Nama “Iblis” terambil dari kata berbahasa Arab yang berarti putus asa atau yang berarti tiada kebaikannya. Disebut iblis karena ia terputus dari rahmat Allah. Sebelumnya ada yang menyebutnya dengan nama ‘Azāzil, artinya adalah yang hancur dan yang bersedih.
Ibnu Abbas berkata: “Sesungguhnya sebelum iblis maksiat kepada Allah, ia termasuk bilangan malaikat yang bernama Azazil. Dia termasuk penduduk bumi dan merupakan malaikat yang paling bersungguh-sungguh dan paling banyak ilmunya. Oleh karena itu ia punya kecenderungan untuk takabbur (menyombongkan diri). Dia pun termasuk makhluk hidup yang disebut dengan jin.”
Iblis adalah mulanya adalah dari bangsa malaikat yang terdapat dari salah satu kabilah yang disebut dengan kabilah jin. Ketika itu iblis bertugas menjadi komando (pangatur) di antara langit dan bumi. Iblis adalah pemimpin para malaikat di langit dunia. kemudian dia berbuat maksiat, ditawan oleh malaikat dibawa ke langit untuk diadili, maka Allah merubahnya menjadi setan yang dilaknat.
Ad-Dhahak meriwayatkan dari Ibnu Abbas ra. bahwa iblis adalah dari bangsa malaikat yang terhormat dan dari kabilah yang paling mulia. Dia termasuk khazanah surga dan mempunyai kekuasaan di langit dunia dan di bumi. Tetapi kemudian ia terpedaya oleh dirinya sendiri. Dia memandang bahwa dengan segala kelebihan yang dimiliki itu, ia merasa lebih terhormat di atas penduduk langit dan bumi. Dari situlah lahir sifat takabbur di dalam hatinya, yang tidak ada seorang pun tahu kesombongannya kecuali Allah swt., kemudian Allah menampakkan ketakaburannya itu dengan menyuruhnya untuk sujud kepada Nabi Adam as., maka ia pun enggan dan sombong dan jadilah ia termasuk golongan kafir.
Diriwayatkan oleh Ibnu Abiddunya, dan Ibnu Abi Hatim dari Ibnu Syihab bahwa Iblis adalah bapak dari jin, sebagaimana Adam adalah bapak dari manusia. Adam adalah dari bangsa manusia yang merupakan asal usul manusia, sedangkan iblis adalah dari bangsa jin yang merupakan bapak moyang jin.