Menurut Koehler dan Pankowskin dalam Maulana ali (2012) ada tujuh karakter kepemimpinan transformasional yang harus dibangun, yaitu:
1. Toleransi yang tingi terhadap ketidakpastian ( high tolerance for uncertainty)
Dengan memberikan toleransi terhadap sesuatu yang tidak menentu berarti pemimpin telah menerima kemungkinan adanya perubahan di lingkungan organisasi yang dipimpinnya. Pemimpin bukan saja berada dalam suatu perubahan tetapi mereka harus mampu menyebabkan perubahan. Para pemimpin di pemerintahan sehari-hari berhadapan dengan ketidakpastian, karena kekurangan data yang akurat dalam proses manajemennya. Namun bagaimana juga perubahan yang dilakukan oleh pemimpin transformasional tidak akan membuat suatu yang tidak kondusif di lingkungan organisasi, tetapi menjadikan pengalaman yang berharga. Toleransi yang rendah untuk kepastian (low tolerance for certainty). Kepastian berarti isu-isu sudah pasti akan terjadinya atau sudah ditetapkannya, sebagai contoh nilai (values), keyakinan (beliefs), misi (mission), dan prinsip-prinsip manajemen ( management principles). Pemimpin organisasi percaya bahwa ide-ide tersebut adalah dasar untuk mengelola organisasi dengan efektivitas yang tinggi, sehingga tidak diperlukan inisiatif untuk suatu perubahan menyesuaikan dengan kondisi atau dinamika lingkungan yang berkembang.
- Energi yang terpelihara (sustained energy)
Energi adalah kapasitas melakukan kegiatan. Pemimpin transformasional adalah seorang yang energik. Di dalam pemerintahan, stereotipikal administrator adalah seseorang datang kekantor terlambat, waktu makan siang yang panjang dan pulang lebih awal dari waktu yang ditentukan, ini tentu tidak benar. Kebanyakan administrator pemerintah bekerja untuk waktu yang lebih panjang dari yang ditetapkan. Bekerja pada waktu yang panjang, bagaimanapun juga tidak membuat seorang administrator menjadi pemimpin.
Karakter yang lebih penting dari kepemimpinan transformasional adalah kemauan untuk komit dengan energy yang ada dan mendukung asosiasi. Mereka tidak hanya mampu melaksanakann tugas administratif, tetapi mereka dapat memberikan waktu bersama asosiasinya dalam berbagai tingkatan. Mereka berada di pertemuanpertemuan tim dalam rangka proses pemberdayaan dan berpartisipasi sebagai anggota tim. Mereka mempunyai energy untuk mereview data secara berhati-hati yang dihasilkan proses pemberdayaan. Daripada bersembunyi di dalam kantornya , pemimpin transformasional adalah secara terus menerus bergerak, mendengar asosiasi mereka dan mengidentifikasi serta menghilangkan kesulitan-kesulitan yang mungkin dihadapi pada saat tim berproses. Pemimpin transformasional tidak pergi bekerja dengan terus-menerus duduk di dalam kantornya, memecahkan persoalan-persoalan, dan bertemu dengan anggota asosiasinya. Hentikan pertentangan, dan datang ke kantor untuk bekerja membuat sesuatu kontribusi yang positif, mereka adalah enerjetik.
-
Nafsu untuk kualitas ( passion for quality )
Administrator pemerintahan paling senang apabila dapat menyelesaikan pekerjaan sesuai sasaran dan kuota yang telah ditentukan. Pemimpin transformasional selalu berusaha doing the right thing dengan antusias untuk mencapai hasil yang luar dari kebiasaan (extraordinary).
-
Ketabahan ( perseverance )
Apa yang dilakukan pemimpin transformasional adalah mencoba memberikan pengikut atau bawahan suatu kekuasaan untuk mengontrol proses, dalam rangka melakukan proses pemberdayaan, yang tentu akan menghadapi banyak perlawanan, rintangan, dan hambatannya.
Pemimpin transformasional memahami bahwa semua pegawai di dalam organisasi harus memiliki kemampuan professional dalam melaksanakan yugas dan kewajibannya. Mereka membutuhkan upaya meningkatkan keterampilan dan pengetahuannya. Walaupun banyak
perlawanan, rintangan, dan hambatan yang dihadapi, tetapi mereka tidak pernah menyerah dan berhenti. Namun, pemimpin transformasional tidak akan berupaya untuk menhindari atau lari dari perlawanan, rintangan dan hambatan tersebut, bahkan senang menghadapi tantangan tersebut. Walaupun banyak yang mengkritik dan berbicara tentang kepemimpinan di belakangnya, dia terima dengan senang hati. Dengan penuh keyakinan dan ketabahan melaksanakan program-program perubahan mind-set, struktur, dan perilaku organisasi sesuai dengan nilai, kepercayaan, dan prinsipprinsip organisasi.
- Pencitraann diri yang positif ( positive self-image)
Pertama kita harus yakin bahwa karakter dapat dirubah dengan suatu proses pemberdayaan. Orang-orang yang memiliki karakter cari selamat atau tidak yakin dirinya dapat merubah karakter dirinya, tidak akan mampu merubah karakter orang lain. Mereka takut melakukan pemberdayaan karena takut menghadapi resiko atau konsekuensinya. Apabila dia tidak percaya kepada dirinya sendiri maka dia tidak akan percaya dengan orang lain. Jika mereka tidak merasa mereka bekerja akan memberi arti dan memberi nilai tambah, mereka tidak akan termotivasi untuk lebih meningkatkan derajat kepuasannya terhadap hasil pekerjaan yang dilakukannya, maka dia tidak akan mungkin dapat mendorong orang lain untuk bekerja dengan tuntutan hasil yang tinggi pula.
Pemimpin transformasional membutuhkan pemikiran yang didasarkan pada mental yang kuat. Citra dirinya sendiri harus positif dapat secara baik dan efektif berhubungan dengan orang lain yang akan berusaha merusak konsep-konsep yang telah direncanakan. Pemimpin transformasional harus memiliki gambaran mental yang positif, sebagai seorang jujur ( honest ), cerdas ( Intelligent ), memahami organisasi ( knowledgeable about their organization), proaktif ( proactive ), dan visioner (visionary), dengan perhatian yang sungguhsungguh atau tulus ( genuine concern ) kepada rakyat dan organisasinya.
Pencitraan diri yang positif itulah sebagai modal untuk melakukan proses pemberdayaan. Dengan memahami pencitraan diri yang positif memungkinkan dia untuk menilai kekuatan dan kelemahannya, serta menyebabkan dia tidak takut akan gagal dalam tugasnya. Dia selalu berfikir sukses tidak gagal. Sebagai konsekuensinya, tidak takut menempatkan kepentingan pribadinya yang kedua dan kepentingan organisasi yang pertama.
- Kepercayaan ( credibility )
Karakteristik yang membantu seseorang untuk dapat mempengaruhi orang lain adalah kepercayaan. Kepercayaan didefinisikan sebagai ‘ perceived trust you attach to a person’ ( Koehlen dan Pankowski dalam Maulana ali (2012). Kepercayaan ada 2 dimensi, yaitu kewenangan ( authoritativeness ) dan karakter. Dimensi yang pertama, otoritas, adalah persepsi pengikut yang berkaitan dengan kompetensi pemimpin, otoritas dan reliabilitas. Cara mengukur derajat kepercayaan dapat dilakukan dengan menjawab 5 pertanyaan berikut ini, yaitu
- Is the leader informed? 2
- Is the leader Intelligent?
- Is the leader qualified?
- Is the leader reliable?
- Is the leader valuable to the organization ?
Pemimpin transformasional dengan tingkat kepercayaan yang tinggi akan dihargai positif oleh pengikutnya dalam menjawab lima pertanyaan terseut. Dimensi kedua dari pada kepercayaan dan karakter adalah pola perilaku yang diterima karena moralitas dan reputasinya. Untuk melihat karakter seorang pemimpin, ada dengan menggunakan lima pertanyaan berikut ini :
1. Is the leader honest?
2. Is the leader friendly?
3. Is the leader pleasant?
4. Is the leader nice?
5. Is the leader unselfish?.
Pemimpin transformasional dicirikan dengan karakter yang dibangun atas otorisasi yang diberikan padanya dan sekaligus nilai kepercayaan.
-
Keinginan yang kuat untuk mempengaruhi orang lain ( strong desire to influence others )
Memiliki keinginan yang kuat untuk mempengaruhi orang lain bukan berarti sang pemimpin perlu mengontrol mereka. Kebanyakan administrator lebih suka mempraktekan otoritas dan komando, mengatur atau bias juga membatasi perilaku meraka. Di satu pihak, mempengaruhi berarti melakukan sesuatu aksi pengaruh yang tidak menggunakan otoritas yang ada, tetapi berdasarkan kepada kekuatan karakter, keahlian, dan atau pengetahuan. Pemimpin transformasional dibutuhkan untuk mengontrol proses, bukan orangnya. Pemimpin
transformasional memiliki keinginan yang kuat untuk mempengaruhi orangnya, agar mereka menerima konsep yang dapat menuntun mereka.
Pemimpin transformasional menginginkan pengikutnya untuk memahami akurat konsep dan nilai-nilai yang ditawarkan. Pemimpin transformasional juga memiliki keinginan yang kuat untukk menyamakan konsep dan belief, tidak hanya kepada orang-orang tertentu saja, tetapi pada semua orang yang terlibat di dalam organisasi. ,Pemimpin transformasionalnya merasa senang kalau ada yang membantah pendapatnya; memberikan saran, kritik, dan koreksi.
Dengan demikian, ia juga tidak menabukan adanya perbedaan pendapat, dan dinamika konflik sepanjang hal tersebut bermanfaat bagi organisasi, dan didukung oleh argument-argumen yang rasional untuk memperbaiki organisasi. Dalam kesempatan seperti itu, pemimpin transformasional akan meyakinkan kepada orang lain bahwa konsep yang ditawarkannya masuk akal. Pemimpin transformasional juga tidak akan mendominasi pertemuan dan mendominasi pembicaraan. Mungkin saja pemimpin transformasional tersebut menganggap sudah selayaknya dia tidak bicara dalam pertemuan tersebut manakala pertemuan berjalan efektif dan memiliki kontribusi untuk menyempurnakan organisasi secara terus menerus.