Hari pertama membuka sebuah pekan, Berlalu seperti biasa Tidak ada yang istimewa Hanya pagi yang tergesa, berpacu tanpa irama...
Hari pertama membuka sebuah pekan, Berlalu seperti biasa Tidak ada yang istimewa Hanya pagi yang tergesa, berpacu tanpa irama...
Andai dapat kembali pada masa itu Apa yang ingin dilakukan? Berharap rasa itu tidak pernah menghampirimu Dan lorong-lorong ruang itu terisi sosok yang lain Tak perlu menghadapi pergulatan cerita berujung serupa...
Dahulu rumahku penuh suara kecilmu, Kini hanya angin mengetuk pintu. Dahulu pagi datang membawa senyummu, Kini mentari pun terasa kehilanganmu. Masih kusimpan mainan yang pernah kau genggam,...
Sisa Cahaya Pernah kupikir harapan telah lama mati, dikubur bersama segala doa yang tak kunjung menjadi nyata....
Ia datang sebagai cahaya di tengah malam yang begitu kelam, menyalakan sedikit hangat di antara dinginnya kesunyian yang diam. Ia tak pernah berjanji menjadi mentari,...
Cinta yang Tak Bernama Kau datang seperti cahaya yang menyelinap di sela tirai pagi, perlahan, tanpa pernah meminta untuk dipahami....
Cermin yang Retak Di cermin yang retak, wajahku tumbuh menjadi asing. Kutitipkan namaku pada suara-suara yang lebih lantang,...
Entah berapa banyak kisah yang pernah tersimpan di perpustakaan Alexandria, tentang ilmu pengetahuan, bintang, perang, dan kehidupan, sebelum akhirnya sebagian besar hilang bersama abu. Ribuan tahun berlalu,...
Kebetulan apa yang ditakdirkan Tuhan kepada kita, setelah 13,8 miliar tahun semesta meledak, melahirkan miliaran galaksi, miliaran planet, dan entah berapa banyak kemungkinan di dalamnya. Dari sekian banyak bintang yang terbentuk,...
Entah perjuangan apa yang dilakukan nenek moyangmu, karena sudah berhasil bertahan dari kepunahan massal, peperangan, dan kehancuran. Hingga melahirkanmu di abad ke-21, dengan segala kebetulan...
Belenggu Di Balik Covid 19 Tema:Menjadi manusia seutuhnya Belenggu ini telah membawaku membuka mata bahwa dunia ini sangatlah ramai Kepedulian yang tinggi melewati masa-masa yang begitu kelam Terciptanya rasa saling menyayangi dan mentaati keragaman tanah air bahkan walau keluh kesah berkecamuk dalam diri tetapi tak pernah kenal lelah dalam menghadapi suka dan duka hidup ini ...
Gambar : google Karya : Rafa Izdihar Rahim “Hidup Itu Bangkit” Dalam sebuah roda kehidupan pasti pernah mengalami keterpurukan. Dikecewakan oleh hasil yang tak sesuai dengan apa yang kita tanam....
Sumber: https://cdn-image.hipwee.com/wp-content/uploads/2017/10/hipwee-tumblr_mdhaoq3HYo1r19sono1_500.jpg Tubuhku meringkuk jiwaku merunduk Diri ini tak berdaya membawa raga yang dirundung duka Terperangkap dalam keputusasaan Terjerembap dalam lubang keterpurukan...
Sumber : Dokumentasi Pribadi Terjatuh harap di atas pangkuan Hilang arah di dalam dekapan Anganku dirampas dari khayalan Asaku layu di tepian jalan...
Link sumber gambar: https://www.google.com/url?sa=i&url=https%3A%2F%2Fnusantaranews.co%2Ffenomena-populer-pasangan-remaja-justru-semakin-intim-ketika-mereka-ldr%2F&psig=AOvVaw05Q4z3HXXR7WGkaZWdniqa&ust=1592559892248000&source=images&cd=vfe&ved=0CAIQjRxqFwoTCMC3zICLi-oCFQAAAAAdAAAAABAR Rasa dan Jarak Pernahkah kau berpikir jauh dalam relungmu bahwa hadirmu mampu buatku tersenyum bahwa hadirmu mampu buatku tertawa...
Seorang pria menemukan kepompong kupu-kupu. Suatu hari sebuah celah kecil muncul. Dia duduk dan memperhatikan kupu-kupu itu selama beberapa jam saat ia berjuang untuk memeras tubuhnya melalui lubang kecil. Kemudian berhenti, seolah tidak bisa melangkah lebih jauh. Maka lelaki itu memutuskan untuk membantu kupu-kupu itu. Dia mengambil gunting dan memotong kepompong yang tersisa. Kupu-kupu muncul dengan mudah, tetapi itu memiliki tubuh bengkak dan sayap layu. Pria itu terus memperhatikannya, berharap sebentar lagi sayapnya akan membesar dan cukup berkembang untuk menopang tubuh kupu-kupu. Tidak ada yang terjadi! Bahkan kupu-kupu menghabiskan sisa hidupnya merangkak di sekitar kepompongnya. Kupu-kupu tidak pernah bisa terbang. Apa pria dalam kebaikannya dan tergesa-gesa tidak mengerti: Kepompong yang membatasi dan perjuangan yang dibutuhkan oleh kupu-kupu untuk melewati lubang adalah cara memaksa cairan dari tubuh ke sayap sehingga siap untuk terbang begitu tercapai. Kadang-kadang perjuangan itu tepat apa yang kita butuhkan dalam hidup kita. Melewati hidup tanpa rintangan akan melumpuhkan kita. Kita tidak akan sekuat yang seharusnya dan tidak akan pernah terbang. Apa pelajaran yang Anda dapat dari cerita singkat di atas ? [details="Referensi"]...
gambar : # La verdad oculta on Instagram: "La teoria del derrame" (Pinterest) Aku kemas buku-buku tentang Gie untuk lagi-lagi ku kirimkan pada handai tolan. Tidak pernah ada yang benar-benar aku ikhlaskan dari semua pengiriman, bukan perihal harga bukunya yang tiga kali lipat lebih mahal pada krisis kali ini, tapi tentang alasan mengapa buku-buku menggugah pikiran harus hilang dari rumah ini dan dimusnahkan. Bungkusannya berbisik-bisik, mengelus kain-kain samping celanaku. Lagi-lagi ada suasana lebaran antara aku dan mereka. Mereka akan berlayar pergi dengan menumpangi tangan ibu yang sudah siap melaut dari depan pintu. "Beli lagi besok, ku bakar rak bukumu," ujar ibu menyambar bungkusan dan berlalu. Tepat sekali, Ibu! Bakar satu ku beli seribu. Selepas laju ibu, aku kembali mengetik naskah. Akan aku buka tentang apa yang menjadi sebab malapetaka di desa. Selama ini aku tau semua, setiap minggu ibu ada rapat di ruang sebelah dengan rekanan yang aku tak tau darimana tapi aku tau sepatunya buatan negara mana....
Namaku Aulia Shenara, mahasiswa tingkat akhir di salah satu Perguruan Tinggi Negeri di Jawa Tengah. Biasanya, pada waktu luang seperti saat ini, aku gunakan untuk bersantai sambil baca buku di taman kampus. Tiba-tiba datanglah Dinda dan Fika, Belum sempat aku tanya, Dinda menutup buku yang aku baca. “Aulia!” ucap Dinda dengan nada sebal. “Apa sih? Kalian kenapa?” tanyaku bingung. “Ma’afin kita ya Ul.” Ucap Fika memelas. “Iya Ul, ma’afin kita karena enggak dengerin kamu dulu.” tambah Dinda....
Bagai bintang yang terkurung dalam gelap, hanya ditemani sedikit kilauan yang kemerlap. Kini aku hanya bisa berdiam diri di rumah ditemani rasa kehausan akan letihnya jiwa yang ingin segera ku singkap. Yah.. meskipun, setidaknya aku masih bisa menengok dunia melalui teknologi yang ku genggam. Alih-alih mencari hiburan, nyatanya itu malah membuat perasaanku menjadi muram, dengan banyaknya berita yang memborbardir pikiran. Sejenak terlintas dalam benakku akan bumi yang semakin menua. Dan seperti yang kita tahu, bahwa keabadian hanyalah milik Sang Pencipta. Tak selamanya bumi mampu menahan tubrukan asteroid di angkasa. Tak selamanya bumi mampu menopang beratnya beban dunia, tak selamanya dapat kuhirup segarnya udara atau wanginya bunga dan tak selamanya manusia mampu menatap pesona langit biru dan jingga pada sepasang mata. Namun lihat apa yang sudah manusia lakukan pada semesta? Bumi seenaknya diperkosa oleh keserakahannya. Laut di bom besar-besaran dan dirusak terumbu karangnya. Tanah dikeruk dalam sampai menunggu tiba waktu longsornya. Hutan dieksploitasi sampai punah habitatnya, dan pohon-pohon ditebang sampai kering krontang lahannya. Manusia yang tak pernah merasa puas, melangkah dengan angkuh menganggap dirinya adalah sang penguasa. Mereka yang hanya sibuk mencari keuntungan semata, berlenggang bebas dengan seenaknya lalu berfoya-foya tanpa memikirkan bagaimana dampak kedepannya. Padahal pada ujungnya semua jiwa pun akan menemui titik ajalnya juga....
Gambar : https://rejasmktanjay.blogspot.com Kulihat seorang anak kecil berjalan tanpa alas kaki. Jalannya terseyok - seyok sembari memanggul sebuah karung berisi sampah. Bajunya compang - camping, dengan rambut hitam kumal. Menghampiri tempat - tempat sampah yang ia lalui sepanjang jalan. Terhenyak aku ketika anak kecil itu sudah berada tiga meter di depanku. Mengais botol - botol bekas di tempat sampah sebuah warteg tempatku makan siang. Kupandangi wajahnya dan setiap geraknya mengambil botol bekas. Seharusnya anak seusia itu berada di bangku sekolah. Menimba ilmu, bukan berjibaku dengan tempat sampah. Seharusnya. Kuputuskan untuk mengikuti anak kecil itu. Setelah membayar, segera kumasukkan handphoneku ke dalam tas dan menenteng tasku di pundak. Kujaga jarak dengannya kira - kira sepuluh meter. Hingga sampailah ia pada suatu tempat. Disekelilingnya penuh dengan sampah. Botol bekas, kardus bekas, plastik bekas dan sampah daur ulang lainnya. Si pengepul mulai menimbang botol bekas yang ada di dalam karungnya. ...