Menurut Editor Kompartemen Harian Kontan, Thomas Hadiwinata redenominasi memang bisa meningkatkan efisiensi serta akuntabilitas. Salah satu manfaat yang bisa dipetik misalnya perusahaan bisa lebih efisien dalam menyiapkan laporan keuangan karena nilai aset menjadi lebih pendek atau sederhana. Namun, masih sulit menakar manfaat redenominasi bagi orang kebanyakan. Yang lebih mudah terlihat justru efek samping redenominasi, yaitu meningkatkan inflasi.
Walaupun berbeda dengan sanering, redenominasi ternyata masih berpotensi menciptakan inflasi. Menurut Thomas Hadiwinata, hal ini dikarenakan saat ini masih banyak barang dan jasa yang memasang banderol harga dalam nilai ratusan rupiah. Sebut saja mie instan, bumbu dapur atau sabun. Jika redenominasi tidak membuka peluang kehadiran pecahan yang lebih kecil daripada Rp 1, maka yang sangat mungkin terjadi adalah produsen membulatkan harga ke atas. Dengan demikian, barang yang semula berharga Rp 1.300 akan menjadi Rp 2, alih-alih menjadi Rp 1.
Efek inflasi bahkan bisa berlangsung setelah redenominasi terjadi. Perlu dicatat pula bahwa kebijakan menaikkan harga sudah seperti tradisi tahunan bagi para produsen. Untuk barang kebutuhan sehari-hari, kenaikan harga nilainya berkisar ratusan rupiah. Jika nilai rupiah tidak ada yang lebih kecil daripada Rp 1, kenaikan harga otomatis lebih tinggi karena kelipatan kenaikan minimal adalah Rp 1, atau Rp 1.000 dalam nilai sekarang. Bayangkan jika setiap tahun harga barang naik dalam jumlah yang lebih besar dari biasanya, pasti inflasi yang lebih besar akan terjadi.
Referensi:
https://pinterpolitik.com/redenominasi-rupiah-untuk-siapa-1/