Kenaikan harga yang tinggi dan terus-menerus dapat menimbulkan beberapa efek dalam kegiatan ekonomi, antara lain:
- Efek Terhadap Pendapatan (Equity Effect)
Efek terhadap pendapatan sifatnya tidak merata, ada yang dirugikan tetapi ada pula yang diuntungkan dengan adanya inflasi. Inflasi akan menurun pendapatan orang-orang yang berpendapatan tetap, mengurangi nilai kekayaan yang berbentuk uang dan memperburuk pembagian kekayaan. Contoh lain yang dirugikan dengan adanya inflasi adalah orang atau pihak yang memberikan pinjaman uang dengan bunga lebih rendah daripada laju inlflasi.
Sebaliknya, pihak-pihak yang mendapatkan keuntungan dengan adanya inflasi adalah mereka yang memperoleh kenaikan pendapatan dengan potensi yang lebih besar laju inflasi, atau mereka yang mempunyai kekayaan buukan uang dimana nilainya naik dengan prosentase lebih besar dari laju inflasi. Adanya srikat buruh yang kuat kadang kala berhasil dalam menuntut kenaikan upah dengan prosentase lebih besar dari laju inflasi.
-
Efek Terhadap Efisiensi (Efficiency Effects)
Inflasi dapat pula mengubah pola alokasi faktor-faktor produksi. Perubahan ini dapat terjadi melalui kenaikan permintaan akanberbagai macam barang yang kemudian mendorong terjadinya perubahan dalam produksi beberapa barang tertentu. Dengan adanya inflasi permintaan akan barang tertentu mengalami kenaikan yang lebih besar dari barang lain, yang kemudian mendorong kenaikan produksi barang tersebut. Kenaikan produksi barang ini pada gilirannya akan merubah pola alokasi faktor produksi yang sudah ada. Memang tidak ada jaminan bahwa alokasi faktor produksi itu lebih efisien dalam dalam keadaan tidak ada inflasi. Namun, kebanyakan ahli ekonomi berpendapat bahwa inflasi dapat mengakibatkan alokai faktor produksi menjadi tidak efektif.
-
Efek Terhadap Output (Output Effects)
Inflasi mungkin dapat menyebapkan kenaikan produksi. Alasnya dalam keadaan inflasi biaya kenaikan harga barang mendahului kenaikan upah sehingga keuntungan pengusaha naik. Kenaikan keuntungan ini akan mendorong kenaikan produksi. Namuna apabila laju inflasi itu cukup tinggi (hyper inflation) dapat mempunyai efek sebaliknya, yakni penurunan otput. Dalam keadaan inflasi yang tinggi, nilai uang rill turung dengan drastis, masyarakat cenderung tidak menyukai uang cas, transaksi lebeih mengarah ke barter, yang biasanya diikuti dengan turunnya produksi barang. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan langsung antara inflasi dan otput. Inflasi bisa dibarengi dengan kenaikan output, tetapi bisa juga dibarengi dengan penurunan output.
Intensitas efek inflasi berbeda-beda tergantung apakah inflasi dibarengi dengan kenaikan produksidan employment atau tidak. Apabila produksi barang ikut naik, maka kenaikan produksi ini sedikit banyak dapat mengerem laju inflasi. Tetapi apabila ekonomi mendekati kesempatan kerja penuh (full empyment) intensitas efek inflasi makin besar. Inflasi dalam keadaan kesempatan kerja penuh ini sering disebut dengan inflasi murni (pure inflation)