Simbol kecantikan saat ini menurut Rogers (2004) dapat direpresentasikan pada sosok boneka Barbie. Boneka ini adalah sosok ideal bagi seorang wanita yang ingin disebut cantik, yakni: muda, langsing, berambut panjang, bermata indah, bermata biru, kulit halus mulus, bibir sexy dan pakaian yang glamour.
Boneka Barbie kemudian menjadi icon budaya karena dapat diterima masyarakat dan laku terjual di seluruh dunia. Sebagai ikon budaya, boneka Barbie saat ini telah menjelma menjadi ikon konsumerisme, rasisme, seksisme dan materialisme. Barbie, yang merupakan benda plastik, kemudian menjadi gaya hidup sesuai dengan penokohan yang melekat padanya. Barbie adalah perempuan dewasa awal, kulit bersih dan cantik, tidak memiliki suami maupun anak, tidak punya atasan guru, tetangga dan sebagainya. Dia hanya memiliki teman-temannya dan pacarnya saja, sehingga dia adalah sosok yang keras dalam penampilannya yang feminim serta teralienasi dalam kehidupannya. Tubuh menjadi subjek komoditas yang terus berkembang dan berubah-ubah, dalam kebudayaan konsumtif dewasa ini.
Wolf (2011) berpendapat bahwa kecantikan (penampilan tubuh) tak ubahnya seperti mata uang yang ada dalam sistem perekonomian. Penampilan seseorang akan sangat mempengaruhi popularitas, kepuasan diri, promosi jabatan, kencan dan lain-lain. Kebutuhan mendasar menurut Abraham Maslow (2006) dibagi menjadi lima kategori yaitu kebutuhan fisiologis, rasa aman, sosial, harga diri, serta aktualisasi diri. Tidak dipungkiri bahwa penampilan yang menarik sangat membantu dalam aktualisasi diri.
Barbie menjadi ikon dari kecantikan sempurna seorang perempuan. Awalnya ia bertindak sebagai model, selanjutnya berkarir pada banyak bidang. Pembuatannya yang berangkat dari pemikiran memberikan sebuah bentuk hiburan bagi anaknya akhirnya berperan menjadi salah satu pembentuk citra perempuan cantik. Perlombaan tentang penampilan semakin tajam terjadi pada komunitas kelas menengah ke atas yang kaya akan uang. Mereka berlomba-lomba menampilkan penampilan yang terbaik. Mereka sangat dipengaruhi oleh fashion, yang merupakan simbol bagi citra: muda, gembira, glamour. Simbol tersebut menjadi begitu marak saat ini, kemungkinan karena pandangan tentang kecantikan sudah banyak bergeser.
Dahulu, seseorang sudah merasa dirinya cantik ketika ia membersihkan dirinya dengan baik. Namun saat ini bersih saja tidaklah cukup. Inner beauty hanyalah faktor pendukung, bukanlah faktor utama. Penampilan fisik menjadi prioritas, terutama bagi kaum perempuan. Pergeseran ini banyak dipengaruhi oleh keberadaan arus globalisasi dan juga media massa yang membuat menjamurnya budaya konsumerisme. Penyebaran arus informasi mengkonstruksi masyarakat agar meyakini bahwa seseorang dikatakan cantik apabila memiliki bentuk tubuh yang langsing, kulit yang putih, hidung yang mancung, bibir yang seksi, bentuk wajah yang sempurna dan untuk mendapat semua itu para wanita menjalankan usaha-usaha dari mulai memakai produk pemutih wajah, minum obat peramping, pergi ke salon dan dokter kecantikan, bahkan memilih jalan pintas yaitu melalui operasi plastik.
Persepsi cantik sendiri dibentuk oleh industri kecantikan agar produk mereka laku di pasaran. Bagi orang Indonesia, cantik itu yang berkulit putih, berambut lurus dan tinggi semampai. Maka produk-produk pemutih berjamuran beredar di pasaran. Kadang, konsumen mengabaikan keamanan produk itu sendiri berbahaya atau tidak. Padahal jika produk tersebut mengandung merkuri atau zat zat berbahaya lainnya, akan menyebabkan efek samping bagi kulit mereka.
Adanya dorongan dari arus budaya Barbie, para perempuan tergerak untuk berlomba-lomba menjadi yang paling cantik. Berbagai macam cara dilakukan, mulai dari yang instan sampai yang memerlukan kesabaran tinggi. Dari yang alami sampai pada budaya operasi plastik. Salah satu hal yang saat ini mulai banyak digunakan untuk menambah aura kecantikan perempuan adalah pemakaian lensa kontak. Memakai softlens atau lensa kontak saat ini menjadi trend di kalangan remaja hingga dewasa. Bahkan kini, harganya pun relatif terjangkau dan membuat remaja semakin percaya diri. Hasil reportase sebuah koran tentang pemakaian lensa kontak menunjukkan bahwa di kalangan pelajar di kota-kota besar telah mulai marak penggunaan lensa kontak oleh para siswi. Mereka merasa lebih percaya diri dan didorong oleh harga lensa kontak yang terjangkau
[details="Referensi"]
1. Munandar. 2001. Psikologi Industri dan Organisasi. Jakarta: UI Press.
2. Rogers, Barbie Culture: Ikon Budaya Konsumerisme. (Terjemahan). Yogyakarta: Relief, 2009
[/details]