Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Apakah perbedaan ujian dengan siksa atau azab ?

AN Anonymous 9 years ago

azab dan ujian|690x250

Musibah atau bencana yang menimpa orang yang beriman yang tidak lalai dari keimanannya, sifatnya adalah ujian dan cobaan. Allah ingin melihat bukti keimanan dan kesabaran kita. Jika kita bisa menyikapi dengan benar, dan mengembalikan semuanya kepada Allah, maka Allah akan memberikan pertolongan dan rahmat sesudah musibah atau bencana tersebut.

Apakah perbedaan ujian dengan siksa atau azab ?

19

Secara tabiat jika manusia tidak memiliki satupun kesulitan khas yang menimpanya maka dia akan bangga dengan dirinya sendiri yang hal ini akan menjerumuskannya ke arah takabbur dan kesombongan. Dan kesombongan semacam inilah yang akan melalaikannya dari akibat-akibat yang akan timbul dikemudian hari karena perbuatan-perbuatannya sendiri. Untuk menghindarkan diri dari keburukan semacam ini, kebijakan Ilahi meniscayakan bahwa dalam kehidupan duniawinya manusia diperhadapkan pada kelemahan-kelemahan, kesulitan-kesulitan dan hambatan-hambatan alami atau sesuatu yang diciptakan sendiri oleh mereka. Dari sinilah sehingga peristiwa-peristiwa seperti sakit, kematian dan cacat, demikian juga dengan kefakiran, kekayaan, banjir, gempa bumi, angin topan, ledakan gunung berapi, serangga-serangga yang membahayakan serta binatang-binatang buas diletakkan melingkupi jasmani manusia sedangkan jiwanya dibatasi dengan akal, syahwat dan pembimbing-pembimbing Ilahi dari satu sisi, dan setan serta manusia-manusia setan dari sisi yang lain, juga adanya keterbatasan di dunia serta pentingnya ilmu dan iman terhadap gaib.

Bagaimana manusia menanggapi ketaksempurnaan jasmani dan jiwanya ini akan membentuk karakter pribadi dan identitasnya. Akal dan fitrah yang merupakan faktor dari dalam serta anbiya serta auliya Ilahi sebagai faktor dari luar merupakan pembimbing dan penunjuk ke arah bagaimana berperilaku dan bagaiamana bereaksi secara benar yang akan mengantarkan manusia meraih kesempurnaannya, sedangkan syahwat hewani dan kecenderungan serta harapan-harapan yang panjang sebagai faktor dari dalam, dan setan, jin serta manusia sebagai faktor dari luar merupakan penghambat jalan manusia dalam menggapai kebahagiaan dan menjauhkannya dari jalan yang seharusnya dia lalui, namun manusia tetap harus memilih jalannya karena keadilan Ilahi berada dalam kekuasaan mereka dan tidak ada manusia yang mampu menghindar dari persoalan ini.

Dari sini harus dikatakan bahwa seluruh alam keberadaan dengan segala nikmat dan musibahnya sebenarnya merupakan area uji bagi manusia, sementara bala serta musibah-musibah yang menimpanya pun pada dasarnya merupakan nikmat dan penyebab yang memungkinkannya untuk memilih dan selanjutnya akan mengantarkannya pada lompatan dan ketinggian jiwa baik di dunia maupun di akhirat, dan andai saja tidak ada hambatan-hambatan tersebut, maka lompatan dan kenaikan ini merupakan suatu hal yang sangat mungkin didapatkan oleh manusia.

Dalam masalah ini para auliyaullah lebih banyak mendapatkan dan menanggung sulitnya bala dan musibah, karena hal ini mereka butuhkan untuk mendukungnya mengalami lompatan dan kulminasi. Musibah-musibah yang datang menimpa para auliya akan menghasilkan beberapa persoalan di bawah ini:

  1. Memperkuat kehendak dan jiwa mereka dan memperluas lingkup eksistensinya serta memperkuat wilayah takwini dan penciptaan mereka;
  2. Mempertinggi derajat mereka di akhirat;
  3. Membentuk kebencian mereka yang semakin mendalam kepada dunia dan hal-hal yang berkaitan dengannya dan memberikan kedekatan dan kecintaan yang semakin banyak kepada akhirat, dan apa yang berada di dekat-Nya akan disediakan kepada mereka;
  4. Memperbanyak tadharu' dan mengingat-Nya serta memacunya untuk mempersiapkan bekal yang lebih banyak untuk akhiratnya. Tentunya para auliya itu sendiripun menyambut musibah-musibah yang menimpanya dengan perasaan yang rela dan pandangan yang positif. D

PARA ulama menjelaskan bahwa setiap orang yang beriman ‘pasti’ akan diuji oleh Allah, suatu saat ‘mungkin’ akan mendapatkan musibah, dan jika melakukan kemaksiatan akan mendapatkan azab dari Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ. Ujian yang diberikan oleh Allah tersebut sangat beragam, baik berupa kebaikan, keburukan, kebahagiaan, kesulitan, kesempitan, kelapangan, dan lain-lain. Mereka, orang-orang yang beriman, pada suatu saat akan diuji dengan beragam musibah, Dan setiap orang yang beriman, jika melakukan kemaksiatan akan mendapatkan azab Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ. Allah, setiap saat, akan menguji para hamba-Nya, termasuk di dalamnya, setiap orang yang beriman, sesuai dengan tingkatan keimanan dan kemampuannya.

Di dalam kitab suci al-Quran, kita jumpai 3 (tiga) macam kata yang terangkai dalam kalimat-kalimat yang beragam. Pertama, Ibtilâ’; kedua: Mushîbah, dan ketiga: Adzâb.

Ibtilâ’

Ibtilâ’ adalah ujian, yang secara bahasa berarti: “ikhtibâr (penyelidikan) dan imtihân (percobaan),” baik berupa kesulitan maupun kesenangan, kebaikan maupun keburukan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan ujian kepada manusia dengan tujuan mengetahui siapa hamba-Nya yang bersyukur atas nikmat dan bersabar atas kesulitan yang menimpanya.

Allah berfirman,

“Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan,” (QS Al-Anbiyâ/21: 35).

“Dan Kami bagi-bagi mereka di dunia ini menjadi beberapa golongan; di antaranya ada orang-orang yang saleh dan di antaranya ada yang tidak demikian. Dan Kami coba mereka dengan (nikmat) yang baik-baik dan (bencana) yang buruk-buruk, agar mereka kembali (kepada kebenaran.” (QS Al A’râf/7: 168).

“Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya,” (QS Al-Kahfi/18: 7).

Ibnu Katsir mengatakan bahwa, makna “Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya),” artinya terkadang Allah menguji dengan sesuatu yang tidak menyenangkan dan terkadang dengan berbagai kenikmatan. Hal ini agar Allah mengetahui orang-orang yang bersyukur dari orang-orang yang kufur, orang- orang yang bersabar dari orang-orang yang berputus asa.

Seseorang terkadang sanggup bertahan di dalam keimanan saat mendapatkan kesulitan, akan tetapi hilang imannya tatkala mendapatkan kesenangan. Ujian apapun yang Allah berikan pada kita, bersyukur dan bersabarlah.

Mushîbah

Apabila ujian dan cobaan itu bisa berbentuk kesenangan atau kesulitan, sedangkan mushîbah, yang dalam bahasa Indonesia sering diterjemahkan dengan ‘bencana’, biasanya berbentuk sesuatu yang tidak disukai. Mushîbah, secara bahasa, identik dengan ‘teguran atau peringatan’ yang sudah menjadi ketentuan Allah, yang terjadi karena kesalahan yang kita perbuat.

Alah berfirman,

“Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri,” (QS An-Nisâ’/4: 79).

“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu),” (QS Asy-Syûrâ/42: 30).

Mengenai hal ini, Ibnu Katsir menjelaskan:

”Demi yang jiwaku berada ditangan-Nya, tidaklah seorang mukmin ditimpa kegalauan, kesedihan, kepayahan bahkan duri yang menancap padanya kecuali dengannya Allah akan menghapuskan kesalahan-kesalahannya,” (Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’ân al-Azhîm, juz II, hal. 363).

Orang-orang yang bersabar ketika mendapat musibah dan menjadikannya sebagai upaya perbaikan diri untuk lebih mendekat pada-Nya maka akan mendapat ampunan di sisi-Nya.

Allah berfirman,

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (Yaitu) orang- orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Innâ lillâhi wa innâ ilaihi râji’ûn (sesungguhnya kami [hanyalah] milik Allah, dan sesungguhnya hanya kepada-Nya lah kami akan dikembalikan”. Mereka itulah (orang-orang) yang mendapatkan pengampunan dan rahmat dari Rabb mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapatkan petunjuk,” (QS Al- Baqarah/2: 155-157).

‘Adzâb

‘Adzâb (azab) adalah ‘balasan’, yang berkonotasi ‘buruk’ dari Allah, yang diberikan kepada orang-orang yang tidak berada di jalan Allah Subhânahu wa Ta’âlâ, baik di dunia maupun akhirat.

Allah berfirman,

“Dan Sesungguhnya kami merasakan kepada mereka sebahagian azab yang dekat (di dunia) sebelum azab yang lebih besar (di akhirat), mudah-mudahan mereka kembali (ke jalan yang benar),” (QS As-Sajdah/32: 21).

“Wahai kaumku, janganlah hendaknya pertentangan antara aku (dengan kamu) menyebabkan kalian menjadi jahat sehingga kalian ditimpa musibah (azab) seperti yang menimpa kaum Nuh, kaum Hud, atau kaum Shalih. Sedang kaum Luth tidak (pula) jauh (tempatnya) dari kalian,” (QS Hûd/11: 89).

“Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia- sialah apa yang Telah mereka kerjakan.” (QS Hûd/11: 16).

Wallâhu A’lamu bish-Shawâb.