
Di selasar fakultas,
kita pernah mengisi jeda
dengan hal-hal sederhana.
Menunggu waktu berlalu,
sambil menyantap makanan,
berbagi cerita yang melompat ke mana-mana,
bertanding dalam permainan,
lalu tertawa atas lelucon
yang mungkin tak lucu bagi siapa-siapa.
Tak ada yang kami anggap istimewa.
Hari-hari hanya berjalan
seperti biasanya.
Kita pun tak pernah berpikir
bahwa kebersamaan sesingkat itu
kelak akan terasa begitu jauh.
Kini, langkah kita telah menemukan arah masing-masing.
Percakapan tak lagi seramai dahulu,
dan pertemuan menjadi sesuatu
yang harus direncanakan.
Sesekali aku melewati tempat itu,
melihat bangku yang pernah kita tempati,
lalu teringat pada suara-suara
yang dulu memenuhi ruang di antaranya.
Lucu,
betapa sesuatu yang dahulu kita anggap biasa
justru menjadi bagian
yang paling ingin ku ulang.
Bukan karena hari-hari itu sempurna,
melainkan karena saat itu
kita belum tahu
bahwa kebahagiaan kadang datang
dalam bentuk yang begitu sederhana:
beberapa teman,
waktu yang senggang,
dan obrolan tanpa tujuan
sebelum kembali ke kelas.