Deprecated: mb_substr(): Passing null to parameter #1 ($string) of type string is deprecated in /home/duniais1/dictio.id/wp-content/plugins/jetonomy/includes/seo/class-schema-markup.php on line 174
Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Mengapa kejahatan atau setan ada di dunia ini? Jika ada Tuhan, mengapa Dia tidak melakukan sesuatu tentang hal itu?

Anonymous 2 years ago

Deprecated: preg_replace(): Passing null to parameter #3 ($subject) of type array|string is deprecated in /home/duniais1/dictio.id/wp-includes/kses.php on line 2025
40

Ini adalah pertanyaan yang sudah mengisi hati dan pikiran manusia sejak ribuan tahun yang lalu. Tidak hanya oleh orang yang ragu pada keberadaan Tuhan, tetapi juga oleh mereka yang sangat beriman: mengapa ada begitu banyak kejahatan di dunia ini? Mengapa anak kecil bisa menjadi korban perang? Mengapa orang baik menderita? Mengapa Tuhan yang Maha Kuasa membiarkan setan berkeliaran? Apakah Dia tidak mampu? Atau—ini pertanyaan yang paling mengganggu—apakah Dia tidak peduli?

Jika kamu pernah merasakan pertanyaan ini muncul dalam hati, kamu tidak sendiri. Ini adalah pertanyaan yang sangat manusiawi. Bahkan para nabi pun pernah merasakannya dalam bentuk kegelisahan. Nabi Ya’qub menangis hingga matanya buta karena kehilangan anaknya. Nabi Ayyub diuji dengan penyakit dan kehilangan segalanya. Nabi Muhammad ﷺ pun berdoa dengan air mata: "Ya Allah, jika Engkau tidak murka kepadaku, maka aku tak peduli."

Jadi mari kita jelajahi pertanyaan ini, bukan untuk menyelesaikannya secara logika dingin, tapi untuk memahaminya dari hati, dari iman, dan dari kebijaksanaan para ulama dan kitab-kitab agama yang telah merenungkan hal ini jauh sebelum kita lahir.


Mengapa Ada Kejahatan? Menurut Al-Qur'an dan Pemikiran Ulama Besar

Dalam Islam, kejahatan tidak dilihat sebagai sesuatu yang berdiri sendiri dan kekal. Ia tidak otonom, tidak punya kuasa mutlak. Ia hanyalah ciptaan, bagian dari rencana besar yang sering kali tak dapat kita pahami sepenuhnya dari sudut pandang manusia yang terbatas.

Imam al-Ghazali dalam kitab Al-Iqtishad fi al-I'tiqad menjelaskan bahwa segala sesuatu yang terjadi di dunia ini—baik atau buruk—terjadi atas izin Allah. Namun, “izin” dalam hal ini tidak berarti bahwa Allah “meridhoi” kejahatan. Allah membolehkan kejahatan terjadi sebagai bagian dari ujian kehidupan, tapi tidak mencintainya.

Sementara itu, Imam Ibn Taymiyyah dalam Majmu' al-Fatawa menjelaskan bahwa kejahatan bukan berarti Allah tidak Maha Kuasa. Justru, kejahatan adalah ruang di mana kebaikan bisa tampak. Tanpa adanya keburukan, bagaimana kita bisa melihat makna kesabaran, keberanian, keadilan, dan pengorbanan?

Bayangkan dunia tanpa penderitaan—maka tidak akan ada kasih sayang yang dalam. Tanpa adanya kejahatan, tidak akan ada makna untuk keberanian dan perjuangan. Tanpa adanya kegelapan, kita tidak akan pernah tahu betapa berharganya cahaya.


Kebebasan Manusia dan Tanggung Jawab Moral

Salah satu pilar penting dalam ajaran Islam adalah bahwa manusia memiliki kehendak bebas. Allah menciptakan manusia dengan akal dan pilihan. Dalam Surah Al-Insan ayat 3, Allah berfirman:

"Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan, ada yang bersyukur dan ada pula yang kufur."

Imam Fakhruddin ar-Razi dalam tafsirnya menyebut ayat ini sebagai bukti bahwa manusia diberikan kehendak bebas untuk memilih jalannya. Allah tidak memaksa manusia menjadi baik atau buruk, tetapi menyediakan keduanya sebagai pilihan.

Dari sinilah muncul konsep tanggung jawab moral. Kejahatan ada karena sebagian manusia memilih kejahatan. Allah bisa saja menciptakan manusia seperti robot—selalu baik, tidak pernah menyakiti. Tapi apa makna kebajikan jika ia tidak dipilih secara sadar?

Sebagaimana Imam al-Maturidi katakan dalam Ta'wilat Ahl al-Sunnah, kebebasan adalah tanda kehormatan manusia. Dalam konteks ini, Allah membiarkan kejahatan terjadi karena Dia menghormati kemanusiaan itu sendiri: kemampuan untuk memilih.


Mengapa Allah Tidak Mencegah Semua Kejahatan?

Pertanyaan ini adalah versi lain dari "Kalau Allah Maha Kuasa dan Maha Pengasih, mengapa dunia ini tetap penuh derita?"

Jawaban yang mendalam sering kali tidak datang dari logika semata, tetapi dari kedalaman spiritual. Dalam tradisi Islam, ada konsep hikmah—kebijaksanaan Ilahi yang kadang tersembunyi di balik hal-hal yang kita anggap buruk.

Al-Qur'an mengisahkan pertemuan Nabi Musa dengan Khidir (QS. Al-Kahfi: 60–82). Dalam kisah itu, Khidir membunuh seorang anak, melubangi perahu, dan mendirikan dinding tanpa dibayar. Nabi Musa, dengan akalnya sebagai manusia, tidak bisa memahami mengapa semua itu dilakukan. Tapi di akhir kisah, Khidir menjelaskan bahwa semua tindakan itu ternyata mengandung kebaikan yang tidak terlihat saat kejadian berlangsung.

Ulama besar seperti Imam Ibn Qayyim al-Jawziyyah menjadikan kisah ini sebagai pelajaran bahwa banyak hal dalam hidup kita tidak bisa dipahami kecuali setelah kita melewati waktu, ujian, dan renungan. Apa yang terlihat seperti kejahatan, kadang menjadi sebab datangnya kebajikan yang lebih besar.


Setan dalam Pandangan Islam: Mengapa Diciptakan?

Setan adalah simbol dan realitas dari godaan. Dalam Islam, setan bukan sekadar makhluk jahat, tapi juga bagian dari ujian kehidupan. Dalam Surah Al-A'raf ayat 11–18, dijelaskan bahwa Iblis menolak sujud kepada Adam karena kesombongannya. Ia tidak diciptakan untuk menjadi jahat, tapi ia memilih jalan itu.

Imam al-Qurtubi dalam Tafsir al-Qurtubi menjelaskan bahwa penciptaan setan bukanlah bentuk “celah” dalam ciptaan Tuhan. Ia adalah sarana ujian. Tanpa setan, manusia tidak akan pernah diuji keteguhan hatinya, keikhlasannya, atau ketaatannya.

Dalam ajaran Imam Hasan al-Bashri, setan bukan untuk ditakuti secara mistik, tapi untuk dikenali sebagai suara dalam diri yang mengajak kepada keburukan. Ia menjadi pengingat bahwa perjuangan batin adalah bagian dari jihad terbesar.


Ujian Sebagai Bukti Cinta, Bukan Pengabaian

Terkadang kita melihat penderitaan sebagai tanda bahwa Allah meninggalkan kita. Padahal dalam banyak kasus, justru penderitaan adalah bentuk perhatian-Nya. Allah sedang mengajak kita bertumbuh. Imam Ibn Ata’illah as-Sakandari dalam Al-Hikam menulis:

"Kadang Allah membukakan pintu ketaatan bagimu tapi tidak membukakan pintu penerimaan. Dan kadang Ia membukakan pintu musibah tapi justru mengantarkanmu kepada-Nya."

Dalam pengalaman para sufi, musibah adalah jalan penyucian. Bukan karena Allah ingin menyakiti, tapi karena Dia ingin kita kembali. Seperti seorang dokter yang kadang harus menyayat luka untuk mengobati penyakit, penderitaan adalah cara Allah menyadarkan hati yang keras, membangunkan jiwa yang tidur, dan melembutkan kesombongan yang tertanam dalam dada manusia.


Apakah Allah Tidak Peduli?

Ini mungkin pertanyaan paling menyakitkan: jika Allah Maha Pengasih, mengapa Dia tampak diam?

Tapi benarkah Allah diam?

Dalam Surah Al-Baqarah ayat 286, Allah berfirman:

"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya..."

Ayat ini adalah bentuk kelembutan ilahi yang luar biasa. Dalam hadis Qudsi pun Allah berfirman: “Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku kepada-Ku.”

Allah mungkin tidak selalu mengangkat kejahatan atau penderitaan secara instan, tapi Dia memberi kekuatan untuk menghadapinya. Dia menciptakan hati yang bisa bersabar, air mata yang bisa menjadi doa, dan manusia lain yang bisa menjadi pertolongan.

Setiap kali kamu melihat orang yang tetap tegar dalam musibah, orang yang tetap tersenyum walau menderita, itulah bukti bahwa Allah bekerja. Bukan dengan cara ajaib yang menghapus semua kesedihan, tapi dengan kehadiran-Nya di tengah penderitaan.


Penutup: Dunia Ini Bukan Akhir dari Segalanya

Imam al-Ghazali menyebut dunia sebagai dâr al-imtihân—tempat ujian, bukan tempat pembalasan. Maka wajar jika tidak semua kejahatan dibalas di sini. Wajar jika orang jahat bisa hidup mewah dan orang baik diuji terus-menerus. Karena dunia bukan tempat akhir. Dunia adalah ladang, dan akhirat adalah panennya.

Kejahatan ada bukan karena Allah lemah atau tidak peduli, tapi karena dunia ini belum selesai. Akan ada Hari di mana semua rahasia dibuka, semua keadilan ditegakkan, dan semua air mata dibayar tuntas.

Dan selama dunia ini masih berjalan, tugas kita adalah tetap memilih kebaikan. Bukan karena semua akan selalu indah, tapi karena kita percaya pada kebijaksanaan yang lebih besar dari kita. Kita percaya pada Tuhan yang tidak tidur, tidak lalai, dan selalu hadir—meski kadang dengan cara yang tidak kita mengerti.

Jadi, jika kamu pernah bertanya, “Mengapa ada kejahatan di dunia ini?”—mungkin jawabannya bukan untuk dipahami sepenuhnya, tapi untuk direnungi. Dan dalam renungan itu, kamu akan menemukan bahwa Tuhan tidak pernah benar-benar jauh. Dia hanya menunggu kamu datang mendekat.