi proporsional, dan benda berlesa yang menyangkut di hidungnya menambah aura keelokan Pria itu. Matanya yang menyapu area taman sesekali melirik penunjuk ...

Bumiku, Mimpi Nyataku

Sumber : Kompasiana.com mengutip foto dok. Bobo.id Bumiku, Mimpi Nyataku Terik pancaran sinar matahari sudah sampai hingga sudut bumi sekalipun pagi ini. Dari balkon rumah, kicauan burung juga telah mengintip lirih seakan memberi sinyal, “bergegaslah!”. Aku pun penasaran dengan teriakan lirih dari sinyal yang diberikan oleh burung tersebut. Ku buka mataku dan ku pandangi bumi dari tempat ku berdiam. “Wahai bumi, apa yang telah terjadi denganmu? Parasmu sudah sangat kusam dan kelam”, tanyaku pada bumi penuh khawatir. “Sulit bagiku untuk menjelaskan semuanya. Mari, masuklah ke dalam. Dan kau akan mengerti semuanya”, jawab bumi terengah-engah....

Kumandang Adzan Perindu Hati

“Assalamuallaikum wr.wb.”, ucapku dengan penuh tegang dan gemetar ( telat berangkat ngaji). Sorotan mata menuju kepadaku seakan rasa ketidakadilan. “ Berdiri di depan dan baca huruf hijaiyyah dari awal sampai akhir “, kata ustadzh ( temanku bahagia berbisik dengan rasa dengki dan iri ). Aku berjalan di bangku ngaji paling pinggir dan pojok. “ Tetaplah semangat, itu merupakan hal yang wajar” ujar Reni ( teman baikku ). Rasa bosan dan ngantuk mulai menghiasi sekelilingku.. Hingga pak ustadzh menyuruhku menyambung sambungan surat yang belum kuhafalkan( sungguh rasa malu yang menghiasi diri ini ). Tetapi itu membuatku bangun dari tidurku....

Lampu Hijau Egoisme

“Tinn!” sontak kudengar bunyi klakson mobil dari arah belakang yang memekakkan telinga. Dengan tatapan sinis aku menoleh ke arah mobil itu tanpa bicara sepatah kata pun. “Tinn…..tinnn!” tanpa jeda ia mengklakson lagi. Kupejamkan mataku sesaat, aliran darah terasa naik ke ubun-ubun. Aku komat-kamit memantrai hati agar sabar. “Sabar Rin, sabar!” “Tiiiinnnnn!” ulangnya lagi untuk ketiga kalinya. “Hei, jalan dong!” si pemilik mobil yang seorang lelaki paruh baya itupun buka suara. Kesabaranku kini sudah memasuki fase akhir. Tiba-tiba saja terdengar pukulan keras pada kap mobil yang membuatku terkejut dan mendahului egoku....

Perihal Forum Kita

Sumber gambar: https://sumut.idntimes.com/life/inspiration/amp/maira/20-gambar-tentang-bagaimana-kehidupan-kita-sebenarnya-regional-sumut Aku adalah seorang yang egois, pun orang-orang di sekitarku juga demikian. Satu hari aku bertemu dengan sekumpulan orang-orang egois, membahas banyak hal tidak penting di sebuah forum. Pembahasan dimulai dari betapa tidak solidnya kelas ini, lantas atmosfer berubah menjadi menyesakkan dan memuakkan saat empat orang dari kita mulai menyindir betapa jahatnya orang yang enggan berkawan dengannya. Kelas yang semula memusatkan atensi pada semuanya kini tertuju pada para lakon drama yang mengaku dirinya sendiri sebagai korban dari kebencian salah satu di antara kami—yang masih belum terkuak siapakah orang tersebut. Atensi yang bodoh kini semakin memuakkan saat empat mulut gencar memberondong sindiran demi sindiran agar salah satu pelaku di antara kami mengaku di depan muka semua orang; empat mulut itu memojokkan kami....

Di Balik Pintu Kelas

Sumber foto: patreon.com/mimi_n Aku tak pernah menyangka akan sangat membenci forum yang dilaksanakan pada hari Jumat kala itu, mestinya aku segera mengepak buku pelajaranku lalu segera pergi dari kelas agar mata ini tak melihat drama itu; drama bodoh yang terbalut dalam suatu forum. Namun aku agaknya lebih bodoh lagi karena mau-mau saja duduk menunggu forum dibuka tanpa ada rasa curiga. Saat itu—setelah bel pulang berbunyi—ketua kelas memerintahkan kami untuk menunda kepulangan sebab ada hal penting yang harus dibahas: mengenai kelas kita sendiri. Alhasil aku segera duduk di lantai kelas bersama dengan yang lainnya tanpa ada spekulasi buruk mengenai apa pun nantinya. Forum dimulai dengan salam pembuka dan segala basa-basi yang lumrahnya dilakukan oleh seseorang, terutama jika seseorang itu adalah Mawar—ia suka berbasa-basi. Kami pun mendengarkan secara saksama: tidak ada seorang pun memainkan smartphone-nya atau berbisik-bisik dengan lawan bicara di sampingnya. Aku dan lainnya serius mendengarkan—dan pada akhirnya awal dari pembicaraan ini adalah tentang betapa tidak solidnya kelas ini. “Kelas ini mulai renggang,” kata Mawar....

Individualis Dalam Petaka Global

Ini hari ke 27 kami menjadi tahanan kota. Potongan tayangan yang di unggah ke Instagram semakin memprovokasi diri supaya benci pada negeri sendiri. Oleh tangan tak bertanggung jawab yang memosting sebuah cuplikan tentang kesenjangan sosial yang barangkali tak sengaja diucapkan oleh Sang juru bicara yang hilir mudik gentayangan di televisi memberi berita terbaru setiap hari. “Parah, sih, ini, sedih banget jadi orang miskin disalahin terus. Padahal yang sering keluar masuk bandara justru para Borjuis itu. Kita mah ya boro-boro liburan ke luar negeri, rebahan wifi kenceng aja udah berasa kayak di surga banget.” adikku Nova, selonjoran di sofa. “Jangan ditelan mentah-mentah begitu informasinya.” aku menuju dapur, mengambil air putih. Akibat work from home yang sudah berjalan tiga pekan lebih, jam tidurku jadi tidak beraturan. Bisa dengan seenaknya nggak mandi dulu langsung membuka laptop. Rumah kami dihuni empat orang saja. Papah yang sudah meninggal tiga tahun lalu akibat serangan jantung, mamah yang sedang mengisi kelas daring untuk mahasiswanya di dalam kamar, Nova yang lagi main hp, bang Ryan yang belum bangun, dan aku yang sekarang lagi makan Semangka. Kata mamah, dimakan secukupnya saja, dibagi-bagi, kita nggak tahu masa karantina ini akan bertambah berapa hari lagi. Kulkas sudah mulai kehilangan isinya, sementara perut tak pernah mau memahami situasi ini. “Bosen banget pengen ketemu temen-temen, pengen les piano, pengen nongkrong di cafenya tante Levi, kangen hidup normal lagi.” suara Nova di ruang tengah terdengar sampai meja makan. Kunyahan di mulutku mendadak kehilangan rasanya. Kalau nggak pandai mengatur pikiran, keadaan ini benar-benar membunuhku pelan-pelan. Banyak pekerjaan yang justru terasa dua kali lipat lebih membebani ketika dengan terpaksa harus dikerjakan di rumah. ...

Sepenggal Kata yang Dicabik Ersa

Sumber: https://images.app.goo.gl/tEr7yYwJ6sw1HiCLA Hari ini adalah hari yang sangat sibuk. Riuh keramaian santriwati di pondok pesantren rasa-rasanya membuat dadaku sesak. Bau keringat, bau bawang, dan bau-bau tak bersahabat lainnya terus menusuk penciumanku. " Sa'idni shuwayya!" Kata Ersa, sahabatku, dalam Bahasa Arab yang artinya " bantu aku sebentar".* Aku pun membantunya mengangkat lemarinya dan membawanya ke kamar baru yang akan ia tempati. Sebenarnya aku sangat sedih dengan keadaan ini, walaupun kami tetap sekolah dan mengaji bersama, tetap saja tidak menyenangkan jika harus berpisah kamar. Bayangkan, dia adalah teman dikala suka dan dukamu, tempat kau mencurahkan segala unek-unekanmu, selalu bersedia mendengar ocehan tak penting darimu, bahkan sampai larut malam demi membuatmu bahagia....

Serat keluarga alasan dan keterbatasan

Sreeeeeekkkkk aaah... Telingaku tergores paku. Namaku Cahyani Afiatun Ni'mah dan biasa dipanggil Via. Aku mempunyai ayah yang bernama Murjito dan ibu yang bernama Anik Fauziah. Kedua orangtuaku adalah pahlawan semasa hidupku dan anugerah yang paling indah dari Tuhan SWT. Kurang satu lagi, namanya Rudi. Dia pamanku yang bekerja mencari nafkah untuk dirinya sendiri di Surabaya. Pada hari Rabu malam aku dan teman teman bermain petak umpet yang sangat seru. Aku bersembunyi dihalaman rumah tetangga yang namanya pak ongki, menyesuaikan kaki duduk bersila, tubuh ku bersandar didinding dan rasa takut pun menghampiriku karena rumah pak ongki akhir-akhir ini jarang dihuni. Tak lama kemudian aku berdiri ingin keluar dari tempat persembunyian. Karena rasa takut yang menghampiriku, ketika aku bergegas untuk berdiri tidak melihat di dinding tempat tubuhku bersandar ternyata ada paku dan menegakan badanku. Lalu paku itu mengenai daun telingaku. Huuuhuuhuuu.. Aku menangis terasa sakit karena darah ini bercucuran sehingga aku dipulangkan ke rumah. Huhuhuhuuuu.. Tiba dirumah ibu tercengang lalu buru buru mengambil obat obatan karena melihat daun telingaku mengeluarkan darah yang lumayan deras. Pelan-pelan ibu membersihkan darah dan mengobatinya sambil menanyakan peristiwa yang terjadi sebenarnya. Lalu aku menceritakan kepada ibu apa yang telah terjadi pada saat petak umpet malam ini. " Tadi bu, aku main petak umpet sembunyi di halaman rumah pak Ongki. Aku duduk sila nempel didinding lalu berdiri tanpa menengok kanan kiri karena rasa takut lalu daun telingaku tergores paku. " " Berarti harus lebih hati - hati lagi dan memang seharusnya via hari ini harus berada dirumah. " " Iya bu, Via salah. Via minta maaf karena tidak menaati nasihat ibu. " " Iya nak.. lain kali nurut sama nasihat ibu ya " ...

Ulah Debu Jahat

Sumber foto : https://pin.it/5jUqSmZ Ulah Debu Jahat Oleh Shofa'Nur Amirah Khairiyah Hati ini rasanya hancur berkeping-keping kala itu, mungkin mata ini juga mulai lelah menutupi dusta hingga ia membiarkanku melihat dunia getir di hadapanku. Rasanya aku mulai gila, hingga aku bertindak layaknya retrofili yang sangat kubenci. Tangisan wanita tua di supermarket tadi terus terngiang di kepalaku. Tidak ingin berhenti sekeras apapun aku mencoba. Ia terduduk di lantai kotor supermarket yang dibiarkan terbelangkai oleh petugas ex-Cleaning Service. Sendirian dan terlihat hampa, padahal ia berada di tempat yang sekiranya sangat ramai. Namun orang-orang hanya berlalu-lalang, seolah ia adalah bagian dari lantai kotor itu. Mungkin diriku yang dulu akan berpikir dia orang aneh dengan masalah kejiwaan, dan mungkin aku akan menyuruh satpam untuk mengusirnya dari tempat itu atau mengabaikannya. ...

Money controls my life

Money controls my life “kamu ga pernah berubah!!, aku minta cerakan aku!!, aku gak kuat hidup sama tukang selingkuh” “kamu pikir aku kuat hidup sama kamu yang egois, tunggu saja surat dari pengadilan agama secepatnya!” papa pergi dari rumah tanpa menemuiku dan ini adalah kali terakhir aku melihatnya Mama tidak mengizinkanku menemui papa setelah perceraian mereka, lagipula aku rasa ayah juga sudah bahagia dengan istri barunya, ia bahkan tidak pernah menghubungiku. Jujur aku benci menjadi anak mereka, yang mereka pikirkan hanya kebahagiaan mereka sendiri. Sejak awal orangtuaku selalu saja bertengkar meski hanya membahas hal yang tidak penting, mereka juga tidak pernah memperhatikanku, hanya uang mereka yang selalu bersamaku. Aku sudah terbiasa sendirian sejak kecil. Aku tidak nyaman berada dikeramaian, beberapa kawanku memastikan aku adalah seorang introvert. Aku tidak perduli dengan apa yang mereka pikirkan tentangku, selama aku memiliki uang, apapun dapat kubeli. Termasuk teman. ...

Ego Yang Tak Menggubris Perasaan

Htttps://id.pinterest.com/pin/837317755699096991 Sebenarnya aku tersiksa dalam hubungan ini. Cinta yang semulanya ku kira akan menghadirkan cerita indah, bermuara pada kebahagiaan abadi. Namun realitanya, luka yang terbungkus oleh sebuah cinta. Separah itu memang cinta yang saat ini kujalani. Aku memang yang terlalu keras kepala agar ia tetap bertahan dalam hubungan ini. Perkenalkan namaku Sasya. Orang terkasihku suka menyapa dengan sebutan Sya. Singkat ya, iya sama singkatnya dengan pemikiran dia yang dengan mudahnya meninggalkanku sendirian. Hobiku menulis. Menulis apapun itu aku suka, terutama cerita fiksi. Imajinasiku terlalu luas untuk sebuah ilusi. Tapi, kenyataan tak seindah ekspektasi. Kisah cintaku bagai luka yang datang bertubi tubi. “Aku benci lelaki itu” Hatiku selalu saja mengumpat seperti itu, ketika membahas lelaki itu. "Lelaki emang gitu ya?"...

Lebih baik tak terlahirkan

Sejak orangtuaku bercerai, ibu bekerja siang dan malam demi kelangsungan hidup kami dan masa depanku. Menjadi juru cuci, menjahit baju pesanan tetangga, menerima pesanan kue lebaran jika bulan ramadhan tiba, apapun dilakukannya selama itu halal. Aku membantu ibuku berjualan nasi uduk di sekolah, juga kusempatkan membantu pekerjaannya tiap hari. Tidak pernah kudapati semangatnya luntur meski tumpukan pekerjaannya tidak mengizinkannya tidur. Jujur saja aku rapuh melihat usaha ibuku tanpa henti, aku harus menjadi sukses dikemudian hari. Agar semua usaha ibuku tidak sia-sia. Ini janjiku untukmu bu. Hari ini seperti biasa aku berangkat ke kesekolah yang berjarak sekitar 2km dari rumahku sambil membawa nasi uduk yang masih hangat namun hari ini jalan begitu sepi, angkot yang biasa simpang siur juga tidak ada. Sudah 15 menit aku menunggu dipinggir jalan tapi hanya angin yang menemaniku. Jika aku terus menunggu, aku khawatir akan telat sampai ke sekolah jadi kuputuskan berjalan sambil menunggu angkot. “gina....” kawan satu kelasku menyapa dari dalam mobilnya “hai din” kujawab sapaanya dengan harapan ia bersedia memberikan tumpangan “aku duluan ya...” ternyata sebaiknya, ia memanggilku hanya untuk memamerkan mobil barunya...

Mahasiswa VS Pejabat Universitas

Setelah Mendikbud terbitkan surat edaran pelaksanaan pendidikan dalam masa darurat Covid-19 dan ditindaklanjuti oleh rektor universitas banyak mahasiswa yang bersorak gembira karena menurutnya tak ada perkuliahan di kampus, dan bisa pulang kampung tanpa beban. Sedangkan para dosen sedang kebingungan untuk menemukan cara untuk mengajar pada perkuliahan daring. Setelah satu minggu berjalan perkuliahan dari banyak mahasiswa mengeluh karena perkuliahan daring dirasa memberatkan, baik dalam hal tugas, jaringan internet, paket data, dan waktu perkuliahan yang tidak sesuai dengan jadwal. Dalam sebuah grup whatsapp kelas terdapat obrolan yang entah itu keluhan atau bentuk egois para mahasiswa tersebut. Ken : Guys, katanya kuliah online tapi ini pantasnya disebut tugas online. Gak ada perkuliahan, adanya cuma tugas. Setuju? Rey : Setuju, dosen tak pernah membahas materi tapi langsung memberi tugas dan dikirimkan melalui email saja. Vina : Boleh gak sih kalau menolak tugas?...

Egoisme di Sekitar Kita: Minefield

Sumber: galeri foto pribadi Tidak ada yang ingin menjadi orang yang disalahkan. Karena itulah ia menutupinya rapat-rapat. Ia bersembunyi dalam figur ideal yang ia bangun ketika bersenda gurau bersama keluarga, ketika bergosip di kantin kantor bersama rekan kerja, dan ketika tertawa di pojok kafe bersama sahabat. Sampai akhirnya Tuhan memutuskan untuk menyingkap tabir. Siang hari di awal bulan Syawal ia tersungkur jatuh di tengah keramaian mal. Itulah kasus pertama babak permulaan wabah virus asing. Dan— Wow !—hingga sekarang dominonya terus berjatuhan. Supermarket diserbu sebelum karantina digalakkan. Riuh. Ricuh. Karena ingin dinomorsatukan, pelanggan saling sikut demi mendapat kebutuhan pokok, produk pembersih, dan antrian. “Kasir! Tolong-”...

Egoisme Tidak Pernah Ada Benarnya

Dalam sebuah majelis dua insan dipertemukan secara tidak sengaja untuk kedua kalinya setelah 12 tahun yang lalu pernah bertemu. Mas Abdi seorang pemuda yang tangguh dan pantang menyerah. Fita seorang yang ceria namun pendiam. Ia tidak banyak bicara dan cenderung menutup diri. Namun, lama kelamaan majelis yang ia ikuti ini membuatnya menjadi pribadi yang lebih terbuka dan mau berbicara. Setelah beberapa hari Fita memperhatikan Mas Abdi ia seperti menyadari sebuah keadaan. Fita menyadari bentuk keadaan yang Mas Abdi ciptakan merujuk pada dirinya. Fita masih bertanya-tanya apakah benar keadaan ini, atau hanya sebuah kehaluan belaka. Pada sebuah kesempatan Fita berada pada satu grup dalam sebuah platform pesan di hpnya. Kemudian di save lah nomor Mas Abdi. Dikemudian hari Fita menjadi lebih aktif mengikuti acara-acara pada majelis dan sering bertemu dengan Mas Abdi. Saling berbalas senyuman adalah hal yang bisa mereka lakukan hingga pada akhirnya Fita mendapatkan keadaan untuk harus mengirim pesan pada Mas Abdi. Pertanyaan yang sangat sederhana namun membuat mereka menjadi semakin akrab. Dari situ mereka mulai saling bercerita tentang kehidupan satu sama lain. Ketika bertemu langsung akhirnya Mas Abdi memberanikan diri menyapa Fita duluan karena memang ia terkenal pendiam. “Kok masih disini, besok ngga kuliah?” sapa Mas Abdi. “Eh, iya mas besok masuk siang sih..” jawab Fita diikuti senyuman manisnya. Kedua hati mereka diselimuti rasa bahagia karena percakapan langsung untuk pertama kalinya. Hari demi hari berganti mereka semakin sering mengobrol mulai dari hal penting sampai pada sekedar candaan sebuah apel. Saling bertukar pikiran dan perhatian hingga sampai pada Fita baru saja mengetahui bahwa ia telah berfoto dengan ibunda Mas Abdi pada suatu acara di majelis. Sebuah keadaan muncul yang mengharuskan Fita, Mas Abdi dan ibundanya harus tinggal dalam satu atap. Pada saat itu Fita menjadi akrab dengan ibunda Mas Abdi. Fita mulai meyakini sebuah perasaan yang bisa ia pastikan bahwa hal itu adalah cinta. Ya, Fita jatuh cinta kepada Mas Abdi. Namun cinta tidak berjalan semulus itu. Sebuah ke egoisan dan ke labilan anak usia 19 tahun pada saat itu mengantarkan Fita pada sebuah kegelisahan. Fita menginginkan selalu mengirim dan dikirim pesan oleh Mas Abdi sehingga pada suatu masa Mas Abdi hanya membaca pesannya tanpa membalasnya dan ia merasa kesal hingga akhirnya mengalihkan perasaannya kepada orang lain yang ternyata membuat Mas Abdi semakin menjauhi dirinya. Di sisi lain Mas Abdi ternyata juga memiliki perasaan cinta yang sama kepada Fita namun dia tersadar akan keadaannya sehingga memilih untuk tidak melanjutkan hubungan via pesan singkat agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Sampai pada akhirnya ia melihat Fita bersama dengan laki-laki lain. Hancur sebenarnya perasaan Mas Abdi namun rasa bahagia karena melihat Fita sudah bahagia bersama yang lain lebih besar sehingga dia hanya menyimpan sebuah senyuman. Ternyata apa yang terjadi tidak sesuai dengan apa yang Mas Abdi lihat. Kenyataannya Fita merasa tidak nyaman dengan laki-laki itu. Sehingga kemudian Fita kembali mencoba menghubungi Mas Abdi. Namun nihil hal tersebut samasekali tidak membuahkan hasil. Mas Abdi tetap berpegang pada prinsipnya untuk tidak menanggapi Fita seperti dulu lagi karena ia merasa belum pantas untuk bisa membangun hubungan sejauh itu. Ketika berjumpa pun tak ada lagi sepatah kata yang Mas Abdi ucapkan saling melihat namun seperti tak mengenal. Sampai pada akhirnya Fita menyadari kesalahannya dan mencoba meminta maaf kepada Mas Abdi dan yang Mas Abdi katakan hanyalah “Nggak kok , kamu tidak bersalah atas hal apapun, hanya memang diriku seperti ini sulit di mengerti”....

Cerita Mini (Egoisme di Sekitar Kita) : Maretku

Hari ini begitu menegangkan, hari yang dinanti-nantikan banyak orang namun tidak ingin hari itu terjadi. Debi yang sudah cukup lama berdiri didepan pintu memperhatikan seisi ruangan itu dan tanpa sadar air sudah mengalir melewati pipinya. Debi tidak ingin ini terjadi, namun ini adalah hidup yang akan terus berjalan tanpa henti. “Deb, lo jangan nangis dong entar gue nangis nih,” ucap Lita sambil memeluk Debi. Debi melepaskan pelukan Lita. “Lit gue gak mau hari ini berakhir dengan sia-sia,” dengan wajah serius. “Maksudnya? Jangan buat gue bingung deh,” tanya Lita dengan wajah bingungnya. “Dua tahun rasa ini tertutup rapat dan hari ini adalah kesempatan terakhir gue karena gue yakin gak akan jumpa lagi sama dia,”. “Teruss? Lo mau ungkapin?” tanya Lita dengan tidak yakin. ...

Wahyu dan Naprista

Photo by sohel ansari DX from Pexels Cara duduk, tatapan mata, dan ekspresi wajah Wahyu memancarkan kelelahan setelah seharian menginterogasi seorang pelaku kasus pembunuhan berantai. Dirinya menatap dunia luar yang gelap gulita dengan mata kosong, larut dalam pikirannya yang sedalam samudra. Pria itu tak bergerak bagai batu bahkan ketika aku duduk di sebelahnya. Meski sudah malam, Wahyu takkan pulang dari kantor. Dia tinggal di gudang belakang kantor. Kenapa? Pria ini memang unik, selalu ingin dapat kasus terbaru, selalu ingin siaga menjaga masyarakat. Sementara itu, aku harus diam di kantor karena memang jadwalku untuk jaga malam. Tak ada yang tahu kapan kejahatan akan terjadi. “Yu?” panggilku pelan. Efeknya luar biasa. Pria itu terkejut setengah mati. Matanya terbelalak. “Naprista!!” katanya kesal....

Melirik Hati Yang Lain

Sang mentari tlah menampakkan wujudnya. Pagi ini suasana tampak berbeda. Aku bahagia dan semangat sekali untuk berangkat ke sekolah. Setelah selesai bersiap dan bersarapan aku pun berangkat dengan sepeda miniku. Perjalanan terasa cepat sekali. Setengah perjalanan menuju sekolah aku bertemu dengan tiga orang teman satu kelasku. Mereka Rio, Damar dan Bayu. Dengan semangat aku kayuh sepeda miniku untuk mendahlui mereka. Aha.. akhirnya sekarang aku sudah di depan mereka. Rasa-rasanya aku seperti tuan putri dengan tiga pengawal. Kemudian, setelah beberapa menit berlalu aku pun sampai di sekolah. Aku parkirkan sepeda miniku sebelum masuk ke kelas. Seperti biasanya, aku pelankan jalanku ketika menaiki tangga demi tangga menuju kelas. Ya.. aku selalu memperhatikan dia, dan berharap selalu berpapasan ketika berangkat. Sosoknya memang telah aku kagumi sejak pertama kami duduk di kelas yang sama. Sungguh aneh memang, sudah berjalan hampir dua tahun lamanya. Namun, kekagumanku terhadapnya tak berpindah pun. Lama, mata ini meliriknya yang tak kunjung datang. Dan akhirnya aku pun bergegas masuk ke kelas. Sesampainya di kelas, aku pun langsung duduk di kursi yang biasa aku duduki. Tiba-tiba, tanpa sengaja aku menemukan sebuah kotak kecil berbungkuskan kertas kado. Aku pun menengok ke kanan dan ke kiri, melihat sekeliling ruang kelas. Tak ada orang yang mencurigakan atau pun memperhatikan. Kelas pun masih terbilang sepi. Sebentar, di kotak ini tertulis happy birtday. “Apa ini buat aku ya?” gumamku lirih....