Menurut Ibnu Qayyin Al-Jauziyah, dalam bukunya yang berjudul "Pendakian Menuju Allah Penjabaran Kongkrit Iyyaka Na’budu Waiyyaka Nastain", Tawakal memiliki tingkatan-tingkatan menurut kadar keimanannya, tekad, dan cita orang yang bertawakal tersebut.
Pertama, mengenal Rabb berikut sifat-sifat-Nya/kekuasan-Nya, kekayaan-Nya, kemandiria-Nya, berakhirnya segala perkara kepada ilmu-Nya dan kemunculan karena masyi’ah (kehendak) dan kodratnya. Mengenal Allah ini merupakan tangga pertama yang padanya seorang hamba meletakkan telapak kakinya dalam bertawakal.
Kedua, menetapkan sebab dan akibat
Ketiga, mengkokohkan hati pada pijakan “tauhid tawakal” (mengesakan Allah dalam bertawakal).
Keempat, bersandarnya hati dan ketergantungannya serta ketentramannya kepada Allah. Tanda seseorang telah mencapai tingkatan ini ialah bahwa ia tidak peduli dengan dating atau perginya kehidupan duniawi. Karena ketergantungannya kepada Allah telah membentengi dirinya dari rasa takut dan berharap pada kehidupan duniawi.
Kelima, baik sangka kepada Allah SWT. Sejauh mana kadar baik sangkanya dan pengharapannya kepada Allah, maka sejauh itu pula kadar ketawakalan kepadaNya.
Keenam, menyerahkan hati kepadanya, membawa seluruh pengaduan kepada-Nya, dan tidak menentangnya. Jika seorang hamba bertawakal dengan tawakal tersebut, maka tawakal itu akan mewariskan kepadanya suatu pengetahuan bahwa dia tidak memiliki kemampuan sebelum melakukan usaha, dan ia akan kembali dalam keadaan tidak aman dari maker Allah.
Ketujuh, melimpahkan wewenang (perkara) kepada Allah (Tafwidh). Ini adalah ruh dan hakikat tawakal, yaitu melimpahkan seluruh urusannya kepada Allah dengan kesadaran, bukan dalam keadaan terpaksa. Orang yang melimpahkan urusannya kepada Allah, tidak lain karena ia berkeinginan agar Allah memutuskan apa yang terbaik dalam kehidupannya maupun sesudah mati kelak. Jika apa yang diputuskan untuknya berbeda dengan apa yang disangkanya sebagai yang terbaik, maka ia tetap ridha kepadaNya. Karena ia tahu bahwa itu lebih baik baginya, meskipun segi kemaslahatannya tidak tampak di hadapannya.
Menurut Ibnu Qayyin Al-Jauziyah, pada hakikatnya tawakal ini merupakan keadaan yang terangkai dari berbagai perkara, yang hakikatnya tidak bias sempurna kecuali dengan seluruh rangkaiannya. Masing-masing mengisyaratkan kepada salah satu dari perkara-perkara ini, dua atau lebih. Perkara ini adalah :
Pertama, mengetahui Rabb dengan segenap sifat-sifat-Nya, seperti kekuasaan, perlindungan, kemandirian, kembalinya segala sesuatu kepada ilmu-Nya, dan lain-lainnya. Pengetahuan tentang hal ini merupakan tingkatan pertama yang diletakkan hamba sebagai pijakan kakinya dalam maslah tawakal.
Kedua, Kemantapan hati dalam masalah tauhid, tawakal seseorang tidak baik kecuali jika tauhidnya benar. Bahkan hakikat tawakal adalah tauhid di dalam hati, selagi di dalam hati ada belitan-belitan syirik, maka tawakalnya cacat dan ternoda. Seberapa jauh tauhidnya bersih, maka sejauh itu pula tawakalnya benar.
Ketiga, menyandarkan hati dan bergantung kepada Allah, sehingga tidak ada lagi kekhawatiran karena bisikan sebab di dalamnya. Tandanya dia tak peduli tatkala keterhadapan dengan sebab, hatinya tidak guncang, dapat meredam kecintaan kepadanya, Sebab penyandaran hati dan kebergantungannya kepada Allah mampu membentenginya dari ketakutan. Keadaannya seperti keadaan orang berhadapan dengan musuh yang jumlahnya amat banyak, dia tidak mempunyai kekuatan untuk menghadapi mereka, lalu dia melihat ada benteng apa pintunya terbuka, kemudian Allah menyuruhnya masuk ke dalam benteng itu dan pintunya ditutup. Die melihat musuhnya berada di luar. Sehingga ketakutannya terhadap musuh dalam keadaan seperti ini menjadi sirna.
Keempat; berbaik sangka kepada Allah. Sejauh mana baik sangkamu kepada rabb dan harapan kepada-Nya, maka sejauh ini pula tawakal kepada-Nya. Maka sebagian ulama menafsiri tawakal dengan berbaik sangka kepada Allah.
Kelima; menyerahkan hati kepada Allah, menghimpun penopang- penopangnya dan menghilangkan penghambat-penghambatnya. Maka dari itu ada yang menafsiri bahwa hendaknya seorang hamba berada di tangan Allah, layaknya mayit di tangan orang yang memandikannya, yang bisa membolak-baliknya menurut kehendak orang yang memandikan itu, tanpa ada pergerakan dan perlawanan.
Keenam : pasrah yang merupakan ruh tawakal, inti dan hakekatnya. Maksudnya, memasrahkan semua urusan kepada Allah, tanpa ada tuntutan dan pilihan, tidak ada kebencian dan keterpaksaan.
Referensi :
Ibnu Qayyin Al-Jauziyah, Pendakian Menuju Allah Penjabaran Kongkrit Iyyaka Na’budu Waiyyaka Nastain, Ter. Kathur Suhardi, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta, 1998, hlm. 189.