Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Apa Saja Macam-Macam Tawakal ?

Anonymous 4 years ago

Menurut Imam Al-Ghazali, tawakal adalah pengendalan hati kepada Allah Yang Maha Pelindung karena segala sesuatu tidak keluar dari ilmu dan kekuasaan-Nya, sedangkan selain Allah SWT tidak dapat membahayakan dan tidak dapat manfaat.

Apakah ada jenis-jenis atau macam-macam tawakal menurut ajaran Islam ? Terimakasih banyak.

31

Menurut Abdullah Bin Umar Ad-Dumaji, dalam bukunya yang berjudul RahasiaTawakkal sebab dan Musabab, apabila ditinjau dari sudut orang yang bersikap tawakal, tawakal itu dibagi menjadi dua bagian, yaitu : tawakal kepada Allah SWT dan tawakal kepada selain Allah, dimana pada masing-masing bagian ini terdapat beberapa macam tawakal :

Pertama : Tawakal kepada Allah SWT

Sikap tawakal kepada Allah terdapat empat macam, yaitu :

1. Tawakal kepada Allah dalam keadaan diri yang Istiqomah serta dituntun dengan petunjuk Allah, serta bertauhid kepada Allah secara murni, dan konsisten terhadap agama Allah baik secara lahir maupun batin, tanpa ada usaha untuk member pengaruh kepada orang lain, artinya sikap tawakal itu hanya bertujuan memperbaiki dirinya sendiri tanpa melihat pada orang lain.

2. Tawakal kepada Allah  dalam   keadaan   diri   yang   Istiqomah seperti disebutkan di atas, dan ditambah dengan tawakal kepada Allah SWT untuk menegakkan, memberantas bid’ah, memerangi orang- orang kafir dan munafik, serta memperhatikan kemaslahatan kaum muslim, memerintahkan kebaikan serta mencegah kemungkaran dan member pengaruh pada oaring lain untuk melakukan penyembahan hanya kepada Allah, ini adalah sikap tawakalnya para nabi dan sikap tawakal ini di wariskan oleh para ulama sesudah mereka, dan ini adalah sikap tawakkal yang paling agung dan yang paling bermanfaat di antara sikap tawakkal lainnya.

3. Tawakkal kepada Allah dalam hal mendapatkan kebutuhan seorang hamba dalam urusan duniawi-nya atau untuk mencegah sesuatu yang tidak diingini berupa musibah atau bencana, seperti orang yang bertawakkal untuk mendapatkan rezeki atau kesehatan atau istri atau anak-anak atau mendapatkan kemenangan terhadap musuhnya dan lain-lain seperti ini, sikap tawakkal ini dapat mendatangkan kecukupan bagi dirinya dalam urusan dunia serta tidak disertai kecukupan urusan akhirat, kecuali jika ia meniatkan untuk meminta kecukupan akhirat dengan kecukupan dunia itu untuk taat kepada Allah

4. Tawakkal kepada Allah dalam berbuat haram dan menghindari diri dari perintah Allah.

Kedua : Tawakal kepada selain Allah

Jenis tawakal ini terbagi menjadi dua macam, yaitu :

1. Tawakal kepada selain Allah dalam urusan-urusan yang tidak bisa dilakukan kecuali oleh Allah SWT.

Seperti orang-orang yang bertawakal kepada orang-orang yang sudah mati serta para thagut (sesuatu yang disembah selain Allah) untuk meminta pertolongan mereka, yang berupa kemengan, perlindungan, rezeki, dan syafa’at,inilah yang dinamakan syirik yang paling besar, karena sesungguhnya urusan-urusan ini dan yang sejenisnya tidak ada yang sanggup melakukannya kecuali Allah SWT.

Tawakal semacam ini dinamakan dengan tawakal tersembunyi, karena perbuatan seperti ini tak akan dilakukan kecuali oleh orang-orang yang mempercayai bahwa sesungguhnya mayat ini memiliki kekuatan tersembunyi di alam ini, bagi mereka tak ada perbedaan apakah mayat ini berupa mayat seorang Nabi, atau seorang wali atau thagut yang menjadi musuh Allah SWT.

2. Tawakal kepada selain Allah dalam urusan-urusan yang bisa dilakukan menurut dugaannya.

Ini adalah bagian dari syirik yang paling kecil. Yaitu seperti bertawakal kepada sebab-sebab yang nyata dan biasa, seperti seseorang yang bertawakal kepeda seseorang pemimpin atau raja yang mana Allah telah menjadikan ditangan pemimpin itu rezeki atau mencegah kejahatan dan hal-hal yang serupa lainnya. Ini adalah syirik yang tersembunyi. Oleh karena itu dikatakan : memperhatikan kepada sebab-sebab adalah perbuatan syirik dalam tauhid, karena amat kuatnya pautan hati serta sandaran hati kepada sebab-sebab itu.

Referensi : Abdullah Bin Umar Ad-Dumaji, RahasiaTawakkal sebab dan Musabab, Terj. Kamaluddin Sa’diatulharamaini, Pustaka Azzam, Jakarta,2000,hlm. 125.

Tawakal merupakan suatu sikap terpuji yang dimiliki oleh orang-orang yang beriman. Di mana kehidupan orang-orang bertawakal akan sejahtera di dunia dan di akhirat dengan memiliki sikap tersebut. Dalam ajaran Islam sikap tawakal terbagi dalam tiga macam sebagai berikut.

1. Tawakal Pada Pekerjaan Yang Mempunyai Sebab dan ‘Illat.

“Tawakal yang mempunyai sebab dan ‘illat” adalah mengharuskan manusia berusaha terlebih dahulu sebatas kemampuan yang dimilikinya, kemudian bertawakal kepada Allah SWT. Ajaran Islam menganjurkan pemeluknya untuk berusaha, tetapi pada saat yang sama dituntut juga untuk berserah diri kepada Allah SWT.

Sebuah kisah pada masa Rasulullah SAW ada seorang sahabat Nabi Muhammad SAW, yang menemui beliau di masjid tanpa terlebih dahulu menambatkan untanya. Ketika itu Nabi Muhammad SAW menanyakan tentang unta sahabat tersebut, lalu sahabat menjawab, “Aku telah bertawakal kepada Allah SWT.” Kemudian Nabi Muhammad SAW meluruskan kekeliruan sahabat tersebut dengan bersabda, “Tambatlah terlebih dahulu untamu kemudian setelah itu bertawakallah.”

Manusia memiliki keterbatasan dalam segala hal, sedangkan Allah SWT adalah zat yang Maha Kuasa. Oleh karena itu, perwakilan kepada manusia berbeda dengan perwakilan kepada Allah SWT. “Jika mewakilkan kepada manusia untuk melaksanakan sesuatu, maka anda telah menugaskan wakil anda itu untuk melaksanakan hal tersebut, di mana yang menyerahkan tidak perlu lagi melibatkan diri”.

Dikutip dalam Kamus Al-Munjid oleh Imam Ja’far Ash-Shadiq, misalnya; akar kata wakil di artikan sebagai “menyerahkan, membiarkan, serta merasa cukup”. Dalam arti kata pekerjaan tersebut dikerjakan oleh seorang wakil.” Di samping itu juga, dalam hal menjadikan Allah SWT sebagai wakil, manusia dituntut untuk melakukan sesuatu yang berada dalam batas kemampuannya terlebih dahulu.

Tawakal bukan berarti penyerahan secara mutlak kepada Allah SWT, akan tetapi penyerahan tersebut harus didahulu dengan berusaha. Setelah itu menyakini bahwa Allah SWT yang mewujudkan segala sesuatu yang terjadi di alam raya. Sebagaimana manusia yang bertawakal harus menjadikan kehendak dan tindakannya sejalan dengan kehendak Allah SWT. Seorang muslim yang bertawakal sepenuhnya kepada Allah SWT tentu akan senantiasa mengikuti segala petunjuk Allah dan Rasul-Nya, dengan demikian tawakal tidak berarti pasif.

Orang muslim yang taat mengikuti petunjuk Tuhan dan Rasul-Nya justru akan menjadi dinamis dan aktif dalam menjalani hidupnya. Hal ini tidak sedikit ayat Al-Qur’an dan hadis Nabi SAW, yang menganjurkan orang muslim senantiasa berusaha dan berjuang dengan penuh semangat dalam mengarungi lautan hidup di dunia untuk memenuhi hajat hidupnya. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Jumu’ah ayat 10;

Artinya: Apabila salat telah ditunaikan, bertebarlah kamu dimuka bumi dan carilah karunia (rizki) dari Allah dan ingatlah kepada Allah sebanyak- banyaknya agar kamu beruntung.”

Dalam sabda Nabi Muhammad SAW, yang berkaitan dengan usaha dan ikhtiar yaitu sebagai berikut;

“Jika kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya, niscaya Allah akan memberikan rezeki kepada kalian seperti seekor burung, pagi-pagi ia keluar dari sarangan dalam keadaan lapar dan pulang di sore hari dalam keadaan kenyang.”(H.R. At-Tirmidzi).

Hadis di atas menjelaskan bahwa tawakal adalah gerakan yang dilakukan dengan penuh gairah dan semangat. Misalnya burung, untuk memperoleh butir-butir rizki yang Allah SWT sediakan di muka bumi ini. Burung tersebut tidak hanya bermenung di atas dahan pohon atau sarangnya saja. Burung tersebut harus terbang dan terkadang harus menempuh jarak yang cukup jauh, bahkan kadang- kadang berimigrasi dengan menempuh jarak sampai ribuan mil. Itulah makna tawakal sebagaimana yang dimaksudkan oleh Nabi SAW dalam hadisnya di atas.

Apabila tawakal itu dikaitkan dengan masalah rizki yang didapatkan manusia, maka “rizki juga harus dicari oleh manusia dan terkadang harus mencarinya di dalam laut, bahkan di dasar laut, di sungai, di dalam perut bumi, bahkan di atas gunung yang menjulang tinggi, menjual jasa dan sebagainya”. Manusia yang bertawakal adalah insan yang senantiasa bergerak dinamis dan aktif dengan penuh gairah dan antusias dalam mendayung bahtera hidupnya, demi meraih apa yang bermanfaat untuk kesejahteraan hidup di dunia dan kebahagiaan di akhirat nanti.

Syariat Islam memuji orang-orang yang bertawakal, pengaruh tawakal akan tampak dalam gerakan hamba dengan usahanya untuk menggapai tujuan. Usaha hamba itu bisa berupa mendatangkan manfaat yang belum didapat, seperti mencari penghidupan, ataupun menjaga apa yang sudah ada. Dengan usaha manusia juga bisa untuk mengantisipasi bahaya yang datang, seperti menghindari serangan atau bisa juga menyingkirkan bahaya yang sudah datang, seperti berobat saat sakit. Oleh karena itu, dalam mewujudkan tawakal bukan berarti meniadakan usaha.

Ibnu Rajab menegaskan, bahwa tawakal tidak serta merta menafikan usaha untuk memilih sebab-sebab yang telah ditetapkan Allah SWT, dan tidak pula menafikan menjalani sunnatullah yang telah ditetapkan. Menjalani sebab dilakukan oleh anggota tubuh, sedangkan tawakal dilakukan oleh hati. Manusia diharuskan berusaha dalam batas-batas yang dibenarkan, di sertai dengan ambisi yang meluap-luap untuk meraih sesuatu. Akan tetapi ketika gagal meraihnya, janganlah meronta atau berputus-asa serta melupakan anugerah yang telah Allah SWT berikan.

Sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur’an QS. Ar-Rad ayat 11;

Artinya: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”  

Ayat di atas menjelaskan bahwa Allah SWT selalu mengikuti manusia dengan memerintahkan malaikat-malaikat penjaga untuk mengawasi apa saja yang dilakukan manusia untuk mengubah diri dan keadaan mereka, yang nantinya Allah akan mengubah kondisi mereka itu. Sebab, Allah SWT tidak akan mengubah nikmat atau bencana, kemuliaan atau kerendahan, kedudukan atau kehinaan. Kecuali jika orang-orang itu mau mengubah perasaan, perbuatan, dan kenyataan hidup mereka. Maka, Allah SWT akan mengubah keadaan diri mereka sesuai dengan perubahan yang terjadi dalam diri dan perbuatan mereka sendiri.

Meskipun Allah mengetahui apa yang bakal terjadi dari mereka sebelum hal itu terwujud, tetapi apa yang terjadi atas diri mereka itu adalah sebagai akibat dari apa yang timbul dari mereka. Jadi, akibat itu datangnya belakangan waktunya sejalan dengan perubahan yang terjadi pada diri mereka. Semua ini merupakan hakikat yang mengandung konsekuensi berat yang dihadapi manusia. Maka, sunnah-Nya pada manusia itu berlaku sesuai dengan sikap dan perbuatan manusia itu sendiri, dan berlakunya juga pada bagaimana perilaku mereka dalam menyikapi sunnah ini.

Dalil mengenai masalah ini sangat jelas dan tidak memerlukan takwil. Di samping konsekuensi ini, maka dalil ini menunjukkan betapa Allah SWT telah menghormati makhluk yang berlaku pada mereka kehendak-Nya bahwa dengan amalannya itu menjadi sasaran pelaksanaan kehendak Allah SWT. Sesudah menetapkan prinsip ini, maka susunan redaksional ayat ini membicarakan bagaimana Allah SWT mengubah keadaan kaum itu kepada yang buruk. Karena mereka mengubah keadaan diri mereka kepada yang lebih buruk, maka Allah SWT pun menghendaki keburukan bagi mereka. Dari penjelasan ayat di atas, maka dapat dipahami bahwa Allah SWT memerintahkan malaikat-malaikat penjaga untuk mengawasi setiap langkah manusia dalam mengubah diri dan keadaan mereka.

Allah SWT telah berfirman dalam Al-Qur’an “Allah tidak akan mengubah kemuliaan atau kerendahan, kecuali manusia itu sendiri yang mengubahnya”. Dalam hal ini, apabila manusia berkeinginan untuk berusaha atau berkehendak mengubah dirinya dalam hal kebaikan, maka Allah akan memberikan kebaikan kepada manusia tersebut. Begitu juga sebaliknya, apabila manusia mengubah diri dalam hal keburukan. Maka Allah SWT akan mengubahnya dalam suatu hal keburukan.

2. Tawakal Dalam Urusan Yang Tidak Ber’illat dan Tidak Bersebab

Tawakal dalam urusan yang tidak ber’illat dan tidak bersebab misalnya adalah kematian yang menimpa anak secara tiba-tiba atau harta benda yang terbakar tiba-tiba. Di saat seperti ini manusia tidak boleh lemah dan berputus-asa, tetapi bersabarlah”.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an QS. Al-Bagarah ayat 214;

Artinya: Ataukah kamu kira bahwa kamu akan masuk ke dalam syurga, padahal belum datang kepada kamu seumpama yang pernah datang kepada orang yang telah lalu sebelum kamu; telah menimpa kepada mereka kesusahan, kecelakaan dan digoncangkan mereka sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman sertanya: Bilakan pertolongan Allah? Ketahuilah! Sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.

Ayat di atas menjelaskan bahwa “belum datang kepada kamu seumpama yang pernah datang kepada orang yang telah lalu sebelum kamu.” Yaitu Nabi- nabi dan Rasul Allah SWT dan orang-orang yang berjuang mengikuti jejak beliau dalam menegakkan kebenaran dan pelajaran Tuhan. Di mana “telah menimpa kepada mereka kesusahan, kecelakaan, dan digoncangkan mereka.” Kesusahan karena kekurangan harta benda dan kemelaratan. Kecelakaan karena penyakit atau luka-luka. Dan kegoncangan karena dikejar-kejar, dihina dan dibunuh. Percobaan hidup yang berbagai warna itu tidak lain daripada penggemblengan jiwa dan latihan. Atau laksana emas yang dibakar, dititik dan ditempa yang gunanya untuk membersihkannya daripada campuran logam lain, sehingga tulen 24 karat. Begitu juga dengan segala cobaan yang Allah SWT berikan guna untuk membuat orang menjadi Shafiy, dan bersih.

Firman Allah selanjutnya “Sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman sertanya: Kapan pertolongan Allah akan datang.” Kalau sudah sampai Rasul sendiri, dari berat rintangan itu sampai bertanya kapan pertolongan Allah akan datang, dan orang-orang beriman bersama menuruti beliaupun telah sama mengeluh demikian, niscaya sudahlah sangat memuncaknya rintangan itu, sehingga pertanyaan demikian seakan-akan telah membayangkan nyaris atau dekat dengan sikap putus-asa. Disaat rintangan tidak ada, semua orang mudah saja menyebut bahwa pertolongan Allah akan datang. Tetapi “apabila kesusahan, kecelakaan dan kegoncangan itu benar-benar telah datang, seakan-akan tertutuplah segala pintu dan tidaklah nampak harapan”. Tetapi harus di ingat, bahwa setiap kesusahan dan cobaan yang dihadapi akan mendapatkan hasil yang menyenangkan. Oleh karena itu bersabarlah dalam menjelajahi kehidupan ini demi mencari ridha Allah SWT.

3. Tawakal Dalam Meraih Apa Yang Dicintai oleh Allah SWT Berupa Iman

Yang dimaksud bentuk “tawakal dalam meraih apa yang dicintai oleh Allah SWT berupa iman” adalah seseorang yang berusaha dengan sebab-sebab tertentu, tanpa hatinya tergantung kepada sebab tersebut. Serta dia menyakini bahwa itu semua hanyalah sebab semata, dan Allah SWT yang menakdirkan dan menentukan hasil dari usahanya. Maka tawakal semacam inilah yang diperbolehkan dalam agama Islam. Oleh karena itu, dengan tawakal semacam ini membuat beban hidup manusia akan berkurang dan tidak menjadikan manusia tersebut menjadi stress.

Stress muncul ketika manusia merasa kecewa dengan keadaan yang ada, misalnya manusia kecewa dengan hasil usaha yang diperoleh. Hasil besar yang diharapkan ternyata kenyataannya sangat kecil, maka kekecewaan itulah yang bisa memicu stress”. Tetapi bagi orang yang bertawakal, mereka tidak akan kecewa. Orang bertawakal akan menyikapi keadaan tersebut dengan tenang, karena bagi mereka hasil usahanya baik besar ataupun kecil sepenuhnya tergantung atas izin Allah SWT.