Deprecated: mb_substr(): Passing null to parameter #1 ($string) of type string is deprecated in /home/duniais1/dictio.id/wp-content/plugins/jetonomy/includes/seo/class-schema-markup.php on line 174
Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Apakah normal menjadi "hidup tanpa tujuan" setelah mencapai pencerahan?

Anonymous 2 years ago

Deprecated: preg_replace(): Passing null to parameter #3 ($subject) of type array|string is deprecated in /home/duniais1/dictio.id/wp-includes/kses.php on line 2025
34

Dalam dunia spiritual, pencarian pencerahan sering dianggap sebagai tujuan tertinggi. Banyak yang membayangkan bahwa setelah seseorang tercerahkan, hidup akan penuh makna, energi, dan arah yang jelas. Tapi, bagi sebagian pencari yang telah mengalami momen pencerahan atau bahkan mengalami kesadaran yang mendalam, justru muncul paradoks: hidup terasa seolah "tanpa tujuan". Apakah ini normal? Atau apakah ini bentuk lain dari kebingungan yang belum selesai?

Pertanyaan ini penting, dan jawabannya membawa kita ke pemahaman yang lebih dalam tentang makna pencerahan itu sendiri.

Apa Itu Pencerahan Sebenarnya?

Pencerahan—dalam bahasa sufi sering disebut ma'rifah atau kasyf—bukanlah sebuah pencapaian dalam artian duniawi. Ia bukan trofi, bukan akhir dari perjalanan. Dalam banyak kisah sufi, pencerahan justru adalah awal dari kehidupan yang sejati.

Imam Al-Ghazali dalam karya monumentalnya Mishkat al-Anwar menggambarkan pencerahan sebagai "cahaya di atas cahaya"—yakni, ketika cahaya akal dan cahaya hati bersatu dalam limpahan Nur Ilahi. Tapi setelah cahaya itu hadir, dunia tidak selalu menjadi lebih "berwarna"; justru, ia bisa tampak biasa saja, atau bahkan kosong. Mengapa?

Sebab, pencerahan meruntuhkan ilusi. Ia menghapus makna-makna palsu yang kita bangun selama ini: ambisi, pencapaian, dan identitas. Segala hal yang sebelumnya dianggap penting bisa terasa hambar. Dunia tidak lagi menjadi panggung untuk permainan ego, tapi cermin dari Kehendak Tuhan yang sedang bekerja.

Merasakan Kekosongan Setelah Pencerahan

Setelah pencerahan, beberapa orang merasa hampa. Bukan karena mereka kembali ke kegelapan, tetapi karena yang selama ini mereka kejar menguap: tidak ada lagi "aku" yang ingin mencapai sesuatu. Tidak ada lagi dorongan untuk menjadi ini atau itu. Ini bukan depresi, tetapi kekosongan eksistensial yang sangat dalam.

Jalaluddin Rumi menyebut ini sebagai fase "diam total". Ia menulis:

"Diamlah, hanya diam. Segala yang kau pikir adalah tujuan, telah hilang dalam cinta."

Dalam kerangka ini, hidup tanpa tujuan bukanlah kondisi abnormal, tetapi bentuk baru dari kebebasan. Saat ego larut, tidak ada lagi kebutuhan untuk menjadi siapa-siapa. Tujuan eksternal tak lagi punya daya tarik yang sama. Yang tersisa hanyalah kehadiran, momen demi momen.

Hidup Tanpa Tujuan atau Hidup Tanpa Keterikatan?

Dalam tasawuf, ada satu prinsip yang sering disalahpahami: fana'—yakni lenyapnya diri dalam Tuhan. Banyak yang mengira ini berarti tidak melakukan apa-apa. Padahal, setelah fana' datang baqa'—yakni keberlangsungan dalam kesadaran Ilahi. Orang yang telah mencapai kondisi ini justru aktif, tetapi bebas. Ia berbuat bukan karena keinginan pribadi, tapi sebagai pancaran dari kehendak Tuhan.

Syekh Abdul Qadir al-Jilani berkata, "Wali Allah berjalan di pasar tapi hatinya di hadirat Tuhannya." Artinya, orang yang tercerahkan mungkin terlihat seperti menjalani hidup biasa: bekerja, berbicara, tertawa. Tapi batinnya tidak lagi terikat pada tujuan-tujuan duniawi. Ia hadir secara utuh, melakukan segalanya dengan kesadaran, tanpa mengklaim kepemilikan atas hasil.

Inilah inti dari kebebasan spiritual: bukan berhenti bergerak, tapi berhenti melekat.

Ketika Tujuan Tidak Lagi Diperlukan

Dalam dunia sebelum pencerahan, kita hidup dengan tujuan karena merasa belum lengkap. Kita ingin mencapai sesuatu untuk mengisi kekosongan dalam diri. Tapi setelah menyadari bahwa tidak ada yang benar-benar kurang—bahwa kita sudah utuh, sudah satu dengan sumber segala sesuatu—maka dorongan untuk mengejar tujuan bisa menghilang.

Ini terlihat jelas dalam ajaran sufi seperti Rabiah al-Adawiyah, yang berkata, "Aku tidak menyembah-Mu karena takut neraka atau karena berharap surga, tetapi karena Engkau layak disembah." Ini adalah bentuk pencerahan yang sangat murni: tindakan tanpa pamrih, cinta tanpa syarat.

Ketika seseorang hidup dalam kesadaran ini, hidupnya tak lagi digerakkan oleh tujuan eksternal. Ia melakukan sesuatu bukan untuk mencapai apa-apa, tapi karena cinta itu sendiri menggerakkannya.

Mengalami Dunia dengan Cara yang Berbeda

Pencerahan mengubah cara seseorang merasakan dunia. Yang sebelumnya dikejar, kini ditatap dengan keheningan. Yang sebelumnya membuat marah, kini dimengerti sebagai bagian dari permainan semesta. Tujuan yang dulu dianggap penting—karier, status, prestasi—mungkin kini tampak seperti kabut pagi: indah, tapi sementara.

Namun, ini tidak berarti seseorang menjadi apatis. Justru, ia bisa menjadi sangat peduli. Tapi kepeduliannya lahir dari cinta dan kehadiran, bukan keterikatan. Ia menolong karena tak bisa tidak menolong. Ia mencipta karena tidak bisa tidak mencipta. Inilah apa yang dalam tasawuf disebut sebagai hidup dalam aliran kehendak Ilahi (iradah).

Spiritualitas yang Mengakar di Dunia

Salah satu kekhawatiran orang yang mengalami fase "hidup tanpa tujuan" adalah takut menjadi tidak produktif atau kehilangan arah. Tapi dalam spiritualisme sejati, justru arah itu berubah: dari arah ke luar, menjadi arah ke dalam. Bukan berarti meninggalkan dunia, tapi memaknai dunia dengan cara yang baru.

Imam Ibn Ajibah dalam tafsirnya Bahr al-Madid menjelaskan bahwa manusia spiritual sejati tetap berada di tengah masyarakat, tetap berkontribusi, tetapi hatinya tidak pernah lepas dari hadirat Allah. Mereka yang tercerahkan justru sering menjadi pembawa perubahan besar karena mereka tidak digerakkan oleh ambisi pribadi, melainkan oleh kasih sayang dan kebenaran.

Kesunyian yang Subur

Hidup tanpa tujuan setelah pencerahan bukanlah tanah yang tandus. Ia adalah kesunyian yang subur. Dalam kesunyian itu, muncul kreativitas sejati, intuisi yang tajam, dan kemampuan mencintai tanpa batas.

Bayangkan laut yang tenang. Dari permukaan, ia tampak kosong. Tapi di dalamnya penuh kehidupan. Begitu pula jiwa yang tercerahkan. Ia mungkin tampak diam, tak mengejar apa-apa, tapi justru dari sanalah lahir kata-kata yang menyembuhkan, tindakan yang penuh kasih, dan pandangan yang menembus ke dalam hakikat.

Penutup: Bukan Tanpa Tujuan, Tapi Menjadi Kehadiran Itu Sendiri

Jadi, apakah normal merasa hidup "tanpa tujuan" setelah pencerahan? Jawabannya: sangat normal. Tapi lebih tepatnya, bukan hidup tanpa tujuan, melainkan hidup tanpa keterikatan pada tujuan. Ada kebebasan yang luas, ada diam yang penuh makna, ada ketenangan yang dalam.

Pencerahan membawa kita ke tempat di mana kita tak lagi butuh alasan untuk hidup. Kita hidup karena hidup itu sendiri adalah pernyataan dari Kehendak Ilahi. Kita bernafas bukan karena ingin sesuatu, tapi karena itu adalah bentuk dzikir yang paling purba.

Seperti yang dikatakan oleh seorang sufi:

"Sebelum pencerahan, aku ingin menjadi sesuatu. Setelah pencerahan, aku hanya ingin menjadi ada."

Dan menjadi ada di sini adalah tentang menjadi hadir. Menjadi kesadaran murni yang menyaksikan, mencintai, dan merangkul dunia tanpa syarat. Di situlah makna terdalam dari kehidupan spiritual: bukan untuk menjadi sesuatu yang hebat, tetapi menjadi sebagaimana adanya—tanpa topeng, tanpa dorongan, tanpa keharusan. Hadir. Sepenuhnya.