Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Bagaimana Cara Setan Mengganggu Pikiran Atau Menggoda Kita ?

Anonymous 5 years ago

Setan adalah makhluk Allah SWT yang selalu mengganggu pikiran manusia agar mengikuti jalan mereka. Jalan yang dilarang oleh Allah SWT. Lalu bagaimana cara mereka bisa mengganggu pikiran kita ?

41

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, kita perlu mengenal terlebih dahulu, meski secara global dan selintas, tentang eksisten bernama setan. Terkait dengan derivasi redaksi setan, terdapat perbedaan pendapat dan paradigma di kalangan ulama. Namun yang nampak lebih cocok dari seabrek pendapat itu adalah bahwa redaksi setan diadopsi dari kata "sya-tha-na" yang bermakna terjauhkan.[1]

Sesuai dengan pandangan kebanyakan penafsir, setan artinya eksisten penggangu dan durhaka yang telah keluar dari jalan lurus. Dengan asumsi ini, nama setan adalah sebuah nama umum yang memiliki banyak obyek luaran (mishdaq). Termasuk setiap eksisten dan maujud pendurhaka dari kalangan manusia dan jin.[2] Adapun iblis, ia adalah setan yang menolak untuk sujud kepada Adam bapak manusia.

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَٰٓئِكَةِ ٱسْجُدُوا۟ لِءَادَمَ فَسَجَدُوٓا۟ إِلَّآ إِبْلِيسَ أَبَىٰ وَٱسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ ٱلْكَٰفِرِينَ

Wa iż qulnā lil-malā`ikatisjudụ li`ādama fa sajadū illā iblīs, abā wastakbara wa kāna minal-kāfirīn

Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: "Sujudlah kamu kepada Adam," maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.  (Qs. Al-Baqarah [2]:34)

Sesuai dengan penjelasan al-Qur'an, iblis bukan eksisten dan maujud seperti manusia melainkan dari jenis jin dan diciptakan dari bahan api.

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَٰٓئِكَةِ ٱسْجُدُوا۟ لِءَادَمَ فَسَجَدُوٓا۟ إِلَّآ إِبْلِيسَ كَانَ مِنَ ٱلْجِنِّ فَفَسَقَ عَنْ أَمْرِ رَبِّهِۦٓ ۗ أَفَتَتَّخِذُونَهُۥ وَذُرِّيَّتَهُۥٓ أَوْلِيَآءَ مِن دُونِى وَهُمْ لَكُمْ عَدُوٌّۢ ۚ بِئْسَ لِلظَّٰلِمِينَ بَدَلًا

Wa iż qulnā lil-malā`ikatisjudụ li`ādama fa sajadū illā iblīs, kāna minal-jinni fa fasaqa 'an amri rabbih, a fa tattakhiżụnahụ wa żurriyyatahū auliyā`a min dụnī wa hum lakum 'aduww, bi`sa liẓ-ẓālimīna badalā

Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: "Sujudlah kamu kepada Adam, maka sujudlah mereka kecuali Iblis. Dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya. Patutkah kamu mengambil dia dan turanan-turunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu? Amat buruklah iblis itu sebagai pengganti (dari Allah) bagi orang-orang yang zalim. (Qs. Al-Kahf [18]: 50)

Tipologi makhluk seperti ini adalah berada pada kondisi medium antara jasmani dan non-jasmani, antara material dan non-material dimana ia dapat menyerupai pelbagai bentuk; yaitu ia dapat muncul dengan pelbagai bentuk di dunia luaran.

Nampaknya, maksud dari pertanyaan tentang setan di atas adalah iblis. Dengan memperhatikan asumsi ini kita akan menjawab pertanyaan tentang iblis. Sebagaimana yang telah kami katakan bahwa setan merupakan eksisten imaginal (mitsali) dan kita tahu bahwa manusia merupakan maujud dwi dimensi; artinya manusia memiliki dimensi jasmani dan juga dimensi ruhani. Karena itu, apabila setan ingin mengecoh dan menipu manusia, mau-tak-mau ia harus melalui jalan khusus sehingga ia dapat menjalin hubungan dengan ruh manusia yang menjadi penyokong (qiwam) kemanusiaan manusia. Nafs manusia memiliki sisi beragam. Sisi ruhani yang disebut sebagai ruh atau nafs muthmainnah dan sisi ahriman (keburukan) yang disebut sebagai nafs ammarah atau hawa nafsu.

Untuk mengendalikan manusia, mau-tak-mau harus menembus lewat sebuah celah yang disebut sebagai nafs ammarah manusia,[3] dan memanfaatkan dengan maksimal celah ini. Dari sisi lain, ia juga merupakan maujud mitsali atau eksisten imaginal yang membuatnya tidak dapat secara langsung berhubungan dengan manusia. Hubungan rahasia antara setan dan nafs ammarah inilah yang disebut sebagai bisikan setan atau was-was yang dihembuskan setan.

Allamah Thabathabai terkait dengan masalah ini menuturkan: "Setan mengecoh manusia dengan menyampaikan was-was pada hati manusia."[4] Karena itu, setan merupakan sebagian sebab dan dengan sendirinya tidak dapat menyesatkan manusia, melainkan ia hanya mengajak manusia untuk memenuhi apa yang menjadi tuntutan hawa nafsunya. Atau dengan kata lain, bisikan setan hanyalah sebuah sebab persiapan (illah al-mu'id), bukan sebab tuntas (illah al-tammah).

Manusia juga dalam menyambutnya memiliki kebebasan. Ia dapat mendengarkan dan mengikuti bisikan itu atau mengikuti firman-firman Tuhan dan akal sehatnya. Karena itu, Allah Swt dalam melarang manusia untuk tidak mengikuti titah setan berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱدْخُلُوا۟ فِى ٱلسِّلْمِ كَآفَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا۟ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيْطَٰنِ ۚ إِنَّهُۥ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ

Yā ayyuhallażīna āmanudkhulụ fis-silmi kāffataw wa lā tattabi'ụ khuṭuwātisy-syaiṭān, innahụ lakum 'aduwwum mubīn

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.  (Qs. Al-Baqarah [2]:208)

Sekarang pertanyaannya adalah bagaimana setan menggerakkan pelbagai perasaan (yang non-rasional) dan hawa nafsu manusia dan menyudutkan manusia untuk mengerjakan pelbagai perbuatan tidak senonoh? Setan memanfaatkan pelbagai cara untuk sampai kepada tujuan ini yang akan kami sebutkan beberapa poin dari cara tersebut.

Sebagaimana yang telah kami sebutkan, setan dapat menjelma dan menyerupai sebuah sosok manusia atau hewan di dunia luaran. Cara seperti ini adalah salah satu cara setan membisikkan pesan-pesannya. Artinya pada detik-detik krusial dan bersejarah, ia muncul sebagai seorang yang secara lahir berbudi dan menyelewengkan banyak manusia dari jalan kebenaran. Banyak contoh terkait dengan masalah ini yang terekam baik dalam sejarah perjalanan manusia. Dan boleh jadi pernah terjadi pada salah seorang dari kita.[5]

Akan tetapi ia juga memanfaatkan cara lain sebagaimana termaktub dalam ayat-ayat al-Qur'an yang telah disinggung sebagian darinya.

1. Memperindah pelbagai perbuatan buruk: Artinya setan menunjukkan pelbagai perbuatan tidak senonoh menjadi indah dan elok dipandang mata. Sehingga Nampak bagi manusia bahwa perbuatan itu merupakan perbuatan senonoh dan baik. Hal ini adalah apa yang disebut dalam al-Qur'an sebagai talbis haq bil batil dan batil bil haq yang merupakan salah satu muslihat orang-orang Yahudi.

وَلَا تَلْبِسُوا۟ ٱلْحَقَّ بِٱلْبَٰطِلِ وَتَكْتُمُوا۟ ٱلْحَقَّ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ

Wa lā talbisul-ḥaqqa bil-bāṭili wa taktumul-ḥaqqa wa antum ta'lamụn

Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui. (Qs. Al-Baqarah [2]:42)

Memperindah segala amalan merupakan sebuah jalan yang mudah dilalui dan sejalan dengan pelbagai kehendak nafsu manusia. Dengan demikian, disebutkan dalam al-Qur'an:

وَجَدتُّهَا وَقَوْمَهَا يَسْجُدُونَ لِلشَّمْسِ مِن دُونِ ٱللَّهِ وَزَيَّنَ لَهُمُ ٱلشَّيْطَٰنُ أَعْمَٰلَهُمْ فَصَدَّهُمْ عَنِ ٱلسَّبِيلِ فَهُمْ لَا يَهْتَدُونَ

Wajattuhā wa qaumahā yasjudụna lisy-syamsi min dụnillāhi wa zayyana lahumusy-syaiṭānu a'mālahum fa ṣaddahum 'anis-sabīli fa hum lā yahtadụn

Aku mendapati dia dan kaumnya menyembah matahari, selain Allah; dan syaitan telah menjadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka lalu menghalangi mereka dari jalan (Allah), sehingga mereka tidak dapat petunjuk, (Qs. Al-Naml [27]:24)

2. Menebarkan Janji-janji palsu:

Setan dengan menebarkan pelbagai janji palsu, harapan-harapan tinggi dan tak-terjangkau, membuat manusia lupa terhadap pelbagai realitas kesehariannya yang ada di hadapannya. Demikian juga menyibukkan manusia dengan angan-angan yang tidak dapat dicapai. Jelas bahwa hasil dari perbuatan semacam ini adalah melupakan hari kiamat dan lalai dari mengingat Tuhan.

Atas alasan ini, Allah Swt berfirman:

يَعِدُهُمْ وَيُمَنِّيهِمْ ۖ وَمَا يَعِدُهُمُ ٱلشَّيْطَٰنُ إِلَّا غُرُورًا

Ya'iduhum wa yumannīhim, wa mā ya'iduhumusy-syaiṭānu illā gurụrā

Syaitan itu memberikan janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, padahal syaitan itu tidak menjanjikan kepada mereka selain dari tipuan belaka. (Qs. Al-Nisa [4]:120)

3. Menebarkan rasa takut dan gentar: Salah satu muslihat setan adalah menciptakan rasa takut, kecut dan gentar terhadap masa depan pada diri manusia. Kondisi takut ini menjadi sebab manusia melakukan pelbagai perbuatan buruk seperti putus asa, buruk sangka terhadap Tuhan, tiadanya tawakkal kepada Tuhan dan menghindarkan manusia untuk tidak melakukan perbuatan baik. Misalnya setan menebarkan rasa takut pada manusia dengan kefakiran dan kemiskinan di masa datang yang membuatnya menjadi bakhil dan mencegah manusia untuk berinfak. Masalah ini menjadi obyek perhatian pada ayat-ayat al-Qur'an.

Misalnya al-Qur'an menyatakan:

ٱلشَّيْطَٰنُ يَعِدُكُمُ ٱلْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُم بِٱلْفَحْشَآءِ ۖ وَٱللَّهُ يَعِدُكُم مَّغْفِرَةً مِّنْهُ وَفَضْلًا ۗ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيمٌ

Asy-syaiṭānu ya'idukumul-faqra wa ya`murukum bil-faḥsyā`, wallāhu ya'idukum magfiratam min-hu wa faḍlā, wallāhu wāsi'un 'alīm

Syaitan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjadikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengatahui.  (Qs. Al-Baqarah [2]:268)

Referensi:

[1] Lisân al-Arab, redaksi sya-tha-na .

[2] Tafsir Nemune, Nasir Makarim Syirazi, jil. 1, hal. 191.

[3] Akhlâq dar Qur’ân, Muhammad Taqi Misbah Yazdi, hal. 234

[4] Terjemahan al-Mizan, jil. 1, hal. 201.

[5] Asrâr Âli Muhammad, Sulaim bin Qais, hal. 220.