Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Apa Makna Yang Terkandung di Dalam Surat Al-Kahfi?

AD Adi Supriyanto 9 years ago

Surah al kahfi|600x350

Surah Al-Kahf ("Gua") disebut juga Ashabul Kahf adalah surah ke-18 dalam Al-Qur'an. Surah ini terdiri atas 110 ayat, termasuk golongan surah-surah Makkiyah. Dinamai Al-Kahf dan Ashabul Kahf yang artinya Penghuni-Penghuni Gua. Kedua nama ini diambil dari cerita yang terdapat dalam surah ini pada ayat 9 sampai dengan 26, tentang beberapa orang pemuda (The Seven Sleepers) yang tidur dalam gua bertahun-tahun lamanya.

Apa makna yang terkandung di dalam Surat Al Kahfi?

28

Dalam surat Al-Kahfi, Allah SWT menceritakan tiga kisah masa lalu, yaitu :

  1. Kisah Ashabul Kahfi,
  2. Kisah pertemuan Nabi Musa A.S. dan Nabi Khaidir A.S. serta,
  3. Kisah Dzulqarnain.

Kisah Ashabul Kahfi mendapat perhatian lebih dengan digunakan sebagai nama surat dimana terdapat tiga kisah lainnya yang tersebut.

Hal ini tentu bukan kebetulan, tapi karena kisah Ashabul Kahfi, seperti juga kisah dalam al-Quran lainnya, bukan merupakan kisah semata, tapi juga terdapat banyak pelajaran (ibrah) didalamnya.

Berikut ini sedikit ringkasan cerita dari Ashabul Kahfi (Penunggu Goa):

Ashabul Kahfi adalah nama sekelompok orang beriman yang hidup pada masa Raja Diqyanus di Romawi, beberapa ratus tahun sebelum diutusnya Nabi Isa A.S.

Mereka hidup ditengah masyarakat penyembah berhala dengan seorang raja yang dzalim.

Ketika sang raja mengetahui ada sekelompok orang yang tidak menyembah berhala, maka sang raja marah lalu memanggil mereka dan memerintahkan mereka untuk mengikuti kepercayaan sang raja.

Tapi Ashabul Kahfi menolak dan lari, dikejarlah mereka untuk dibunuh. Ketika mereka lari dari kejaran pasukan raja, sampailah mereka di mulut sebuah gua yang kemudian dipakai sebagai tempat persembunyian.

Dengan izin Allah mereka kemudian ditidurkan selama 309 tahun di dalam gua, dan dibangkitkan kembali ketika masyarakat dan raja mereka sudah berganti menjadi masyarakat dan raja yang beriman kepada Allah SWT. (Ibnu Katsir; Tafsir Al-Quran Al-’Adzim; jilid:3).

Allah berfirman:

“(Ingatlah) tatkala pemuda-pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua lalu mereka berdo’a: “Wahai Tuhan kami berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)”
(QS Al-Kahfi:10)

Surah al-Kahf merupakan salah satu surah yang terdapat dalam al-Qur'an yang termasuk golongan surah Makkiyah dan terdiri atas 110 ayat.

Menurut mayoritas ulama, semua ayat dalam surah ini turun sekaligus sebelum nabi Muhammad SAW hijrah ke Madinah. Namun beberapa ulama mengecualikan beberapa ayat, yakni ayat pertama hingga ayat ke delapan. Ada juga yang mengecualikan ayat 28 dan 29, pendapat lainnya ada yang mengatakan ayat 107-110.

Surah ini dinamai al-Kahf yang secara bahasa artinya gua. Kisah ini diambil dari kisah sekelompok pemuda yang dikenal dengan sebutan Aṣḥ-Kahf yang berarti para penghuni gua. Kisah Aṣḥ Kahf ini terdapat dalam ayat 9 sampai 26, yaitu tentang pemuda yang bersembunyi dan ditidurkan Allah dalam gua selama tiga ratus tahun lebih lamanya.

Kisah Aṣḥ-Kahf telah dikenal sejak masa Rasul SAW, bahkan Rasulullah sendiri yang menamai surah ini dengan nama al-Kahf . Sebagaimana hadis yang diriwayatkan oleh Muslim dan Ab Daud melalui Ab Darda‟:

“Barang siapa yang menghafal sepuluh ayat dari awal surah al- Kahf, maka dia terpelihara dari fitnah dajjal”.

Dari hadis inilah para sahabat menunjuk kumpulan ayat-ayat dalam surah ini dengan nama al-Kahf.

Dalam surah ini, terdapat tiga kisah yang mengandung i'tibar dan pelajaran yang amat berguna bagi manusia dalam menjalani kehidupan manusia:

  • Pertama, cerita tentang para pemuda yang masuk ke dalam gua. Para pemuda ini memegang kepercayaan Tauhid, menurut mereka penguasa alam itu Esa, sehingga mereka tidak mau menyembah kepada selain Allah, dan mereka juga mempercayai adanya kehidupan sesudah mati, yaitu hari kiamat. Dalam cerita ini, para pemuda tersebut berusaha mempertahankan keyakinan mereka dan keimanan mereka yang bertentangan dengan keyakinan pihak penguasa di negeri mereka pada waktu itu. Mereka menjauh dan bersembunyi agar tidak dianiaya dan dipaksa untuk merubah keyakinan mereka.

  • Kisah yang kedua , pertemuan Nabi Musa dan Nabi Khidhir. Nabi Musa as diperintah Allah agar tidak puas dengan pengetahuan yang dimilikinya dengan mencari pengalaman dan mencari guru yang lebih bijaksana, yaitu orang yang lebih pandai dari dirinya. Dalam pertemuannya dengan Nabi Khidhir ini, ia mendapatkan tiga pengalaman berharga, dan membuat Nabi Musa as sadar, bahwa terdapat banyak hal yang belum diketahui dalam pengalaman hidup.

  • Kisah yang ketiga adalah tentang Dzul Qarnain. Disebutkan bahwasanya Dzul Qarnain mengembara ke bumi sebelah Barat dan bertemu dengan suatu kaum kemudian berkuasa terhadap kaum tersebut, ia menghukum mana yang salah dan memberi imbalan pada mereka yang berbuat kebaikan. Kemudian ia mengembara ke bagian bumi di sebelah timur dan melewati sebuah lembah di antara dua gunung, hingga sampai pada suatu kaum yang terancam dari bahaya Yajuj dan Majuj, dan membuatkan dinding bersama-sama dengan penduduk tersebut sebagai penghalang di antara para penduduk kaum tersebut dengan bahaya dan bencana yang dibawa Yajuj dan Majuj.

Menurut riwayat, Sabab Nuzul surah al-Kahf ini, adalah jawaban dari tiga pertanyaan yang diajukan oleh orang-orang Yahudi dengan perantara orang-orang Musyrik, yakni tentang roh, kisah Aṣḥ -Kahf, dan kisah Dzul Qarnain .

Masalah roh dijawab dalam surah al-Israa, sedangkan dua pertanyaan lainnya dibahas dalam surah al-Kahf.

Ibn jarir meriwayatkan dari jalur Ibn Isḥak dari seorang syaikh penduduk Mesir dari Ikrimah dari Ibn Abbas bahwa kaum Quraisy mengutus al- Naḍr ibn arith dan „Uqbah ibn Ab Mu'iṭ untuk menemui para pendeta Yahudi di Madinah dengan pesan “tanyai mereka tentang diri Muhammad! Berikan gambaran tentang dirinya! Dan beri tahu mereka tentang perkataannya, sebab mereka adalah pemeluk al-Kitab, dan mereka memiliki pengetahuan tentang para nabi yang tidak kita miliki.

Setibanya di Madinah, mereka bertanya kepada para pendeta Yahudi tentang Rasulullah SAW. mereka gambarkan keadaan serta sebagian ucapan beliau. Maka para pendeta itu berkata “Tanyai dia tentang tiga hal. Kalau dia memberi jawaban atas semua pertanyaan, maka dia memang nabi yang diutus. Jika tidak, maka dia hanya mengada- ada. Tanyai dia tentang pemuda di masa lalu yang sangat menakjubkan kisahnya, tentang seorang pria pengembara, yang teah mencapai ujung timur dan barat dunia. Dan tanyai dia tentang ruḥ”.

Setelah mereka bertemu dengan kaum Quraisy, mereka berkata: “Kami datang membawa keputusan antara kita dan Muhammad”. Lalu mereka menemui Rasulullah SAW dan menanyai ketiga hal tersebut. Nabi SAW menjawab: “aku akan beri tahu kalian jawabannya besok”. Tanpa mengatakan Insha Allah.

Sampai lima belas hari kemudian, Allah tidak menurunkan wahyu kepada Rasulullah berkenaan pertanyaan tersebut, Jibril juga tidak menemui beliau hingga penduduk Makkah gempar. Tidak diturunkannya wahyu membuat hati Nabi SAW merasa sedih, dan perbincangan penduduk Makkah memberatkan hatinya. Hingga akhirnya Jibril datang diutus Allah untuk menurunkan surah Aṣḥ Kahf , yang di dalamnya Allah SWT menegur kesedihan Nabi SAW atas penduduk Makkah, juga berisi jawaban mengenai pertanyaan mereka tentang para pemuda dan lelaki pengembara serta firman Allah yang artinya,

“Dan mereka bertanya tentang Ruh ”.

Dalam surah al-Israa ayat 85, Allah SWT berfirman,

“Tidakkah kamu diberi ilmu kecuali sedikit ”.

Firman ini ditujukan kepada orang-orang Yahudi yang merasa sombong dengan ilmu pengetahuan, sebab walau bagaimana pun juga mereka hanyalah manusia yang diciptakan Allah dan diberi ilmu pengetahuan sedikit. Sedangkan dalam al-Kahf, terdapat kisah tentang nabi Musa as dengan nabi Khidhir as yang sebelumnya belum pernah diketahui oleh orang-orang Yahudi. Dalam kisah ini, terlihat betapa sedikitnya ilmu nabi Musa as dibandingkan dengan nabi Khidhir as.

Tafsir al-Mishbah

Kisah Aṣḥ-Kahf

Quraish Shihab dalam menanggapi kisah Aṣḥ -Kahf tidak banyak mengungkapkan tentang Aṣḥ -Kahf. Akan tetapi dalam tafsirnya ia mengemukakan beberapa pendapat yang (waktu dan tempatnya) berdasarkan pada fakta sejarah. Aṣḥ -Kahf merupakan sekelompok pemuda yang beriman kepada Allah, yang tengah mengalami penindasan agama sehingga mereka mengasingkan diri ke dalam gua yang tersembunyi. Sementara itu, sejarah kuno mencatat adanya beberapa masa penindasan agama di kawasan Timur Kuno yang terjadi dalam kurun waktu yang berbeda. Dari beberapa peristiwa penindasan tersebut penindasan agama terjadi pada dua masa yang mereka anggap penting, dan salah satunya memiliki kaitan dengan kisah Aṣḥ Kahf .

Peristiwa pertama, terjadi pada masa kekuasaan raja-raja Saluqi. Pada saat itu, kerajaan dipimpin oleh Raja Antiogos IV yang bergelar Nabivanes (176-84 SM). Pada saat penaklukan singgasana Suriah, Antiogos dikenal sangat fanatik terhadap kebudayaan dan peradaban Yunani Kuno dan mewajibkan pada seluruh penganut Yahudi di Palestina yang telah masuk dalam kekuasaan Suriah sejak 198 SM, untuk meninggalkan agama Yahudi dan menganut agama Yunani Kuno. Antiogos mengotori tempat peribadatan Yahudi dengan meletakkan patung Zeus, Tuhan Yunani terbesar, di atas sebuah altar dan pada waktu-waktu tertentu mempersembahkan korban babi bagi Zeus. Terakhir Antiogos membakar habis naskah Taurat tanpa tersisa.

Berdasarkan bukti historis ini, pemuda-pemuda itu adalah penganut agama Yahudi yang tinggal di Palestina, atau tepatnya di Yarussalem. Diperkirakan bangunnya para Aṣḥ Kahf dari tidur panjang terjadi pada tahun 126 M, yaitu setelah Romawi menguasai wilayah Timur, atau 445 tahun sebelum masa kelahiran Nabi Muhammad SAW tahun 571 M.

Peristiwa kedua, terjadi pada masa imperium Romawi, saat Kaisar Hadrianus berkuasa (117-138 M). Kaisar memperlakukan orang-orang Yahudi sebagaimana yang dilakukan oleh Raja Antiogos. Pada tahun 132 M, para pembesar Yahudi mengeluarkan ultimatum bahwa seluruh rakyat Yahudi akan melakukan pemberontakan melawan kekaisaran Romawi. Mereka memukul mundur garnisun-garnisun Romawi di perbatasan dan berhasil merebut Yarussalem. Peristiwa ini diabadikan oleh orang-orng Yahudi dalam mata uang resmi mereka dan bertahan selama tiga tahun. Namun, setelah itu Hadrianus bergerak bersama pasukannya memberantas pemberontak-pemberontak Yahudi, Palestina jatuh dan Yarussalem dapat direbut kembali. Etnis Yahudi dibasmi dan para pemimpin mereka dibunuh.

Dari penuturan sejarah ini, bahwa para pemuda Aṣḥ Kahf merupakan penganut ajaran Yahudi, dan mereka diperkirakan bangun dari tidur panjang sekitar tahun 435 M, 30 tahun menjelang kelahiran Rasulullah SAW. Namun di sini Quraish Shihab lebih dominan setuju dengan peristiwa pertama, karena menurutnya penindasan yang dilakukan oleh raja Antiogos lebih sadis.

Quraish Shihab dalam tafsirnya memaparkan beberapa penemuan terhadap gua yang dimaksud dalam al-Qur'an dan membantah beberapa pendapat lainnya mengenai beberapa gua yang telah ditemukan sebelumnya, yang dianggap sebagai gua Aṣḥ b al-Kahf , termasuk gua Epsus yang telah banyak dikenal sebagai gua para Aṣḥ b al-Kahf .

Quraish Shihab mengutarakan pendapatnya dengan menyandarkan pada Ṭaba'ṭaba'i mengenai beberapa tempat yang dianggap sebagai gua Aṣḥab al-Kahf , ia menyebutkan lima tempat yang diduga sebagai tempat gua Aṣḥab al-Kahf :

  • Pertama , di Episus atau Epsus, sebuah kota tua di Turki sekitar 73 KM dari kota Izmir dan berada di suatu gunung di desa Ayasuluk. Gua ini berukuran sekitar satu kilometer. Gua ini populer di kalangan Nasrani dan sebagian umat Islam sebagai gua para Aṣḥab al-Kahf. Hanya saja di sekitar gua ini tidak ditemukan bangunan bekas adanya masjid atau rumah peribadatan. Selain itu, arahnya juga tidak sesuai dengan apa yang dilukiskan oleh al-Qur'an. Al-Qur'an melukiskan bahwa sinar matahari terbit dari sebelah kanan gua dan terbenam di arah kirinya, sehingga dengan demikian pintu gua terdapat di arah utara. Namun tidak demikian dengan keadaan gua ini;

  • Kedua , gua di Qasium dekat kota al- Ṣliḥiyyah di Damaskus;

  • Ketiga , gua al-atr ‟di Palestina

  • Keempat, gua yang ditemukan di daerah Skandinavia. Konon di sana ditemukan tujuh mayat manusia bercirikan orang-orang Romawi yang diduga sebagai Aṣḥab al-Kahf ;

  • Kelima , gua Rajib, berlokasi sekitar 8 KM dari kota Amman, ibu kota Yordania, di suatu kota yang bernama Rajib.

Dzul Qarnain

Dalam tafsir al-Mishbah, Quraish Shihab mengemukakan bahwa sebagian ulama menyatakan bahwa Qarnain adalah Alexander The Great dari Macedonia. Ada juga yang menyatakan bahwa dia adalah seorang penguasa Himyar (Yaman). Dengan alasan bahwa penguasa Yaman menggunakan kata Dzu pada awal namanya seperti Dzu Muwas dan Dzu Yasin. Konon namanya adalah Abu akar ibn Afriqisi. Ia bersama pasukannya menelusuri Mediterania, malampaui Tunis dan Maroko, lalu membangun kota di Tunis dan menamainya dengan namanya Afriqiyah sehingga seluruh wilayah di benua itu dinamai Afrika sampai sekarang. Dia juga dinamai Duzl Qarnain karena mencapai wilayah yang dinamai Kedua tanduk Matahari.

Riwayat lain menyatakan bahwa dia adalah Kaisar Imperium Persia, yakni Koresy (539-560 SM). Tokoh ini terkenal shaleh dan bijaksana. Dia menaklukkan Mesir, lalu menyeberang ke Yunani dan terus ke arah barat, lalu melanjutkan perjalanannya ke arah timur. Perjalanannya ke barat adalah untuk menaklukkan Lidia dan melakukan agresi terhadapnya. Koresy berhasil menaklukannya tetapi akhirnya memaafkannya, walaupun dia boleh dan mampu menyiksanya. Perjalanan ke Barat ini kiranya sampai pada pantai barat Asia Kecil. Selanjutnya perjalanan ke timur melalui padang pasir terbesar, (padang pasir ini terdapat di Afrika Utara yang mencakup bagian negara Arab di Maghrib, Mesir, Sudan, Mali, Negeria dan Cad yang luas keseluruhannya delapan juta kilometer persegi dan panjangnya sekitar lima ribu kilometer).

Dinding yang dibangun terdapat di daerah pegunungan Qafq , di suatu tempat yang dikenal dengan nama Dariul dalam bahasa Turki) atau Bab al Ḥadid tepatnya di suatu tempat antara kota Taplis dan Wilady Kiukuz. Dinding ini merupakan satu-satunya dinding yang dibangun dengan batu dan besi. Salah satu yang mendukung pendapat ini adalah adanya suatu sungai yang dinamai sungai Cyruz yang merupakan nama bagi Koresy di kalangan orang-orang Barat.

Sayyid Quthub dalam catatan kakinya menulis bahwa telah ditemukan suatu dinding di dekat kota Tirmidz yang dikenal dengan nama Bab al Ḥadid. Pada abad ke XV peneliti Jerman, S. Berger melewati dinding tersebut dan mencatat pengalamannya dalam karya tulisnya. Demikian sejarahwan Spanyol Clavigo dalam perjalanannya tahun 1403. Dia menulis, bahwa dinding yang ada di Bab al Ḥadid berada pada jalur Samarqand di India.

Menurut Ibnu Asyur, sebagaimana yang dikutip oleh Quraish Shihab, Dzul Qarnain adalah seorang penguasa dari China. Ada lima alasan yang dikemukakannya:

  • Pertama , penduduk China sejak dahulu dikenal sangat mahir dalam berproduksi dan siasat.

  • Kedua , kebanyakan raja-raja mereka dikenal adil dan bijaksana dalam memerintah.

  • Ketiga , salah satu ciri mereka adalah memanjangkan rambut dan mengikatnya menjadi dua ikatan.

  • Keempat , di wilayah antara Cina dan Mongolia terdapat tembok yang sangat besar yang tiada bandingannya yang dikenal dengan nama The Great Wall (Tembok Agung).

  • Kelima , riwayat melalui Ummu Habibah, dari Zainab binti Jaḥsh, bahwa pada suatu malam Nabi SAW keluar rumah lalu bersabda, “Sungguh celaka orang Arab, akibat suatu bencana yang telah dekat datangnya. Hari ini terbuka dinding Yajuj dan Majuj sebesar ini (sambil meletakkan ujung jari telunjuk ke ibu jari ”

Hancurnya kekuasaan Arab terjadi di tangan Mongol di Baghdad, memberikan anggapan bahwa yang dimaksud dengan Yajuj dan Majuj adalah orang-orang Mongol dan dinding yang dimaksud adalah yang terdapat antara wilayah Mongolia dan Cina dan yang membangunnya adalah salah satu raja yang berkuasa di antara mereka. Namanya Qin Syi Huang yang hidup sekitar 247 SM. Dengan demikian, Alexander dari Macedonia lebih dahulu satu abad dari Qin Syi. Negeri-negeri Cina pada waktu itu menganut agama Konfucius.

Dari beberapa pendapat yang telah dikemukakannya, Quraish Shihab merasa ada keganjilan, pasalnya meskipun Qin memulai membangun benteng Agung Cina pada 221 SM dan tujuannya untuk menghalangi penyerangan suku-suku yang masih berkeliaran di balik pegunugan (nomaden). Tetapi tembok tersebut bukan dia yang menyelesaikannya, padahal dalam al-Qur'an disebutkan bahwa Qarnain yang memulai dan yang menyelesaikannya. Selain itu, Qin juga bukan merupakan raja yang baik terhadap rakyatnya. Dia sangat ketat dan berusaha untuk melakukan standarisasi pemikiran masyarakatnya seperti standarisasi hukum, timbangan dan tolak ukur. Pengikut-pengikutnya percaya bahwa secara naluriah, mereka adalah orang jahat dan mereka perlu diatur dengan undang-undang yang sangat ketat. Karena itu dia membakar banyak sekali literatur yang bersumber dari ajaran Konfucius yang dinilainya tidak mendukung kebebasan berfikir.

Sementara ini, para ilmuan mengemukakan bahwa tujuan perjalanan al-Qarnain adalah untuk mempertemukan Barat dan Timur. Barat memilki cara pandang berfikir yang berbeda dengan Timur. Barat mengandalkan akal, penalaran dan analisis untuk membaca fenomena alam. Hal ini menjadikan mereka tidak jarang untuk meninggalkan nilai-nilai spiritual. Sedangkan Timur mengandalkan intuisi dan penyucian jiwa guna meraih kebenaran. Timur hampir-hampir saja mengabaikan nalar, sehingga mereka lebih banyak memandang dengan jiwa daripada akal.

Mempertemukan bahkan menyatukan di antara dua hal yang berbeda memang tidaklah mudah. Mempertemukan dan meyatukan akal dan jiwa, nalar dan rasa, adalah keinginan Qarnain , akan tetapi sebagaimana yang dikutip Shihab dari penyair Inggris Rudyard Kipling, “East is east, and west is west and they can never meet” timur adalah timur, barat adalah barat, dan mereka tidak akan dapat bertemu).

Banyak pendapat dan riwayat yang menyebutkan tentang Qarnain, namun yang perlu digaris bawahi di sini adalah tujuan utama al-Qur‟an menguraikan kisah tokoh ini di dalam al-Qur‟an adalah sebagai dhikran yaitu sebagai peringatan dan pelajaran bagi umat Islam, khususnya bagi para penguasa, tanpa perlu menguraikan siapa, di mana dan kapan terjadinya peristiwa tersebut.

Yajuj dan *Majuj*

Dalam tafsir al-Mishbah, secara bahasa, Yajuj dan Majuj berasal dari kata al-awjah ada juga yang mengatakan berasal dari kata al-awj yakni berkecepatan berlari. Penamaan ini lahir karena mereka adalah suku yang bercampur baur. Jika demikian, maka kata tersebut merupakan terjemahan dari bahasa Arab yang digunakan oleh suku penyerang.

Ada juga yang mengatakan bahwa kata tersebut asli berasal dari bahasa Cina yang berubah mengucapannya ke dalam bahasa Arab. Thaba'thaba'i menulis bahwa dalam bahas Cina kata tersebut adalah Munkuk dan Muncuk . Mereka adalah keturunan putra Adam as, yakni Yafist, leluhur orang Turki. Ada juga yang mengatakan mereka adalah orang-orang Mongol. Sedangkan Ibnu 'Asyur cenderung memahami bahwa Yajuj dan Majuj adalah aneka suku atau satu bangsa yang memiliki dua suku besar yaitu Tartar dan Mongol. Atau asal mereka adalah Majuj lalu suku-sukunya disebut dengan berbagai nama, antara lain Yajuj, Tartar, Turkuman dan Turki.

Quraish berpendapat bahwa Yajuj dan Majuj adalah bangsa Mongol dan Tartar. Sejarah mencatat bahwa Janiskhan (1167-1227 M) adalah seorang panglima dari Mongolia yang berhasil mendirikan kerajaan besar yang menguasai wilayah antara Cina dan Laut Hitam. Sedangkan cucunya yakni Hulako (sekitar 1217-1265 M)berhasil menaklukkan penguasa-penguasa Persia dan menaklukkan dinasti Abbasiah di Baghdad pada tahun 1258 M serta menduduki Suriah, tetapi kemudian dihancurkan oleh kaum Muslimin yang dipimpin oleh aibers pada masa Sultan Quthu al-M lik al-Mudhaffar pada pertempuran di „Ain lut yang masih merupakan satu daerah di Palestina pada tahun 1260 M.

Referensi :
1. Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah: Pesan, Kesan dan Keserasian al- (Jakarta: Lentera Hati, 2004), cet. II, vol. 8.
2. Muhammad Nashiruddin al-Albani, Derajat Hadist-hadist dalam Tafsir Ibnu Katsir , terj. ATC Mumtaz Arabia (Jakarta: Pustaka Azzam, 2008).
3. Hamka, Tafsir al-Azhar (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1982), juz. XV.
4. Jalaluddin al-Suyuthi, Asbabun Nuzul: Sebab Turunnya Ayat al-Qur'an , terj. Tim Abdul Hayyie (Jakarta: Gema Insani, 2008).