Semua perusahaan, dalam menjalankan operasional sehari-harinya pasti memiliki landasan maupun acuan yaitu strategi perusahaan. Dalam konteks diskusi ini, perusahaan yang bergerak di bidang Teknologi Informasi tentunya memiliki strategi yang di titik beratkan kepada layanan teknologi informasi yang ia miliki.
Menurut Ward&Peppard, suatu perusahaan TI memiliki strateginya yang disebut strategi TI. Yang mana strategi TI berfokus kepada memberikan gambaran umum atas visi permintaan organisasi akan informasi dan sistem-sistem yang akan didukung oleh teknologi—pada dasarnya berkaitan dengan ‘Suplai TI’ yang mana membahas mengenai penyediaan kemampuan-kemampuan dan sumber-sumber daya TI serta service seperti operasi TI, pengembangan sistem dan dukungan pelanggan.
Lalu, merujuk kepada definisi ‘Risiko’ sendiri yang dinyatakan oleh Ward sebagai “Efek kumulatif dari kemungkinan kejadian-kejadian tidak pasti yang dapat mempengaruhi objektif-objektif proyek secara positif atau negatif”, dapat disimpulkan bahwa risiko merupakan hal yang tak terhindarkan untuk terjadi dalam menjalankan suatu organisasi. Namun, sesuai dengan definisi risiko di atas, walaupun risiko merupakan hal yang tak bisa dihindari, ia memiliki kemungkinan untuk memberikan dampak positif bagi perusahaan.
Oleh karena itu, risk strategy atau strategi risiko merujuk kepada kemampuan perusahaan dalam membuat gambaran umum atas risiko-risiko yang akan membahayakan visi dan misi organisasi. Strategi risiko juga dapat diartikan sebagai mengelola risiko-risiko yang ada. Pengelolaan risiko ini harus menjadi suatu perhatian dari perusahaan, hal ini dikarenakan dampak yang ditimbulkan beberapa risiko sangatlah besar, baik dampak positif maupun negatifnya. Tujuan pengelolaan ini adalah untuk memaksimalkan dampak positif dari risiko namun meminimalisir dampak negatif risiko.
Menurut buku “Prioritising Project Risks” yang ditulis oleh Asosiasi Manajemen Proyek, risiko-risiko yang ada di perusahaan harus dikelola dengan baik dan diberi prioritas sesuai dengan kemampuan perusahaan. Hal ini bertujuan untuk membantu perusahaan fokus terhadap hal-hal yang paling penting terlebih dahulu. Hal-hal terpenting disini merujuk kepada risiko-risiko yang memiliki dampak paling besar bagi perusahaan apabila terjadi (baik dampak positif maupun negatif, namun lebih sering merujuk kepada dampak negatif).
Perusahaan perlu melakukan Risk Strategy dalam bentuk pengelolaan risiko untuk menjawab atau menanggulangi implikasi-implikasi ketidakpastian yang ada dalam suatu perusahaan. Dengan berfokus kepad “hal-hal penting” terlebih dahulu, perusahaan akan menghemat biaya maupun waktu mereka dalam menjalankan kegiatan operasionalnya. Keberagaman “hal-hal penting” ini juga berbeda-beda bagi tiap perusahaan, tergantung kepada para stakeholder yang terlibat di dalam perusahaan tersebut. Salah satu cara memprioritaskan risiko adalah dengan menghitung, mengelompokkan dan memperkirakan likelihood atau kemungkinan terjadinya suatu risiko seperti gambar berikut