Kandungan surah al-Kafirun secara garis besarnya adalah:
1. Pembedaan ‘Ibadah dan ‘Amaliah antara Islam dan Kafir
“Katakanlah (wahai Muhammad): Wahai orang-orang kafir. Aku tidak sembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukannya penyembah-penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku bukannya penyembah tuhan yang kamu sembah. Dan kamu juga bukannya penyembah-penyembah Tuhan yang aku sembah” Surat Al-Kafirun Ayat 1-5
Dalam surah ini terdapat penggulangan pada suatu ayat, yaitu lâ a‟budu mâ ta‟budun, yang ini disebabkan oleh kaum Quraish yang mengulang-ulang perkataan secara terus menerus.
Menurut al-Akhfasy dan al-Mubarrad, bahwa penggulangan ini memiliki makna ancaman, dan juga yang berpendapat, bahwa makna dari surah ini adalah: aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah walaupun dalam satu jam, hingga kamu tidak perlu menyembah Tuhan yang aku sembah selama satu jam. Dan aku juga tidak akan pernah menyembah apa yang kamu sembah di masa yang akan dating, dan kamu juga tidak perlu menyembah Tuhan yang aku sembah pada masa yang akan datang.
Menurut Imam al-Qurthubi memberi penjelasan bahwa, perbedaan ayat ketiga dan kelima yang redaksinya persis sama (keduanya berbunyi: wa lâ antum „âbidûna mâ a‟bud), yang diambil dari pendapat ulama, bahwa sementara ulama membedakannya dengan memberi arti yang berbeda terhadap makna mâ tersebut.
Huruf mâ antara lain berarti “apa yang”, dan ketika itu dalam istilah kebahasaan dinamai mâ maushûlah dan bisa juga berfungsi mengubah kata yang ketika itu dinamai dengan masdariyah. Menurut mereka, ma pada ayat ketiga (demikian pula pada ayat kedua) berarti “apa yang”, sehingga wa lâ antum „âbidûna mâ a‟bud berarti “kamu tidak akan menjadi penyembah apa yang yang sedang dan akan aku sembah.” Sedangkan, mâ pada ayat kelima (demikian ayat keempat) adalah masdariyah, sehingga kedua ayat ini berbicara tentang cara beribadah: Aku tidak pernah menjadi penyembah dengan (cara) penyembahan kalian; kalian pun tidak akan menjadi penyembah-penyembah dengan cara penyembahanku”.
Menurut Muhammad Abduh bahwa kedua kalimat pertama (ayat ke-2 dan 3) menegaskan tentang perbedaan subtansial mengenai al-ma‟bud (yang disembah). Sedangkan kedua kalimat terakhir (ayat ke-4 dan 5) menegaskan tentang perbedaan subtansial mengenai „ibadah yang dilakukan oleh masing-masing. Dengan demikian, ma‟bud kita tidak sama, dan „ibadah pun tidak sama.
Yang aku sembah adalah Tuhan Yang Maha Esa, Yang tidak ada tandingan atau perantara bagi-Nya; Yang Maha Agung sehingga mustahil Ia akan menampakkan diri-Nya dalam diri seseorang tertentu; Yang Maha Pelimpah karunia-Nya kepada siapa pun yang mengikhlaskan diri kepada-Nya; Yang dengan keperkasaan-Nya menghukum siapa pun yang memusuhi hamba-hamba-Nya: yang menyampaikan ajaran-ajaran-Nya dengan penuh ketulusan. Sedangkan yang kamu sembah adalah berlawanan sifat secara diametral dengan Tuhanku itu! Demikian pula ibadahku benar- benar murni untuk Dia saja; sedangkan ibadah kamu bercampur dengan kemusyrikan, dan disertai dengan kelalaian akan Allah Swt., maka pada hakikatnya, ia dapat disebut ibadah.
Menurut Prof Dr. Hamka dalam tafsirnya al-Azhar, ia mengatakan bahwa tentang isi kandungan ayat 1-5 sama dengan penjelasan yang dikemukan oleh Muhammad Abduh, artinya di antara Tauhid (mengesakan Allah), sekali-kali tidaklah dapat dikompromikan atau dicampur-adukan dengan syirik. Tauhid kalau telah didamaikan dengan syirik, artinya kemenangan syirik.
Dalam hal ini pula, Muhammad Hasbi ash-Shidieqy sama dengan pendapat dari ulama keduanya, bahwa dalam surah ini menandaskan bahwa ma‟bud (Tuhan yang disembah) oleh Muhammad dan kaum muslimin tidaklah sama dengan ma‟bud ataupun pujaan orang-orang syirik.
Demikianlah pula ibadah Muhammad dan ummatnya yang harus berdasarkan keikhlasan dan ketulusan hati dan bersih dari memperserikatkan Allah adalah berbeda daripada ibadah orang-orang musyrik.
Perincian terhadap penjelasan surah al-Kafirun ini, Quraish Shihab membahas panjang lebar, bahwa ia mengatakan dalam ketiga ayat paling awal dari surah al-Kafirun disimpulkan bahwa Allah berpesan kepada Nabi- Nya, Muhammad Saw., untuk menolak secara tegas usul yang mereka ajukan sekarang tetapi juga menegaskan bahwa tidak mungkin ada titik temu antara Nabi Saw., dengan tokoh-tokoh tersebut. Karena, kekufuran sudah demikian mantap dan mendarah daging dalam jiwa mereka, serta kekerasan kepala mereka telah mencapai puncaknya sehingga tidak ada sedikit harapan atau kemungkinan, baik masa kini maupun masa mendatang, untuk bekerja sama dengan tokoh-tokoh tersebut.
Yang sebelumnnya, Quraish Shihab tentang arti makna kufr pada mulanya berarti “menutup”, dan bahwa kata ini memiliki aneka atri sesuai dengan kalimat dan konteks ayat masing-masing, ia dapat berarti:
- Yang mengingkari keesaan Allah dan kerasulan Muhammad Saw., seperti yang dimaksud oleh ayat berikut :
Dan orang-orang yang kafir berkata: "Hari berbangkit itu tidak akan datang kepada kami". Katakanlah: "Pasti datang, demi Tuhanku Yang Mengetahui yang ghaib, sesungguhnya kiamat itu pasti akan datang kepadamu. Tidak ada tersembunyi daripada-Nya sebesar zarrahpun yang ada di langit dan yang ada di bumi dan tidak ada (pula) yang lebih kecil dari itu dan yang lebih besar, melainkan tersebut dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)" Surat Saba’ Ayat 3
-
Yang tidak mensyukuri nikmat Allah, seperti:
“Dan Ingatlah ketika Tuhammu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat” Surat Ibrahim Ayat 7
-
Tidak mengamalkan tuntutan Ilahi walaupun yang bersangkutan mempercayainya, seperti:
““Apakah kamu beriman kepada sebagian al-Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian di antaramu melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat.” Surat al-Baqarah: 85
Dalam kaitan ditunjukan kepada tokoh-tokoh kafir Mekah yang ketika itu datang kepada Rasulullah Saw., menawarkan kompromi, yang dalam kenyataannya mereka tidak masuk Islam, yaitu Abu Jahl, Abu Lahab, Umayyah bin Khalaf dan lain-lain. Yang dalam hal ini sama dengan kandungan firman Allah dalam surah al-Baqarah ayat 6:
“Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, engkau (Muhammad) beri peringatan, mereka tidak akan beriman”
2. Ajaran Toleransi dan Menghargai Perbedaan Keyakinan
Ayat ke 6:
“Bagimu agamamu, dan bagiku agamaku”
Inti dari surah al-Kafirun ini adalah pada penegasan ayat terakhir bahwa bagimu agamamu bagiku agamaku. Maka, setidaknya perlu diketahui, bagaimana para mufasir memberi pemahaman terhadap ayat ini, terutama pada keseluruhan surah, baik mereka yang dari kalangan mufasir klasik maupun kalangan mufasir kontemporer. Hal ini selain bertujuan untuk menambah khasanah keislaman umat, juga bisa menjadi kajian untuk lebih mendalami dari pemikiran-pemikiran para mufasir. Karena hasil dari setiap ijtihad yang dilakukan oleh para intelektual Islam sangat dipengaruhi oleh kondisi yang mengitarinya.
Ath-Thabari (tahun 838-923 M/ 310 H) memberi penjelasan bahwa keseluruhan pada surah al-Kafirun ini dimaksudkan untuk menyembah Allah. Dan Ayat terakhir menjadi sikap tegas Rasulullah untuk mengatakan berbeda dengan mereka. Orang-orang yang tidak berpengetahuan dan orang Yahudi tidak menyembah dan mempersekutukan Allah hanya mereka mengingkari sebagian Nabi dan apa yang datang dari Nabi secara dhalim kecuali sebagian yang masih tersisa, maka handaklah Allah saja yang kamu sembah dan hendaklah kamu termasuk orang-orang bersyukur.
Kemudian, Ibnu Katsir (tahun 1031-1372 M/ 774 H) menjelaskan bahwa surah ini menjadi kekuatan Nabi Saw., untuk menyatakan berlepas diri dari perbuatan yang dikerjakan oleh orang-orang musyrik dan perintah kepada umat muslim pula untuk selalu berbuat ikhlas kepada Allah. Tidak ada jalan untuk mengabdi kepada Allah kecuali dengan mengikuti risalah yang dibawa oleh Nabi Saw.
Muhammad Abduh (9481-1905 M) memberikan maksud yang jelas sekali, yaitu penolakan adanya pencampuran dalam bentuk apa pun, seperti yang dinyatakan secara keliru oleh sebagian orang. Makna yang dapat disimpulkan dari ayat ini, sama seperti yang disimpulkan dari firman Allah surah al-An‟am ayat 159:
“Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agamanya dan mereka menjadi (terpecah) dalam golongan-golangan, sedikit pun bukan tanggung jawabmu (Muhammad) atas mereka. Sesungguhnya urusan mereka (terserah) kepada Allah. Kemudian Dia akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat.” Surat Al-An'am Ayat 159
Maka tidak ada kaitan apapun antara kamu dan mereka, tidak dalam hal ma‟bud (yang disembah) dan tidak pula dalam hal „ibadah.
Hasbi ash-Shidieqy (tahun 1904-1975 M) menjelaskan dalam ayat ini, bahwa Allah memberikan balasan kepada mereka sesuai dengan amalan- amalan mereka, sebaliknya Nabi Saw., juga akan memperoleh balasan dari amalan-amalannya.
Buya Hamka (1908-1981 M) memberi penjelasan yang meringkas keseluruhan surah al-Kafirun bahwa, surah ini memberi pedoman yang tegas bagi kita pengikut Nabi Muhammad Saw., bahwa akidah tidaklah dapat diperdamaikan. Tauhid dan syirik tidak dapat dipertemukan. Kalau yang hak hendak dipersatukan dengan yang batil, mata yang batil jualah yang menang. Oleh sebab itu maka Akidah Tauhid itu tidaklah mengenal apa yang dinamai Cyncritisme, yang berarti menyesuai-nyesuaikan.
Quraish Shihab memahami dengan berbeda terhadap ayat, Untukmulah agamamu, dan untukulah agamaku merupakan pengakuan eksistensi secara timbal balik, sehingga masing-masing pihak dapat melaksanakan apa yang dianggapnya benar dan baik, tanpa memutlakkan pendapat orang lain sekaligus tanpa mengabaikan keyakinan masing-masing.
Bagaimana rumusan di atas bisa diterima, sedang kita yakin sepenuhnya dan secara mutlak bahwa ajaran agama kita asti benar?
Jawabannya kemutlakan agama adalah sikap jiwa ke dalam, tidak menuntut pernyataan atau kenyataan di luar bagi yang tidak menyakini. Ketika kaum musyrikin bersikeras menolak ajaran Islam, maka demi kemaslahatan bersama, Tuhan memerintahkan kepada Nabi Muhammad Saw., untuk berkata kepada mereka:
“Katakanlah (Muhammad), “Siapakah yang memberi rizki dari langit dari bumi?” Katakanlah, “Allah”, dan sesungguhnya kami atau kamu (orang-orang musyrik), pasti berada dalam kebenaran atau dalam kesesatan yang nyata. Katakanlah, “kamau tidak akan minta tanggung jawab atas apa yang kami kerjakan dan kami juga tidak akan diminta tanggung jawab atas apa yang kamu kerjakan”. Katakanlah, “Tuhan kita akan mengumpulkan kita semua, kemudian Dia memberi keputusan antara kita dengan benar. Dan Dia Yang maha pemberi keputusan, Maha Mengetahui.”
Dalam ayat di atas terlihat bahwa ketika kemutlakan diantar keluar ke dunia nyata, Nabi Saw., tidak diperintahkan menyatakan apa yang di dalam (keyakinan tentang kemutlakan kebenaran ajaran) tetapi justru sebaliknya kandungan ayat tersebut menyatakan:
“Mungkin kami yang benar, mungkin pula tuan. Mungkin kami yang salah, mungkin pula tuan. Kita serahkan kepada Tuhan untuk memutuskannya”.
Jika dilakukan perbandingan penafsiran surah al-Kafirun antara mufasir klasik dan mufasir kontemporer terletak pada kondisi yang dihadapinya. Jika dari kalangan mufasir klasik menjelaskan surah al-Kafirun secara tekstual-historis, berbeda dengan dari kalangan mufasir kontemporer. Mereka menjelaskan surah al-Kafirun secara kontekstual-historis. Sebagaimana, Buya Hamka yang mengarah terhadap persoalan Cyncritisme yang saat itu sedang ramai di kalangan umat beragama.
Sumber : Nur Kholis, Penafsiran Sayid Quthub terhadap surah al-Kafirun dalam fi Dzilalil al-Qur’an, UIN Walisongo
[details="Referensi"]
* Prof Dr Quraish Shihab, Tafsir al-Qur‟anul Karim; Tafsir Berdasarkan Surah-surah Pendek Berdasarkan Urutan Turunnya Wahyu, Cet. II (Bandung: Pustaka Hidayah, 1999)
* Muhammad Abduh, Tafsir Juz „Amma, Ter. Mohd. Syamsuri Yoesoef dan Mujiyo Nurkholis, (Bandung: CV. Sinar Baru, 1993).
* HAMKA (Haji Abdul Malik Abdulkarim Amrullah), Tafsir al-Azhar, Juz xxx (Jakarta:
* Pustaka Panjimas, 1988).
* TM. Hasbi ash-Shidieqy, Tafsir a-Qur‟anul Majid: an-Nuur, Diedit Dr. H. Nouruzzaman Shidieqy, H.Z. Fuad Hasbi ash-Shidieqy, cet ii(Semarang: PT. Pustaka Rizki Putra, 2000),
* M. Quraish Shihab, Al-Lubab; Makna, Tujuan, dan Pelajaran dari Surah al-Qur‟an (Surah al-Hujurat-Surah an-Naas), buku 4, cet. I (Tangerang: Lentera Hati, 2012).
* Muhammad Husain adz-Dzahabi, al-Tafsir Wa al-Mufassirun, Jilid I, (Mesir: Dar al-Qutb al-Adtsah).
* Muhammad Nasib ar-Rifa‟i, Kemudahan dari Allah; Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir, terj.
* Syihabuddin (Jakarta: Gema Insani Press, 2000).
[/details]