Deprecated: mb_substr(): Passing null to parameter #1 ($string) of type string is deprecated in /home/duniais1/dictio.id/wp-content/plugins/jetonomy/includes/seo/class-schema-markup.php on line 174
Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Apakah mungkin untuk mencapai kebahagiaan sejati, atau apakah kita semua hanya mengejar sebuah idealisme yang tidak dapat dicapai?

Anonymous 2 years ago

Deprecated: preg_replace(): Passing null to parameter #3 ($subject) of type array|string is deprecated in /home/duniais1/dictio.id/wp-includes/kses.php on line 2025
38

Setiap manusia pasti pernah bertanya-tanya, apa sebenarnya arti kebahagiaan sejati? Apakah itu sesuatu yang benar-benar bisa kita capai, ataukah kita hanya mengejar bayangan ideal yang tak pernah bisa digenggam? Pertanyaan ini telah menjadi perenungan mendalam sejak zaman para filsuf kuno hingga era modern ketika psikologi positif berkembang sebagai cabang ilmu tersendiri. Dalam artikel ini, kita akan mengupas kebahagiaan sejati dari berbagai sudut pandang—psikologi, filsafat, dan ilmu sosial—untuk menemukan apakah kebahagiaan sejati itu nyata, dan kalau ya, bagaimana cara mencapainya.

Apa Itu Kebahagiaan Sejati?

Sebelum kita menjawab apakah kebahagiaan sejati bisa dicapai atau tidak, kita harus terlebih dahulu memahami apa yang dimaksud dengan kebahagiaan sejati. Dalam konteks psikologi, kebahagiaan sering dikaitkan dengan dua konsep besar: hedonia dan eudaimonia. Konsep ini pertama kali dikenalkan oleh filsuf Yunani kuno—Aristoteles.

Hedonia berfokus pada kenikmatan dan penghindaran dari rasa sakit. Ini adalah bentuk kebahagiaan yang paling instan dan mudah diukur: makan makanan enak, mendapatkan hadiah, tertawa dengan teman, dan sebagainya. Namun, Aristoteles dan banyak psikolog modern menilai bahwa bentuk kebahagiaan ini tidak cukup untuk memenuhi kehidupan secara mendalam.

Sebaliknya, eudaimonia adalah konsep kebahagiaan yang lebih dalam. Ini merujuk pada kehidupan yang bermakna, yang dijalani dengan kebajikan, dan selaras dengan nilai-nilai personal seseorang. Dalam buku Authentic Happiness (2002), Martin Seligman—salah satu tokoh besar dalam psikologi positif—menjelaskan bahwa eudaimonia adalah kebahagiaan yang berasal dari penggunaan kekuatan diri untuk mencapai tujuan yang lebih besar dari sekadar kesenangan pribadi.

Ilusi Kebahagiaan: Apakah Kita Mengejar Fatamorgana?

Meskipun banyak teori dan pendekatan menjelaskan bagaimana mencapai kebahagiaan, kenyataannya banyak orang merasa kebahagiaan selalu tampak menjauh saat didekati. Dalam teori Hedonic Treadmill yang dikembangkan oleh Brickman dan Campbell (1971), dijelaskan bahwa manusia cenderung kembali ke tingkat kebahagiaan dasar setelah mengalami peristiwa positif atau negatif. Misalnya, setelah mendapatkan pekerjaan impian, rasa bahagia itu perlahan-lahan memudar, dan kita kembali merasa biasa saja, lalu mulai mencari pencapaian berikutnya.

Teori ini menunjukkan bahwa kebahagiaan bisa menjadi seperti bayangan: selalu ada, tetapi tak pernah bisa digenggam sepenuhnya. Maka muncul pertanyaan besar: apakah kebahagiaan sejati memang nyata, ataukah kita hanya mengejar ilusi yang diciptakan oleh otak dan masyarakat?

Namun, banyak psikolog berargumen bahwa meskipun kebahagiaan bersifat sementara dan fluktuatif, ada jenis kebahagiaan yang lebih stabil dan tahan lama. Dalam bukunya The How of Happiness (2007), Sonja Lyubomirsky menyatakan bahwa sekitar 40% dari kebahagiaan kita ditentukan oleh aktivitas dan pilihan sadar yang kita buat, sementara 50% berasal dari genetika, dan hanya 10% ditentukan oleh keadaan eksternal. Artinya, meskipun sebagian besar kebahagiaan bersifat relatif dan tergantung pada diri, bukan berarti kita tidak bisa mengupayakannya.

Psikologi Positif dan Jalan Menuju Kebahagiaan yang Autentik

Psikologi positif, sebagai cabang ilmu yang meneliti kekuatan dan kualitas positif manusia, telah memberikan banyak kontribusi dalam pemahaman kita tentang kebahagiaan. Martin Seligman mengembangkan konsep PERMA sebagai kerangka untuk mengejar kebahagiaan sejati:

  • Positive Emotions: merasakan emosi positif seperti cinta, syukur, dan sukacita
  • Engagement: keterlibatan penuh dalam aktivitas (flow)
  • Relationships: hubungan yang bermakna dan mendalam dengan orang lain
  • Meaning: menemukan makna dan tujuan dalam hidup
  • Achievement: pencapaian yang memberikan rasa bangga dan memuaskan

Kelima elemen ini, menurut Seligman, bukan hanya komponen kebahagiaan, tetapi juga jalan menuju kehidupan yang utuh dan memuaskan. Dengan mengejar kelima aspek ini secara seimbang, seseorang bisa mencapai kebahagiaan yang lebih autentik dan tahan lama, bukan sekadar kepuasan sesaat.

Peran Makna dan Tujuan dalam Hidup

Viktor Frankl, seorang psikiater dan penyintas Holocaust, menulis dalam bukunya Man's Search for Meaning bahwa manusia bisa bertahan dalam penderitaan paling berat sekalipun jika hidupnya memiliki makna. Menurut Frankl, pencarian makna adalah kekuatan utama dalam hidup manusia. Kebahagiaan sejati, dalam perspektif ini, bukanlah soal menikmati hidup tanpa beban, tetapi soal merasakan bahwa hidup ini berharga dan penuh arti.

Makna tidak selalu datang dari hal-hal besar atau heroik. Terkadang, makna bisa ditemukan dalam hal-hal kecil—seperti merawat seseorang yang kita cintai, menulis buku yang membantu orang lain, atau sekadar menjalani hidup dengan kejujuran dan integritas. Ketika kita merasa hidup kita memiliki tujuan yang lebih besar dari diri kita sendiri, maka kebahagiaan sejati bisa dirasakan, bahkan di tengah kesulitan.

Kebahagiaan dan Keseimbangan Emosi

Salah satu kesalahpahaman umum tentang kebahagiaan adalah bahwa orang bahagia tidak pernah merasakan sedih, kecewa, atau marah. Padahal, penelitian menunjukkan bahwa kebahagiaan sejati justru melibatkan kemampuan untuk merasakan dan mengelola seluruh spektrum emosi. Dalam buku Emotional Agility (2016), Susan David menjelaskan bahwa fleksibilitas emosional—yaitu kemampuan untuk merespons emosi secara sehat dan adaptif—adalah kunci untuk kesejahteraan psikologis jangka panjang.

Artinya, bukan dengan menolak emosi negatif, tetapi dengan menerima dan memahami emosi-emosi tersebut, kita bisa menjalani hidup yang lebih otentik dan bermakna. Kebahagiaan sejati bukanlah absennya penderitaan, tetapi kemampuan untuk tetap merasa utuh dan hidup meskipun sedang berada dalam masa sulit.

Apakah Kebahagiaan Sejati Bisa Dicapai?

Jika kita mendefinisikan kebahagiaan sejati sebagai keadaan tanpa kesedihan, penderitaan, atau kekurangan, maka jawabannya mungkin tidak. Hidup manusia memang tidak sempurna. Namun, jika kita melihat kebahagiaan sebagai proses yang terus-menerus, yang dibangun dari makna, koneksi sosial, emosi positif, dan tujuan hidup, maka kebahagiaan sejati bukanlah mitos. Ia bisa dicapai, bukan sebagai keadaan tetap, tetapi sebagai kualitas hidup yang bisa dibangun dan dipelihara.

Penelitian dari Harvard Study of Adult Development—salah satu studi longitudinal terpanjang tentang kehidupan manusia—menunjukkan bahwa hubungan yang hangat dan bermakna adalah prediktor kebahagiaan dan kesehatan paling kuat di usia tua. Kebahagiaan bukan datang dari uang, ketenaran, atau pencapaian luar biasa, tetapi dari kualitas hubungan dan keterhubungan kita dengan sesama manusia.

Penutup: Mengejar Kebahagiaan, Menemukan Diri

Akhirnya, kita kembali pada pertanyaan awal: apakah kebahagiaan sejati itu nyata? Jawabannya tergantung pada bagaimana kita memaknai kebahagiaan itu sendiri. Bila kita mencari euforia abadi tanpa penderitaan, mungkin kita sedang mengejar fatamorgana. Namun, bila kita mencari makna, kedalaman, dan koneksi sejati dalam hidup—maka kebahagiaan sejati bukan hanya mungkin, tetapi juga bisa tumbuh dalam kehidupan kita sehari-hari.

Kebahagiaan sejati bukanlah tujuan akhir, tetapi cara kita menjalani proses kehidupan ini. Ia bukan hadiah yang datang tiba-tiba, melainkan hasil dari pilihan sadar yang kita ambil setiap hari: untuk hidup dengan kejujuran, kasih sayang, dan rasa syukur. Dalam ketidaksempurnaan itulah, kebahagiaan menemukan rumahnya.