Pertanyaan ini menyentuh inti dari banyak diskusi psikologis dan filosofis tentang hakikat kebahagiaan. Jawaban singkatnya: kebahagiaan bukanlah kondisi permanen, melainkan serangkaian momen yang datang dan pergi, namun kualitas kebahagiaan dalam hidup bisa dipelihara secara konsisten melalui cara kita hidup dan berpikir.
Mari kita bedah secara lebih mendalam:
Kebahagiaan sebagai Momen yang Sementara
Kebahagiaan, dalam pengertian emosional (positive affect), memang bersifat fluktuatif. Ini sesuai dengan temuan dalam psikologi afektif yang menunjukkan bahwa emosi manusia berubah-ubah sepanjang hari, tergantung pada konteks, lingkungan, kesehatan, interaksi sosial, dan bahkan cuaca. Inilah sebabnya mengapa kita bisa merasa sangat bahagia saat mendengar kabar baik, tapi mungkin merasa biasa saja beberapa jam kemudian.
Konsep ini juga didukung oleh teori hedonic adaptation (adaptasi hedonik), yang menyatakan bahwa setelah mengalami peristiwa positif atau negatif, manusia cenderung kembali ke titik netral atau "set point" kebahagiaan. Jadi, momen bahagia cenderung bersifat sementara.
Kebahagiaan Sebagai Kualitas Kehidupan
Namun, menurut psikologi positif, terutama dari pemikiran Martin Seligman, kebahagiaan tidak hanya mencakup emosi sesaat, tetapi juga mencakup aspek-aspek yang lebih dalam seperti makna, keterlibatan, dan hubungan sosial (PERMA model). Artinya, meskipun emosi bahagia datang dan pergi, kita bisa menciptakan kondisi kehidupan yang secara umum membahagiakan.
Sebagai contoh:
-
Seseorang yang hidup sesuai dengan nilai-nilai pribadinya,
-
Memiliki hubungan sosial yang kuat,
-
Merasa bahwa hidupnya bermakna,
...meskipun tetap mengalami hari buruk, cenderung melaporkan tingkat kepuasan hidup yang tinggi secara konsisten.
Apakah Bisa Dipertahankan?
Kebahagiaan sebagai keadaan emosional permanen sulit, bahkan mustahil, untuk dipertahankan. Ini karena otak manusia didesain untuk merespons perubahan, ancaman, dan tantangan. Namun, kesejahteraan psikologis dan rasa hidup yang utuh bisa dibangun dan dijaga dengan latihan, refleksi, dan kebiasaan tertentu, seperti:
-
Praktik bersyukur (gratitude journaling)
-
Meditasi atau mindfulness
-
Menetapkan tujuan yang bermakna
-
Menjaga hubungan yang sehat
Susan David, dalam bukunya Emotional Agility, menekankan bahwa fleksibilitas emosional jauh lebih penting daripada mencoba selalu merasa bahagia. Kita akan lebih sehat secara psikologis jika mampu menerima naik turunnya emosi, alih-alih memaksakan kebahagiaan sepanjang waktu.
Jadi, kebahagiaan adalah serangkaian momen dan pengalaman yang tidak permanen secara emosional, namun bisa menjadi stabil dalam bentuk pola hidup yang sehat, penuh makna, dan selaras dengan nilai pribadi. Kita tidak bisa merasa bahagia setiap saat, tetapi kita bisa menjalani hidup yang membahagiakan.
Kebahagiaan sejati bukan tentang bertahan di puncak emosi positif, melainkan tentang mampu hidup penuh, sadar, dan bermakna—meski kadang dengan air mata.