Dosa sebagaimana digambarkan oleh Rasulullah ibarat noda hitam di dalam hati. Kian banyak noda hitam dalam hati, maka hati bisa menjadi hitam legam dan kelam. Pertanyaannya, apakah pintu taubat dapat tertutup ? Apabila iya, kapan batas waktu manusia agar dapat bertaubat ?
Jika Allah tawwab (Maha Penerima tobat). Pertanyaan adalah, sampai kapan Allah menerima tobat hambanya. Jika ditelusuri secara seksama jawaban Alquran mengenai hal tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa pintu rahmat dan pintu ampunan bagi hamba-Nya tetap terbuka hingga ; Pertama, hamba tersebut melihat balasan atas dosa dan kesalahannya di dunia. Kedua, hamba melihat balasan atas dosa dan kesalahannya di akhirat.
Pintu tobat sudah tertutup, jika telah datang azab dan laknat Allah di dunia, yaitu ketika seseorang sudah menyaksikan bencana yang menimpanya (Q.S. 40:84–85 dan Q.S. 10:90-91). Surah 40 ayat 84-85, berbicara tentang peristiwa yang menimpa umat terdahulu. Mereka bertobat tatkala menyaksikan azab yang datang kepada mereka. Mereka baru sadar dan menyatakan keimanannya, saat balasan atas dosa atau kesalahannya menimpa mereka. Namun, pintu tobat bagi mereka sudah tertutup. Sedang surah 10 ayat 90 - 91, menceriterakan kisah Fir’aun yang baru sadar dan beriman, bertobat dan menyesal, ketika ia sudah tak kuasa lagi, lari dan mengelak dari siksa-Nya, di saat-saat menjelang kematiannya di dalam lautan yang ganas. Namun, ia sudah terlambat, pintu tobat telah tertutup baginya. Sejalan dengan itu, Rasulullah bersabda
“sesungguhnya Allah menerima tobat hamba-Nya sebelum rohnya tiba ditenggorokannya”.
Dalam fakta, sering dijumpai orang baru sadar dan bertobat, ketika musibah atau bencana telah datang kepadanya, di saat ia tidak berdaya lagi, dan pada waktu yang sudah terlambat. Akan tetapi, terkadang pula didapati, justru sudah datang bencana, namun manusia tetap belum juga sadar, belum kembali dan taat kepada Allah, bahkan tampak semakin jauh dari-Nya, seperti keadaan jahiliyah moderen. Jahiliyah moderen sering beranggapan penyebab bencana adalah karena hukum alam. Semua kejadian di dunia hanya dihubungkan dengan sebab, tidak dihubungkannya dengan rabbul asbab (Tuhannya sebab). Misalnya, Jika terjadi banjir, mereka berkata ; sebabnya adalah penggundulan hutan atau erosi tanah yang menyebabkan pendangkalan sungai. Jika terjadi gempa, mereka berkata karena pergeseran lempengan batu. Apabila terjadi kebakaran, mereka berkata karena sambungan pendek listrik, dan seterusnya.
Pada hal semua yang disebutkan itu, jika direnungkan dan dihayati secara sungguh-sungguh, maka pasti dikatakan, bahwa sebab- sebab itu hanyalah merupakan “penyebab antara” untuk menguji keimanan seseorang. Apakah yakin kepada khalik atau kepada makhluk. Yakin kepada kekuasaan Allah atau yakin kepada ciptaannya. Yakin kepada sebab atau kepada rabbul asbab. Jahiliyah moderen tidak menyadari, bahwa penyebab utama dari semua malapetaka adalah disebabkan kemurkaan rabbul asbab, akibat perbuatan dosa yang dilakukan olehnya sendiri.
Selanjutnya, pintu tobat juga sudah tertutup, ketika balasan Allah datang kepada orang-orang yang berbuat zalim dan berbuat dosa di akhirat. Ketika sudah menyaksikan beratnya balasan yang akan mereka terima, sehingga mereka menyesal, tapi penyesalan yang tak berguna (Q.S. 32:12- 14 dan 35:37).
Ayat-ayat di atas, menjelaskan keadaan orang-orang yang menerima siksaan Allah, karena pelanggaran dan dosa-dosanya. Mereka bertobat dan menyatakan penyesalannya, saat sudah melihat siksaan-Nya yang amat pedih di akhirat. Mereka berteriak-teriak ingin kembali ke bumi, untuk berbuat amal saleh. Namun, waktunya sudah terlambat, pintu tobat telah tertutup baginya. Bagaikan bayi yang sudah keluar dari perut ibunya, tidak akan mungkin kembali lagi ke dalam perut ibunya, meskipun ia cacat. Seandainya cacat, maka tetaplah cacat selamanya. Di dunia ada operasi plastik tapi di akhirat tidak, tapi harus diakui ciptaan Allah yang asli tidak akan pernah sama dengan operasi plastik ciptaan manusia. Karena itu, kata pepatah; “penyesalan dahulu pendapatan, penyesalan kemudian tak ada gunanya”. Penyesalan tak guna pada akhir derita. Kata Roma Irama.
Jika demikian, seseorang hendaknya selalu waspada setiap waktu, setiap detik kapan dan di mana saja, ia harus memperbanyak istighfar, selalu memohon ampunan atas kekhilafan dan kesalahannya. Tidak menunggu sampai datang bencana dan malapetaka. Dan tidak menunggu sampai datang malaikat ‘izrail, sang pencabut nyawa yang tidak mengenal suap dan kompromi. Demikian pula, tidak melihat apakah dosa besar atau kecil, dosa lahir atau dosa batin. Bagi awwabin, semua sama saja. Sekecil apapun dosa itu, bagi mereka adalah penyebab kemurkaan Allah yang berujung pada siksaan-Nya.
Bencana dan kematian, datang tak memberi kabar lebih dahulu. Tempat dan waktunya dalam rahasia Sang Khalik. Tetapi meskipun demikian, para psikolog mengatakan bahwa aba-aba yang diterima oleh sebagian makhluk, seperti berhijrahnya sekolompok binatang ke tempat lain, adalah isyarat akan datangnya bencana di tempat itu.
Demikian pula kematian, sebelum datang, pada hakekatnya ia telah memberitahukan kepada manusia tentang kapan waktu kedatangannya. Sebelumnya, ia telah mengirim utusan silih berganti, namun manusia tidak menyadarinya. Utusan-utusan tersebut berupa; rambut yang sudah putih, gigi yang sudah copot, mata yang sudah rabun, pendengaran yang sudah tuli, lutut dan pinggang yang sudah sakit-sakitan, kulit keriput, dan berbagai utusan lainnya. Semua itu merupakan utusan ‘izrail yang tidak dihayati oleh manusia. Karena itu, setiap orang hendaknya bergegas dan bersegera tobat kepada Sang Maha Pencipta Yang Maha Perkasa, ketika terlanjur berbuat salah atau berbuat dosa, sebelum bencana dan kematian datang kepadanya.