Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Kisah "Anak Anjing yang Cacat"

images (4)|470x313

Sebuah toko hewan peliharaan (pet shop) memasang papan iklan yang menarik bagi anak-anak: “Dijual anak anjing.” Segera saja seorang anak lelaki datang, masuk ke dalam toko dan bertanya, “Berapa harga anak anjing yang Anda jual itu?”

Pemilik toko menjawab, “Harganya berkisar antara 30 – 50 dolar.”

Anak lelaki itu lalu merogoh saku celananya dan mengeluarkan beberapa keping uang, “Wah. Aku hanya mempunyai 23,5 dolar. Hmmm, bisakah aku melihat-lihat anak anjing yang dijual?”

Pemilik toko itu tersenyum. Ia lalu bersiul memanggil anjing-anjingnya. Tak lama, dari ruangan dalam toko, muncullah lima ekor anak anjing. Mereka berlari-larian sepanjang lorong toko. Tetapi, ada satu anak anjing tertinggal paling belakang.

Si anak lelaki itu menunjuk pada anak anjing yang paling belakang dan tampak cacat itu. Tanyanya, “Kenapa dengan anak anjing itu?” Pemilik toko menjelaskan bahwa ketika dilahirkan anak anjing itu mempunyai kelainan di pinggulnya, dan akan menderita cacat seumur hidupnya.

Anak lelaki itu tampak gembira dan berkata, “Aku beli anak anjing yang cacat itu.”

Pemilik toko itu segera menjawab, “Jangan, jangan beli anak anjing yang cacat itu! Tapi jika kamu ingin memilikinya, aku akan berikan anak anjing itu padamu.”

Anak lelaki itu jadi kecewa. Ia menatap pemilik toko itu dan berkata,”Aku tak mau Bapak memberikan anak anjing itu secara cuma-cuma padaku. Meski cacat, anak anjing itu tetap mempunyai harga yang sama sebagaimana anak anjing yang lain. Aku akan bayar penuh harga anak anjing itu. Saat ini aku hanya mempunyai 23,5 dolar. Tetapi setiap hari akan akan mengangsur 0,5 dolar sampai lunas.”

Tetapi penjual itu tetap menolak. Katanya, “Nak, kamu jangan membeli anak anjing ini. Dia tidak bisa lari dengan cepat. Dia juga tidak bisa melompat dan bermain sebagaimana anak anjing lainnya.”

Anak lelaki itu terdiam. Lalu ia melepas menarik ujung celana panjangnya. Dari balik celana itu, tampaklah sepasang kaki yang cacat. Ia menatap pemilik toko itu dan berkata, “Pak, aku pun tidak bisa berlari dengan cepat. Aku pun tidak bisa melompat-lompat dan bermain-main sebagaimana anak lelaki lain. Oleh karena itu aku tahu, bahwa anak anjing itu memerlukan seseorang yang mau mengerti penderitaannya. ”

Kini pemilik toko itu menggigit bibirnya. Air mata haru menetes dar sudut matanya. Ia tersenyum dan berkata,”Aku akan berdoa setiap hari agar anak-anak anjing ini mempunyai majikan sebaik kamu, Nak.”

Apa pendapat Anda tentang kisah ini?

Sumber:
www.ufroog.com/cerita-motivasi.html/2

21

Kisah ini mengajarkan kepada kita untuk bisa memahami sesama, seperti anak laki-laki itu memahami keadaan anak anjing yang cacat. Keterampilan pertama dalam membangun hubungan dengan orang lain adalah menerima orang lain apa adanya dan menghargai cara pandang mereka, lalu barulah kita akan mampu memahami cara berpikir mereka. Pemahaman terhadap model dunia orang lain adalah unsur penting dalam membangun kepercayaan. Pemahaman adalah jembatan antara model dunia Anda dengan model dunia orang lain.