Peribahasa tersebut sangat menggambarkan kondisi yang terjadi dalam kehidupan masyarakat. Murahnya perkataan membuat banyak orang menawarkannya tanpa memilah dan menyaring dengan bijak sehingga akibat buruknya banyak korban yang terdampak dari murahnya perkataan itu sendiri.
Apabila perkataan tersebut "negatif" atau "menyakitkan" bagi penerima perkataan maka itu sulit untuk dikembalikan bahkan tidak bisa. Ibarat guci yang sudah pecah sulit untuk disatukan menjadi guci utuh lagi, sekalipun bisa itupun sudah membekas bercak retaknya. Oleh karena itu, sebelum berkata-kata perlulah untuk dipikirkan dan dipertimbangkan dampak positif dan negatifnya agar tidak terlalu menyesal dikemudian waktu.