Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Bagaimana Tafsir Ibnu Al-Qayyim terkait dengan Surat Al-Baqarah ?

AY Ayu Paramitha 9 years ago

Surah Al-Baqarah adalah surah ke-2 dalam Al-Qur'an. Surah ini terdiri dari 286 ayat, 6.221 kata, dan 25.500 huruf dan tergolong surah Madaniyah. Surah ini merupakan surah dengan jumlah ayat terbanyak dalam Al-Qur'an. Surah ini dinamai al-Baqarah yang artinya Sapi Betina sebab di dalam surah ini terdapat kisah penyembelihan sapi betina yang diperintahkan Allah kepada Bani Israil (ayat 67-74). Surah ini juga dinamai Fustatul Qur'an (Puncak Al-Qur'an) karena memuat beberapa hukum yang tidak disebutkan dalam surah yang lain.

Bagaimana Tafsir Ibnu Al-Qayyim terkait dengan Surat Al-Baqarah ?

101

Hati Orang Kafir Yang Dikunci Mati dan Hati Orang Munafik Yang Ada Penyakitnya

Firman Allah,

“Allah telah mengunci mati hati mereka. ”(Al-Baqarah: 7).

Al-Khatm asal maknanya menurut Al-Azhary adalah tutupan atau segel. Jika dikatakan, "Khatama al-badzrfil-ardhi” (dia menutupi biji di atas permukaan tanah). Menurut Abu Ishaq, makna khatama dan thaba’a adalah sama menurut bahasa, yaitu tutupan di atas sesuatu dan peneguhannya, sehingga tidak dimasuki sesuatu yang lain, sebagaimana firman-Nya,

“Ataukah hati mereka terkunci?” (Muhammad: 24).

“Mereka itulah orang-orang yang hati, pendengaran dan penglihatannya telah dikunci mati oleh Allah. "(An-Nahl: 108).

Kami katakan, al-khatm dan ath-thab' saling bersekutu tentang apa yang disebutkan di sini dan berbeda dalam makna lain Ath-Thab’ adalah penguncian atau penutupan terhadap tabiat. Ini merupakan pengaruh yang tidak bisa dihindarkan.

Adapun tentang penyakit, Allah telah befirman,

“Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya. (Al-Baqarah: 10).

Firman-Nya yang lain,

“Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya. ”(A1-Ahzab: 32).

“Supaya orang-orang yang diber iAl-Kitab menjadi yakin dan supayaorang yang beriman bertambah imannya dan supaya orang-orang yang diberi Al-Kitab dan orang-orang Mukmin itu tidak ragu-ragu dan supaya orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan orang-orang kafir (mengatakan), Apakah yang dikehendaki Allah dengan bilangan ini sebagai suatu perumpamaan?’” (Al-Muddatstsir:31).

Sakitnya hati ialah keluarnya hati dari kesehatan dan kenormalannya. Sehatnya hati ialah dengan mengetahui Al-Haqq (Allah), mencintai dan mementingkan-Nya dari yang lain. Adapun sakitnya bisa karena keraguraguan atau karena mementingkan selain Allah.

Penyakitnya orang-orang munafik ialah penyakit keragu-raguan dan kebimbangan. Penyakitnya orang-orang yang durhaka ialah penyakit kesesatan dan syahwat. Allah menamakan kedua-duanya sebagai penyakit.

Menurut Ibnu Al-Anbary, asal makna al-maradh menurut bahasa ialah al-fasad (kerusakan). Apabila dikatakan,“ Maridha Fulan ”, artinya badannya rusak dan keadaannya berubah. Apabila dikatakan, “Maridhat bil-maradhi", artinya berubah dan rusak. Laila Al-Ukhailiyah berkata di dalam sya’irnya,

Jika para hujjaj singgah di daerah yang berpenyakit
dicarilah kesembuhan dan obat yang mujarab

Penyair lain berkata,

Tidakkah engkau tahu bahwa bumi menjadi sakit
karena kematian Al-Husain dan bumipun bergetar

Penyakit itu berkisar pada empat perkara: Kerusakan, kelemahan, kekurangan dan kekelaman. Jika seseorang sakit pada bagian tertentu, berarti dia lemah pada bagian tersebut. Mata yang sakit untuk melihat, berarti mata itu lemah.

Angin yang sakit, artinya jika angin itu berhembus pelan, seperti yang dikatakan dalam sebuah kalimat, “Angin mengaso di empat penjuru mata angin karena sakit. ” Artinya sakit di sini ialah melemah dan lembut, sehingga pengaruhnya tidak terasakan.

Menurut Ibnul-A’raby, asal makna al-maradh adalah kekurangan. Contohnya, jika dikatakan, “Badan mariidh ”, artinya badan yang kurang kekuatannya. Hati yang sakit berarti yang kurang agamanya. Menurut Al-Azhary dari Al-Mundziry, dari sebagian rekannya, sakit adalah mengelamkan tabiat dan mengeruhkannya setelah keadaannya bening. Jadi penyakit adalah kekelaman.

Lalu dia berpantun,

Suatu malam kala kelam datang dari segala penjuru
yang tidak disinari cahaya matahari dan rembulan

Inilah asal maknanya menurut bahasa. Sedangkan keraguan, kebodohan, kebingungan, kesesatan dan hasrat melakukan kekejian di dalam hati, kembali kepada empat perkara ini. Seorang hamba melaku-kan sebabsebab penyakit hingga dia benar-benar terkena penyakit. Lalu Allah menyiksanya dengan menambahkan penyakit kepadanya, karena dia mementingkan sebab-sebabnya dan juga melaksanakannya

Perumpamaan Orang-orang Munafik Seperti Orang Yang Menyalakan Api dan Ditimpa Hujan

Firman Allah

“Perumpamaan mereka adalah seperti orangyangmenyalakan api, maka setelah api itu menerangi sekelilingnya, Allah hilangkan cahaya (yang menyinari) mereka, dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat. Mereka tuli, bisu dan buta, maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar). ” (Al-Baqarah: 17-18).

Allah mengumpamakan musuh-musuh-Nya, yaitu orang-orang munafik seperti sekumpulan orang yang menyalakan api sebagai penerang bagi mereka dan agar mereka bisa memanfaatkannya. Ketika api itu menyala di sekeliling mereka dan mereka dapat melihat dengan sinarnya apa yang bermanfaat dan apa yang bermudharat bagi mereka, maka mereka pun dapat melihat jalan yang sebelumnya mereka dalam keadaan bingung dan linglung. Mereka seperti sekumpulan musafir yang tersesat jalan, lalu mereka menyalakan api yang menerangi jalan yang mesti dilalui.

Ketika cahaya menyinari sekeliling dan mereka dapat melihat dan memandang, tiba-tiba cahaya api itu padam, sehingga mereka berada dalam kegelapan dan tidak dapat melihat. Tiga pintu petunjuk telah ditutup bagi mereka.

Sesungguhnya petunjuk itu masuk ke dalam diri hamba melalui tiga pintu, yaitu dari apa yang didengar dengan telinganya, dari apa yang dilihat dengan matanya, dan dari apa yang dipikirkan dengan hatinya.

Pintu-pintu petunjuk ini telah ditutup bagi mereka, sehingga hati mereka tidak bisa mendengar apa pun, tidak dapat melihatnya dan juga tidak dapat memikirkan apa yang bermanfaat baginya. Ada yang berpendapat, karena mereka tidak bisa mengambil manfaat dengan pendengaran, penglihatan dan hati mereka, maka mereka dilorotkan ke kedudukan orang yang tidak memiliki pendengaran, penglihatan dan akal. Dua pendapat ini saling terkait.

Allah befirman dalam mensifati mereka, “Maka tidaklah mereka akan kembali". Sebab tadinya mereka sudah dapat melihat dalam cahaya api dan mereka sudah melihat petunjuk. Ketika cahaya itu padam, maka mereka tidak bisa kembali seperti keadaan sebelumnya ketika mereka dapat melihat dan memandang.

Firman Allah, “ Dzahaba Allahu binuurihim”, dan tidak dikatakan, “ 'Dzahaba nuruhum”, di sini terkandung rahasia yang mengagumkan, yaitu terputusnya kebersamaan yang khusus, kebersamaan orang-orang Mukmin dengan Allah, karena Allah beserta orang-orang Mukmin.

“Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. ”(Al-Baqarah: 153).

“Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan. ”(An-Nahl: 128).

Perbuatan Allah yang menghilangkan cahaya itu berarti merupakan pemutusan kebersamaan yang dikhususkan-Nya bagi para wali-Nya. Allah memutuskan kebersamaan antara Diri-Nya dengan orang-orang munafik, sehingga tidak ada yang menyisa bagi mereka setelah dihilangkannya cahaya dan kebersamaan mereka. Maka mereka tidak mendapat bagian dari firman-Nya,

“Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Adlah beserta kita. ”(At-Taubah: 40).

Tidak pula dari firman-Nya,

“Sekali-kali tidak akan tersusul, sesungguhnya Rabbku besertaku, kelak Dia akan memberipetunjuk kepadaku. ”(Asy-Syu’ara’: 62).

Perhatikan firman Allah, “Api itu menerangi sekelilingnya”, bagaimana Allah menjadikan cahaya api itu keluar secara terpencar? Sekiranya cahaya api hanya mengenai diri dan samar-samar, maka dia tidak bisa beranjak. Tapi yang terjadi, cahayanya berpencar mengelilingi, tidak samar-samar dan tidak kabur. Cahaya itu muncul dan kegelapan yang tetap seperti sedia kala. Lalu cahaya kembali ke asalnya dan kegelapan juga kembali ke asalnya. Masing-masing kembali ke asalnya yang sesuai dengannya.

Hujjah dari Allah telah berlaku. Ini merupakan hikmah yang agung, yang tentu diketahui orang-orang yang berpikir dari hamba-hamba-Nya. Perhatikan firman Allah, “Allah hilangkan cahaya (yang menyinari) mereka”, dan tidak dikatakan, “Api mereka”, untuk menyesuaikan dengan permulaan ayat. Sebab api mengandung penerangan dan juga bisa membakar. Allah menghilangkan penerangan yang terkandung di dalamnya, yaitu cahaya dan membiarkan sifat api yang bisa membakar.

Perhatikan pula firman Allah, “Cahaya”, dan tidak dikatakan, “Sinar”, yang menyertai firman-Nya, “Menerangi (menyinari) sekelilingnya”. Sebab sinar merupakan tambahan dalam cahaya. Sekiranya Allah befirman, “Allah hilangkan sinar mereka”, tentu akan menimbulkan anggapan bahwa yang dihilangkan-Nya hanyalah tambahannya saja, tanpa yang asalnya. Karena cahaya merupakan asal sinar, maka itu berarti penghilangan sesuatu dan tambahannya.

Hal ini juga lebih mantap dalam penafiannya dari mereka dan bahwa mereka adalah orang-orang yang ada dalam kegelapan yang tidak memiliki cahaya. Di samping itu, Allah juga menamakan Kitab-Nya dengan An-Nur, cahaya, begitu pula Rasul-Nya, asma’-Nya dan shalat, yang semua dinamakan cahaya. Maka perbuatan Allah yang menghilangkan cahaya berarti penghilangan semua ini.

Perhatikan kesesuaian perumpamaan ini dengan ayat sebelumnya dari firman Allah,

“Mereka itulah orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk, maka tidaklah beruntung perniagaan mereka dan tidaklah mereka mendapatpetunjuk. ”(Al-Baqarah: 16).

Lihatlah kesesuaian antara perniagaan yang merugi ini, yang mendatangkan kesesatan dan keridhaan kepadanya, dengan dikeluarkannya petunjuk untuk kebalikannya dan kedatangan kegelapan yang juga merupakan kesesatan dan keridhaan kepadanya, sebagai ganti dari cahaya yang merupakan petunjuk dan cahaya. Mereka mengeluarkan petunjuk dan cahaya, lalu menggantinya dengan kegelapan dan kesesatan. Sungguh itu merupakan perniagaan yang amat merugi dan tepukan tangan yang mengecoh.

Perhatikan firman Allah, “Allah hilangkan cahaya (yang menyinari) mereka”, di mana cahaya di sini merupakan kata tunggal, lalu befirman, “Dan membiarkan mereka dalam kegelapan” dimana kegelapan di sini merupakan kata jama’.

Sesungguhnya kebenaran itu adalah satu, yaitu ash-shiraath al-mustaqiim, yang tidak ada jalan lain yang dapat menghantarkan kepada-Nya. Jalan ini ialah menyembah Allah semata tanpa menyekutukan-Nya, menurut cara yang disyariatkan lewat lisan Rasul-Nya, bukan menurut hawa nafsu, bid’ah dan bukan melewati jalan orang-orang yang keluar dari apa yang diturunkan Allah kepada Rasul-Nya, berupa petunjuk dan agama yang haq, yang berbeda dengan jalan-jalan kebatilan yang banyak dan bercabang-cabang.

Karena itulah Allah menunggalkan kebenaran dan menjama’kan kebatilan, seperti firman-Nya,

“Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan, orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah thaghut, yang mengeluarkan mereka daripada cahaya kepada kegelapan (kekafiran). ”(A1-Baqarah: 257).

“Dan bahwa (yang kami perintahkan) ini adalahj alan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu menceraiberaikan kalian dari jalan-Nya. ” (Al-An’am: 153).

Allah menjama’kan jalan kebatilan dan menunggalkan jalan kebenaran. Hal ini tidak bertentangan dengan firman-Nya,

“Dengan Kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya kejalan keselamatan. ”(A1-Maidah: 16).

Jalan di dalam ayat ini dijama’kan. Itu adalah jalan-jalan keridhaan-Nya, yang kemudian dihimpun jalan-Nya yang satu, yaitu jalan-Nya yang lurus. Sebab semua jalan keridhaan-Nya kembali ke satu jalan, yaitu jalan-Nya, yang tiada satu jalan pun kepada-Nya kecuali dari jalan ini.

Disebutkan dalam riwayat shahih dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, bahwa beliau pernah membuat satu garis lurus seraya bersabda,

“Ini adalah jalan Allah” .

Kemudian beliau membuat beberapa garis lain di kanan kiri beliau, seraya bersabda,

“Ini adalah jalan-jalan. Di atas setiap jalan ada syetan yang menyeru kepadanya.”

Kemudian beliau membaca ayat,

“Dan bahwa (yang kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu menceraiberaikan kalian dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepada kalian agar kalian bertakwa.” (Al-An’am: 153).

Ada yang berpendapat, yang demikian ini merupakan perumpamaan bagi orang-orang munafik yang menyalakan api cobaan di tengah orang-orang Muslim. Hal ini mirip dengan firman Allah,

“Setiap mereka menyalakan api peperangan, Allah memadamkannya.” (A1-Maidah: 64).

Sehingga firman Allah, “Allah hilangkan cahaya (yang menyinari) mereka”, senada dengan firman-Nya, “Allah memadamkannya”. Kekecewaan dan kegagalan keinginan mereka ialah mereka dibiarkan dalam kegelapan dan kebingungan, mereka tidak mendapat petunjuk untuk melepaskan diri dari keadaan mereka, mereka tidak dapat melihat jalan, bahkan mereka bisu, tuli dan buta.

Pandangan ini, kalau memang itu benar, sebagai maksud dari ayat ini, perlu dipertimbangkan. Sebab ditilik dari kontekstual kalimat, maksudnya adalah lain, yang tidak sejalan dengan firman Allah, “Maka setelah api itu mengelilingi sekelilingnya". Nyala api peperangan sama sekali tidak bisa menyinari sekelilingnya. Juga tidak pas dengan firman-Nya, “Allah hilangkan cahaya (yang menyinari) mereka". Nyala api peperangan tidak ada cahayanya. Juga tidak pas dengan firman Allah, “Dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat”.

Hal ini menimbulkan satu pemahaman, bahwa mereka beralih dari cahaya ma’rifat dan bashirah ke kegelapan keragu-raguan dan kufur. Menurut Al-Hasan, yang dimaksudkan adalah orang munafik, yang melihat kemudian buta, yang mengetahui kemudian mengingkari. Karena itulah dikatakan, “Maka tidaklah mereka akan kembali" Artinya, mereka tidak kembali ke cahaya yang sebelumnya mereka tinggalkan. Allah befirman tentang orang-orang kafir,

“Mereka tuli, bisu dan buta, maka (oleh sebab itu) mereka tidak mengerti.” (Al-Baqarah: 171).

Dicabutnya akal dari orang-orang kafir, karena mereka adalah orang-orang yang tidak memiliki bashirah dan iman. Sementara pencabutan dari orang-orang munafik ialah tidak bisa kembali, karena mereka beriman, kemudian kufur, sehingga mereka tidak bisa kembali ke iman lagi.

Kemudian Allah membuat perumpamaan lain yang berunsur air bagi orang-orang munafik. Firman-Nya,

“Atau seperti (orang-orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit disertai gelap gulita, guruh dan kilat; mereka menyumbat telinganya dengan anak jarinya, karena (mendengar suara) petir, sebab takut akan mati. Dan, Allah meliputi orang-orang kafir.” (Al-Baqarah:19).

Allah menyerupakan keadaan orang-orang munafik dalam mensikapi cahaya dan kehidupan yang diturunkan Allah kepada Rasul-Nya, laiknya orang yang menyalakan api, lalu api itu padam, sehingga dia justru lebih membutuhkan api itu dari sebelumnya. Cahayanya padam dan dia berada dalam kegelapan, kebingungan dan linglung, tidak bisa melihat jalan dan tidak mengetahui rute. Allah juga menyerupakan mereka dengan keadaan orang yang ditimpa hujan, yang turun dengan deras.

Allah mengumpamakan petunjuk yang diturunkan kepada hamba-hamba-Nya dengan hujan. Sebab hati bisa hidup dengan petunjuk itu seperti tanah yang hidup dengan air hujan. Allah mengumpamakan sikap orang-orang munafik terhadap petunjuk dengan keadaan orang yang tidak mendapatkan dari hujan itu selain dari kegelapan, guruh dan kilat, sehingga tidak ada hasil apa pun yang diperoleh di balik semua itu dari bagian hujan, seperti kehidupan bagi tanah, manusia, pepohonan dan binatang.

Kegelapan yang menyertai hujan, guruh dan kilat dimaksudkan untuk sesuatu yang lain, yaitu sebagai sarana untuk menyempurnakan manfaat hujan itu. Orang bodoh tentu tidak bisa menangkap apa yang terkandung dalam kegelapan, guruh dan kilat serta keadaan yang menyertainya, seperti hawa dingin, penundaan perjalanan bagi musafir dan penghentian pekerjaan bagi pekerja. Dia tidak akan memiliki pengetahuan yang memungkinkannya menangkap makna dari masalah hujan ini, berupa kehidupan dan manfaat secara umum. Memang begitulah keadaan orang yang terbatas pandangannya dan lemah akalnya.

Pandangannya hanya tertuju ke masalah yang tidak disenangi dan yang kasat mata, sehingga tidak melihat apa yang disenangi di balik semua itu. Inilah keadaan mayoritas manusia, kecuali orang yang memiliki bashirah. Jika orang yang lemah bashirah-nya melihat keletihan, kepayahan, kesulitan, kematian dan luka dalam jihad, melihat celaan orang yang suka mencela dan penentangan orang yang takut, tentu dia tak mau bergabung dalam jihad, karena dia tidak menyaksikan akibat yang terpuji di balik jihad dan tujuan-tujuan yang diinginkan orang-orang yang suka berkompetisi.

Mereka saling berlomba dan berkompetisi untuk mendapatkan tujuan-tujuan itu. Begitu pula orang yang hendak pergi menunaikan haji ke Baitullah Al-Haram, yang tidak melihat dari perjalanannya itu selain dari kesulitan dalam perjalanan, harus berpisah dengan keluarga dan meninggalkan tempat kelahiran, harus menghadapi berbagai kesusahan, meninggalkan hal-hal yang disukai. Pandangannya tidak menangkap kesudahan dari perjalanan itu dan akibatnya yang baik. Akhirnya dia batal pergi dan tidak lagi berhasrat menunaikan haji.

Inilah keadaan orang-orang yang lemah bashirah dan imannya, yang hanya melihat ancaman dan peringatan di dalam Al-Qur’an, larangan dan hardikan, perintah-perintah yang berat bagi jiwa, yang mencegahnya dari hal-hal yang disukainya, yang menyapihnya dari air susu syahwatnya, seperti anak kecil yang berat untuk disapih.

Sementara akal semua manusia seperti anak kecil, kecuali orang yang sudah beranjak dewasa akalnya dan berpikir, yang mengetahui kebenaran dari segi ilmu, amal dan ma’rifat, yang bisa melihat apa yang ada di balik hujan, berupa guruh dan kilat serta petir, yang mengetahui bahwa semua itu merupakan kehidupan bagi alam.

Ada seseorang yang berkata di hadapan Az-Zamakhsyary, bahwa dia menyerupakan Islam dengan hujan. Sebab hati manusia dapat hidup dengannya seperti tanah yang bisa hidup dengan air hujan. Dia juga menyerupakan hal-hal yang berkait dengannya, seperti penyerupaan kufur dengan kegelapan, peringatan dan ancaman dengan guruh dan kilat, keadaan yang menimpa orang-orang kafir, menyerupakan ketakutan akan ditimpa bencana dan cobaan dari pihak orang-orang Muslim dengan suara petir. Artinya seperti orang yang ditimpa hujan lebat.

Dengan kata lain seperti sekumpulan orang yang ditimpa langit berdasarkan sifat ini, sehingga mereka menerima akibat seperti yang mereka terima. Maka Az-Zamakhsyary berkata menanggapi perkataan orang itu,

“Yang benar menurut para pakar ilmu bayan dan tak lebih dari makna ini, bahwa dua perumpamaan ini ditilik dari tamsil-tamsil yang saling terangkum tanpa pemisahan, antara yang satu dengan yang lainnya tidak saling menanggung menurut kadar keserupaan di dalam tamsil itu."

Penjelasan dari pendapat yang cukup berani ini ialah, bahwa bangsa Arab biasa memahami berbagai hal secara sendiri-sendiri, sebagian terpisah dari sebagian yang lain, tidak memahami yang ini menurut ikatan yang itu. Maka penyerupaannya dengan hal lain yang sebanding seperti yang disebutkan di dalam Al-Qur’an, berupa penyerupaan keadaan dari himpunan beberapa hal, bisa menciptakan kohesi dan kombinasi, sehingga antara satu hal dengan lainnya yang semisal menjadi seperti satu, seperti firman Allah,

“Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat, kemudian mereka tiada memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. ”(Al-Jumu’ah: 5).

Maksudnya ialah menyerupakan keadaan orang-orang Yahudi yang tidak mengetahui kandungan Taurat di tangan mereka dan ayat-ayatnya yang nyata, dengan keadaan keledai yang bodoh tentang beban yang dibawanya, berupa kitab-kitab yang tebal penuh hikmah.

Dua keadaan ini sama bagi keledai, apakah dia memikul kitab-kitab hikmah ataukah memikul beban selain kitab-kitab hikmah. Sementara dia tidak merasakan hal itu selain dari payah dan letih yang bertambah-tambah. Begitu pula firman Allah,

“Dan, berilah perumpamaan kepada mereka (manusia), kehidupan dunia adalah sebagai air hujan yang Kami turunkan dari langit, maka menjadi subur karenanya tumbuh-tumbuhan di muka bumi, kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin.”(Al-Kahfi: 45).

Dengan kata lain, minimnya kekekalan gemerlap dunia seperti minimnya kekekalan tumbuh-tumbuhan ini. Jika yang dimaksudkan adalah penyerupaan individu dengan individu tanpa memaksudkannya sebagai sebagian dengan sebagian yang lain dan menjadikannya sesuatu yang satu, maka hal ini tidak bisa diterima, karena di sini ada penggambaran keadaan orang-orang munafik dalam kesesatannya, keadaan mereka yang bingung dan kaget, lalu kebingungan dan kekalutan mereka diserupakan dengan orang yang menyalakan api di tengah kegelapan malam lalu cahayanya padam.

Begitu pula keadaan orang yang berada di bawah langit pada malam yang gelap gulita, yang disertai guruh dan kilat, yang ketakutan karena petir yang menyambar. Az-Zamakhsyary berkata, “Jika kau tanyakan, mana yang lebih mantap dari dua perumpamaan ini?" Saya jawab, yang kedua. Karena keadaan ini lebih pas untuk menggambarkan kebingungan dan kekalutan. Begitu pula orang-orang yang terlibat di dalamnya juga mengalami peningkatan dari keadaan yang mudah ke keadaan yang sulit.”

Dua perumpamaan ini mengandung banyak hikmah yang agung, di antaranya:

Pertama: Orang yang mencari penerangan dengan api berarti mencari penerangan dari cahaya yang datang dari arah selain dirinya, bukan dari dirinya sendiri.

Jika api itu lenyap, maka dia berada dalam kegelapan. Ketika orang munafik membuat pernyataan dengan lisannya tanpa disertai keyakinan dan cinta dengan hatinya serta pembenaran yang kuat, maka cahaya yang dimilikinya seperti barang pinjaman.

Kedua*: Sinar api memerlukan materi lain untuk menunjang kelangsungannya.

Materi sinar ini tak ubahnya makanan bagi hewan. Begitu pula cahaya iman yang memerlukan materi lain seperti ilmu yang bermanfaat dan amal yang shalih, yang harus senantiasa dilaksanakan dan dijaga kelangsungannya. Jika materi iman tidak ada, maka iman itu akan padam sebagaimana api yang bisa padam karena kehilangan materinya.

Ketiga: Kegelapan itu ada dua macam: Kegelapan berkelanjutan yang sama sekali tidak ada cahayanya, dan kegelapan yang terjadi setelah ada cahaya.

Yang kedua ini terasa lebih gelap dan lebih menyiksa. Kegelapan orang munafik adalah kegelapan setelah ada sinar. Keadaannya diserupakan dengan keadaan orang yang menyalakan api, lalu dia berada dalam satu kegelapan setelah ada sinar. Sedangkan orang kafir berada dalam berbagai kegelapan dan dia sama sekali tidak bisa keluar dari sana.

Keempat: Di dalam perumpamaan ini terkandung pemberitahuan dan peringatan tentang keadaan mereka di akhirat, bahwa mereka diberi cahaya yang nyata, seperti cahaya yang diberikan kepada mereka di dunia.

Kemudian cahaya itu dipadamkan, padahal mereka sangat memerlukannya, karena tidak ada materi yang membuat cahaya itu tetap bertahan. Mereka berada dalam kegelapan di atas jembatan dan tidak bisa menyeberang. Sebab tidak mungkin seseorang dapat menyeberanginya kecuali dengan cahaya yang kuat dan yang menyertainya, hingga dia bisa melewati jembatan itu.

Cahaya itu memerlukan materi berupa ilmu yang bermanfaat dan amal yang shalih. Jika tidak, maka Allah akan menghilangkan cahaya yang justru lebih dia butuhkan dari sebelumnya. Perumpamaan keadaan mereka di dunia mirip dengan keadaan mereka di akhirat, ketika cahaya itu dibagi-bagikan. Dari sini dapat diketahui rahasia yang terkandung di dalam firman Allah, "Dzahaba Allahu binuurihim”, dan tidak dikatakan, "Adzhaba Allahu nurahum"

Jika engkau ingin mendapatkan tambahan penjelasan dan keterangan, perhatikan riwayat Muslim di dalam Shahih-nya, dari hadits Jabir bin Abdullah Radhiyallahu Anhuma, ketika dia ditanya tentang saat kembali. Maka dia menjawab, “Kita datang pada hari kiamat di atas permukaan tanah yang lebih tinggi dari manusia.”

Dia berkata, “Berbagai umat dipanggil dengan berhala-berhalanya dan apa yang dijadikan sesembahan. Yang awal lalu disusul berikutnya. Kemudian Rabb kita mendatangi kita setelah itu, seraya bertanya,

“Siapakah yang kalian tunggu?”

Mereka menjawab, “Kami menunggu Rabb kami.”

Dia befirman, “Aku adalah Rabb kalian.”

Mereka berkata, “Kami tetap menunggu Engkau. ”

Maka Allah menampakkan Diri di hadapan mereka sambil tersenyum. Maka Allah bertolak bersama mereka dan mereka pun mengikuti-Nya. Setiap orang di antara mereka, yang munafik maupun yang Mukmin diberi cahaya lalu mereka mengikutinya.

Di atas jembatan Jahannam ada kalalib (besi bengkok ujungnya) dan duri yang mengenai siapa pun yang dikehendaki Allah. Kemudian cahaya orang-orang munafik padam, sedangkan orang-orang Mukmin selamat.

Kelompok yang pertama selamat, yang wajah mereka seperti rembulan pada malam purnama. Mereka berjumlah tujuh puluh ribu orang tanpa dihisab. Kemudian menyusul berikutnya seperti sinar bintang di langit. Kemudian menyusul yang semisal dengan itu. Kemudian diperkenankan syafaat dan mereka pun diberi syafaat hingga siapa pun yang mengucapkan la ilaha illallah keluar dari neraka, meskipun di dalam hatinya hanya ada kebaikan seberat biji gandum. Mereka diletakkan di serambi surga. Para menghuni surga memercikkan air pada mereka.” Lalu dia menyebutkan kelanjutan hadits ini.

Perhatikan perkataan, “Maka Allah bertolak bersama mereka dan mereka pun mengikuti-Nya. Setiap orang di antara mereka, yang munafik maupun yang Mukmin diberi cahaya”.

Setelah itu perhatikan firman Allah , “Allah hilangkan cahaya (yang menyinari) mereka, dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat".

Perhatikan keadaan mereka ketika cahaya dipadamkan, lalu mereka berada dalam kegelapan. Sementara orang-orang Mukmin pergi dalam cahaya iman mereka, dan mereka mengikuti Allah Azza wa Jalla. Perhatikan sabda Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam,

“Agar setiap umat mengikuti apa yang disembah. Maka setiap orang musyrik mengikuti sesembahan yang disembahnya.”

Orang yang mengesakan Allah berhak mengikuti Allah Yang Mahabenar, yang menganggap semua sesembahan selain-Nya adalah batil. Perhatikan firman Allah berikut,

“Pada hari betis disingkapkan dan mereka dipanggil untuk bersujud; maka mereka tidak kuasa.”(Al-Qalam: 42).

Ayat ini disebutkan dalam hadits tentang syafaat, yang juga berkait dengan masalah ini. Apa yang disebutkan di dalam hadits, “Lalu betisnya disingkap”, menjelaskan maksud betis yang disebutkan di dalam ayat ini. Kemudian perhatikan kepergian Allah dan orang-orang Mukmin yang mengikuti-Nya setelah itu. Hal ini membukakan pintu rahasia-rahasia tauhid bagimu, pemahaman Al-Qur’an dan perlakuan Allah terhadap ahli tauhid yang menyembah-Nya semata dan tidak menyekutukan sesuatu pun dengan-Nya.

Perlakuan yang berbeda diberikan kepada orang-orang musyrik, yang setiap umat pergi bersama sesembahannya masing-masing, yang pergi ke neraka dan mereka mengikutinya. Sesembahan Yang Maha besar pergi dan diikuti para wali-Nya dan orang-orang yang menyembah-Nya. Mahasuci Allah Rabb semesta alam. Hati ahli tauhid merasa senang di dunia dan di akhirat, dan mereka berbeda dengan manusia lain dalam masalah tauhid ini, padahal mereka sangat membutuhkannya.

==bersambung==

Kelima: Perumpamaan yang pertama mengandung akibat kegelapan, yaitu berupa kesesatan dan kebingungan, kebalikan dari petunjuk. Sedangkan perumpamaan yang kedua mengandung akibat rasa takut, kebalikan dari rasa aman, tanpa rasa aman dan petunjuk. Firman Allah,

“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezhaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Al-An’am: 82).

Ibnu Abbas dan lain-lainnya dari kalangan salaf berkata, “Perumpamaan diri mereka dalam kemunafikannya seperti orang yang menyalakan api pada malam yang gelap gulita di tengah padang yang luas, lalu ada sinar dan dia pun dapat melihat sekelilingnya, sehingga dia dapat menghindari apa yang ditakutkannya. Selagi dia dalam keadaan seperti itu, tiba-tiba api itu padam, sehingga dia dalam kegelapannya, dalam keadaan takut dan bingung. Begitu pula keadaan orang-orang munafik yang menampakkan kata-kata iman, sehingga harta dan anak-anak mereka aman, mereka dapat saling menikah dengan orang-orang Mukmin dan saling mewarisi serta membagi harta rampasan. Itulah cahaya mereka. Jika mereka meninggal dunia, mereka kembali kepada kegelapan dan ketakutan.”

Menurut Mujahid, sinar yang menimpa mereka adalah kembalinya mereka kepada orang-orang Mukmin dan petunjuk, sedangkan hilangnya cahaya mereka ialah kembalinya mereka kepada orang-orang musyrik dan kesesatan. Sinar dan hilangnya cahaya itu ditafsiri sebagai sinar dan cahaya di dunia.

Ada pula yang menafsirinya di alam Barzakh dan ada yang menafsirinya pada hari kiamat. Yang benar, hal itu terjadi di tiga alam. Karena mereka mengalaminya di dunia, maka keadaan ini berlanjut di Barzakh dan di akhirat. Itu merupakan balasan yang pas buat mereka, dan Allah tidak berbuat zhalim terhadap hamba.

Yang disebut Ma'ad ialah kembalinya apa yang dilakukan hamba di dunia kepada dirinya di akhirat, yang juga disebut Yaumul-jaza '.

“Dan, barangsiapa yang buta (hatinya) di dunia ini, niscaya di akhirat (nanti) ia akan lebih buta (pula) dan telah tersesat darijalan (yang benar). ”(A1-Isra’: 72).

“Dan, Allah akan menambah petunjuk kepada mereka yang telah mendapat petunjuk. "(Maryam: 76).

Siapa yang takut untuk mendurhakai Allah di dunia ini, maka ketakutannya kepada Allah di Barzakh dan hari kiamat lebih besar lagi. Siapa yang hatinya senang di dunia, maka hatinya pun senang pada saat meninggal, pada hari kebangkitan dan pada hari kiamat. Hamba meninggal menurut keadaan hidupnya dan dia dibangkitkan menurut keadaan saat meninggal. Amalnya akan kembali kepadanya, sehingga dia mendapatkan kenikmatan lahir dan batin, yang menghasilkan kesenangan, kegembiraan, kenikmatan, kesenangan hati dan kelapangan hidup, yang merupakan kenikmatan paling nyata dan paling baik. Adakah kenikmatan yang mengalahkan ketenangan jiwa, kesenangan hati dan kegembiraannya?

Di samping ini semua, dari amal-amalnya itu muncul apa yang diinginkan jiwanya, dan dia mendapatkan apa pun yang disenangi jiwa dan digemari hati. Jenis kesenangan, kesempurnaan dan apa yang didapatkannya, tergantung pada kesempurnaan amal dan keikhlasannya, yang pencapaiannya ke tingkat kebaikan tergantung juga daripada keragaman amal. Siapa yang memiliki keragaman amal yang dicintai dan diridhai di dunia ini, maka bagian-bagian yang dinikmatinya di akhirat juga beragam, yang banyaknya tergantung pada banyaknya amal di dunia.

Kenikmatannya tergantung pada tambahan amal dan yang diikuti di dunia ini. Allah telah menjadikan pengaruh dan balasan bagi setiap amal yang dicintai-Nya dan yang dibenci-Nya. Pengaruh dan balasannya di akhirat tidak bisa diserupakan. Karena itulah kesenangan para penghuni surga beraneka macam, dan penderitaan para penghuni neraka juga beraneka
macam.

Kebaikan dan siksaan di hari akhirat bermacam-macam. Kenikmatan yang diperoleh dari setiap sesuatu yang diridhai Allah dengan nilai satu saham dan dia mengambil satu bagian darinya, tidak sama dengan kenikmatan satu saham dan bagiannya dalam satu jenis tertentu. Namun tidak ada penderitaan dalam sesuatu yang dimurkai Allah dengan satu bagian seperti penderitaan orang yang mendapatkan satu saham dari kemurkaan Allah.

Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah mengisyaratkan bahwa kesempurnaan kenikmatan yang dirasakan hamba di akhirat tergantung pada kesempurnaan amal serupa yang dilakukan di dunia. Suatu kali beliau pernah melihat tandan yang digantung di masjid untuk shadaqah. Maka beliau bersabda,

“Orang yang memiliki tandan ini makan korma yang paling jelek di hari kiamat.”

Beliau mengabarkan bahwa balasannya adalah dari jenis amalnya. Shadaqah itu akan dibalasi dengan balasan yang sejenis, yaitu korma yang jelek. Pintu ini membuka beberapa pintu yang besar untuk memahami hari pembalasan, yang keadaan manusia saat itu berbeda-beda, begitu pula apa yang terjadi di sana. Allah befirman, “Dzahaba Allahu binuurihim ”, dan tidak dikatakan, “Binaarihim ”, api mereka, sebab api memiliki sifat membakar dan menerangi. Allah menghilangkan sifat api yang bercahaya dan menyinari dan membiarkan sifat api yang membakar dan menyiksa. Begitu pula keadaan orang-orang munafik. Cahaya iman mereka lenyap karena kemunafikan dan di dalam hati mereka tersisa panasnya kekufuran, keragu-raguan dan kebimbangan, yang menggelegak di dalam hati mereka, sebagaimana lautan hati mereka, racun dan gelombangnya yang bergolak ketika di dunia. Maka Allah mengobarkan api yang menjilatjilat pula di akhirat, yang membakar hati mereka.

Inilah perumpamaan orang yang tidak mendapat cahaya iman di dunia. Bahkan cahaya iman itu keluar dan meninggalkannya, setelah ia menyinarinya. Yang demikian itu merupakan keadaan orang munafik, yang mengetahui lalu mengingkari, yang mengakui lalu membangkang, sehingga dia berada dalam berbagai kegelapan, dalam keadaan bisu, tuli dan buta, sebagaimana firman Allah tentang saudaranya dari kalangan orang-orang kafir,

“Dan, orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami adalah tuli, bisu dan berada daiam gelap gulita. "(Al-An’am: 39).

“Dan, perumpamaan (orangyangmenyeru) orang-orang kafir adalah seperti penggembala yang memanggil binatang yang tidak mendengar selain panggilan dan seruan saja. Mereka tuli, bisu dan buta, maka (oleh sebab itu) mereka tidak mengerti. ” (Al-Baqarah : 171).

Allah menyerupakan keadaan orang-orang munafik tentang keluarnya mereka dari cahaya, setelah mereka disinari cahaya itu, seperti keadaan orang yang menyalakan api. Hilangnya cahaya itu setelah ia menyinari sekelilingnya. Sebab orang-orang munafik hidup di tengahtengah kaum Muslimin, shalat bersama mereka, puasa, mendengarkan Al-Qur’an, terlibat dalam pengibaran panji-panji Islam bersama mereka.

Mereka menyaksikan cahaya dengan mata kepala sendiri. Karena itu Allah befirman tentang mereka, “Maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar). "Sebab mereka meninggalkan Islam setelah bercampur dengannya dan mencari cahaya darinya. Mereka tidak akan kembali ke Islam.

Sementara tentang orang-orang kafir, Allah befirman, “Maka (oleh sebab itu) mereka tidak mengerti. ” Sebab mereka memang tidak memikirkan Islam, tidak masuk ke dalam Islam dan tidak mencari cahaya dengannya, sehingga mereka selalu berada dalam kegelapan-kegelapan kufur, dalam keadaan bisu, tuli dan buta.

Mahasuci Allah yang telah menjadikan kalam-Nya sebagai obat penawar bagi dada, yang menyeru kepada hakikat-hakikat iman, yang mengajak kepada kehidupan yang abadi dan kenikmatan yang kekal serta ke jalan petunjuk. Penyeru iman bisa memperdengarkan telinga yang sadar. Nasihat-nasihat Al-Qur’an bisa menyembuhkan hati yang kosong. Tapi di sana ada angin syubhat dan syahwat yang menghembus hati, sehingga pelitanya menjadi padam. Di sana ada tangan-tangan kelalaian dan kebodohan yang terjulur sehingga menutup pintu petunjuknya dan mengenyahkan kuncinya. Karena itu tidak ada gunanya perkataan di dalamnya, karena hati itu mabuk oleh syahwat kesesatan dan syubhat kebatilan.

Ia telah mati di lautan kebodohan dan kelalaian, ditawan hawa nafsu dan syahwat. Lalu apalah artinya luka bagi jasad yang sudah mati? Adapun tuli dan bisu dalam firman Allah, “Tuli, bisu dan buta ”, dan firman-Nya,

“Dan, sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah), dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. ”(Al-A’raf: 179).

Begitu pula firman-Nya,

“Dan, orang-orang yang tidak beriman, pada telinga mereka ada sumbatan, sedang Al-Qur’an itu suatu kegelapan bagi mereka. Mereka itu adalah (seperti) orang-orang yang dipanggil dari tempat yang jauh. ”(Fushshilat: 44).

Ibnu Abbas berkata, “Artinya di telinga mereka ada sumbatan sehingga mereka tidak bisa mendengar Al-Qur’an. Al-Qur’an ini membuat mereka buta. Allah membutakan hati mereka sehingga mereka tidak bisa memahami. Mereka dipanggil dari tempat yang jauh, seperti binatang ternak yang tidak bisa memahami kecuali seruan dan panggilan.”

Menurut Mujahid, Al-Qur’an itu jauh dari hati mereka. Menurut AlFarra’, engkau bisa mengatakan kepada orang yang tidak paham, “Engkau dipanggil dari tempat yang jauh.” Masih menutut dia, disebutkan di dalam tafsir, seakan-akan mereka dipanggil dari langit, sehingga mereka tidak mendengarnya.

Maknanya, mereka tidak mendengar dan tidak paham, seperti or- ang yang dipanggil dari tempat yang jauh, yang tidak mendengar dan tidak paham.

Al-Bukm dalam firman Allah, Shummun bukmun ‘umyun”, bahwa al-bukm jama’ dari abkam, yaitu orang yang tidak bisa bicara alias bisu. Al-Bakam (kebisuan) ada dua macam: Kebisuan hati dan kebisuan lisan, sebagaimana pembicaraan juga ada dua macam: Pembicaraan hati dan pembicaraan lisan.

Yang paling parah di antara keduanya ialah kebisuan hati, sebagaimana ketulian dan kebutaan hati lebih parah daripada ketulian telinga dan kebutaan mata. Allah mensifati mereka bahwa mereka adalah orang-orang yang tidak memahami kebenaran dan lisan mereka tidak bisa mengucapkannya.

Ilmu dapat masuk dari tiga pintu: Pendengaran, penglihatan dan hati. Tiga pintu ini tertutup atas diri mereka. Pendengaran tertutup oleh ketulian, penglihatan tertutup oleh kebutaan dan hati tertutup oleh kebisuan. Yang serupa dengan keadaan ini ialah firman Allah,

“Mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami(ayat-ayat Allah), dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). ”(A1-A’raf: 179).

Allah telah menghimpun tiga pintu ini dalam firman-Nya,

“Dan, Kami telah memberikan kepada mereka pendengaran, penglihatan dan hati mereka itu tidak berguna sedikit jua pun bagi mereka, karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah. ”(A1-Ahqaf: 26).

Jika Allah menghendaki untuk memberikan petunjuk kepada se- orang hamba, maka Dia bukakan hati, pendengaran dan penglihatannya. Jika Allah menghendaki untuk menyesatkannya, maka Dia membuatnya bisu, tuli dan buta. Hanya dari Aliahlah datangnya taufiq.

Tentang firman Allah,

“Atau seperti (orang-orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit disertaigelapgulita, guruh dan kilat; mereka menyumbat telinganya dengan anakjarinya, karena (mendengar suara) petir, sebab takut akan mati. Dan, Allah meliputi orang-orang kafir. ” (Al-Baqarah: 19).

Makna ash-shayyib adalah hujan yang turun dengan cepat dan deras dari langit. Ini merupakan perumpamaan Al-Qur’an, yang dengan hujan ini hati menjadi hidup, seperti air hujan yang menghidupkan tanah, tanaman dan binatang. Orang-orang Mukmin mengetahui hal ini dari Al-Qur’an, dan mereka mengetahui kehidupan yang berasal dari hujan itu dan tidak mendatangkan bahaya. Tidak ada yang menghalangi mereka untuk mengetahuinya, meskipun di dalamnya ada guruh dan kilat, yaitu peringatan dan siksaan yang disampaikan Allah kepada orang yang menyalahi perintah-Nya. Allah juga mengabarkan bahwa siksaan itu bagi orang yang mendustakan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.

Di dalam perintah Allah juga terdapat hal-hal yang berat, seperti berperang melawan musuh dan sabar dalam urusan ini, atau ada pula perintah yang berat bagi jiwa karena harus menentang keinginan jiwanya. Hal ini seperti kegelapan, guruh dan kilat. Tapi siapa yang mengetahui tempat yang terkena hujan dan hasil di kemudian hari, yaitu berupa kehidupan, maka dia tidak akan takut meskipun ada dalam kegelapan yang disertai guruh dan kilat. Bahkan dia merasa senang dan tenang karena keadaan itu, karena dia mengharapkan kehidupan dan kesuburan di belakangnya.

Adapun orang munafik, maka hatinya buta dan pandangannya tak mampu menembus kegelapan, tidak dapat melihat kecuali kilat yang seakan menyambar pandangannya dan guruh serta kegelapan. Karena itu dia merasa takut dalam keadaan seperti itu, sambil menutupkan jari tangan di kedua telinganya, agar dia tidak bisa mendengar suara guruh. Dia gemetar ketika melihat kilat dan kilaunya. Dia takut kalau-kalau kilat itu menyambar pandangannya. Sebab pandangannya terlalu lemah untuk bertahan dengan kilauan kilat. Ketika mendengar suara guruh yang bergemuruh itu dia berada dalam kegelapan, lalu melihat kilat yang menyambar. Jika ada kilat yang menerangi sekitarnya, maka dia berjalan di bawah cahayanya. Jika cahayanya hilang, maka dia berdiri dalam keadaan bingung, tidak tahu ke arah mana dia harus beranjak. Karena kebodohannya, dia tidak tahu bahwa hal itu merupakan kelaziman dari hujan, yang sebenarnya hujan ini merupakan kehidupan bagi bumi dan tanaman, bahkan bagi kehidupan dirinya sendiri.

Dia tidak tahu selain dari guruh, kilat dan kegelapan. Dia tidak mempunyai perasaan apa pun di balik semua itu. Maka tidak heran jika ketakutan menghantuinya, gemetar dan kalut. Tapi bagi orang yang sudah biasa dengan hujan dan mengetahui kebaikan, kehidupan dan manfaat di balik hujan, mengetahui bahwa hujan itu tentu disertai guruh, kilat dan kegelapan karena awan, tentu dia akan biasa-biasa saja dan tidak takut serta tidak ada yang menghalanginya untuk mengambil bagian dari hujan itu. Ini merupakan perumpamaan yang pas bagi hujan yang diturunkan Jibril dari sisi Allah ke dalam hati Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, untuk menghidupi seluruh hati dan alam.

Telah ditetapkan hikmah Allah untuk menyertakan awan, guruh dan kilat dengan hujan yang menurunkan air. Ini merupakan hikmah yang tinggi dan sebab yang besar, yang telah diatur sedemikian rupa oleh Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Sementara bagian orang munafik dari hujan itu adalah guruh dan kilatnya saja. Dia tidak mengetahui apa di balik hujan itu, sehingga dia takut terhadap sesuatu yang justru didapatkan orang-orang Muslim, dia gemetar oleh sesuatu yang justru membuat orang-orang yang berilmu merasa tenang, dia ragu-ragu terhadap sesuatu yang membuat orang-orang yang memiliki ma’rifat merasa yakin.

Pandangan orang munafik dalam perumpamaan yang berunsur api seperti pandangan kelelawar di siang hari bolong. Sementara pendengarannya dalam perumpamaan yang berunsur air seperti orang yang meninggal karena mendengar suara guruh. Dikisahkan ada sebagian binatang yang mati karena mendengar suara guruh. Jika akal, pendengaran dan penglihatan ini bertemu dengan syubhat syetan, hayalan yang rusak dan anggapan-anggapan dusta, maka syubhat dan hayalan hayalan itu akan berputar-putar di dalam dirinya, berdiri dan duduk, menguasai seluruh sisinya, banyak bisikan yang menghantui pendengarannya.

Ternyata, banyak juga orang yang memenuhi seruannya, melaksanakan panggilannya, berperang di bawah benderanya dan memperbanyak kelompoknya. Karena cobaan dan bencana yang diakibatkan orang-orang munafik sudah menyebar dan banyak hati yang terasuki bisikan mereka, maka Allah menyibak tabir mereka di dalam Al-Qur’an secara nyata, menjelaskan tanda-tanda, perbuatan dan perkataan mereka. Allah seringkah menyatakan, “Di antara mereka, di antara mereka, di antara mereka”, hingga urusan mereka benar-benar tersingkap, rahasia mereka terkuak dan hakikat mereka tersebar.

Balasan bagi Orang-orang Yang Beriman

Allah befirman,

“Dan, sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang berimandan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai didalamnya. Setiap mereka diberi rezki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan, ‘Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu ’. Mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada istri-istri yang suci dan mereka kekal di dalamnya. ”(Al-Baqarah: 25).

Perhatikan kemuliaan pemberi berita gembira, kedudukan, kebenaran dan keagungannya, serta keagungan Dzat yang mengutusnya kepadamu dengan membawa berita gembira ini, yang menjaminnya bagimu, yang menjadikannya sesuatu yang amat mudah dan sederhana bagimu.

Dalam berita gembira ini Allah menghimpun antara kenikmatan badan berupa surga dan isinya yang berupa sungai dan buah-buahan, dengan kenikmatan jiwa berupa istri-istri yang suci dan kenikmatan hati serta kesenangan karena mengetahui kekekalan kehidupan ini dan yang tidak akan terputus. Al-Azwajjama’ dari zauj (pasangan, istri).

Wanita adalah zauj bagi laki-laki, dan laki-laki merupakan zauj bagi wanita. Inilah bahasa yang paling fasih, merupakan bahasa Quraisy. Al-Qur’an turun juga dengan menggunakan kata ini, seperti firman-Nya,

“Hai Adam, diamilah oleh kamu dan istrimu surga ini.” (Al-Baqarah: 35).

Di antara orang Arab ada juga yang mengatakan zaujah. Tapi bentuk kata ini jarang dipakai dan bahkan mereka hampir tidak pernah menggunakannya dalam percakapan. Tentang kata al-muthahharah, meskipun menunjukkan sifat untuk satu, tapi sebenarnya ia menunjukkan sifat untuk banyak atau untuk kelompok, seperti firman Allah, "Wa masaakin thayyibah”, tempat tinggal-tempat tinggal yang baik, atau seperti perkataan mereka, “Kekuatan-kekuatan yang nyata.”

Al-Muthahharah, yang suci ialah yang suci dari haid, air besar, air kecil, nifas, ludah dan segala kotoran yang keluar dari badan atau gangguan yang dialami wanita di dunia. Termasuk pula suci batinnya dari akhlak yang buruk dan sifat yang tercela. Lisannya juga suci dari ucapan yang tak senonoh dan jorok, tidak tertarik kepada selain suaminya, suci pakaiannya dari kotoran dan najis.

Abdullah bin Al-Mubarak berkata, “Kami diberitahu Syu’bah, dari Qatadah, dari Abu Nadhrah, dari Abu Sa’id, dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, tentang firman Allah,

“Di dalamnya ada istri-istri yang suci”, beliau bersabda, “Dari haid, air besar, dahak dan ludah.”

Menurut Abdullah bin Mas’ud, suci artinya tidak haid, tidak berhadats dan tidak pula najis. Menurut Ibnu Abbas, suci dari kotoran dan penyakit, mereka tidak buang air kecil dan air besar, tidak mengeluarkan madzi dan mani, tidak haid, tidak meludah, tidak berdahak dan tidak melahirkan.

Menurut Qatadah, suci dari dosa dan penyakit. Allah mensucikan mereka dari segala air kecil dan besar, kotoran dan dosa. Menurut Abdurrahman bin Zaid, suci artinya tidak haid. Sementara istri di dunia tidak suci. Bukankah mereka mengeluarkan darah, meninggalkan shalat dan puasa? Begitu pula penciptaan Hawa’, sehingga dia durhaka. Ketika Hawa’ durhaka, Allah befirman kepadanya,

“Sesungguhnya Aku menciptakanmu dan Aku membuatmu mengalirkan darah, sebagaimana Aku membuat pohon ini mengalirkan getah.” Firman Allah,

“Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kalian ketahui". (Al-Baqarah: 30).

Allah mengetahui apa yang bersemayam di dalam hati Iblis, berupa kufur, takabur dan kedengkian, yang tidak diketahui para malaikat. Ketika Allah memerintahkan mereka bersujud, maka tampaklah apa yang ada di dalam hati para malaikat, berupa ketaatan, cinta, rasa takut dan ketundukan. Maka mereka pun langsung melaksanakan perintah itu. Tampak pula apa yang ada di dalam hati musuh-Nya, berupa takabur, kedustaan dan kedengkian. Dia enggan dan sombong, dan dia termasuk orang-orang yang kafir.

Seperti yang sudah disinggung di atas, al-azwa jama' dari zauj. Ada pula yang menyebut zaujah. Yang pertama yang lebih pas dan ini pula yang disebutkan di dalam Al-Qur’an, seperti yang difirmankan Allah kepada Adam dan juga tentang Nabi Zakaria. Yang menguatkan kata zaujah ialah perkataan Ibnu Abbas tentang Aisyah Radhiyallahu Anha,

“Sesungguhnya dia adalah istri nabi kalian di dunia dan akhirat.”

Al-Farazdaq berkata di dalam syairnya,

Orang yang benar-benar ingin merusak istriku
seperti orang yang merangkaki jalan bukit yang berliku

Bentuk jama’nya adalah 'zaujaat; yang berarti zaujah. Sebab jama’ zauj adalah azwaj. Firman Allah,

"Mereka dan istri-istri mereka berada dalam tempat yang teduh, bertelekan di atas dipan-dipan.”(Yasin: 56).

‘Masuklah kalian ke dalam surga, kalian dan istri-istri kalian digembirakan.” (Az-Zukhruf: 70).

Di dalam Al-Qur’an disebutkan pengabaran tentang orang-orang yang beriman, dengan lafazh zauj, tunggal maupun jama’, seperti yang sudah disebutkan dan firman-Nya berikut,

“Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang Mukmin dari diri mereka sendiri dan istri-istrinya adalah ibu mereka.” (Al-Ahzab: 6).

"Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu....” (Al-Ahzab: 28).

Adapun pengabaran tentang orang-orang musyrik disebutkan dengan lafazh al-mar’ah (wanita). Firman Allah tentang Abu Lahab dan istrinya,

"Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar. ”(Al-Lahab: 4).

Firman Allah tentang Fir’aun,

"Dan, Allah membuat istri Fir’aun perumpamaan bagi orang-orang yang beriman. ”(At-Tahrim: 11).

Karena Fir’aun orang musyrik dan istrinya wanita yang beriman, maka Allah tidak menyebutkan dengan lafazh zauj, istri bagi Fir’aun. Begitu pula firman Allah tentang istri Nuh dan Luth,

“Allah membuat istri Nuh dan istri Luth perumpamaan bagi orang-orang kafir. ”(At-Tahrim: 10).

Karena istri Nuh dan Luth merupakan dua wanita musyrik, maka digunakan lafazh al-mar’ah bagi mereka. Sementara untuk istri Adam, Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, dan orang-orang Mukmin digunakan kata zauj.

Segolongan orang, di antaranya As-Suhaily dan lain-lainnya berpendapat, Allah tidak menyatakannya bagi istri-istri itu, karena istri-istri itu bukan merupakan istri bagi suami-suami mereka di akhirat. Sebab pernikahan merupakan pelaksanaan yang berdasarkan syariat dan termasuk urusan agama.

Wanita kafir harus dipisahkan dari suami Mukmin, sebagaimana istri Nuh dan Luth yang dipisahkan dari Nuh dan Luth. Kemudian As-Suhaily menyebutkan perkataan Zakaria yang melemahkan pendapat ini,

“Sedang istriku adalah seorang yang mandul. ”(Maryam: 5).

Begitu pula firman Allah tentang Ibrahim,

“Kemudian istrinya datang memekik.... ”(Adz-Dzariyat: 29).

Dia (As-Suhaily) menjawabnya sendiri, bahwa penyebutan imra’ah lebih pas untuk masalah ini, sebab permasalahannya berkaitan dengan penyebutan kehamilan dan kelahiran. Maka dengan disebutkannya lafazh imra’ah menjadi lebih pas. Sebab sifat kewanitaan merupakan kelaziman bagi kehamilan dan kelahiran, bukan karena statusnya sebagai istri.

Kami katakan, ada yang berpendapat, bahwa rahasia penyebutan orang-orang Mukmin dan istri-istri mereka dengan lafazh zauj karena lafazh ini mengindikasikan keserupaan, kebersamaan dan kesetaraan, seperti yang bisa dipahami dari ungkapan “Lebih pas” . Sebab yang disebut zaujain (sepasangan) merupakan dua hal yang serupa, sebentuk dan mirip. Maka firman Allah,

“(Kepada malaikat diperintahkan), Kumpulkanlah orang-orang yang zhalim beserta teman sejawat mereka. "(Ash-Shaffat: 22).

Menurut Umar bin Al-Khaththab, makna kata azwajd dalam ayat ini ialah yang serupa dan yang mirip dengan mereka. Makna ini pula yang dinyatakan Al-Imam Ahmad. Firman Allah lain yang senada dengan ini,

“Dan, apabila roh-roh dipertemukan (dengan tubuh). ”(At-Takwir:7).

Artinya disandingkan antara setiap bentuk dengan bentuk yang sama dalam nikmat dan adzab. Menurut Umar bin Al-Khaththab tentang ayat ini, orang yang shalih dipertemukan dengan orang yang shalih pula di surga, dan orang yang jahat dipertemukan dengan orang yang jahat pula di neraka. Ini juga merupakan pendapat Al-Hasan, Qatadah dan ulama lainnya. Ada yang berpendapat, roh orang-orang Mukmin dipertemukan dengan para bidadari yang bermata jeli, dan roh orang-orang kafir dipertemukan dengan syetan-syetan.

Pendapat ini juga dikembalikan ke pendapat yang pertama. Tentang firman Allah,

“Delapan binatangy ang berpasangan”. (Al-An’am: 142), ditafsiri dengan kelanjutannya, “Sepasang dari domba dan sepasang dari kambing... dan sepasang dari onta dan sepasang dari lembu.”(Al-An’am: 142-143).

Allah menjadikan zaujain merupakan dua individu dari satu jenis. Yang senada dengan hal ini ialah perkataan manusia, “Sepasang sandal dan sepasang merpati.” Tidak dapat diragukan bahwa
Allah memotong keserupaan dan kesamaan antara orang-orang kafir dan orang-orang Mukmin. Firman-Nya,

“Tiada sama penghuni-penghuni neraka dengan penghuni-penghuni surga. ”(Al-Hasyr: 20).

Firman Allah tentang Ahli Kitab yang Mukmin dan kafir,

“Mereka itu tidak sama; di antara Ahli Kitab itu ada golongan yang berlaku lurus, mereka membaca ayat-ayat Allah pada beberapa waktu di malam hari, sedang mereka juga bersujud (shalat). ” (Ali Imran:113).

Allah memotong kebersamaan di antara keduanya dalam hukum-hukum dunia, sehingga mereka tidak bisa saling mewarisi dan menikah, yang satu tidak bisa menolong yang satunya lagi. Karena hubungan diantara keduanya sudah putus dalam makna, maka juga harus ada pemutusan dalam sebutan.

Allah menyertakan lafazh al-mar’ah kepada keduanya yang menunjukkan kewanitaan secara murni, tanpa ada keserupaan dan kesamaan. Jika engkau memperhatikan makna ini, tentu engkau akan mendapatkan kesesuaian sekian banyak lafazh di dalam Al-Qur’an dan maknamaknanya. Karena itu lafazh al-mar’ah bisa berlaku untuk wanita yang menjadi istri orang kafir dan wanita kafir yang menjadi istri orang Mukmin, dan bukan lafazh zaujah, sebagai pengejawantahan dari makna ini.

Makna ini lebih pas daripada perkataan orang yang menyatakan, “Istri Abu Lahab disebut dengan lafazh imra ’atuhu, dan tidak disebut zaujatuhu. Sebab pernikahan orang-orang kafir yang dikukuhkan hukum yang benar, berbeda dengan pernikahan orang-orang Muslim.

Berarti pendapat ini batil untuk sebutan al-mar’ah bagi istri Nuh dan istri Luth, karena pernikahan keduanya sah. Perhatikan makna ini dalam ayat tentang waris-mewarisi dan penyebutan yang digunakan Allah dengan lafazh zaujah dan bukan 'al-mar’ah, seperti dalam firman-Nya,

“Dan, bagi kalian (suami-suami) seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh istri-istri kalian.”(An-Nisa’: 12).

Ini merupakan pemberitahuan bahwa pewarisan ini terjadi karena ada pernikahan yang mengharuskan adanya kesesuaian dan kesamaan. Sementara orang Mukmin dan orang kafir tidak memiliki kesamaan dan kesesuaian, sehingga di antara keduanya tidak boleh ada waris-mewarisi. Rahasia kosa kata Al-Qur’an dan susunan kalimatnya jauh lebih unggul dari akal orang-orang yang pandai sekalipun.

Diperuntukkan bagi Siapakah Perintah Turun dari Surga?

Firman Allah,

“Kami befirman, ‘Turunlah kalian semua dari surga itu!’” (Al-Baqarah: 38).

Az-Zamakhsyary beranggapan bahwa perintah turun dari surga ini diperuntukkan bagi Adam dan Hawa’ secara khusus. Allah mengungkap keduanya dengan bentuk jama’, karena keduanya diikuti oleh anak keturunannya. Menurut pendapatnya, dalil yang menguatkan hal ini adalah firman Allah,

“Allah befirman, 'Turunlah kamu berdua dari surga itu bersama-sama, sebagian kalian menjadi musuh bagi sebagian yang lain” (Thaha: 123).

“Maka barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Adapun orang-orangyang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itu penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. ’’ (Al-Baqarah: 38-39).

Padahal ini merupakan hukum yang berlaku secara umum untuk semua manusia. Sedangkan makna “Sebagian kalian menjadi musuh bagi sebagian yang lain”, merupakan kebiasaan manusia yang saling bermusuhan dan yang sebagian suka menyesatkan sebagian yang lain.

Pendapat yang dipilih Az-Zamakhsyary ini merupakan satu dari sekian banyak pendapat yang paling lemah. Pemusuhan yang disebutkan Allah di sini adalah antara Adam dan Iblis serta keturunan di antara keduanya, sebagaimana firman-Nya,

“Sesungguhnya syetan itu adalah musuh bagi kalian, maka anggaplah ia musuh (kalian)." (Fathir:6).

Allah menegaskan masalah permusuhan antara syetan dengan manusia ini dan mengulang-ulang penyebutannya di dalam Al-Qur’an, karena memang manusia sangat perlu mewaspadai musuh yang satu ini. Adapun tentang istri Adam, ia diciptakan bagi Adam agar merasa senang kepadanya, lalu menjadikan rasa kasih dan sayang di antara keduanya. Jadi rasa kasih dan sayang itu antara laki-laki dan wanita, sedangkan permusuhan antara syetan dan manusia. Sebelumnya sudah disebutkan Adam, istrinya dan Iblis, yang berarti berjumlah tiga orang. Lalu mengapa kata ganti hanya kembali kepada sebagian yang sudah disebutkan ini, dengan pemisahan jalan pernyataan dan tidak menyatukannya?

Padahal lafazh dan maknanya mengharuskan penyatuan. Berarti Az-Zamakhsyary belum berbuat apa-apa. Tentang firman Allah di dalam surat Thaha: 123,

“Allah befirman, ‘Turunlah kamu berdua dari surga itu bersama-sama, sebagian kalian menjadi musuh bagi sebagian yang lain ",

ini merupakan seruan yang ditujukan kepada Adam dan Hawa’ , dan Allah menjadikan sebagian mereka sebagai musuh bagi sebagian yang lain. Kata ganti dalam firman-Nya, “Turunlah kamu berdua dari surga itu”, bisa kembali kepada Adam dan istrinya, atau kepada Adam dan Iblis. Istri tidak disebutkan karena ia mengikuti suami.

Atas dasar ini, permusuhan yang disebutkan kepada dua orang yang diseru agar turun ialah Adam dan Iblis. Dengan begitu masalah ini menjadi jelas. Berdasarkan pendapat yang pertama, yaitu seruan yang kembali kepada Adam dan istrinya, karena ayat ini mengandung dua hal:

  1. Perintah Allah kepada Adam dan istrinya agar turun.
  2. Pengabaran Allah tentang permusuhan antara Adam dan istrinya dengan Iblis.

Karena itulah disebutkan kata ganti jama’ untuk pendapat yang kedua tanpa yang pertama. Iblis harus masuk dalam hukum permusuhan ini secara pasti, seperti firman-Nya,

“Sesungguhnya ini (Iblis) adalah musuh bagimu dan bagi istrimu.” (Thaha: 117).

Sementara firman Allah kepada anak keturunannya,

“Sesungguhnya syetan itu adalah musuh bagi kalian, maka anggaplah ia musuh (kalian). " (Fathir:6).

Perhatikan bagaimana beberapa masalah yang di dalamnya disebutkan dengan kata ganti jama’, yang sesuai dengan kata ganti jama’ dan bukan tatsniyah (jumlah ganda). Adapun tentang turun, terkadang disebutkan dengan lafazh jama’, terkadang disebutkan dengan lafazh tatsniyah, dan terkadang dengan lafazh tunggal, seperti firman-Nya, “Turunlah kamu dari surga itu! ”Yang ditujukan kepada Iblis semata. Jika disebutkan dengan lafazh jama’, berarti ditujukan kepada Adam, istrinya dan Iblis. Sebab kisahnya berkisar pada diri mereka.

Jika disebutkan dengan lafazh tatsniyah, berarti boleh jadi ditujukan kepada Adam dan istrinya, karena keduanyalah yang memakan dari pohon dan yang melakukan kedurhakaan, dan boleh jadi ditujukan kepada Adam dan Iblis, karena keduanya merupakan ayah dari dua jenis penghuni dunia dan asal-usul keturunan.

Keadaan dan kesudahan keduanya diceritakan, agar dapat menjadi pelajaran bagi anak keturunannya. Ada yang menjelaskan bahwa kata ganti dalam firman Allah, “Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama ”, ditujukan kepada Adam dan Iblis, bahwa ketika Allah menyebutkan kedurhakaan, maka kedurhakaan itu hanya dilakukan Adam secara sendiri tanpa keterlibatan istrinya. Firman Allah,

“Dan, durhakalah Adam kepada Rabbnya dan sesatlah ia. Kemudian Rabbnya memilihnya, maka Dia menerima taubatnya dan memberinya petunjuk. Allah befirman, ‘Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama’. "(Thaha: 121-123).

Hal ini menunjukkan bahwa yang diseru untuk turun adalah Adam dan Iblis, yang juga digambarkan sebagai pelaku kedurhakaan. Sedangkan istri hanya mengikuti. Maksudnya ialah pengabaran Allah kepada penghuni dunia tentang apa yang terjadi pada ayah mereka, yang durhaka dan menyalahi perintah.

Penyebutan dua ayah ini lebih mengena maknanya daripada penyebutkan ayah manusia saja. Allah juga mengabarkan bahwa istri makan bersama Adam. Allah juga mengabarkan bahwa Dia menurunkan Adam dan mengeluarkannya dari surga, karena perbuatannya yang makan dari pohon.

Dengan begitu dapat diketahui bahwa hukum bagi istri juga sama dan dia juga harus menanggung resiko seperti yang ditanggung Adam. Maka perhatian terhadap penyebutan keadaan dua ayah, lebih mengena daripada penyebutan satu manusia dan ibunya. Perhatikanlah baik-baik hal ini.

Secara keseluruhan dapat dikatakan bahwa firman Allah, Turunlah kalian, sebagian kalian menjadi musuh bagi sebagian yang lain”, sudah jelas bentuk jama’nya, sehingga tidak perlu ditakwili untuk dua orang seperti firman-Nya, “Turunlah Kamu berdua ".

Hati Orang-orang Yahudi Yang Tertutup

Firman Allah,

“Dan, mereka berkata, ‘Hati kami tertutup’. Tetapi sebenarnya Allah telah mengutuk mereka karena keingkaran mereka. ”(A1-Baqarah:88).

Ada perbedaan pendapat tentang firman Allah, “Hati kami tertutup ”. Ada yang berpendapat, hati kami merupakan bejana untuk hikmah dan ilmu. Lalu ada apa dengannya sehingga ia tidak bisa memahami apa yang engkau sampaikan atau tidak membutuhkanmu? Atas dasar pengertian inilah disebut ghulf, jama’ dari ghilaaf.

Yang benar adalah pendapat mayoritas mufasir, bahwa artinya hati kami tidak bisa memahaminya dan tidak bisa memahami apa yang dikatakannya. Bentuk sejenis ialah aghlaf seperti ahmar dan humur. Menurut Abu Ubaidah, segala sesuatu yang berada dalam tutupan disebut aghlaf, seperti perkataan saifun aghlaf (pedang yang disarungkan), Ajausun aghlaf (busur panah yang dibungkus) dan rajulun aghlaf (pria yang tidak dikhitan).

Menurut Ibnu Abbas dan Qatadah, artinya di atas hati kami ada tutupan, yang berarti ia berada di dalam bejana, sehingga tidak bisa mengetahui dan memahami apa yang dikatakannya. Inilah yang benar tentang makna ayat ini. Bentuk sejenis seringkali diulang di dalam Al-Qur’an, seperti firman-Nya di dalam surat Fushshilat:5, “Qulubunaa fi akinnatin” (hati kami berada dalam tutupan).

Firman-Nya yang lain,

“Yaitu orang-orang yang matanya dalam keadaan tertutup dari memperhatikan tanda-tanda kebesaran-Ku. ’(Al-Kahfi: 101).

Tentang pendapat orang yang mengatakan, “Hati kami merupakan bejana untuk hikmah dan ilmu”, di dalam lafazh ini tidak ada sesuatu yang menunjukkan kepada makna ini sama sekali, dan di dalam Al-Qur’an juga tidak ada padanan yang menjurus kepada makna ini. Lafazh seperti ini tidak bisa dinyatakan untuk memuji seseorang karena ilmu dan hikmah.

Di mana kalian bisa mendapatkan pengertian seperti ini dari perkataan seseorang, “Hatiku tertutup dan hati orang-orang Mukmin di seluruh dunia tertutup", yang berarti hati mereka merupakan bejana untuk ilmu?

Al-Ghilaaf bisa berarti bejana untuk sesuatu yang baik dan buruk. Tapi tidak mesti keberadaan hati sebagai bejana, sehingga di dalamnya ada ilmu dan hikmah. Hal ini sudah jelas.

Apabila ada yang bertanya, “Apa makna penggunaan kata bal (tetapi) untuk pernyataan ini yang kalian kukuhkan itu? Untuk pendapat yang terakhir, permasalahannya sudah jelas. Artinya, hati kalian bukan merupakan tempat untuk ilmu dan hikmah, tapi hati itu tertutup.”

Dapat dijawab sebagai berikut: Sebenarnya penggunaan kata ini sudah jelas. Mereka berhujjah bahwa Allah tidak membuka jalan bagi mereka untuk memahami dan mengetahui apa yang dibawa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, tapi menjadikan hati mereka masuk dalam tutupan sehingga tidak bisa memahaminya.

Bagaimana hal ini justru menjadi hujjah yang memberatkan mereka? Seakan-akan mereka sudah mengaku bahwa hati mereka diciptakan dalam tutupan, sehingga mereka merasa punya alasan untuk tidak beriman. Maka hal ini didustakan Allah dengan firman-Nya, “Tetapi sebenarnya Allah telah mengutuk mereka karena keingkaran mereka"

Di ayat lain disebutkan,

“Bahkan, sebenarnya Allah telah mengunci mati hati mereka karena kekafirannya. ”(An-Nisa’: 155).

Allah mengabarkan bahwa penguncian dan penyingkirannya dari taufiq serta karunia Allah terjadi karena kekufuran mereka, yang kekufuran itulah yang mereka pilih untuk dirinya sendiri dan yang lebih mereka pentingkan daripada iman. Maka Allah menyiksa mereka dengan penguncian dan laknat.

Artinya, Allah tidak menciptakan hati mereka tertutup, yang tidak bisa mengetahui dan memahami, kemudian memerintahkan mereka untuk beriman dan mereka tidak memahaminya. Tapi mereka sendiri yang melakukan amalan, sehingga hati mereka dikunci mati dan ditutup.

Makna Menginginkan Kematian

Firman Allah tentang orang-orang Yahudi,

“Maka inginilah kematianjika kalian memang benar. ”(Al-Baqarah:94).

Ada pernyataan yang sudah terkenal di kalangan manusia tentang ayat ini. Menurut mereka, bahwa ayat ini merupakan mukjizat bagi Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam untuk menohok orang-orang Yahudi, yang menyeru agar mereka menginginkan kematian. Sementara beliau mengabarkan bahwa sebenarnya mereka tidak menginginkannya sama sekali.

Ini termasuk salah satu dari tanda-tanda nubuwah beliau. Sebab tidak ada orang yang bisa mengetahui apa yang bersemayam di dalam hati kecuali ada pengabaran dari Dzat yang mengetahui hal gaib. Ada pula yang berpendapat, ketika orang-orang Yahudi membual bahwa mereka mempunyai kampung akhirat di sisi Allah, yang khusus bagi mereka sendiri, bukan untuk orang lain, bahwa mereka adalah anak-anak Allah, orang-orang dicintai-Nya dan yang dimuliakan-Nya, maka Allah mendustakan bualan mereka, seraya befirman,

“Jika memang kalian orang-orang yang benar, maka inginilah kematian, agar kalian masuk surga, tempat yang penuh kenikmatan.”

Sebab seorang kekasih tentu ingin bertemu orang yang dicintainya. Kemudian Allah mengabarkan bahwa sebenarnya mereka sama sekali tidak menginginkan kematian itu, karena dosa dan kesalahan mereka yang bertumpuk-tumpuk, sehingga menjadi penghalang antara diri mereka dengan apa yang mereka katakan. Maka firman Allah,

“Dan, sekali-kali mereka tidak akan mengingini kematian itu selama-lamanya, karena kesalahan-kesalahan yang telah diperbuat oleh tangan mereka (sendiri). ”(Al-Baqarah: 95).

Ada pula yang berpendapat, di antaranya Muhammad bin Ishaq dan lain-lainnya, bahwa ini termasuk ayat mubahalah. Saat mereka ingkar, menolak petunjuk langsung di depan mata dan menyembunyikan kebenaran, maka beliau mengajak mereka melakukan sesuatu yang dapat menuntaskan masalah antara mereka dengan beliau. Caranya, mereka berdoa agar kematian ditimpakan kepada pihak yang berdusta dan yang membual. Tamanny di sini berarti memohon dan berdoa. Fatamannau al-mauta artinya mintalah kematian dan berdoalah agar kematian itu ditimpakan kepada orang yang berdusta dan batil.

Berdasarkan pengertian ini, yang dimaksudkan bukan menginginkan kematian bagi diri kalian sendiri, seperti yang dikatakan dua golongan yang pertama. Tapi mintalah kematian dan inginilah ia bagi pihak yang batil. Hal ini lebih pas untuk menegakkan hujjah, merupakan penjelasan yang adil dan lebih bisa menghindari serangan balik dari mereka dengan berkata, “Kalian juga harus menginginkan kematian itu kalau memang kalian benar dalam dakwaan kalian, bahwa kalian adalah para penghuni surga, untuk mendapatkan pahala Allah dan kemuliaan-Nya.”

Sebab mereka adalah orang yang paling gencar untuk menentang kebenaran. Meskipun mereka memahami apa yang disebutkan itu, toh mereka tetap mengingkarinya. Di samping itu, kita juga menyaksikan banyak di antara mereka yang benar-benar menginginkan kematian karena kemiskinan atau karena musibah yang menimpa serta kondisi hidupnya yang sulit. Dalam keadaan seperti ini mereka benar-benar mengharapkan kematian.

Hal ini berbeda dengan harapan dan doa para pendusta, yang tidak akan dilakukan dan sama sekali tidak pernah terjadi pada masa kehidupan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, karena mereka tahu persis kebenaran nubuwah beliau dan kekufuran mereka kepada beliau karena kedengkian dan kesesatan. Mereka tidak mengharapkan kematian karena merekasadar bahwa mereka adalah para pendusta. Pendapat ini pula yang kami pilih. Namun Allahlah yang lebih tahu tentang apa yang disebutkan di dalam Kitab-Nya.

Serupa dalam Iman

Firman Allah,

"Maka jika mereka beriman kepada apa yang kalian telah beriman kepadanya. ...”(Al-Baqarah: 137).

Padahal iman mereka tidak bisa diserupakan. Maka bagaimana hal ini? Jawabannya bisa dari beberapa sisi:

  1. Maksudnya adalah celaan. Dengan kata lain, mereka telah mendapatkan agama lain yang serupa, dan ini adalah tidak mungkin.
  2. Kata mitsli di sini berarti hubungan.
  3. Kalian beriman kepada Al-Furqan tanpa memutar balik dan mengubah. Jika mereka beriman kepada Taurat tanpa memutar balik dan tidak mengubahnya, berarti mereka mendapat petunjuk.
  4. Maksudnya, jika mereka beriman seperti iman kalian, tentu mereka akan menjadi orang-orang Mukmin.

Ibnu Jarir meriwayatkan bahwa Ibnu Abbas berkata, “Katakanlah, ‘Kami beriman kepada Allah kalau memang mereka beriman seperti kalian telah beriman kepada-Nya’.”

Abdul-Jabbar berkata, “Tidak boleh meninggalkan bacaan yang sudah mutawatir.”

Tandingan-tandingan Selain Allah

Firman Allah,

“Dan, di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah.” (Al-Baqarah: 165).

Allah mengabarkan bahwa siapa yang mencintai sesuatu selain Allah sebagaimana cintanya kepada Allah, maka dia termasuk orang-orang yang mengambil tandingan-tandingan selain Allah.

Ini merupakan tandingan dalam cinta, bukan dalam penciptaan dan Rububiyah. Sebab tak seorang pun dari penghuni bumi yang bisa dikukuhkan sebagai tandingan dalam hal ini. Berbeda dengan tandingan dalam cinta. Mayoritas penghuni bumi telah mengambil tandingan selain Allah dalam cinta dan pengagungan.

Kemudian Allah befirman,

“Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah. ” (Al-Baqarah: 165).

Untuk mengukur ayat ini ada dua pendapat:

  1. Orang-orang yang beriman lebih cinta kepada Allah daripada cinta orang-orang yang mengambil tandingan terhadap tandingan-tandingannya, begitu pula cinta mereka kepada sesembahannya dan pengagungan mereka kepada selain Allah.
  2. Orang-orang yang beriman lebih cinta kepada Allah daripada cinta orang-orang musyrik kepada tandingan-tandingan Allah. Sebab cinta orang-orang Mukmin merupakan cinta yang tulus, sedangkan cinta orang-orang yang menyembah tandingan bisa lenyap karena lenyapnya sebagian tandingan itu. Cinta yang tulus lebih kuat daripada cinta yang bersekutu.

Dua pendapat ini merupakan dua tingkatan di atas dua pernyataan di dalam firman Allah, “Mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah’’. Dalam hal ini ada dua pendapat pula:

  1. Mereka mencintai tandingan-tandingan tersebut sebagaimana mereka mencintai Allah. Berarti Allah menetapkan cinta kepada Allah pada diri mereka, tapi itu merupakan cinta, yang karenanya mereka menyekutukan tandingan-tandingan beserta Allah.

  2. Maknanya, mereka mencintai tandingan-tandingan mereka sebagaimana orang-orang Mukmin mencintai Allah. Kemudian Allah menjelaskan bahwa cinta orang-orang Mukmin kepada Allah lebih kuat daripada cinta para penyembah tandingan kepada tandingan-tandingannya.

Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyah lebih menguatkan pendapat pertama, seraya berkata, “Mereka dicela karena mereka menyekutukan antara Allah dengan tandingan-tandingan mereka dalam cinta dan tidak memurnikannya bagi Allah, seperti cinta orang-orang Mukmin kepada- Nya.

Persamaan yang disebutkan di dalam firman-Nya ini merupakan hikayah tentang diri mereka. Ketika berada di neraka, mereka berkata kepada sesembahan dan tandingan-tandingannya, saat mereka semua dihadirkan di dalam siksa,

“Demi Allah, sungguh kita dahulu (di dunia) dalam kesesatan yang nyata, karena kita mempersamakan kalian dengan Rabb semesta alam.” (Asy-Syu’ara’: 97-98).

Sebagaimana yang sudah diketahui, mereka tidak bisa menyamakan sesembahan-sesembahan itu dengan Rabb semesta alam dalam penciptaan dan Rububiyah, tapi mereka menyamakannya dalam cinta dan pengagungan.

Keadaan hati orang Mukmin adalah pengesaan Allah dan mengingat Rasul-Nya. Dua perkara ini tertulis di dalam hatinya, yang tidak bisa dihapus dan dienyahkan. Karena senantiasa mengingat sesuatu bisa memupuk kekekalan cinta dan melupakannya merupakan sebab hilangnya cinta atau melemahkannya, maka Aliahlah yang paling berhak mendapatkan puncak cinta dan pengagungan dari hamba-hamba-Nya.

Bahkan syirik yang tidak akan diampuni Allah bagi hamba-Nya ialah syirik dalam cinta dan pengagungan kepada-Nya, di mana dia mencintai selain Allah dan mengagungkan makhluk-makhluk selain-Nya, sebagaimana dia mencintai Allah dan mengagungkan-Nya. Firman Allah,

“Dan, di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah. ”(A1-Baqarah: 165).

Allah mengabarkan bahwa orang musyrik sangat mencintai tandingan sebagaimana dia mencintai Allah. Sementara orang Mukmin lebih mencintai Allah daripada segala apa pun. Sementara para penghuni neraka berkata ketika mereka berada di neraka,

“Demi Allah, sungguh kita dahulu (di dunia) dalam kesesatan yang nyata, karena kita mempersamakan kalian dengan Rabb semesta alam. ”(Asy-Syu’ara’: 97-98).

Sebagaimana yang diketahui, mereka menyamakan Allah dengan tandingan-tandingan itu dalam cinta, penyembahan dan penuhanan. Jika tidak, maka seseorang tidak akan berkata, “Berhala atau selainnya dari berbagai tandingan sama dengan Allah Rabb semesta alam dalam sifat dan perbuatannya, dalam penciptaan langit dan bumi, juga dalam penciptaan penyembahnya.”

Jadi penyamaan ini dalam cinta dan penyembahan. Orang yang paling sesat dan yang paling buruk keadaannya di antara mereka ialah yang menyamakan segala sesuatu dengan Allah dalam wujudnya, dan menjadikan Allah sebagai wujud segala sesuatu yang wujud, baik yang sempurna maupun yang kurang.

Jika Allah telah memutuskan kesesatan dan kesengsaraan bagi orang yang menyamakan antara Dia dengan berhala-berhala dalam cinta, dengan disertai keyakinan adanya perbedaan antara Allah dengan makhluk-Nya dalam dzat, sifat dan perbuatan, maka bagaimana dengan orang yang menyamakan Allah dengan segala wujud dalam hal-hal itu?

Bahkan bagaimana dengan orang yang menjadikan Rabb-nya adalah segala wujud ini? Orang yang menyembah batu atau pohon atau hewan beranggapan bahwa dia tidak menyembah selain Allah dalam setiap apa pun yang disembah.

Perumpamaan Orang-orang Kafir

Firman Allah,

“Dan, perumpamaan (orang yang menyeru) orang-orang kafir adalah seperti penggembala yang memanggil binatang yang tidak mendengar selain panggilan dan seruan saja. Mereka tuli, bisu dan buta, maka (oleh sebab itu) mereka tidak mengerti. ”(Al-Baqarah: 171).

Perumpamaan ini meliputi naa ’iq, orang yang memanggildomba atau binatang lainnya, dan man’uuq bihi, binatang yang dipanggil. Ada yang berpendapat, an-naa ’iq ialah orang yang memanggil berhala. Sedangkan berhala adalah al-man ’uuq bihi yang dipanggil.

Keadaan orang kafir ketika memanggil seperti keadaan orang yang memanggil sesuatu yang tidak dapat mendengar. Ini pendapat satu golongan, di antaranya Abdurrahman bin Zaid dan lainnya. Pengarang Al-Kasysyaf dan segolongan orang yang sependapat dengannya menganggap musykil pendapat ini. Firman Allah, “Tidak mendengar selain panggilan dan seruan”, tidak menolong pendapat mereka. Sebab berhala tidak bisa mendengar panggilan dan seruan.

Tentang anggapan adanya kemusykilan ini dapat ditanggapi dengan tiga macam jawaban:

  1. Kata “Selain” merupakan tambahan. Maknanya, dengan sesuatu yang tidak bisa mendengar panggilan dan seruan. Al-Ashma’y mengindikasikan makna ini dalam perkataan seorang penyair, “Banyak kesalahan yang tidak mampu memisahkan kecuali tempat tinggal.” Artinya, ia tidak bisa dipisahkan dari tempat tinggalnya. Tapi ini merupakan tanggapan yang tidak pas. Sebab kata “Selain” tidak ditambahkan kepada perkataan yang sudah pasti dan tetap.
  2. Penyerupaan berlaku untuk kemutlakan panggilan dan bukan pada kekhususan yang dipanggil.
  3. Maknanya, perumpamaan orang-orang yang memanggil sesembahan mereka yang tidak bisa memahami panggilan itu seperti orang yang memanggil binatang gembalaannya, yang panggilannya itu tidak berguna sama sekali. Begitu pula orang musyrik yang tidak mendapatkan manfaat dari doa dan ibadahnya setelah dia mati, kecuali kepenatan.

Ada pula yang berpendapat, maknanya, perumpamaan orang-orang kafir seperti binatang ternak yang tidak memahami apa yang dikatakan penggembala selain dari suara. Penggembala adalah orang yang memanggil orang-orang kafir, dan orang-orang kafir adalah binatang ternak yang dipanggil.

Sibawaih berkata, “Maknanya, perumpamaanmu wahai Muhammad dan orang-orang kafir, seperti orang yang memanggil dengan orang yang dipanggil.”

Berdasarkan perkataannya ini, berarti perumpamaan orang-orang kafir dengan orang yang memanggil mereka ialah seperti domba dan penggembala yang memanggilnya. Engkau bisa menjadikan penyerupaan ini sebagai penyerupaan yang bersusun dan juga penyerupaan yang terpisah. Jika engkau menjadikannya sebagai penyerupaan yang tersusun, maka penyerupaan orang-orang kafir karena keadaan mereka yang tidak bisa memahami dan tidak bisa mengambil manfaat, seperti domba yang dipanggil oleh penggembalanya, namun ia tidak bisa memahami perkataannya sedikit pun, selain dari sekedar suara semata, yang berupa panggilan dan seruan.

Jika engkau menjadikannya sebagai penyerupaan yang terpisah, maka orang-orang kafir sama kedudukannya dengan binatang ternak. Seruan kepada mereka untuk mengikuti jalan dan petunjuk seperti binatang ternak yang diseru dan diajak kepada petunjuk. Kalau pun mereka mengetahui panggilan dan seruan, maka itu sama dengan binatang ternak yang juga mengetahui adanya suara panggilan dari penggembalanya.