Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Kisah "Belajar pada Ahli Permata"

LI Lintang Han 9 years ago

low_03C65271_Cara-Mudah-Membedakan-Batu-Permata-Asli-dan-Palsu-1000x500(1)|690x246

Seorang anak muda mengunjungi seorang ahli permata dan menyatakan maksudnya untuk berguru. Ahli permata itu menolak pada mulanya, karena dia kuatir anak muda itu tidak memiliki kesabaran yang cukup untuk belajar. Anak muda itu memohon dan memohon sehingga akhirnya ahli permata itu menyetujui permintaannya. “Datanglah ke sini besok pagi.” katanya.

Keesokan harinya, ahli permata itu meletakkan sebuah batu berlian di atas tangan si anak muda dan memerintahkan untuk menggenggamnya. Ahli permata itu meneruskan pekerjaannya dan meninggalkan anak muda itu sendirian sampai sore.

Hari berikutnya, ahli permata itu kembali menyuruh anak muda itu menggenggam batu yang sama dan tidak mengatakan apa pun yang lain sampai sore harinya. Demikian juga pada hari ketiga, keempat, dan kelima.

Pada hari keenam, anak muda itu tidak tahan lagi dan bertanya, “Guru, kapan saya akan diajarkan sesuatu?”

Gurunya berhenti sejenak dan menjawab, “Akan tiba saatnya nanti,” dan kembali meneruskan pekerjaannya.

Beberapa hari kemudian, anak muda itu mulai merasa frustrasi. Ahli permata itu memanggilnya dan meletakkan sebuah batu ke tangan pemuda itu. Anak muda frustrasi itu sebenarnya sudah hendak menumpahkan semua kekesalannya, tetapi ketika batu itu diletakkan di atas tangannya, anak muda itu langsung berkata, “Ini bukan batu yang sama!”

“Lihatlah, kamu sudah belajar,” kata gurunya.

Bagaimana pendapat Anda tentang kisah ini?

Sumber:
http://www.kisahinspirasi.com/2012/09/belajar-pada-ahli-permata.html

20

Ini seperti kita sekarang. Banyak dari kita yang mengharapkan sesuatu yang besar, tapi untuk hal yang kecil sudah tidak sabaran. Misalnya jika ingin menjadi dokter, tentu kita harus membiasakan berperilaku bersih dan sehat, jika ingin jadi tentara kita harus disiplin dan mencintai tanah air. banyak dari kita yang melupakan hal-hal kecil seperti ini.