Memahami cara untuk mengurangi Zoom Fatigue lebih baik dipahami dengan mengetahui penyebab terjadinya. Sklar (2020) melalui artikelnya yang berjudul ‘Zoom fatigue’ is taxing the brain. Here's why that happens menjelaskan bahwa terdapat dua sisi telekonferensi menggunakan aplikasi Zoom yaitu:
- Zoom Gloom
Sumber: Forbes.com
Secara harfiah manusia tetap berkomunikasi walaupun sedang diam. Selama percakapan secara langsung, sebagian otak berfokus pada kata-kata yang sedang diucapkan, tetapi masih terdapat makna tambahan dari bahasa non-verbal. Contohnya seperti apakah ketika berbicara berhadapan atau sedikit berbalik, jika dalam pembicaraan terlihat kegelisahan saat orang lain berbicara, atau bahkan jika mereka menarik nafas dengan cepat sebagai persiapan untuk menyela.
Zoom Gloom yang dimaksud pada faktor ini adalah adanya ketimpangan antara harapan dengan proses hasil ketika melakukan interaksi melalui telekonferensi. Harapan melakukan telekonferensi adalah tetap dapat beraktivitas normal dalam perkuliahan maupun seminar yang membutuhkan forum. Hasil yang didapat melalui telekonferensi tetap sama yaitu dapat terlaksananya kegiatan perkuliahan maupun seminar, akan tetapi proses dalam mencapai pemahaman sulit untuk dicerna melalui satu kali percobaan.
“For somebody who’s really dependent on those non-verbal cues, it can be a big drain not to have them,” Franklin says. Prolonged eye contact has become the strongest facial cue readily available, and it can feel threatening or overly intimate if held too long. Sklar (2020)
Masalah lain adalah ketika menggunakan fitur tampilan multi layar. Seluruh peserta muncul dan melihat tampilan galeri, hal ini menantang penglihatan sentral otak, memaksanya untuk memecahkan kode begitu banyak orang sekaligus sehingga pemahaman dirasa semakin sulit, bahkan pembicara pun tidak mudah dipahami.
- Zoom Boon
Sumber: asia.nikken.com
Tetap dapat berinteraksi dengan orang banyak dalam kondisi pandemi COVID-19 merupakan salah satu anugerah meski tidak bertemu secara langsung. Salah satu kelebihan aplikasi Zoom adalah setiap pembicara akan menjadi tampilan utama. Hal ini memberikan keuntungan bagi penyandang disabilitas mental autisme.
Now that the pandemic has pushed his coworkers (Climate Central) to be remote as well, he has observed their video calls lead to fewer people talking and less filler conversation at the beginning and end of each meeting. Upton says his sense of tension and anxiety has been reduced to the point of being negligible. Sklar (2020)
Seseorang dengan autisme memiliki kesulitan menemukan fokus dalam perbincangan banyak arah. Aplikasi Zoom efektif digunakan oleh penyandang autis karena hanya satu pembicara yang ditampilkan. Apabila dalam diskusi pun harus satu persatu dalam membuka suara. Sklar (2020) kemudian memberikan penjelasan bahwa bagaimanapun aplikasi telekonferensi seperti Zoom telah membantu memungkinkan untuk menjaga hubungan jarak jauh, menghubungkan ruang kerja dari jarak jauh, dan bahkan sekarang, di
terlepas dari kelelahan mental yang bisa mereka timbulkan, menumbuhkan rasa kebersamaan selama pandemi.
[details="Referensi"]
Sklar, Julia. 2020. ‘Zoom fatigue’ is taxing the brain. Here's why that happens. National Geographic Articles, diakses melalui https://www.judicialcollege.vic.edu.au/sites/default/files/2020-05/Sklar,%20Julia%20(2020)%20-%20National%20Geographic%20-%20%E2%80%98Zoom%20fatigue%20is%20taxing%20the%20brain.%20Here's%20why%20that%20happens'.pdf
[/details]