Ibn Masruq mengatakan bahwa tawakal adalah kepasrahan kepada ketetapan takdir Allah SWT. Apa manfaat dan hikmah yang kita dapat ketika kita berTawakal ? Terimakasih banyak atas informasinya ya kak.
Tawakal merupakan bentuk penyerahan diri atau segala persoalan kepada Allah dan bersandar kepada-Nya. Dengan demikian hati seseorang selalu bersandar dan bergantung kepada Allah SWT. Oleh karena itu, secara umum, manfaat yang akan kita dapat ketika kita bertawakal adalah sebagai berikut :
- Tidak mudah putus asa jika gagal dalam usaha.
- Lebih tenang dalam menjalani kehidupan.
- Terhindar dari rasa sedih yang berkepanjangan.
- Jika berhasil dalam usaha tidak bergembira secara berlebihan.
- Tidak menjadi orang yang sombong dan takabur.
Hikmah Tawakal
Hikmah tawakal antara lain,
1. Dicukupkan rezekinya oleh Allah SWT dan merasakan ketenangan, sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah SWT :
Artinya : “Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka- sangkanya. dan Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah Mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (Qs. At-Thalaq : 3)
Melihat ayat di atas, dapat dipahami bahwa jika urusannya dalam tanggungan Allah SWT yang Maha Kaya, Maha perkasa lagi Maha Penyayang, maka keperluannya sangat mudah sekali terpenuhi, akan tetapi hikmah ilahi menghendaki perkara itu ditunda sampai waktu yang tepat.
Oleh karena itu Allah SWT berfirman yang artinya : “Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya”. Yakni qadha dan qadharnya pasti terlaksana serta Dia (Allah SWT) telah menentukan waktu dan ukurannya, tidak lebih dan tidak kurang.
2. Dikuatkan imannya, dijauhkan dari setan, sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah SWT:
Artinya : “Sesungguhnya syaitan itu tidak ada kekuasaanNya atas orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Tuhannya.” (Qs. An-Nahl : 99)
Melihat ayat di atas, dapat dipahami bahwa dengan tawakal mereka kepada-Nya, Allah singkirkan gangguan syaitan, sehingga tidak ada jalan bagi setan untuk masuk menguasainya.
Tawakal merupakan suatu sikap yang hanya dimiliki oleh orang-orang beriman. Dari sikap ini akan membuahkan hasil yang sangat bermanfaat dan berguna bagi kehidupan orang-orang yang beriman
Manfaat dan keuntungan yang kita dapat ketika kita bertawakal kepada Allah SWT adalah sebagai berikut,
1. Terwujudnya Iman
Seringkali dijumpai dalam firman-Nya, Allah Ta’ala menyandingkan antara tawakal dengan orang-orang yang beriman. Hal ini menandakan bahwa tawakal merupakan perkara sangat agung yang tidak dimiliki kecuali oleh orang- orang beriman. Tawakal bagian dari ibadah hati yang akan membawa pelakunya ke jalan kebahagiaan didunia dan akhirat. Berdasarkan kebeiringan antara iman dan tawakal, maka tidak diragukan lagi bahwa di antara buah tawakal yang paling agung adalah realisasi iman seorang hamba.
Sangat perlu untuk diperhatikan bahwa tidak ada iman kecuali dengan tawakal, begitu juga sebaliknya tidak ada tawakal kecuali dengan iman. Ibnu ‘Abas menjadikan tawakal sebagai “gabungan iman”. Dan mengenai hal ini, Sa’id bin Jubir mengatakan, “tawakal itu setengah dari iman”.
Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Maidah ayat 23,
Artinya: “Dan hanya kepada Allah hendaknya kalian bertawakal, jika kalian benar-benar orang yang beriman.”
Ayat di atas menjelaskan bahwa semua orang yang beriman bertawakal kepada Allah SWT. Barang siapa bertawakal kepada Allah SWT, maka Allah akan memelihara atau menjaganya. Di antara tugas orang yang bertawakal adalah “mengerjakan segala sesuatu atas apa yang telah diwajibkan oleh Allah SWT, dan menyediakan segala keperluan yang bisa membuat kaum mukmin memperoleh kemenangan, baik yang berupa bantuan materi atau moril”.
Disebut juga dalam Al-Qur’an dan tafsirnya bahwa surat Al-Maidah ayat 23 menjelaskan bahwa setelah terungkap sikap kaum Nabi Musa dalam hal memasuki tanah suci dan berdiam di dalamnya, maka dua orang utusan dari kaum Nabi Musa yang memang bertawakal kepada Allah dan telah diberi kenikmatan dan memperoleh keridhaan-Nya, menganjurkan kepada teman-temannya agar mereka segera memasuki pintu Baitul Makdis. Kedua orang shaleh tersebut adalah Yosua bin Nur dan Kalaeb bin Yefuen. Apabila mereka telah memasukinya pasti mereka akan menang dan dapat mengusir penduduknya yang kuat itu. Karena kemenangan itu diperoleh atas pertolongan Allah SWT yang telah dijanjikan dan hal itu pasti akan ditepati-Nya.
Dari kedua penafsiran surat Al-Maidah ayat 23 di atas dapat disimpulkan, bahwa diperintahkan kepada orang beriman untuk bertawakal kepada Allah SWT dalam segala hal. Agar memperoleh kemenangan dalam hidupnya, sebab Allah SWT akan menolong hamba-Nya yang bertawakal dalam menyediakan segala keperluannya dan ini janji Allah Ta’ala yang tidak bisa diragukan lagi.
2. Merasa Cukup dalam Kehidupan
Ibnu Qayyim mengatakan bahwa Allah SWT memberikan sesuatu itu tergantung pada orang yang bertawakal kepada-Nya, memberi kecukupan kepada orang yang berlindung kepada-Nya, memberi rasa aman kepada orang yang takut kepadanya, memberikan perlindungan kepada orang yang meminta pertolongan. Oleh karena itu, barang siapa berlindung meminta pertolongan dan bertawakal kepada-Nya, maka Allah SWT akan melindungi dan menjaga serta memelihara dirinya. Hal ini merupakan balasan yang paling agung, di mana Allah SWT telah berjanji untuk memberikan balasan sendiri kepada orang yang bertawakal.
Allah SWT berfirman dalam Q.S. Ath-Thalaaq ayat 3,
Artinya: “Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya”.
Ayat di atas menjelaskan bahwa barang siapa yang menyerahkan urusannya kepada Allah dan memasrahkan kebebasannya kepada Allah SWT, maka Dia akan mencukupinya dalam hal yang menyulitkannya di dunia dan di akhirat. Maksudnya, hamba itu mengambil sebab-sebab yang dijadikan Allah, termasuk sunnah-sunnah Allah dalam kehidupan ini, dan menunaikannya dengan cara yang sebaik-baiknya. Kemudian menyerahkan urusannya kepada Allah SWT dalam sebab-sebab yang tidak diketahuinya dan tidak dapat ia capai pengetahuannya.
Sebagaimana riwayat dari Ibnu Abbas, “Wahai anakku, sesungguhnya aku ingin mengajarkan kepadamu beberapa kalimat, “Ingatlah kepada Allah SWT, maka Allah SWT akan mengingatmu. Bila engkau meminta, mintalah kepada Allah. Dan bila engkau memohon pertolongan, mohonlah pertolongan kepada Allah SWT. Dan ketahuilah bahwa seandainya suatu umat bersepakat untuk memberikan kemanfaatan kepadamu, mereka tidak akan memberikannya kepadamu, kecuali apa yang telah dituliskan Allah SWT untukmu. Dan seandainya mereka hendak menimpakan mudarat kepadamu, maka mereka tidak akan menimpakannya kepadamu kecuali atas apa yang telah dituliskan Allah SWT untukmu.
Sesungguhnya Allah Ta’ala pasti melaksanakan hukum-hukum-Nya pada makhluk menurut apa yang dikehendaki Allah SWT. Dan Allah telah membuat untuk segala sesuatu ketentuan dan waktu. Maka, janganlah kamu bersedih wahai orang mukmin, bila kamu ketinggalan sesuatu yang kamu inginkan atau yang kamu harapkan, karena segala sesuatu itu tergantung pada waktu dan ditentukan dengan ketentuan yang khusus.
Sebagaimana firman-Nya dalam QS. Ar-Ra’d, 13:8,
Artinya “Dan segala sesuatu pada sisi-Nya ada ukurannya”.
3. Lahirnya Kekuatan Hati, Keberanian, Keteguhan, dan Perlawanan Terhadap Musuh.
Di antara buah tawakal yang paling agung lainnya adalah bahwa Allah SWT memberikan kekuatan hati, keteguhan, keberanian, dan perlawanan terhadap musuh sekuat apapun musuh tersebut. orang yang bertawakal tidak akan dibelenggu ketergantungan kepada makhluk yang lemah, dan orang tersebut mencukupkan diri dengan Allah yang Maha Berkuasa karena kenyakinannya terhadap Allah SWT. Maka akan timbul keberanian yang luar biasa. Hal itu tampak pada keberanian mujahidin yang sering kali jumlah dan kekuatan fisik serta perlengkapan materi mereka sangat minim dibandingkan dengan apa yang dimiliki musuh. Tapi mereka berhasil tegar dalam menghadapi musuh mereka, bahkan membuat musuh mereka ketakutan.
Allah SWT berfirman dalam QS. An-Nisa’ ayat 81,
Artinya: “Dan mereka (orang-orang munafik) mengatakan, “(kewajiban kami hanyalah) taat.” Tetapi, apabila mereka telah pergi dari sisimu (Muhammad), sebagian dari mereka mengatur siasat dimalam hari (mengambil keputusan) lain dari yang telah mereka katakan. Allah mencatat siasat yang mereka atur di malam hari itu, maka berpalinglah dari mereka dan bertawakalah kepada Allah. Maka cukuplah Allah yang menjadi pelindung.”
Ayat di atas menjelaskan bahwa mereka yang ditujukan kepada orang munafik itu berkata: “Taat”, tetapi apabila mereka telah berpisah daripada engkau Rasul, maka berbisik segolongan dari mereka itu, berlain dari apa yang mereka katakan”. Yakni ketika bermuka siang hari dengan Rasulullah SAW, semua mengatakan: “Taat”, setia dan patuh. Semuanya serentak menyatakan ketaatan. Namun hal tersebut dengan mulutnya saja mengaku taat sedangkan hatinya tidak. Kemudian pada malam hari, mereka yang hatinya tidak taat itu telah berkumpul lagi memperbisikan dalih mereka yang berbeda sama sekali daripada apa yang mereka ucapkan siang hari itu. “Maka Allah akan menuliskan apa yang mereka perbisikkan malam hari itu.” Tingkah laku mereka yang tidak jujur itu tidaklah terlepas dari catatan Allah SWT.
Maka berfirmanlah Allah “Lantaran itu, berpalinglah engkau dari mereka.” Jangan terlalu dihadapkan perhatian sehingga menyebabkan susah hati karena tingkah laku mereka itu. “Dan bertawakallah kepada Allah”. Karena pertolongan Allah bukanlah akan bergantung kepada ada atau tidaknya orang yang seperti itu. “Dan cukuplah dengan Allah sebagai pembela.” Sebab jaminan Allah tetap ada, dan Allah SWT akan membelamu.
4. Lahirnya Sikap Sabar dan Ketahanan
Apabila tawakal mendatangkan sifat sabar, maka sesungguhnya sabar merupakan sebab terbesar bagi tercapainya setiap kesempurnaan. Oleh karena itu, makhluk yang paling sempurna adalah yang paling sabar dan ia merupakan maqam (kedudukan) iman yang paling besar.
Jika kesabaran disandingkan dengan kepercayaan, maka akan melahirkan imamah (bersifat kepemimpinan) dalam agama.
Allah SWT berfirman dalam QS. As-Sajdah ayat 24,
Artinya: “Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar, dan mereka mempercayai ayat-ayat Kami.”
Ayat di atas menjelaskan bahwa mereka dapat mencapai derajat yang tinggi, menjadi imam dari kaum mereka (ditujukan kepada Bani Israil), apabila mereka bersabar. Dalam hal ini dapat diberi pedoman untuk barang siapa yang hendak menjadi pemimpin dari kaumnya. Maksudnya sesuatu yang mulia itu tidak akan tercapai, apabila mereka tidak mempunyai kesabaran dan langsung berputus- asa. Karena untuk naik ke tempat pimpinan tidaklah mudah. Bahkan banyak rintangan dan hambatan yang harus dilaluinya. Dalam hal ini Imam Ali bin Abu Thalib berkata: “sabar adalah kepala dari iman”, sebagaimana kepala manusia adalah hakikat sejati dari hidup manusia. Apabila kepala hilang, maka badan tidak ada artinya lagi.
Dilihat dari segi penafsiran lain, ayat di atas merupakan isyarat bagi minoritas muslim di Mekah pada saat itu, agar bersabar sebagaimana orang-orang pilihan Bani Israel telah bersabar. Menyakini sebagaimana orang-orang pilihan itu yakin. Sehingga mereka pantas menyandang predikat sebagai pemimpin kaumnya. Ayat ini juga menetapkan cara mendapatkan kepemimpinan dan kekuasaan, yaitu dengan bersabar dan yakin. Sedangkan perkara perpecahan dan perselisihan di antara Bani Israel setelah itu, maka urusannya diserahkan kepada Allah SWT.
5. Menahan Diri dari Penguasaan Syaitan
Dalam hal ini Allah SWT menjelaskan bahwa syaitan itu tidak memiliki kekuasaan apapun terhadap orang yang merealisasikan iman dan bertawakal kepada-Nya. Karena orang yang bertawakal kepada Allah SWT, akan diberi pelindungan cukup dari tipu muslihat musuh. Tokoh terdepannya adalah syaitan yang terkutuk, serta diberi kecukupan dalam segala urusan agama maupun dunianya.
Dengan demikian, Allah Ta’ala menjelaskan bahwa syaitan itu tidak memiliki kekuasaan apapun, maksud kekuasaan di sini terdapat dua pendapat yaitu;
Penguasaan diri, yang dalam hal ini masih terdapat dua pendapat antara lain; Syaitan tidak memiliki kekuasaan sama sekali atas diri mereka yang bertawakal, karena Allah SWT telah memalingkan kekuasaan syaitan dari orang yang bertawakal. Selanjutnya syaitan tidak memiliki kemampuan untuk menyeret manusia bertawakal mengerjakan perbuatan dosa yang tidak terampuni. Karena mereka yang beriman telah meminta perlindungan dari Allah SWT.
Kekuasaan dalam pengertian hujjah, artinya “syaitan tidak memiliki hujjah atas kemaksiatan yang diserukan kepada manusia yang bertawakal.”82 Dalam arti kata, Syaitan tidak akan mampu menyeret orang yang bertawakal kepada Allah SWT untuk melakukan hal-hal yang bisa menjerumuskan kedalam limbah kemaksiatan, Karena Allah SWT akan selalu melindungi orang-orang yang bertawakal kepada-Nya.
Buah Tawakal dalam Pandangan M. Quraish Shihab
Tawakal suatu sikap yang paling agung yang dimiliki oleh orang-orang yang beriman. Dan barang siapa yang bisa meraih sikap tawakal yang sempurna ini, maka hidupnya akan merasakan nikmat kebahagiaan di dunia dan kesejahteraan di akhirat. Buah dari sikap Tawakal menurut pandangan M.Quraish Shihab adalah sebagai berikut;
1. Lahirnya Sikap Sabar
Kata sabar diartikan sebagai “menahan”. Di mana kesabaran menuntut ketabahan dalam menghadapi sesuatu yang sulit, berat, dan pahit. Orang yang bertawakal kepada Allah SWT harus terima dalam menghadapi rintangan hidup dengan penuh tanggung jawab.
Sikap sabar merupakan perjuangan yang mengambarkan kekuatan jiwa pelakunya, sehingga mampu mengalahkan keinginan nafsunya. Dari sini tidak heran kalau puasa dinamai “sabar” karena esensi pokok dari ibadah untuk pengendalian diri yang berakhir dengan kemenangan.
Seseorang yang ditimpa malapetaka bila mengikuti kehendak nafsunya, orang tersebut akan meronta dan menggerutu dalam berbagai bentuk dan terhadap berbagai pihak, baik terhadap Allah SWT maupun manusia atau lingkungan. Akan tetapi bila dia menahan diri, dia akan menerima dengan penuh kerelaan atas malapetaka yang terjadi itu sambil menghibur hatinya dengan berkata, pasti ada hikmah dibalik yang telah terjadi itu. Sehingga semua itu diterimanya sambil mengharapkan sesuatu yang lebih baik dikemudian hari.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an QS. Luqman ayat 17,
Artinya: “Wahai anakku! Laksanakanlah salat dan suruhlah manusia berbuat yang makruf dan cegahlah mereka dari yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu, sesungguhnya yang demikian itu termasuk perkara yang penting”.
Ayat di atas menjelaskan tentang nasihat Luqman kepada anaknya, di mana nasihat tersebut berupa nasihat yang menjamin kesinambungan Tauhid serta kehadiran Ilahi dalam Qalbu sang anak. Nasihat tersebut bermacam-macam diantaranya adalah “menjelaskan bahwa engkau (anak) akan mengalami banyak tantangan dan rintangan dalam melaksanakan tuntunan Allah SWT”, karena itu “tabah dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu” dalam melaksanakan aneka macam tugasmu di dunia. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal- hal yang diperintahkan Allah SWT, sehingga tidak ada alasan untuk mengabaikannya.
2. Terwujudnya Sikap Sakinah dalam Hidup
Kata “Sakinah” yang berarti ketenangan, atau antonim dari guncangan. Sikap sakinah bisa dirasakan setelah sebelumnya terjadi situasi yang mencekamkan, baik karena bahaya yang mengancam jiwa, atau sesuatu yang mengeruhkan pikiran pada masa kini atau masa lalu.
Sikap sakinah dikaitkan dengan bala tentara Allah yang tidak terlihat. Dengan sikap sakinah akan mengantarkan seseorang untuk selalu berani walaupun sendirian. Sehingga betapapun mencekam atau mengancamnya situasi, dia selalu terlindungi atas izin Allah SWT.
Allah berfirman dalam Al-Qur’an QS. At-Taubah ayat 26,
Artinya: “Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang yang beriman, dan Allah menurunkan bala tentara (para malaikat) yang tidak terlihat olehmu, dan Allah menimpakan azab kepada orang-orang kafir. Itulah balasan bagi orang-orang kafir”.
Ayat di atas menjelaskan bahwa ketenangan yang diturunkan kepada “Rasul-Nya dan kepada orang-orang mukmin sejati dan menurunkan bala tentara yang kamu tidak melihatnya” dengan mata kepala tetapi kamu dapat merasakan kehadirannya, yakni para malaikat atau apapun yang tidak terlihat “dan Allah SWT menyiksa orang-orang yang kafir melalui pembunuhan, penawaran, luka, perampasan harta serta kekalahan dan demikianlah balasan yang dijatuhkan Allah terhadap orang-orang kafir yang menutupi kebenaran dan enggan menerimanya. Kemudian sesudah siksa yang mereka alami itu, yakni sekitar dua puluh hari setelah usainya peperangan itu Allah menerima taubat siapa yang dikehendaki- Nya dari kaum musyrikin, yang ternyata memiliki keinginan untuk beriman dan Allah Maha Pengampun lagi Maha penyayang.
Sikap sakinah harus bermula dengan mengosongkan hati dari segala sifat tercela, dengan jalan mengakui dosa-dosa yang telah diperbuat, kemudian memutuskan hubungan dengan masa lalu yang kelam dengan penyesalan dan pengawasan ketat terhadap diri menyangkut hal-hal yang akan datang. Sesudah itu disusullah dengan perjuangan dan memohon bantuan kepada Allah SWT supaya dapat menghiasi diri dengan ketabahan dan ketawakalan kepada Allah SWT.
3. Lahirnya Kasih Sayang Allah SWT
Kasih sayang yang menghiasi diri seseorang tidak luput dari rasa pedih yang dialami oleh jiwa pemiliknya. Rasa itulah yang mendorong orang yang bertawakal untuk mencurahkan kasih sayang kepada yang dirahmati. Kasih sayang dalam pengertian demikian adalah kasih sayang makhluk. Sedangkan kasih sayang Al-Khaliq (Allah) tidak demikian.
Kasih sayang Allah bersifat sempurna dan kekal selamanya, di mana setiap kali Allah menghendaki maka akan tercurahnya kasih sayang yang tidak bisa ditandingi dengan kasih sayang yang manusia miliki. “Kasih sayang Allah bersifat menyeluruh serta mencakup semua aneka macam kasih sayang yang tidak dapat dihitung atau dinilai sebagaimana yang manusia rasakan dalam kehidupan”.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an QS. Al-Imran ayat 31,
Artinya: Katakanlah (Muhammad), “jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.
Ayat di atas menegaskan bahwa rahmat dan kasih sayang Allah akan tercurahkan kepada hamba-hamba-Nya yang menjalin hubungan baik dengan- Nya, Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, yakni laksanakan apa yang diperintahkan Allah melalui aku (Nabi Muhammad), yaitu “beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan bertakwa kepada-Nya. Jika itu kamu laksanakan, maka kamu telah memasuki ke pintu gerbang meraih cinta Allah, dan jika kamu memelihara kesinambungan ketaatan kepada-Nya serta melaksanakan sunnah- sunnah Nabi SAW”.
Seseorang yang berusaha terus-menerus mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan amalan-amalan yang baik, pada akhirnya Allah akan mencintai orang tersebut. Dan apabila orang tersebut memohon kepada Allah SWT, maka Allah SWT akan mengabulkannya, begitu juga apabila manusia tersebut meminta perlindungan, maka pasti manusia tersebut akan dilindungi oleh Allah SWT dengan perlindungan-Nya yang hakiki.
Referensi :
- M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah: Pesan , Kesan dan Keserasian Al-Qur’an, vol.1, (Jakarta: Lentera Hati, 2002), h. 460-401.
- M. Quraish Shihab, Secercah Cahaya Ilahi Hidup Bersama Al-Qur’an, (Bandung: Mizan Pustaka, 2000)