Sikap berpura-pura menjadi orang lain atau tidak menjadi diri sendiri menjadi wajar apabila orang tersebut sedang membutuhan penerimaan atas eksistensinya. Ia terpaku atas standar penerimaan masyarakat yang beragam dan cenderung didominasi pada standar tertentu. Sebagai contoh, seorang remaja rela mengenakan pakaian terbuka demi bisa diterima dalam kelompok pertemanannya, padahal sebenarnya ia lebih merasa nyaman dengan pakaian tertutup. Dengan dalih "khawatir atas pikiran dan perkataan" temannya, ia rela mengenakan sesuatu yangia sendiri sebenarnya tidak suka.
Alasan-alasan menyenangkan atau memenuhi keinginan orang lain tidak akan pernah habis. Apalagi belum tentu diri ini yang sudah terlanjur berpura-pura bisa diterima utuh oleh mereka, yang ada kita malah terjebak oleh pikiran kita sendiri.
Pikiran, harapan, dan Perkataan orang lain tidak akan pernah bisa kita kendalikan. Oleh sebab itu, diri sendirilah yang bisa mengendalikan respon atau tindakan kita. Dengan membuat standar diri dan berlaku apa adanya justru dengan sendirinya akan mengundang orang-orang yang bisa menerima kita apa adanya dan hal seperti inilah yang bisa membuat hubungan antarmanusia lebih nyaman karena sama-sama tahu pribadi masing-masing.