Asababun nuzul surat adh Dhuha, sebagian riwayat menuturkan, bahwa pada saat itu Rasulullah saw “cemas” lantaran musuh-musuh islam telah semakin ofensif menyerang kaum muslimin dengan menyebarkan isu-isu menyesatkan, sehingga beliau menunggu datangnya wahyu guna memberikan pertolongan. Turunnya ayat-ayat Surah adh-Dhuha ini menggembirakan beliau laksana bilasan air hujan yang turun menyegarkan tetumbuhan. Cahaya ayat-ayat adh-Dhuha benar-benar memberikan kekuatan baru guna menghentikan hinaan musuh-musuh islam. Kita semua tahu dan meyakini bahwa pribadi Rasul saw adalah pribadi yang kuat. Sebab itulah, kita hanya dapat menerima riwayat yang menerangkan bahwa Rasul hanya merasa gelisah dan jiwanya tidak tentram lantaran terhentinya wahyu.
Surat ad Dhuha:
-
Demi waktu pagi
-
Demi malam, apabila telah sunyi
-
Tuhanmu tidaklah meninggalkan engkau (ya Muhammad), dan tiada pula membenci (engkau)
-
Sesungguhnya akhirat lebih baik bagi engkau dari pada dunia
-
Nanti Tuhanmu akan memberi engkau, lalu engkau menjadi suka
-
Bukankah engkau didapatiNya seorang anak yatim, lalu dilindungiNya?
-
Dan engkau didapatiNya dalam kesesatan (belum medapat petunjuk), lalu ditunjukiNya
-
Dan engkau didapatiNya seorang miskin, lalu diberinya kekayaan.
-
Adapaun anak yatim jangan engkau paksa
-
Dan orang yang meminta (bertanya) janganlah engkau hardik
-
Adapun nikmat Tuhanmu hendaklah engkau beritakan (jangan disembunyikan)
Di ayat pertama Allah swt memulainya dengan harf qasam (sumpah) dengan huruf wâw dan dhuhâ sebagai muqsamu bih-nya (obyek yang digunakan untuk bersumpah). Pendapat yang berlaku di kalangan ulama terdahulu mengatakan bahwa sumpah al-Qur’an dengan wâw mengandung makna pengagungan terhadap muqsamu bih. Ibnu Qayyim Al-Jauziyah mengatakan bahwa sumpah Allah dengan sebagian makhluk-Nya menunjukkan bahwa ia termasuk tanda-tanda kekuasaan-Nya yang besar.
Kata adh Dhuha ditafsirkan sebagai matahari atau lebih tepatnya ketika matahari pagi yang terbit . Penafsir tidak menggunakan secara terjemahan harfiah, padahal kita tahu bahwa kata adh Dhuha dikalangan umat muslim Indonesia sudah begitu populer digunakan untuk melaksanakan waktu shalat sunah dhuha yang sekurangnya 2 rakaat, atau 4 rakaat, atau sampai 8 rakaat pada sekitar pukul enam sampai sepuluh pagi.
Kata adh Dhuha secara umum digunakan dalam arti sesuatu yang nampak dengan jelas . Dalam tafsirnya Quraish Shihab menggambarkan kata adh Dhuha adalah ketika matahari naik sepenggalahan, cahayanya ketika itu memancar dengan menerangi seluruh penjuru, pada saat yang sama ia tidak terlalu terik, sehingga tidak mengakibatkan gangguan sedikitpun, bahkan panasnya memberikan kesegaran, kenyamanan dan kesehatan.
Pada ayat ketiga, penafsir memaknai keseluruhan ayat tersebut dengan tidak meninggalkan dan membenci, dengan tasydid ada juga yang membacanya tanpa tasydid , keduanya mempunyai makna dasar berarti meninggalkan. Menarik juga melihat pendapat ar Arghib al-Ashfahani yang berpendapat bahwa kata wadda’a berasal dari kata ad-da’ah dan mengartikannya dengan “doa untuk seorang musafir semoga Tuhan meringankan baginya kesulitan-kesulitan perjalanan”. Dari sini kemudian wadda’a diartikan sebagai ucapan selamat kepada orang yang meninggalkan suatu tempat. Kemudian kata qala, dalam kamus al ashri, berarti benci. Quraish Shihab berpendapat benci disini bukan hanya benci biasa namun benci yang diartikan sebagai kebencian yang sangat.
Pada ayat ke empat, al akhirah dan al uula diartikan sebagai dengan akhirat dan dunia . Secara leksikal dapat dipahamai bahwa kata al akhirah berarti yang akhir atau sesudah dan tidak selalu diartikan sebagai akhirat . Dalam tafsirnya Hasbi ash Shiddieqy memberikan catatan opsi terjemahan “sesungguhnya penghabisan urusan engkau adalah lebih baik dari permulaan.”
Umumnya kata al akhirah dimaknai akhirat apabila kata tersebut bergandengan dengan kata dar atau kita sering dengar dengan dar al akhirah yang artinya tempat akhirat . Dan kata al uula berarti sesuatu yang pertama atau berada diawal.
Lebih dipilih menerjemahkannya dengan kata akhirat dan dunia artinya tanpa kita sadari corak penerjemahan pada saat itu sangat berpengaruh pada pola pikir umat islam Indonesia yang lebih mementingkan negri akhirat daripada hidupnya di dunia .
Menurut Quraish Shihab, kata akhirat dan uula diartikan sebagai masa datang dalam kehidupan dunia , Shihab beranggapan bahwa konteks ayat ini berbicara tentang kehidupan yang berkaitan dengan ketidakhadiran wahyu saat itu. Artinya bahwa pemaknaan yang dilakukan oleh Mahmud Yunus lebih kepada teks bukan konteksnya yang saat itu berkaitan dengan kegelisahan Rasul karena lamanya wahyu yang tak kunjung ia terima dari Allah swt.
Kemudian kata fatardha, diterjemahkan denga kata suka, dalam kamus al-ashri kata radha berarti senang, puas dan rela. Walaupun kata ridho sendiri sudah cukup populer dengan bahasa Indonesia yang memang banyak mengadopsi kata asing khususnya Arab dan Inggris ini tidak mereka pakai. Artinya bahwa penerjemahan dengan kata suka merupakan penerjemahan dengan gaya terjemahan semantik leksikal.
Kata dhallan yang ada pada ayat ketujuh surat ad Dhuha, dipadankannya dengan kata sesat. Kata dhalla- yadhillu yakni kehilangan jalan atau bingung tidak mengetahui arah. Makna ini berkembang hingga bermakna binasa, terkubur dan dalam pengertian immaterial yakni sesat dari jalan kebajikan atau antonim dari makna hidayah . Pengertian umum terakhir ini yang lebih populer dikuping bahwa padanan kata dhallan adalah sesat . Pengertian tersebut dibantah oleh Fakhruddin ar Razi dengan berpendapat bahwa dua puluh kata dhallan yang terdapat dalam al Qur’an tidak logis atau terlalu remeh untuk diabadikan dalam ayat apalagi menjadi bukti betapa besar anugerah Allah kepada Rasul-Nya.
Istilah dhâlalan (kesesatan) di sini tidak berarti “tidak adanya iman, tauhid, kesalehan, dan kebajikan”. Namun, dengan merujuk pada ayat-ayat di atas dan pendapat banyak mufasir, istilah ini bermakna “tidak memahami rahasia- rahasia kenabian, hukum-hukum tertentu dalam Islam dan fakta-fakta tersembunyi lainnya”. Akan tetapi setelah ditunjuk sebagai Nabi, Muhammad saw pun menguasai semua itu dengan bantuan dan bimbingan Allah. Dapat disimpulkan kata dhallan yang dalam berbagai bentuknya berarti segala sesuatu yang tidak atau belum mengantar pada kebenaran . Setiap tindakan atau ucapan yang tidak menyentuh keberan adalah dhallan.
Referensi :
- Atabik Ali dan Ahmad Zuhdi Mudlor, Kamus Kontemporer Arab-Indonesia: al -Ashri , (Yogyakarta: Multi Karya Grafika, Cet. kelima), 1998.
- Shihab, Tafsir al Misbah : Pesan dan Keserasian al-Qur’an (Vol 15),